BUKAN KEKASIH GELAPKU

BUKAN KEKASIH GELAPKU
Penghiburan Dari Lisa.


__ADS_3

Handi memilih menginap menemani orang tua Franda yang masih di rundung duka, ia tak tega meninggalkan mereka begitu saja.


Keadaan rumah pun, sudah kembali bersih seperti biasa, setelah beberapa warga ikut serta membersihkan rumah dari sisa sisa acara penyemayaman Franda tadi. Handi, sebagai perwakilan dari keluarga, mengucapkan terima kasih kepada mereka yang ikut membersihkan rumah.


"Maaf, Om. Apa Tante sudah makan malam?" tanya Handi pada Om Darwin.


"Belum," jawab beliau dingin.


"Lalu, Om sudah makan?" tanyanya lagi. Handi seolah tutup mata pada lelaki yang berada dihadapannya sekarang ini. Sedari tadi beliau bersikap dingin padanya.


"Belum," Darwin berucap lirih. Kemudian pandangannya tertuju pada pintu kamar Franda "Bagaimana saya bisa makan, sementara istri saya juga belum makan," lanjutnya.


"Saya akan berusaha membujuk Tante untuk makan, Om. Om, tunggu disini dulu, ya." ucap Handi lembut. Ia berdiri meninggalkan ruang tamu, melangkah menuju kamar Franda.


"Tante!!. Boleh saya masuk?" seru Handi sambil mengetuk pintu kamar. Tak ada sahutan dari dalam, ia mencoba lagi "Tante. Saya masuk, ya!" Handi menekan kenop pintu. Dan, ternyata pintu tidak terkunci. Perlahan ia membuka pintu, menoleh keberadaan Tante.


"Tante." sapa Handi lembut. Pemandangan yang menyakitkan. Beliau duduk termenung diatasi ranjang Franda sambil mengelus foto Franda yang ada di pelukan Beliau. Handi menarik nafas, mencoba berbicara lagi "Makan dulu, yuk. Tante." Handi duduk disambung Beliau sedikit berjarak.


"Tidak, Nak. Kau saja yang makan." jawab Beliau bersuara parau. Bahkan, ia tak mengalihkan pandangannya yang kosong Kearah Handi. "Tante, masih ingin disini."


"Tapi, Tante juga harus tetap makan. Dari tadi siang, Tante belum makan, 'kan. Nanti Tante bisa sakit, kalau tidak makan." buruknya lagi.


"Sa-saya, hiks hiks hiks. Tidak ingin makan, Nak Handi. Jangan paksa saya." Beliau menenggelamkan wajah di foto Franda yang masih di pelukannya.


"Tante," Handi dengan sopan menyentuh punggung Beliau. "Kalau Tante tidak mau makan, Om Darwin juga tidak mau makan. Tante," mengusap punggung itu dengan lembut. "Om Darwin menunggu Tante di ruang tamu untuk makan."


"Tidak ya tidak. Kau mengeri!", Handi tersentak. Beliau tiba tiba marah.


Handi menyudahi usapannya. Ia berdiri hendak keluar kamar "Baiklah. Untuk malam ini saja. Saya harap, Tante sudah makan besok pagi, ya. Saya permisi keluar dulu." Handi keluar dari kamar Franda, meninggalkan Beliau yang masih setia bersedih diatas kasur Franda. Melangkah gontai, ia berjalan menemui Om Darwin yang masih duduk diatas sofa ruang tamu.


"Loh, Dokter Lisa. Anda masih disini?" tanya heran melihat Dokter Lisa yang sudah ikut duduk di ruang tamu bersama Om Darwin.


"Baru saja kok. Lebih baik Anda membantu saya mengambil piring di dapur, ya. Saya akan menyuap Om Darwin makan." perintah Dokter Lisa pada seorang Tuan Handi.


Handi menurut pergi kedapur mengambil apa yang di katakan Dokter Lisa. Sebelum benar benar melangkah memberi peralatan itu, ia melihat pemandangan yang mengejutkan.


"Wajah Om, kusam sekali. Lisa lap pakai tusu basah, ya. Biar wajahnya Om yang tampan ini sedikit terlihat lebih segar." Lisa me-lap wajah Om Darwin penuh sayang menggunakan tissu basah miliknya.

__ADS_1


"Terima kasih, Nak" jawab Om. Darwin tersenyum tipis. Lisa kembali melakukan aktifitasnya, ia menatap lelaki ini persis seperti saat ia menatap Papinya.


"Ehemm!" Handi melangkah mendekati mereka.


"Ah. Ini dia yang di tunggu-tunggu. Kita makan ya Om. Lisa suapan, ya." Lisa tersenyum hangat membagi-bagi makanan yang dibawanya tadi kedalam piring.


Sebelum menerima suapan pertama Lisa. Darwin menoleh nanar kearah kamar Franda.


"Untuk malam ini. Biarkan, Ibu sendiri dulu. Om. Nanti Lisa akan kasih vitamin penambah daya saja. Yang terpenting sekarang, Om makan dulu, ya." Lisa mengerti maksud dari pergerakan Om Darwin.


Beliau menelan suapan demi suapan yang diterima dari Lisa. Walaupun sebenarnya, mulutnya menolak. Tapi, ia sangat menghargai perlakuan Lisa dengan baik.


