BUKAN KEKASIH GELAPKU

BUKAN KEKASIH GELAPKU
Cerita Dari Mami


__ADS_3

Detik terus bergulir tenpa terasa, sudah bermenit-menit lamanya Marva meragu melangkah meninggalkan sandarannya di dinding wastafel mengumpulkan niat untuk menemui mami martuanya yang sudah terlebih dahulu masuk kamar.


"Apa yang akan di katakan mami nanti, untukku?" tantanya pada angin yang berlalu. Ia mendesah nafas kasar, kemudian ia mulai bergerak menyiapkan secangkir minuman herbal ramuan khusus untuk martuanya itu.


Tangan kirinya meggemgam cangkir yang di tata diatas piring kecil yang kedua-duanya terbuat dari keramik putih bermotif bunga warna biru langit.


"Mi!" serunya sambil mengetok daun pintu.


"Masuklah." Marva menekan kenop pintu kemudian masuk, Mami sedang berbaring bersandar ditepian tempat tidur ada sebuah buku di pangkuan Beliau.


"Mami, minum teh herbalnya dulu ya," Marva menyodorkan cangkir membantu Beliau minum.


"Terima kasih ya, Nak." Mami tersenyum hangat. "Duduklah disamping, Mami." menepuk sisi ranjang mempersilahlan menantunya duduk. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya.


"I-iya, Mi." Marva menurut.


"Mami. Mau nunjukin sesuatu padamu, Nak,"


"Apa itu?" tanyanya penasaran.


Marva melotot, ternyata yang di pangkuannya itu adalah kumpulan album foto, bukan buku yang ia sangka sebelumnya.


"Ini foto Mas Handi, Mi?" tanyanya setelah melihat siapa anak kecil yang duduk manis di karpet sambil memegang mainan di kedua tangannya.


"Iya, waktu berumur lima tahun."


Marva menatap dalam foto tersebet. Wajah anak kecil itu tidak jauh berubah dengan wajah Hamdi yang sekarang. Marva tersenyum tipis mengetahui Handi kecil juga seimut ini. Ia dengan seksama membuka foto demi foto.


Beberapa lembar telah di lihatnya. Handi beserta sederet prestasi akademiknya,


Rasa bangga menyelimuti Marva, ia berharap kelak Narra akan meniru kecerdasan ayahnya.

__ADS_1


Tapii, tunggu dulu!!


"Mi. Mas Handi, tidak punya foto dengan temannya, atau?" tanya Marva merasa heran, album ini benar-benar hanya ada foto Handi dan kedua orang tuanya. Marva menyelipkan anak rambutnya yang terurai kebelakang telinganya. "Mi. Franda pernah cerita, Mas Handi punya sahabat pria. Fotonya juga tidak ada dari tadi aku lihat, Mi?"


"Marva," Mami menoleh kearah Marva tersenyum pilu. "Sifat Handi yang seperti ini, adalah karena kami sendiri yang sudah mengekangnya," refleks Mami meneteskan air matanya mengingat betapa Handi menderita karena orang tuanya sendiri. "Ada hal yang ingin mami ceritakan padamu."


Marva terkesiap memperhatikan martuanya tiba-tiba menangis, "Mi," ia menutup album lalu mengemgam tangan mami martua lembut "Ceritalah. Aku siap mendengarnya."


Mami tersenyum penuh maksud, "Jauh sebelum kau dan Franda mengenal anakku, ada satu cerita yang membuat Handi menjadi lelaki seperti sekarang ini. Tapi sebelumnya, mami ingin bercerita tentang awal kisah ku dan suamiki dulu." harapan utamanya ada dalam cerita ini, semoga Marva mengerti maksud dari cerita ini.


Berto dan Vera adalah nama orang tua Handi. Memjalankan bisnis turun temurun dari generasi ke generasi sudah menjadi adat dari bagian keluarga besar Hutama. Menjaga nama baik perusahasn dan nama keluarga besar Hutama adalah sudah menjadi hak mutlak setiap anggotanya, bahkan perjodohan pun sudah terjadi dari nenek buyut mereka, harus sesama dari keluarga terpandang saja atau sesama rekan bisnis yang saling menguntungkan.


Entah mengapa sampai sekarang mereka bisa patuh dengan peraturan keluarga ini.


"Apakah, Mami dan Papi juga di jodohkan oleh orang tua?" tanya Marva merasa penasaran.


"Iya. Dengar dulu cerita Mami."


"Beginii.... "


Vera adalah nenantu yang di siapkan oleh orang tuanya untuk laki-laki yang bernama BertoMoas Hutama. Mereka berdua sudah di jodohkan dari kecil, sampai mereka dewasa. Dan mereka tidak dapat menolaknya, kedua orang tua mereka sudah sama-sama menguat untuk menjadi besan. Mami dari Handi dan Mamah dari Vera sudah bertemann di perkumpulan yang orang tua mereka buat, sedangkan Papi dari keduanya adalah sesama rekan bisnis yang saling menguntungkan satu sama lain.


