
Tanti memasuki kamarnya dengan lesu, berbalik badan melihat Marva masih berdiri membatu disandaran wastafel. Sepertinya keponakannya itu masih ragu untuk menemui martuanya.
Sangat pelan ia menutup pintu kamar, lalu duduk di tepian tempat tidurnya.
"Tanti, bujuklah Marva agar mempertimbangkan keputusannya. Hanya kamu orang yang paling di dengarnya saat ini." Nyonya Besar mengemgam tangannya erat sambil menangis memohon padanya.
Tanti. Bujuklah Marva agar mau memberi kami kesempatan untuk memperbaiki kesalahan kami. Saya sendiri yang akan berbicara pada Handi, agar dia bisa merubah sifatnya." Tuan Besar juga ikut bermohon padanya. Pria yang sangat di hormatinya ini, meneteskan air mata di hadapannya. Tuannya menurunkan harga diri demi anaknya.
'Baiklah. Saya akan membujuknya semampu saya, Tuan Nyonya. Tapi, keputusan itu tetap ada pada diri Marva. Saya hanya membujuknya saja, tidak lebih." Tanti luluh melihat Tuan dan Nyonya besar memohon padanya.
Sekarang, berhasilkan ia membujuk Marva dengan caranya sendiri?
Kejadian saat makan malam tadi adalah, sebagian dari rencana mereka untuk permulaan pendekatan pada sepasang suami istri yang sedang di ujung luka.
Tanti hanya perlu menjaga Marva dari kemungkinan yang bisa terjadi. Jika memang Marva pada akhirnya memilih berpisah dengan Handi, Tanti sendiri sudah menyiapkan rencananya untuk membawa Marva dan Narra pergi dari keluarga ini. Atau, Lefrando adalah angan terbesarnya untuk menjadi pengganti Handi. Ia sendiri tak menampik sudah menyetujui Lefrando kalau memang Marva sudah sah berpisah dengan Handi.
Kalaupun Marva memutuskan tetap. bertahan dalam rumah tangganya ini, ia bisa apa? Ia tetap akan setia menjaga Marva semasa hidupnya. Masalah Lefrando, semoga saja lelaki itu bisa merelakannya. Walau ia tidak yakin bisa dengan mudah merelakan Marva.
Apapun yang terjadi nanti, Tanti tetap mendukung Marva.
"Nenek! Boleh Narra masuk?!" serun Narra terdengar dari suara balik pintu.
Tanti berjalan membuka pintu. Narra datang dengan buku dalam pelukannya.
"Masuk, sayang."
"Nenek!" ucap Suara Narra berbisik. Gadis itu mendekatkan wajahnya ketelinga Neneknya. "Boleh minta tolong?"
Nenek Tanti tersenyum lucu. Suara bisakan Narra sangat menggemaskan di telinganya. "Minta tolong apa?" tanyanya berbisik pula.
"Telepon, Om. Lef."
Deg.
Tanti terkesiap mendengar permitaan Narra. Ia mengira akan di minta tolong untuk membacakan dongeng, karena buku yang di bawa Narra adalah buku dongengnya. Ternyata, ini cukup mengejutkan.
__ADS_1
"Tidak boleh, yah Nek?" Narra berucap lesu melihat Neneknya hanya terdiam. Ia kembali duduk dihadapan Neneknya, menundukkan wajah pura-pura membaca buku dongengnya.
"Boleh, kok," Tanti mengangkat dagu Narra, kenudian mengelus pipi Narra.
Narra tersenyum menampilkan deretan gigi susunya yang masih kecil-kecil, "Tapi jangan kasih tahu Omah Opah dan Ayah ya, Nek. Nanti Bunda dimarahi lagi."
"Iya. Makanya bicaranya suara harus pelan-pelan saja. Mengerti?"
Narra mengangguk.
Tidak butuh waktu lama sambungan vidio call tersambung. Tampilan layar ponsel langsung memenuhi wajah Lefrando.
🌹🌹🌹
Jika sudah berhadapan dengan Papinya, Handi hanya duduk kaku memandang wajah keriput Papinya. Biasanya ia akan mengangguk saja membalas perkataan Papinya. Membantah pun percuma, ia tidak akan menang. Apalagi Maminya tidak ikut masuk di ruang kerjanya. Kalau ada Mami, ia bisa mencari bantuan dari wanita itu.
Sepertinya untuk pembicaraan kali ini cukup serius. Didalam ruang kerja Handi, tanpa adanya Mami ikut bersama mereka. Pasti bukan alasan kesehatan Beliau. Maminya ini akan selalu ikut angkat bicara bila Papinya mendoktein Handi, tanggapan Mami lebih banyak menolak perintah Papinya. Mami akan selalu berpihak pada Handi.
