
Sungguh kesabaran ada batasnya.
Marva berjalan menggendong Narra yang sudah tertidur di atas bahunya, menyelimuti gadis itu kemudian menciumnya sekilas. Diperhatikan lagi wajah itu yang tampak sendu dan kelelahan, bibir mungil Narra mengatup rapat. Marva memindahkan boneka pisang yang berada di dekat bantal memberikan kedalam pelukan gadis kecil itu. Biasanya Narra tidur bersama boneka berwarna kuning itu.
"Bunda. Akan bicara pada ayahmu, Nak. Apapun yang terjadi nanti, Bunda harap kita bisa menghadapi ini sama sama." lirih Marva mengusap kepala Narra penuh sayang.
Berjalan hati hati menutup pintu pelan agar tidak menggangu tidur Narra.
"Hahh!" mendesah nafas mempersiapkan batin untuk berbicara pada Handi yang sudah duduk santai diatas tempat tidur kamar pribadi Handi. Marva melangkah menatap pria ini lamat lamat.
"Bicaralah, saya tidak mau basa basi." tegur Handi nada dingin bahkan tubuh itu tetap membelakangi Marva. Pandangannya tetap tertuju pada jendela tertutup tirai gorden.
"Balik badan dulu, tidak baik berbicara tanpa saling tatap."
"Jangan banyak basa basi, cepatlah bicara."
Marva mencoba menenagkan emosi meremas tangannya sendiri. Sadar pasti lelah berdiri lama lama, Marva duduk di tepi tempat tidur membelakangi Handi.
Posisi mereka saling membelakangi satu sama lain.
"Apa alasanmu mengajak Narra ke taman kota tadi pagi?" tanyanya lugas.
"Bukankah itu juga maumu, bukankah itu juga keinginan Narra. Untuk apa kau bertanya padaku alasannya?"
"Alasan macam apa itu. Kau seharusnya sadar, kau adalah seorang ayah yang harus membahagiakan keluarga, mengajak anak jalan jalan adalah salah satu caranya."
"Tapi saya tidak bahagia." jawabnya enteng.
"Tidak bahagia bersama putrimu, itu maksud mu?"
Handi terdiam sejenak memikir apa yang harus ia katakan. Jelas jelas tadi ia merasa bahagia melihat Narra berada di dekatnya. Tapi mengapa jawaban dari mulutnya justru berbanding terbalik, ahh sudah terlanjur juga. Ia gengsi mengatakan kebenarannya. Egoisnya tinggi sekali, "Saya hanya merasa kasihan saja. Sudah beberapa kali dia meminta untuk jalan jalan bersama saya. Jadi kebetulan tadi saya ada waktu, saya sempatkan saja sebentar."
Jawaban itu memukul hati Marva. Ternyata ada yah pria sejenis Handi hidup di dunia ini. Mengusap air mata yang hampir jatuh, Marva berucap tenang "Ok. Lalu apa yang membuatmu meninggalkan Narra?"
Heyy, mana mungkin ia dengan bodoh mengatakan yang sebenarnya. Handi akan berbohong lagi. "Saya menerima panggilan penting dari kantor." jawabnya singkat. Padahal dalam hatinya sampai saat ini ia masih merasa bersalah pada Narra.
"Kenapa kau melupakan bahwa masih ada Narra yang harus kau jaga?"
"Saya sudah pesankan taksi online tadi, alamatnya menuju tempat kami tadi. Ya, mungkin dianya saja yang langsung pergi. Jadinya taksi itu tidak menemukan Narra,, saya tidak melupakan Narra."
"Mas Handi!" sontak Handi berbalik arah mendengar terikan Marva dari arah belakang.
__ADS_1
Tatapan mereka beradu. Marva memandang Handi nyalang. Wanita itu berjalan menghampiri Handi.
"Auhh," Handi mengusap wajah akibat tamparan tangan Marva cukup terasa panas di kulit, "Kau menamparku!" ucap. Handi mengeram.
"Iya, kenapa. Kau kesakitan, yah? Apa yang ada di pikiran kamu Handi, kau tidak bertanggung jawab pada putrimu. Jika kau memang membenci aku, tapi kenapa kau berbuat yang sama pada anak darah daging mu sendiri!" isakan itu lolos begitu saja, tamparan tadi adalah bentuk fisik dari emosi terpendam selama ini.
"Kau tahu, Handi. Narra berjalan di tengah guyuran hujan siang hari, ia kedinginan berjalan tampa alas kaki, sendalnya terputus. Untung Narra adalah anak cerdas dan pemberani sehingga ia berpikir mencari kantor polisi. Narra pulang dengan selamat."
"Yang terpenting dia sudah pulang kan, sudah bersamamu kan?"
"Handi!" suara Marva meninggi, "Segitukah perasaanmu pada, Narra?" Air mata itu terus mengalir. Ia melanjutkan ucapannya sambil sesenggukan "Aku tahu kau berbohong, Mas Handi."
"Bohong, maksudmu?" Tamparan itu tidak terasa lagi. Handi mengalihkan arah pandang dari Marva yang menangis, takut rasa bersalah semakin membuncah.
