
Derasnya hujan di tengah malam melintasi kebun karet di sisi kiri kanan jalan hanya bermodal cahaya kuning remang dari lampu sorot mobil yang menjadi andalah Handi untuk menembus perkampungan tempat alamat yang ia terima dari dokter Lisa semalam.
Mengendarai seorang diri tanpa teman sama sekali, dirinya nekat memburu waktu mengejar sang kekasih di sebuah dusun indah. Menutupi rasa ketakutan merapalkan doa doa semoga saja ia bisa sampai dengan selamat tanpa cela sedikit pun.
Sinyal untuk berkomunikasi lewat ponsel tidak ada segaris pun tertera di layar.
Setelah sukses melintasi kebun karet, perjuangannya tidak sampai di situ. Aspal hitam berlubang terendam genangan air hujan menyebabkan becek mengotori lingkar band, tapi Handi tetap semangat melewati rintangan itu.
Melambatkan kecepatan berhenti sejenak, Handi termenung memandang rintik hujan dari jendela kaca mobil bagian depan.
Mungkin air mata itu sudah menganak melebihi derasnya hujan malam ini, memeluk diri sendiri mendekap tubuh yang terasa sedikit kedinginan karena udara masuk dari cela cela kaca merembes kedalam mobil. Menyandarkan kepala keatas setir, mata lelah bergambar lingkaran hitam memandang sendu kearah jalan yang kosong. Mana ada warga yang berani keluar menantang derasnya hujan badai petir malam begini, hanya Handi lah berani nekat seperti ini, menahan kantuk.
Kembali Handi mencengkram setir kuat-kuat menahan gejolak terasa sesak didalam sana.
"Anda bodoh sangat bodoh, Tuan Handi yang terhormat. Franda tidak akan bisa kembali lagi kepada anda. Tubuh Franda tidak pantas untuk anda, hatinya tidak pantas untuk anda. Percuma anda menemui Franda disana, dia tidak akan mengenali anda. Kedatangan anda tidak akan berarti apa apa untuknya, dia Franda sudah mati raga. Pulanglah kembali kedalam pangkuan istri dan anak anda. Narra sakit memanggil manggil nama ayahnya." Bayangan Dokter Lisa yang menangis terisak di lantai ruang kerja terus terngiang di telinga Handi.
Dokter wanita itu juga sama terlihat lelah seperti dirinya.
"Bukan hanya anda yang mengharapkan Franda bisa sembuh, tapi saya juga. Saya merasakan sakit melihat orang tua Franda tetus menerus menangis disamping Franda. Saya hanya dokter biasa yang berusaha semampu saya. Saya sangat menyayangi Franda, tapi saya saya tidak bisa lagi memperpanjang hidupnya." ingatan tangisan Dokter Lisa pecah untuk pertama kali di depan dirinya.
Tetapi dengan egois Handi masih tidak menyerah untuk meminta alamat Franda dimana sekarang.
Jadilah ia sudah berjalan sejauh ini, ia tidak mungkin mundur kebelakang, Semua sudah terlambat.
Perjalanan ke sana masih butuh perjuangan lagi, ia harus tetap melanjutkan.
Dduuuarrr!!!.
Aayahhhh!!!.
Suara petir mengelegar bersamaan dengan suara itu muncul entah dari mana.
__ADS_1
"Narra." gumam. Handi mencari anaknya kekiri kekanan, suara itu seperti tampak nyata di telinga,
"Ahhkkkk!" sadar itu hanya sebuah halusinai, Handi menyandarkan tubuh ke sandaran kursi pengemudi dengan kasar sambil mengacak rambut frustasi.
"Maafkan ayah, Narra. Ayah sangat bodoh sekarang ini. Ayah menghianatimu sayang juga bundamu."
Kembali air mata itu tumpah seiring dengan air hujan deras di luar mobil.
Wajah Narra yang memelas di ruang kerja waktu itu terlintas di benat Handi, tapi sayangnya langsung berganti dengan wajah tersenyum Franda saat ia menyatakan cinta pada gadis itu beberapa tahun silam.
"Iya, Mas. Aku mau jadi kekasihmu, aku juga mencintaimu selama ini." pelukan hangat gadis itu masih terasa sampai saat ini.
"Aku tidak tau kenapa aku bisa mencintai Mas juga. Mungkin waktu kebersamaan kita saat aku masa magang di kantornya, Mas. Hum cinta itu datang tanpa ku minta, Mas." senyum gadis itu saat mengakui perasaannya adalah senyum terindah sampai saat ini.
Franda dan Handi di pertemukan saat mereka melakukan tugas sama sama pelatihan di kantor keluarga Hutama.
