BUKAN KEKASIH GELAPKU

BUKAN KEKASIH GELAPKU
Munculnya Pemikiran Itu?


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, kejadian Oma menarik rambut Bundanya terus teringat di benat Narra, gadis itu merekam semua ingatan dalam memori yang cukup menyakitkan pikiran anak seusianya. Ia tidak mau bercerita banyak pada Bunda karena takut membuat Bundanya sakit seperti hari kemarin. Lagi pula Narra bingung harus berbicara seperti apa. Satu lagi yang harus di pikikannya sekarang ini. Mengapa Ayahnya menjadi semakin pendiam saja semenjak pulang dari pekerjaan kata Bundanya, yang membuat ia tidak melihat ayahnya selama ia sakit kemarin.


Narra pernah mencuri pandang tidak sengaja waktu itu, Ayahnya sedang mengusap sebuah foto seorang wanita terbingkai cantik di tangan ayahnya. Ia masih punya pengelihatan cukup tajam. Jadi tidak perlu di ragukan lagi, siapa wanita di foto tersebut, meski ia jarak pengelihatan terhalang oleh badan Ayahnya.


Bukan bundanya. Tetapi tante lain, Narra tidak tau siapa dia.


Waktu itu Narra bertanya begitu saja pada Bunda. Jawaban Bunda begitu meragukan, ia tahu Bundanya berbohong. Tetapi tetap Narra mengangguk, tersenyum manis seolah percaya bahwa memang tante itu hanya teman bunda dan ayahnya. Kata Bunda mereka bertiga begitu dekat dulunya.


Narra tidak kehilangan akal nanti ia bertanya saja pada Om Lef. Bukannya Om Lef juga adalah teman Bundanya? Om Lef memperkenalkan diri bilang bahwa Bunda dan Om Lef sudah berteman sebelum Narra lahir, harusnya Om Lef juga mengenali tante itu kan?


"Narra, kok belum tidur sayang?" tanya sang Bunda.


Narra merengek minta tidur berdua satu kamar, semenjak Bundanya mengatakan sakit karena kelelahan menjaganya di rumah sakit waktu itu.


"Bunda juga belum tidur, yah."


"Sayang. Bunda baru saja selesai menyiapkan perlengkapanmu untuk lomba baca dongeng besok. Harusnya Narra yang tidur lebih cepat biar besok tidak mengantuk saat lomba. Yakan?" Narra memalingkan wajah kesal karena di cium Bunda.


"Iya iya. Narra tidur dulu ya bunda. Tapi jangan cium cium Narra, kata Om Lef Narra udah besar jadi tidak bisa di cium cium lagi."


"Sejak kapan Narra mulai mendengarkan perkataan Om Lef? Hoo jujur sama bunda?"


"Tidak tahu. Narra suka setiap Om Lef menasihati Narra. Bunda juga pasti tidak tahu ya, Om Lef berjanji waktu itu katanya, kalau Narra menang lomba dongeng besok, om Lef akan ajak Narra bertemu langsung dengan perri perri yang ada di dongeng itu."


"Ehh, sudah sudah. Bunda jadi merasa tersaingi oleh om mu itu. Jadi sekarang ayo cepat tidur." Apa ini, Lefranfo sudah memberi janji tang tidak masuk akal, rutuk Marva dalam hati.


Perlahan tapi pasti Lefrando berpengaruh besar kepada Narra. Dulu selalu kata bunda kata bunda, itu yang gadis kecil katakan. Sekarang, sejak kapan Narra mulai mempercayai orang lain seperti Narra mempercayai Marva bundanya?


Marva menyingkirkan tangan setelah usapannya berhasil membuai Narra untuk tertidur. Ia berjalan menatap langit malam dari jendela kamarnya.


Pikirannya terasa melayang kemana mana. Tentang perubahan sikap Narra semenjak bertemu Lefrando, juga semenjak tragedi mami datang menarik paksa Narra dari pelukannya. Perihal perhatian Lefrando, akhir akhir ini cukup berani terang terangan datang langsung kerumah mereka.

__ADS_1


Marva menoleh kearah nakas, disitu ada bunga yang tadi pagi ia terima lagi. Jika di telaah lebih dalam lagi, Marva menaruh kecurigaan kepada Lefrando sipengirim bunga itu.


Menyandarkan kepala kejerajat besi jendela memejamkan mata. Untuk saat ini Marva begitu bingung akan perasaannya sendiri. Ia juga wanita biasa yang bisa berpaling hati kepada pria lain yang jelas jelas jauh lebih baik dari suaminya. Cara pria itu memandangnya, ada gurat harapan di dalam manik hitam itu. Bisikan bisikan lembut yang sewaktu waktu ia bisa tertarik keluar dari kenyataan. Ahh Terkadang jika ia membuka mata, Lefrando jauh lebih mempesona dari suaminya. Satu lagi Narra, lama kelamaan gadis itu juga seakaan menjadi pemeran pendukung untuk ia berpaling hati.


"Ahhkk!" Marva melayangkan tinju kepada tralis besi yang tak bisa membalas apa apa. Jika ia selangkah saja memutuskan maju untuk hal itu, apa bedanya ia dengan Handi? Huhhh. Meskipun cara Handi agak sedikit berbeda, tetapi ya tetap saja itu namanya selingkuh. Tapikan, sikap Handi juga tidak mencerminkan sebagai seorang suami atau ayah. Jika diteliti lagi, Handi bukan hanya berselingkuh tapi juga,, "Tidak tidak Marva, jangan berpikir sejauh itu." ucapnya kepada diri sendiri.


