BUKAN KEKASIH GELAPKU

BUKAN KEKASIH GELAPKU
Takdir


__ADS_3

Suasana pedesaan masih sangat asri berkelimpahan kekayaan alam tumbuh di tanah dingin, rumah rumah masih terbuat dari anyaman bambu berderet sejajar di sisi kiri kana jalan yang belum di tutup oleh aspal, batu kerikil kecil sudah terbiasa di lewati walau hanya memakai alas kaki seadanya, aliran air sepanjang sungai terlihat bersih di pandang mata.


Berjalan beberapa menit lagi, para petani perkebunan sayur sedang sibuk memetik hasil panen dari apa yang mereka tanam, mereka saling berbincang bincang satu sama lain.


Seharusnya Handi dapat menikmati pemandangan alam hijau di desa ini. Bisa saja ia sedikit berbincang dengan salah satu warga atau sekedar menumpang mencicipi hasil panen mereka. Tetapi yang di lakukannya sepanjang perjalanan tadi sibuk melamun diatas motor yang di kendarai oleh salah satu warga tetangga si nenek tempat ia menginap tadi malam.


Lokasi tempat Franda dari rumah nenek sebenarnya todak terlalu jauh. Hanya saja keadaan perjalanan melewati aspal kerikil terpaksa harus mengurangi kecepatan laju sepeda motor membuat perjalanan terasa lama.


"Ini bukan klinik Pak. Tapi ada orang sakit yang di rawat didalam sana. Sudah bertahun tahun tidak kunjung sembuh, tak jarang para warga mau menjenguk kedalam ya mencoba memberi si ibu semangat. Kasihan gadis itu." Handi hanya mengangguk merespon keterangan dari teman si pengendara motor.


Rumah itu terletak agak terpisah dari rumah warga. Namun masih bisa terlihat karena ini bukan pada penduduk. Bukan dari dinding anyaman bambu. Dinding berwarna putih, rumah itu menyerupai sebuah bangunan vila cukup mewah diantara rumah rumah warga lainnya.


Setelah si pengendara pamit undur diri akan berangkat kerja tidak jauh dari tempat ia berpijak sekarang ini, sehingga nanti pulang Handi bisa berjalan menemui pria itu untuk pulang bersama.


Mendesah nafas menyiapkan hati. Kakinya seolah beku di tanah, ada ketakutan tidak tahan menerima kenyataan bila masuk kedalam. Mengingat tekat awal, Handi berjalan pelan pelan selangkah demi selangkah.


"Tante Darwin." Handi berucap lirih melihat sesosok wanita paru baya sudah tampak tidak se-elegan dulu lagi berdiri tepat di depan pintu masuk rumah. Tubuhnya bergetar, air mata itu sudah lolos terjatuh di wajah kusam Handi membayangkan sudah seperti apa keadaan wanita yang ia rindukan.


"Berhenti disitu." Handi menghentikan kaki tepat di ujung tangga menaiki teras kaki lima rumah.


Handi sedang berada di hadapan ibu dari Franda. Di tatapnya wajah keriput itu, kulit sudah tidak semulus dulu, manik itu menyimpan beribu tetes air mata di sana.


"Untuk apa datang kemari?"


"Tante. a-aku merinduka,,"


"Cukup Nak. Rindumu tidak akan mengubah segalanya. Bukannya ibu tidak menghargai kedatanganmu, tapi i-ini semua percuma. Pulanglah, Nak."

__ADS_1


"Tidak, Bu." Handi berlutut di kaki Ibu Darwin. Tidak ada panggilan tante lagi. Setidaknya aura Ibu Darwin sudah kembali selembut saat pertama kali ia mengenal wanita itu.


"Jangan seperti ini, berdirilah, Nak," Bu Darwin mulai terisak. Menunduk memapah tubuh Handi untuk berdiri.


"Tidak Bu. Biarkan aku seperti ini." menolak ajakan bu Darwin. "Aku akan terus berlutut sampai ibu memberi izin agar aku masuk melihat Franda kedalam," Handi sudah ikut menangis di hadapan bu Darwin.


Karisma lelaki itu hilang sudah.


"Hahh!" Bu Darwin ikut berlutut sejajar dengan badan Handi. Ia menghapus air mata agar Handi juga bisa ikut tenang "Apa yang kamu harapkan dari Franda, sudah tidak ada, Nak. Kamu tidak akan kuat melihat nya nak."


"Biarkan aku masuk, Bu. Ku mohonn" Handi berucap memelas."


"Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah di dalam nanti?" suara Bu Darwin mulai parau sudah terlalu banyak menangis.


"Aku, aku tidak bisa berbuat apa apa.