Cinta atau tanpa cinta, mereka akhirnya menikah mengikat tali keluarga besar masing-masing. Berto dengan kewibawaannya menjadi anak lelaki yang terpilih untuk menjadi ahli pewaris terbesar dalam keluarga mereka sementara dua saudara lainnya sudah di berikan jatahnya masing-masing, Berto dengan lantang menerima amanah dari keluarga untuk mengalihkan sebuah perusahaan yang cuku besar menjadi atas namanya.


"Apa, Mami mencintai Papi selama pernikahan kalian?"


"Mami, tidak tahu pasti cinta atau bukan namanya ini. Yang jelas, kami bisa mempertahankan rumah tangga kami sampai saat ini, Marva."


"Bisa begitu, yah?" tanya Marva mengerutkan kening.


Yusdistira Arhandi Hutama, lahir di tengah-tengah keluarga kecil mereka. Berto sangat merasa bangga akan anugerah itu, anak perta laki-laki sudah pasti menjadi pewaris selanjutnta, keturunan dari dirinya sendiri adalah pemenang, bukan keturunan dari adik dan kakak perempuannya.

__ADS_1


Handi nama panggilannya. Ia tumbuh menjadi anak yang cerdas seperti yang diharapkan oleh Berto dan Vera, tapi kepribadiannya jauh dari apa yang diharapkan


Semasa mengenyam masa SD sampai SMP, Handi selalu berusaha membangkang dari aturan yang sudah tercatat dalam keluarga Hutama.


Mulai dari gaya hidup sampai pergaulan Handi membangkang semua itu. Hobbi dan kegemaran Handi adalah balapan sepeda bersma teman sepermainanya di sekolah, Handi tercatat sebagai salah satu murid yang sering ribut didalam kelas. Handi secara sembunyi suka mengonsumsi jajaman cepat saji yang di jual di luar sana, makanan bersaos sampai minuman yang mengandung soda dan zat pewarna buatan.


Papinya sering memarahi, tapi bukan Handi namanya jika tidak bisa melawan.


Hingga saat masasuki SMA dunia Handi dengan ajaib berubah drastis. Berto dan Vera memaksa Handi bersekolah di SMA swasta yang khusus untuk sekolah bisnis, Handi di pisahkan dengan taman-temannya sewaktu SMP.


Inilah kesalahan kedua orang tua ini. Mereka membuat Virgo seolah-olah sebagai sahabat terbaik Handi di sekolah, padahal Virgo adalah menjadi orang kepercayaan untuk mengikuri Handi kemanapun.


Sampai pada insiden dimana Virgo mengalami kecelakaan tragis karena pengorbanannya untuk Handi, Virgo tewas di tempat.


Mulai dari kejadian itu Handi terus-nenerus di tekan oleh orang tuanya, "Virgo meninggal itu karna kau Handi, kau tidak pernah mendengarkan kata Papi. Sehingga Papi terpaksa menyuruh Virgo harus memata-mataimu agar kami tahu kamu masih tetap bandel atau tidak. Sekarang, kau telah menghilangkan satu nyawa karena keegoisanmu." itu ucapan Papinya pada Handi.


Seiring berjalannya waktu berlalu, Handi berubah menjadi orang yang kaku dan tidak mempunyai relasi yang bebas untuk dirinya, susah membuka hati untuk orang terdekatnya.


Franda dan Marva adalah sahabat dekat, tapi Handi hanya melihat kearah Franda saja. Marva, gadis itu seperti bayangan untuk Handi.


"Marva. kau bisa menangkap. apa yang Mami ceritakan dari tadi, apa maksud dari cerita Mami tadi, kan!?"


"Aku bukan wanita yang kalian jodohkan, aku bukan wanita dari keturunan yang terpandang, Mi." Ucap Marva mengatakan apa yang ia tangkap dari cerita martuanya.


"Dengar Mami baik-baik, sayang. Handi adalah keturunan pertama yang membangkang aturan keluarga kami. Dan kamu Marva, hal pertama yang bukan pilihan keluarga kami, kalian pasangan pertama yang membuat pengalaman baru pada keluarga kami."


"Kami terlalu sombong Marva, Tuhan telah menegur kami melalui pernikahan kalian. Dan kami ingin menebus kesalahan kami pada kalian, kumohon pertahankanlah rumah tangga kalian."


Marva tidak menyangka ada halangan yang harus ia hadapi untuk terlepas dari Handi.


Sungguh, takdir mempermainian jalan hidup Marva.

__ADS_1


👇👇👇


__ADS_2