BUKAN KEKASIH GELAPKU

BUKAN KEKASIH GELAPKU
Berkaca Diri?


__ADS_3

Dalam merayakan hari baca senasional, tepat hari ini mentri pendidikan mengadakan event perlombaan baca dengar dongeng antar SD sekota X yang di bagi-bagi menjadi beberapa kategori lomba antar tingkatan kelas. Tentu event ini sangat sangat di tunggu pihak pihak yang terkait dan setiap tahunnya sudah menjadi sasaran TV swasta baik nasional di perdengarkan lewat radio dan di tulis di surat kabar harian.


Pihak sekolah akan mempersiapkan para siswa yang akan menjadi peserta lomba mewakili nama sekolah, sedangkan orang tua atau wali ikut berpartisipasi menemani anak mereka saat naik ke podium.


"Nyonya Marva. Putri anda Narra, mendapat nomor undian ketiga baca dongeng nanti, ya." Marva menerima kalung kertas berisi angka undian sebagai nomor urut untuk Narra tampil.


"Baik, Bu." jawabnya gugup. Sang putri terpilih mewakili nama sekolah sebagai peserta lomba baca dongeng tingkat kelas 1 sampai 3 SD. Orang tua mana yang tidak bangga mengetahui anaknya akan membawa nama sekolah.


"Sayang," Marva berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Narra, kemudian memasangkan kalung nomor undi pada Narra "Narra, gugup ya?" tanyanya sambil merapikan tatanan rambut Narra.


"Sedikit." jawab Narra sumringah.


"Hayy. Gadis cantiknya, Om," suara pria berasal dari belakang Marva mengalihkan perhatian mereka.


"Om Lerfando?" pekik Narra girang.


"Heyy,,Om Lef!" tukas Lefrando membenarkan namanya di salah sebutkan.


"Maaf Om. Itu bunga untuk siapa?" tanya Narra melihat sebuket bunga mawar biru di tangan Om Lef.


"Buat kamu Narra, yang semangat ya lombanya." Ia memberi bunga itu kepada Narra.


"iya, Om."


Marva terasa canggung berada di dekat Lefrando. Bunga itu adalah salah satu bunga yang pernah ia terima pagi pagi kemarin, namun ia bungkam tak mau bertanya disituasi seperti ini.


"Narra, ayok kesebelah sana. Gurumu sudah menunggu."


Tangan Marva menggandeng Narra begitu erat menghilang di tengah keramaian orang orang yang berjalan berlalu lalang. Lefrando menatap sendu kearah Marva.


"Nak Dokter." Lefrando tersentak akan panggilan bibi Tanti. Beliau sedari tadi diam saja.


"Saya tahu, Nak Dokter mencintai Marva,"


"Apa kami bisa bersama, Bi?"


"Untuk itu, saya tidak bisa menjawabnya, Nak."


"Saya sudah menunggu Marva bertahun tahun Bibi. Jika pada akhirnya Marva tidak di takdirkan bersama saya, sama saja penantianku selama ini sia-sia."


Bibi Tanti bisa merasakan gejolak cinta dari putrinya Marva dan Dokter Lefrando. Pengalaman hidupnya memberi pelajaran agar tidak mengambil keputusan demi kepuasam sendiri. Bisa saja beliau memberi saran agar Dokter Lefrando terus berjuang demi kepuasan batin Lefrando. Tetapi, beliau sadar ada seseorang yang akan patah hati dibalik itu semua.

__ADS_1


Marva masih menunggu perubahan sifat Handi.


🌹🌹🌹


Matahari sudah meninggi diatas kepala terasa menyengat pertanda ini sudah bukan lagi pagi tapi kesiangan.


Handi mengerjapkam mata melirik kekiri kekanan, jam dinding diatas pintu kamar menyantakkan pria itu segera bangkit dari tempat tidur.


Tumben sekali ia terlambat bangun. Tergesa gesa ia membersihkan diri berpakain stelan kerja kemudian berjalan terburu buru menuruni tangga.


Saat dalam mobil menuju kantor, kepalanya sedikit terasa pusing. Ia tahu bukan karena melewatkan jam sarapan pagi. Hahh, tadi malam ia mabuk. Astaga, beberapa menit berlalu, barulah ia menyadari ada keanehan di badannya.


Terbangun dalam pakain tidur bukan pakain kerja. Tidakk. Wanita itu sudah berani menyentuh tubuhnya, membayangkannya saja kepala Handi semakin terasa sakit.


"Maaf Tuan, wajah anda terlihat pucat. Jika memang kurang enak badan karena sisa tadi malam, sebaiknya Tuan tidak perlu memaksa kerja." sapa Dian memperhatikan Tuannya.


"Diamlah." jawab Handi membentak Dian yang sudah setia berjalan mengikuti dari belakang.


"Ahh Nurma, undurkan semua jadwal rapat hari ini!" Handi menyentak Nurma sketarisnya setelah wanita itu membacakan jadwal hari ini.