Niat tubuh ingin melangkah masuk karena rasa kantuk juga sudah terasa, tetapi urung melihat siapa orang yang sedang turun dari mobil yang terparkir di dekat gerbang rumah.


"Mas Handi, kenapa sampai dipapah begitu?" Marva melonjak terkejut melihat pemandangan dari bawah.


Cepat cepat ia menutup rapat jendela kemudian menarik tirai gorden menutup menjuntai kearah lantai.


🌹🌹🌹


"Nyonya, tolong buka kamar Tuan Handi." tukas Dia. Bukannya bernaksud apa apa, hanya saja Nyonya ini akan banyak bertanya di saat kurang tepat seperti ini.


Dian dan si Pak supir masuk kedalam kamar kemudian membaringkan Handi diatas kasur, tubuh itu terhempas tak berdaya di sana. Dengan cekatan Marva melepaskan sepatu Handi lalu dengan sangat hati hati melepaskan jas kerja dari tubuh suaminya agar Handi tidak terbangun, menyelimuti Handi kemudian berlalu keluar kamar menemui pak Dian di ruang tamu.


"Tuan Handi mabuk."


"Iya aku tahu, tapi bukannya dia tidak suka minum alkohol?"


"Entahlah Nyonya. Semenjak beliau pulang dari desa tempat Nona Franda, beliau menjadi seperti ini." ucap pak Dian jujur.


"Sebegitunya kah!" memberi jeda pada ucapannya. Marva tidak habis pikir cinta suaminya sampai seperti ini "Spa bapak mengetahui kondisi Franda sekarang?,, hahh,, Ibu Franda tidak pernah menghubungku lagi. Kami sudah tidak berkomunikasi lagi."


"Maaf sebelumnya Nyonya. Saya harus menceritakan ini,"


"Bicaralah pak."


"Tuan Handi meracau di sela sela mabuk tadi. Nona Franda sudah tidak bisa bergerak lagi, rambut Nona Franda sudah botak. Tapi kata Tuan Handi lagi, Nona Franda masih bisa merespon melalui mata,,," Dian bercerita panjang lebar kejadian di kelab malam tadi.

__ADS_1


Entah angin apa yang membuat Tuan Handi. Setelah menerima telepon dari tuan besar ayah beliau, Tuan Handi mengajak Dian pergi menuju kelab malam terletak tidak terlalu jauh dari lokasi perusahaan.


Sudah berkali kali Dian berusaha untuk menghentikan Tuannya berhenti meneguk alkohol yang sudah tandas dua gelas kecil, justru Tuannya semakin menjadi jadi meracau bercerita tentang Nona Franda. Syukurnya Tuan Handi memang bukan pria yang suka minum alkohol, atasannya itu langsung jatuh pingsan setelah menghabiskan tiga botol. Bukannya oleng atau sejenisnya ternyata bosnya hanya pingsan reaksi tubuh menerima alkohol.


"Mas Handi." Marva mengusap kepala Handi perlahan lahan. Ia kembali kedalam kamar Handi setelah pak Dian pamit pulang, sementara pak supir sudah pulang terlebih dulu sesudah mengantar Handi kedalam kamar.


Membersihkan sisa keringat dari permukaan wajah Handi, kemudian mengganti pakain dari atas sampai bawah.


Tubuh Handi terlihat sudah kehilangan berat badan, semakin kurus dan bibir itu sudah memucat. Menelusuri wajah Handi dengan jari jari Marva, "Kau sangat sangat mencintai Franda ya Mas. Kau egois Mas, sangat egois. Kau membiarkan hidupmu terpuruk memikirkan rasa cintamu yang kau anggap benar, tetapi kau tidak memikirkan betapa terpuruknya Narra karena merindukanmu. Lalu aku, aku merasakan sakit, Mas." Marva berlinang, "Entah cerita apa yang kita punya ini, Mas." ia bermonolog sendiri meratapi kisah rumah tangganya.


"Frandaa."


Jlepp..


Marva tercengang mendengar sebutan nama itu dari mulut Handi


"Jangan tinggalkan aku sayang." Marva berlinang lagi. Ia menutup mulutnya dengan tangannya sendiri agar isakannya tidak keluar.


"Franda tunggu aku, aku ikut kamu." tidak tahan lagi, Marva berlari kecil meninggalkan Handi yang masih mengigau.


Bermenit menit ia berada didalam kamar mandi. Setelah cukup puas menangis, ia mencuci wajah kemudian naik ketempat tidurnya.


Marva membelakangi Narra yang dikiranya sudah tertidur, padahal gadis kecil itu terbangun karena merasakan ada sesuatu di dalam kamar mandi, Narra mengurungkan niat ingin buang air kecil.


Narra bundamu menangis!!!.


👇👇👇


Hahh,, gak ada yang koment part ini apa yaa??,,, kalau kalian jadi Marva, apa yang akan kalian lakukan??..


Sudahlah ahh,,

__ADS_1


Jangan lupa mampir lagi besok ya.. okkk.. 🍍🍍🍍🍍🍍


__ADS_2