Franda menjalani masa magang, sementara Handi dalam persiapan menjadi CEO menggantikan posisi Papahnya. Mereka berdua sering bertemu tanpa sengaja di kantor, sampai pada akhirnya benih cinta tumbuh diantara mereka.
"Franda. Aku datang sayang, apapun keadaanmu aku akan tetap datang menemuimu." gumam Handi membatin.
Setelah di rasa tenaganya sudah perlahan kembali, Handi meneguk air putih dari botol minum yang di siapnannya tadi, kemudian menghembuskan nafas. Hujan diuar juga sudah tidak sederas tadi. Ia sudah bisa melajukan mobil kembali menembus kegelapan malam meluncur ketempat yang di tuju.
Saat tangannya mulai menginjak pedal gas mobil, tiba tiba ia di kejutkan ketukan pintu mobil dari orang bermantel kuning dari luar.
"Iya. Ada apa, Pak?" sapanya sambil memutar sesuat menurunkan kaca mobil.
"Pak. Mari menyingkir kesana, ada pohon tumbang menghalangi jalan. Untung Bapak berhenti disini, kalau tidak pohon itu mungkin sudah menimpa bapak." suara orang itu mengeras akibat suara hujan dari luar. "Carilah penginapan malam ini untuk Bapak beristirahat, perjalanan tidak memungkinkan untuk di teruskan."
"Tapi dimana saya harus menginap?" Handi terkejut tidak menyadari ada pohon tumbang menutupi jalan beberapa meter dari depan. Ia terlalu asik dengan lamunannya.
"Berbeloklah kearah kanan Pak, disana ada perumahan warga. Minta tolobg lah agar Bapak bisa menginap didalam rumah itu. Biasanya jika hujan sampai sederas ini, sungai akan meluap menutupi jalanan, Pak. Bahaya itu nanti, kami masih berusaha menyingkirkan pohon itu Pak." pria itu menjelaskan.
__ADS_1
Handi diam sesaat, tidak mungkin juga ia memaksakan diri terus melaju. Hanya malam ini ia bersabar mengulur waktu untuk pergi menemui Franda.
Waktu pukul 02:02 WIB, barulah ia di bukakan pintu masuk oleh salah satu warga untuk menginap.
Sepasang orang tua kakek nenek dengan ramah menyambutnya. Memberikan ia baju hangat, menyodorkan segelas teh hangat dan sedikit cemilan, menyediakan ia satu kamar untuk beristirahat malam ini.
Jelas rumah ini tidak sebanding dengan rumahnya. Dinding terbuat dari anyaman bambu beralaskan lantai semen, mungkin ini hanya seluas ruang tempat ia bekerja di kantor.
Tetapi ada kehangatan didalam rumah ini, pasangan itu sedikit bercerita tentang mereka saat mereka menemaninya minum tadi. Sudah membina rumah tangga selama berpuluh puluh tahun tanpa di karunuai anak, tetapi pancaran cinta tidak hilang dari mereka.
Handi terenyuh merenung lagi didalam kamar kecil ini.
Kakek nenek ini membuktikan cinta sejati di dunia nyata, sementara dirinya ahhh..
Pengecut kah, pecundang kah atau terserah orang orang menyematkan ia laki laki seperti apa.
Dirinya tahu, ada Narra sedang sakit membutuhkan pelukan darinya, ia tahu Marva membutuhkan sosok suami yang benar benar menjaga mencintai keluar kecil mereka.
Handi sudah jujur dari awal kalau ia tidak akan bisa menjadi seperti apa yang Marva harapkan. Ada cinta lain yang sudah menutup relung hati untuk menerima wanita selain Franda.
Siapa yang bisa membantu memberi nasihat pada Handi? Pria itu dari lahir sudah di didik untuk memiliki prinsip teguh di doktrin ini itu.
Jika boleh mundur kebelakang, perusahasn keluarga bukanlah pekerjaan yang ia inginkan selama ini, Handi mengubur cita cita sebagai seorang guru. Handi juga kehilangan impiannya bersekolah di SMA yang ia inginkan demi bersekolah di tempat mewah yang tidak masuk akal baginya. Anak tunggal satu-satunya pewaris 'HutamaOne', menjadi tuntutan hidup baginya. Suka tidak suka tetap harus di jalani.
Sekarang ia harus hidup dalam pernikahan yang tidak ia inginkan. Keluarga akan kehilangan martabat bila ada permasalahan perceraian tersebar darinya dan Marva.
Handi hanya memperjuangkan Franda cinta yang sudah mengubah sebagian alur hidupnya. Hanya itu yang ia tau walau caranya salah.
Handi merasa terlalu jenuh dengan jalan hidupnya.
Perlahan lahan Handi terlelap dengan air mata menggenang, gurat kelelahan tersimpan di balik gurat kejahatan dari wajahnya.
__ADS_1
👇👇👇