Oh ya, ada satu hal lagi, memang ini jarang terjadi. Tetapi ia selalu mengingat itu. Jika Mami sudah tidak ikut berbicara dalam keadaan seperti saat ini, artinya Mami sudah seteju sebelumnya mengenai apa yang akan di bahas Papinya. Mami sedang berpihak pada Papinya.
Handi kalah, memang akan selalu kalah dengan Papinya. Ditambah lagi, Maminya sudah berpihak pada Papinya, Handi tidak bisa apa-apa lagi.
"Kenapa kau berbohong pada kami, Handi? mengatakan Marvalah yang sudah bermain dibelakangmu." Papi tersenyum ironi, putranya mengulangi kesalahan lagi. Sementara Handi tetap dalam mode membisu. "Kau mengadu pada Mami mengatakan ucapan pecundangmu itu, kau menghasut Mamimu untuk memancing kemarahan kami untuk istrimu,,. "
"Maaf, Pi." Handi memotong perkataan Papinya.
"Hanya itu jawabanmu?" Papi menekankan ucapannya.
"Lalu, Handi harus bagaimana lagi. Aku sendiri tidak mencintai, Marva. Pi."
"Bukan alasan kau berbicara seperti itu. Omong kosongmu itu tidak bermakna apa-apa."
Handi mulai jengah. "Aku mempertahankan rumah tanggaku selama ini, tidak lebih dan tidak lain hanyalah untuk menjaga nama baik kalian. Kurasa Marva pun sama."
"Jaga ucapanmu, Handi! bentak Papi. "Kau menfitnah Marva didepan kami, kau Tahu? Seolah-olah Marvalah yang berusaha memberi masalah pada rumah tangga kalian. Nyatanya, kau sendirilah yang mendatangkan masalah, Handi." kerutan tua itu semakin tampak jelas di wajah Papi, emosi melihat perilaku putranya seperti ini. "Tanti, sudah menceritakan se-mua-nya, pada kami," ucap Papi menekanjan kata 'semuanya'.
__ADS_1
"Mami yang selalu membelamu itu, menangis memohon didepan Tanti, agar mau membujuk Marva mempertahankan rumah tangga kalian. Mamimu menyesal karena telah membela putranya yang salah. Memikirkan itu, Mamimu jantungnya kambuh lagi. Gara-gara kau, Handi."
Handi terdiam mencengkram sofa. "Untuk masalah, Mami. Handi minta maaf, Pi." ucap Handi tulus. Ia merasa sangat bersalah karena dirinyalah Maminya sakit lagi, terlebih ia tidak menjenguk Mami selama dirumah sakit.
"Minta maaflah sendiri pada Mamimu, dan lakukan sesuatu untuknya," Papi melembut. Ia percaya dengan sorot mata putranya penuh penyesalan untuk Maminya.
"Baiklah, Apa yang harus ku lakukan agar Mami bisa memaafkan aku?"
"Perbaki rumah tanggamu, Handi."
"I-itu sulit, Pi. Kami tidak saling mencintai. Aku bisa lihat sendiri, sepertinya Marva dan Narra sudah menyukai Dokter Lefrando."
"Ya, itu semua juga karenamu, kan? Itulah tugasmu, menjaga apa yang sudah menjadi milikmu."
"Lefrando bisa membuat mereka bahagia."
"Kau yang tidak akan bahagia bila mereka pergi dari kehidupanmu, Handi. Lupakan Franda, dia sudah bahagia disana."
"Aku akan bahagia bila mereka lepas dariku. Dan, aku tidak bisa melupan Franda begitu saja, Pi." Jawab Handi merasa yakin.
Papi merasa sia-sia berbicara dengan Handi yang sebegitu aneh ini. Papi mendesah nafas kasar, "Mamimu menginginkan kalian agar tetap bersama."
"Untuk yang itu, aku tidak bisa menjaminnya."
"Kau, tidak belum mengerti akan ucapanmu yang tadi, Handi. Kehidupan ini tidak sebahagia yang kau bilang tadi. Dan, camkan ini baik-baik, yah. Jika sampai kalian berpisah? Terpaksa. Seluruh aset yang kau gunakan saat ini, akan Papi pindah tangankan atas nama Narra. Kau bisa mengambil sebagian dari sahammu saja, anggaplah gajimu selama ini. Dan itu sama saja, kau siap kehilangan Mamimu."
Setelah mengucapkan kalimat ultimatumnya, Papi berlalu begitu saja meninggalkan Handi di ruang kerja.
"Ck, Hahh!" Handi berdecak fruatasi sambil mengacak kasar rambutnya.
👇👇👇
Pak camat naik beca,
selamat membaca.
__ADS_1
Ada semangka di makan katak,
jangan lupa likenya kakak.