"Mas Handi," suaranya tercekal di kerongkongan. "Jawab jujur. Panggilan siapa yang kau terima, sampai membuatmu melupakan Narra ada bersamamu, Mas?" ucap Marva putus putus. Bermenit-menit pun ia menatap Handi, namun yang di tatap tidak membalasnya sama sekali. Justru Handi enggan berdiri. Pria itu masih setia duduk ditempat nya tadi.
"Sudahlah Marva, yang penting sekarang Narra sudah ada bersamamu. Tidak ada luka sedikit pun di kulitnya kan. Kalau hanya membahas tentang itu, lebih baik keluar dari kamar saya. Silahkan!" ucap Handi sinis.
"Mas,"
"Apa lagi sih?!" Handi membentak Marva.
"Ada satu hal lagi yang aku mau tanya pada kamu, Mas?"
"Siapa yang memberitahu tentang Lefrando datang kerumah ini pada mami dan papi. Kamu kan?" pertanyaan itu akhirnya lolos juga sudah terpendam berapa lama. Marva membalas tatapan Handi sinis, dagunya terangkat menjangkau tubuh Handi yang lebih tinggi darinya.
"Iya. Biar semua orang tahu bahwa kamu sudah membawa pria lain masuk kerumah ini."
"Ohhh begitu jawabanmu. Sekarang aku kembali bertanya?" air mata itu berhenti. Hari ini harus tuntas segala apa yang ia pertanyakan dalam hatinya, Marva tidak ingin terus berspekulasi sendiri tanpa mencari kebenaran langsung dari suaminya, "Kemana kamu selama Narra sakit, kamu mencari Franda. Iya kan?"
Rupanya wanita ini berhasil memancing emosi Handi. Tanpa pikir panjang ia mengucapkan kalimat yang harusnya ia tidak ceritakan.
"Kamu tahu Marva," Handi meraih dagu Marva secara kasar. Marva meringis menahan rasa sakit akibat tangan Handi. "Iya aku masih mencari Franda selama ini, dan aku berhasil menemukannya. Dia sekarang sedang sekarat."
"Auhh," Marva meringis lagi saat Handi menyingkirkan tangannya.
"Aku tidak pernah mencintai kamu dan Narra, ingat itu." ucap Handi tegas.
Inilah pengakuan yang menyakitkan bagi Marva. Kini sudah terdengar dari mulut Handi.
"Mas, kamu menceritakan perbuatanku yang kau anggap salah pada mami dan papi. Tapi kau menutupi perbuatanmu diam diam mencari wanita lain dari mami dan papi. Apa kau tak sadar, kau itu tak lebih dari pecun,,, ahhkk" ucapan Marva terhenti karena tamparan Handi mengenai pipinya. Marva mengelus bekas yang sudah memar meredamkan rasa perih di sana.
__ADS_1
"Pengecut, iya,, egois,, iya,,. Saya hanya mempertahankan cinta saya. Itu saja,, apa salah, hah!!?" ucap Handi suara yang mengelegar.
"Salah,, karena rasa cintamu yang egois itu kau melupakan ada cinta yang seharusnya kau jaga. Narra membutuhkan kasih sayang darimu."
"Ahkk,,!" Handi menjambak rambut frustasi. "Lebih baik kau keluar dari kamarku. Sekarang!"
"Aku belum selesai bicara, Mas! Handi menyeret tubuh Marva keluar kamar.
"Aku belum,,,Lepas Mas. Sakitt!" Marva merintih merasakan pergelangannya keram akibat cengkraman Handi.
"Mas buka pintunya. Aku belum selesai bicara, Mas Handii!" Didalam kamar Handi tidak memperdulikan seruan dari luar.
🌹🌹🌹
Suara dari luar sudah tidak ada lagi. Handi melihat wajahnya dari cermin, sungguh ia merasa kacau sekarang ini.
Mengusap pipi bekas tampatan Marva tadi.
"Aku lelah juga menyakiti Marva." lirih Handi pada diri sendiri.
Ddrettt ddrett ddrettt...!
Handi menoleh meraih ponsel yang bergetar, "Halo," ia merasa cemas, panggilan ini dari dokter Lisa, malam malam begini.
"A-apa!" tubuh Handi meluruh kelantai, tangisannya pecah begitu saja. Kabar duka itu akhirnya tiba juga.
Setelah cukup bertenaga untuk bangkit, Handi meraih kunci mobil dari tadi terletak sempurna diatas nakas, melangkah terburu buru.
"Mas,,Mas. Mau kemana kamu?" Handi tidak memperdulikan panggilan Marva, ia tetap melangkah menuju mobil dalam garasi.
"Jawab aku. Mau kemana kamu mas?" Marva mengetok pintu mobil Handi tetapi mobil itu tetap berjalan keluar gerbang meninggalkan Marva dan tangisannya.
Ting..!
Marva merogoh ponsel dari dalam saku gaun yang sama seperti tadi siang.
Membaca pesan dari dokter Lisa.
"Astaga." Marva menutup mulutnya sendiri membaca kabar duka dari dokter Lisa, ia tidak bisa berkata kata lagi.
Tanpa mereka sadari. Ada sesosok tubuh mungil yang diam diam mengintip dari jendela kamarnya. Ia menangis menyaksikan adegan dari bawah, ayahnya meniggalkan bundanya, pergi entah kemana.
__ADS_1
Itu yang dia tahu.
👇👇👇