Makanannya tersisa setengah. Tetapi, tak apalah.


Sementara Handi. Ia hanya memainkan makanannya saja, tanpa berniat menyentuhnya. Pikirannya kalut. Dengan berat hati, ia memutuskan menelan beberapa sendok saja. Itupun, rasanya tidak nikmat. Padahal, makanan pilihan Dokter Lisa terbilang lezat.


"Nak, Lisa. Tidak makan?" tanya Beliau, memperhatikan Lisa belum makan.


Tak disangka. Lisa memakan makanan Om. Darwin yang tersisa tadi dengan lahap. Sontak, membuat kedua pria yang bersamanya saat ini, tercengang.


Darwin tersenyum lagi. Perbuatan Lisa mampu meredakan rasa sedihnya.


"Tuan Handi. Tolong bawa piring -piring ini ke dapur. Saya, mau menemui Ibu, dulu." Lisa kembali memerintah seenaknya.


"Iya. Bujuk Tante lagi, agar mau makan atau minum. Dari tadi, Tante tidak mau keluar setelah pulang dari pemakaman."


"Ok. Saya bawa minuman sereal ini saja kali ya. Semoga Ibu mau meminumnya. Lumayan mengganjal perut untuk malam ini." Lisa berjalan membawa secangkir minuman sereal itu.


🌹🌹🌹


Lisa masuk pelan-pelan kedalam kamar Franda. Menemukan Ibunya yang masih duduk termenung diatasi ranjang Franda, ia mempersiapkan diri untuk membujuk Beliau.


"Ibu," Lisa meletakkan cangkir berisi sereal tadi diatasi nakas, kemudian dengan berani merangkul wanita rapuh itu. "Lisa disini, Bu."


'Nak, Lisa," ucap Beliau lirih. Ia membalas pelukan Lisa, lalu kembali menangis lagi "Fradaku, sudah pergi. Hiks hiks hiks!".


"Siapa bilang, Franda pergi,"

__ADS_1


"Maksudnya, Nak?"


"Nih, Bu." Lisa menatap beliau lembut. Posisi mereka berhadap-hadapan. "Mamah, kenapa tidak mau makan, Mamah. Nanti Mamah sakit seperti Franda. Cepat makan Mamah, Franda tidak suka kalau Mamah sakit. Masa iya, Franda yang sakit ini, merawat Mamanya yang juga sakit karena tidak mau makan. Itu sangat tidak lucu, Mamah." ucap Lisa menirukan gaya cara bicara Franda.


Sungguh, Lisa dapat menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Ha, ha, ha, ha," Beliau tertawa sumbang sambil menahan isakannya "Iya. Nak Lisa, kau masih ingat saja Franda yang akan cerewet saat Ibu tidak mau makan. Apa Ibu makan saja, ya. Biar Franda tidak mencereweti Ibu?" tanya Beliau.


"Iya, Mamah harus makan. Biar tidak sakit." Lisa kembali meniru gaya bicara Franda.


"Fra-franda," ucap Beliau terbata menatap. Lisa aneh.


"I-ibu. Aku bukan Franda, Bu," Lisa tercengang. Mungkin Beliau berhalusinasi dirinya adalah Franda.


"Mamah akan makan. Tapi, jangan tinggalkan Ibu, Nak." Beliau mengusap wajah Lisa penuh sayang. Ia sadar, sebenarnya Lisa lah yang dihadapkannya saat ini. Tetapi, entah mengapa Ia berharap agar gadis ini juga tidak pergi meninggalkannya. Sesosok Franda, tertinggal padanya.


"Iya, Bu. Sekarang, Ibu makan ya," Lisa tidak bisa menjawab apa apa. Ia hanya memikirkan kondisi beliau saat ini.


Tidak Menampilk, Lisa sudah menyayangi keluarga ini. Ia akan berusaha menemani keluarga ini. Apalagi, anak mereka tidak ada lagi. Lisa sebisa mungkin, akan menjaga orang tua ini.


Satu cangkir sereal tandas tak bersisa. Beliau langsung terlelap begitu sereal habis. Iya memang, Lisa mencampurkan sedikit obat tidur kedalan sereal. Akibat obat tidur dan kelemahan juga. Beliau jadi cepat terlelap. Pada akhirnya, suntikan vitamin yang dikatakannya tadi tidak jadi.


Lisa menyelimuti tubuh Beliau, menggunakan selimut baru. Sprei, bantal, dan selimut yang digunakan Franda, sudah diasingkan oleh warga yang kebersihan tadi.


Lisa menguap, ia juga ikut terlelap memeluk Ibunya ikut tertidur.


EPILOG.


Handi tadi melihat, Lisa mencampurkan obat tidur kedalam makanan Om. Darwin dan kedalaman sereal Tante Darwin. Tidak berselang lama sepeninggalan Lisa, Beliau langsung mengantuk hebat, lalu pergi menuju kamar Beliau.


Dikesendirian ini, Handi berjalan keluar kaki lima rumah, mencari udara dingin. Handi mengaktifkan ponselnya yang dari tadi siang tidak diaktifkannya.


Papi; Kami menunggumu. Kau besok pulang Handi. Mamamu sakit jantungnya kambuh lagi. Ingat. Besok.


Handi tercengang membaca pesan singkat dari papinya.


👇👇👇

__ADS_1


__ADS_2