"Tapi Tuan, anda sendiri yang mengatur jadwal ini," Nurma masih mencoba bernegoisasi. Padahal kakinya ingin sekali segera keluar dari ruangan terkutut ini.


Nurma tidak berkutik lagi "I-iya. Maaf sebelumnya, Tuan." ia sibuk berjalan menuju pintu sambil mendumel dalam hati, "Hiss semenjak entah dari mana mana si boss jadi seperti ini. Ngerrii." tidak berani menoleh lagi.


"Apa!! Hari ini jangan masuk dulu temui si boss, lagi datang bulan dia. Tadi pak Dian sudah kena sembur, tadi aku. Kalau kalian masih ngotot juga, berarti kalian akan jadi korban selanjutnya."


"Ayo ayo, kembali kemeja kita masing masing." satu persatu dari mereka meninggalkan Nurma. Besok saja mengantar berkas yang harus ditanda tangani si boss.


Lain lagi dengan Nurma, ia duduk bahagia kerjanya hari ini sedikit berkurang karena si boss tidak jadi mengadakan rapat pertemuan.


Satu jam sudah berlalu begitu saja tanpa ada berkas yang dibaca Handi, meja kerjanya masih rapi seperti yang ia temui tadi pagi. Semangatnya tiba tiba hilang, pikirannya terbang kemana mana.


Hari ini ia memutuskan tidak mengizinkan siapapun masuk keruangannya termasuk Dian. Melangkah kearah sofa bersandar disana. Menu sarapan paginya belum tersentuh, mungkin makanan itu sudah dingin.


Mencoba membangkitkan energinya. Handi menekan tombol on pada benda kotak panjang, kemudian matanya tertuju pada televisi yang tergantung di dinding atas sofa.


Awalnya ia acuh pada tayangan televisi tersebut. Tetapi, ia terbelalak melihat siapa orang yang berdiri diatas podium sedang membacakan dongeng.


"Narra." ucapnya lirih.


Sepanjang dongeng berjudul 'Kelinci Dan Ibunya' terucap dari mulut mungil Narra, Handi mendengar kata perkata dari cerita itu. Ia tersenyum simpul merasa bangga pada anaknya karena sudah berbakat seni seperti, tentu ibunya.

__ADS_1


Tetapi lihat disana. Saat sang pembawa acara menyuruh Narra membacakan pesan dari dongeng yang dibacanya, Handi tersudut. Tidak ada namanya di sebut sebut.


Waktu pembacaan pemenang perlombaan tiba, Handi tetap setia didepan layar menanti apakah anaknya masuk juara lomba. Ia ikut merasa gugup.


"Selamat kepada Narra Maresha Hutama dari SD NusaBangsa 03 menjadi juara pertama kategori membaca dongeng!" Handi ikut bertepuk tangan bahagia melihat sang putri yang sudah mengangkat piala berukuran lebih besar dari Narra. Nama itu tertulis di piala itu. Handi ikut tersenyum sama seperti senyuman Narra dari sana.


Ia merasa bodoh tidak berada disamping anaknya yang sedang lomba disana, ia merasa sesak.


"Jawab pertanyaan dari saya ya, Narra,"


"Iya." Narra mengangguk pasti. Menoleh kesamping meminta persetujuan dari bundanya. Sang Bunda tersenyum lembut, Narra mengangguk lagi, bersiap menjawab pertanyaan dari om dan tante yang memegang mikerefon dan om pembawa kamera di depannya.


"Sejak kapan Narra suka mendengar dongeng?"


"Bunda hampir setiap malam membacakan dongeng saat Narra mau tidur."


"Yang mengajarkan Narra baca dongeng, sehingga Narra dapat sepintar tadi?"


"Guruku."


"Umm, yang paling mendukung Narra ikut lomba ini siapa?"


"Kepala sekolah, Buk guruku, Bundaku, Nenek Tantiku dan Om Lef."


Kamera mengikuti arah pandang Narra kepada seorang pria tampan yang sedang berdiri tak jauh dari bibi Tanti, pria itu tersenyum manis membalas tatapan Narra.


"Siapa itu Om Lef?"


"Temannya Bunda dan temannya Narra."


Deg.


Handi merasakan keanehan pada dirinya melihat tayangan dari wawancara Narra tadi. Narra benar benar tidak mengingat dirinya lagi, Narra tidak pernah tersenyum seperti tadi saat Narra tersenyum kepada pria yang disebut Om Lef.


"Lefrando dokter sialan!" Handi mengumpat marah. Tentu ia tau siapa pria itu. Ia sempat memergoki pria itu datang kerumah mereka, bodohnya Handi tidak peduli akan itu. Ini baru dia mengerti maksud terselebung dari pria itu.


"Marva, istri sialan berani sekali kau bermain di belakangku!" Handi mengepalkan tangan, "Awas kau nanti, dan kau juga dokter sialan!"


Handi marah semarahnya, tetapi sayangnya ia tidak bisa berkaca diri.


👇👇👇

__ADS_1


__ADS_2