"Semangat katamu, Nak?" mengingat waktu yang di lewati keluarga ini selama bertahun tahun, Bu Darwin tersenyum remeh. Tanpa sadar air mata itu jatuh lagi, "Lakukan apa pun asal kamu benar benar bisa membuat Franda bergerak lagi, dan kalau memang tidak bisa," Bu Darwin sesenggukan "Kami telah kehilangan harapan atas Franda. Terkadang kami berpikir lebih baik dia cepat cepat pergi dari pada harus menahan sakit seperti ini. Kami juga sudah tidak kuat lagi terus menerus melihat Franda." Bu Darwin hampir tersungkur di tanah jika saja Handi tidak cepat menahan kemudian memeluknya dengan erat.


Mereka berdua berbagi kesedihan dalam pelukan. Handi memeluk beliau seperti ia memeluk ibunya.


Terkadang kita akan menyerah setelah lelah berusaha.


🌹🌹🌹


Tubuh kurus kering tenggelam dalam ranjang king size, seluruh permukaan kulitnya pucat pasih persis mayat hidup, pergelangan dan persendian seluruh tubuh persis seperti rantai yang keras namun sangat terasa lemas, matanya masih terbuka akan tetapi pandangannya kosong lurus kearah tembok, selang selang alat medis penyambung hidup melilit disana, tabung infus yang kosong tertumpuk didalam satu keranjang, berbagai macam warna tabung obat obatan di bungkus dalam satu tempat diatas nakas. Satu lagi yang paling menyakitkan, rambut indahnya sudah tidak ada.


Handi menangis pilu di samping gadis itu, mengutarakan segala kerinduan dalam lima tahun ini. Menceritakan kenangan mereka berdua saat berpacaran dulu. Mencium pergelangan tangan yang tidak di infus. Ia bercerita sambil tertawa tapi menangis.

__ADS_1


Sementara di balik pintu sana, sepasang suami istri ikut menangis terharu melihat Handi mencoba berinteraksi dengan Franda.


Bu Darwin meremas kemeja suaminya sesenggukan didalam pelukan pria itu. Darwin juga menangis tetapi isakannya masih dapad di tahan, beliau mengusap pucuk kepala istrinya penuh sayang.


Makan saja harus dari selang tertancap dalam hidung Franda, buang air kecil pun sudah dari selang kateter, membersihkan tubuh sudah di lap menggunakan kain basah, menopang tubuh Franda agar bisa bergerak kekiri dan kekanan. Hal yang paling melelahkan adalah, orang lain harus sangat tahu kapan waktu Franda makan minum obat yang di haluskan, kapan Franda harus di bersihkan. Belum lagi Franda akhir akhir ini sering memuntahlan apapun yang di telannya, wajah itu mengerut menahan sakit didalam tubuhnya. Franda masih bisa mendengar, mata itu masih bisa memberi isyarat iya dan tidak. Itu saja.


Andai saja Franda masih bisa sedikit saja bersuara, itu cukup membantu dirinya agar tidak terlalu bergantung pada orang lain.


"Bu apa aku bisa mengganti takdir Franda?" jawab Handi setelah mendengar keadaan Franda.


"Jika memang bisa, lebih baik ibu yang menggantikan Franda. Umur ibu sudah tua, tapi umurpun bukan tolak ukur untuk menerima takdir atau kematian kan,"


Kini mereka bertiga sudah duduk bersama disamping Franda, menceritakan keadaan Franda pada Handi. Darwin hanya termenung diam di dekat istrinya.


"Lalu, apa salah dan dosa Franda sehingga dia harus menerima cobaan seberat ini bu?"


"Kita tidak berhak mempertanyakan itu, Nak. Tuhan tahu yang mana yang harus di berikan pada umatnya. Orang yang baik saja bisa lebih menderita dari ini, Nak. Orang jahat saja bisa pergi begitu saja tanpa harus menderita lebih dulu akibat kejahatannya. Ini sudah takdir Franda, bukannya dia tidak menjaga kesehatannya hingga kanker otak ini menjalar begitu cepat, semua ini di luar rencana kita, Nak." Bu Darwin meghela nafas lelah kemudian menoleh melirik kearah Franda.


"Frandaa bangun sayang!" Bu Darwin panik melihat mata itu terpejam tiba tiba. Handi dan Darwin ikut berdiri mendekati tubuh Franda, mereka bertiga sudah menangis histeris mengguncang tubuh Franda dan memanggil manggil nama itu.


Jlep..


Franda membuka mata mengedipkan memberi isyarat bahwa ia tidak apa apa,. Entah kenapa, Franda merasa nyaman saat mendengar suara lelaki yang di dekatnya tadi. Cerita itu seperti pernah di alaminya, suara itu tidak asing baginya. Sehingga dengan perlahan ia merasakan kantuk lalu tertidur dengan nyaman.


"Dia hanya tidur, Mah." Darwin bernafas lega, kemudian mencium kening Franda lembut.


Semuanya juga merasa lega.

__ADS_1


👇👇👇


__ADS_2