BUKAN KEKASIH GELAPKU

BUKAN KEKASIH GELAPKU
Karena Keegoisan


__ADS_3

Drrett drett ddreett..!!


Marva mengalihkan perhatiannya dari buku catatan akhir bulan, kemudian meraih ponsel yang berdering. Ia meragu menyentuh tombol hijau itu. Nomor tidak terdaftar dalam kontak, tapi nalurinya mengatakan ia harus menerima panggilan itu, "Halo,"


"Bu Marva, kami dari kepolisian. Anak anda Narra sedang berada bersama kami di kantor polisi. Segeralah kemari. Anak anda mencari ibunya." Marva menegang mendengar seruan dari si penepon.


"Ini maksudnya?" jawab Marva masih kebingungan.


"Bunda cepatlah kemari, Narra tersesat di perjalanan tadi." itu benar suara putrinya. Segera Marva membereskan meja lalu berangkat menuju alamat kantor polisi yang ia terima melaui pesan singkat dari si penelopon tadi.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, tetapi kemampuan menyetir wanita itu tidak perlu diragukan lagi. Ia tetap sampai dengan selamat


Matanya tertuju pada sesosok tubuh mengil yang langsung berlari merangkul Bundanya. Gadis itu terisak dalam gendongan Marva. Marva menepuk punggung Narra mengusapnya agar gadis itu berhenti menangis.


"Sayang ini Bunda. Tenanglah. Kau sudah bersama Bunda, sayang." bisiknya ditelinga Narra. Mendengar itu Narra mulai menyeka air matanya, kemudian menelesupkan kepalanya keceruk leher Bundanya.


"Bu, silahkan duduk dulu. Biar kami menjelaskan semuanya," Marva duduk diatas bangku yang disediakan pak polisi. Memangku Narra diatas kakinya. Sementara gadis kecil itu terus diam.


"Begini bu. Tiba tiba saja Narra datang ke tempat ini, pakaiannya basah terguyur hujan, tidak memakai alasan kaki sama sekali, tubuh Narra berbau anyir. Kemudian kami membersihkan tubuh Narra," penjelasan polisi ini cukup mengejutkan Marva. Ia menatap manik Narra lamat lamat. Ada bekas air mata disudut mata gadis kecil itu.


"Kenapa bisa anak saya sampai sejauh ini pak?"


"Menurut cerita Narra, ia tersesat tidak tahu jalan pulang. Tadi Narra mengatakan, dia sedang duduk berdua bersama ayahnya di taman tapi tiba tiba ayahnya pergi begitu saja setelah nenerima panggilan dari seseorang. Setelah itu, Narra tidak bertemu lagi dengan ayahnya. Narra berjalan berkilo kilo meter sendirian ditengah derasnya hujan, hingga sampailah ia ketempat kami." Marva menahan emosi mengetahui Handi meninggalkan putrinya begitu saja.


"Narra. Lihat Bunda, Nak," Marva mengangkat dagu Narra menghadap wajahnya. Marva tersenyum manis membelai rambut Narra. Manik itu masih takut takut membalas tatapan Marva.


"Coba ceritakan pada Bunda, mengapa bisa Narra berjalan sampai sejauh ini," iya memang Marva sudah mendengar penjelasan dari pria yang duduk di hadapannya. Tapi apa salah ia ingin mendengar cerita langsung dari mulut Narra. Marva mengembangkan senyuman lagi menghilangkan ketakutan Narra,

__ADS_1


"Ayo ceritakan pada, Bunda." ia kembali membujuk.


Narra mencengkram lengan baju bundanya. Mata itu mulai berkaca kaca menengadah kepada Bunda, mulutnya mulai terbuka untuk berbicara. "Ta-tadi Ayah mengajak Narra keluar jalan jalan ketaman, tapi Narra ditinggal pergi sendirian setelah ayah menerima telepon dari seseorang" isakan gadis kecil itu melengking memenuhi keheningan kantor polisi. "Narra sudah menunggu ayah sangat lama sekali. Karna Narra bosan, makanya Narra coba cari jalan pulang sampai hujan turun. Untung Narra sudah menghafal nomor Bunda jadi Narra meminta bapak polisi menelepon Bunda," suaranya putus putus masih terisak dipangkuan Bunda. Saat ia merasakan belain hangat bunda, Narra melanjutkan kalimatnya. "Bunda. Aku takut tadi. Petir itu sama seperti suara petir malam itu waktu Bunda tidak tidur dengan Narra, anginnya hampir menghempaskan tubih Narra, sendal Narra putus karena terendam air genangan."


"Peluk Bunda, Nak." Marva menarik tubuh Narra agar merapat memeluknya. Suara isakan Narra teredam dalam pelukannya.


Kemarin malam tiba tiba saja Handi menemui Marva dalam kamar mereka,


Meminta izin untuk membawa Narra jalan jalan ketaman. Sungguh malam itu ia merasa bahagia, dengan niat Handi sendiri akhirnya Narra bisa menghabisan akhir pekan. Tentu Marva mengizinkan itu. Meskipun tanpa dirinya. Tetapi setidaknya Narra sudah merasakan duduk berdua dengan Handi.


Tapi nyatanya hari ini. Marva kembali menelan rasa kecewa, Handi tidak bisa di percaya untuk menjaga anaknya sendiri. Hingga Narra harus merasakan hujan diluar sana.


Ini kali pertama Handi membawa Narra keluar, justru lelaki itu tidak bertanggung jawab sebagai orang tua.


"Putri ibu sungguh luar Biasa cerdas. Dengan berani dia datang melapor ke kantor polisi dan sudah menghafal nomor ponsel orang tuanya. Anda sungguh beruntung memiliki anak secerdas Narra." Marva tersenyum ramah mendengar pujian dari polisi tadi.


🌹🌹🌹


"Ahhkkk!" Handi memukul setir mobil frustasi, penampilannya sudah tidak karuan lagi. Mobil itu sudah berkeliling keseluruh sudut kota mencari keberadaan putrinya Narra.


Tetapi nihil, gadis itu tidak juga ia temukan.


Dan kebodohannya lagi, ia tidak menpunyai foto Narra sama sekali, orang orang yang ia tanyai tadi, tidak memahami ciri ciri Narra. Alhasil ia kebingungan sekarang.


"Halo. Bagaimana? Apa anak saya sudah ditemukan?" Handi langaung mencerca pertanyaan untuk pria yang sedang menghubungi nomornya.


"Maafkan saya, Tuan," balas pria dibseberang sana ketakutan.

__ADS_1


"Ah, sial!" Sambungan itu terputus sepihak. Handi memukul setir lagi mendengar jawaban tidak memuaskan dari pria suruhannya.


"Aihh kau ayah yang buruk, Handi." rutuk Handi kepada dirinya sendiri.


Masih jelas di ingatannya betapa bahagia Narra tadi saat mereka masih duduk berdua di bangku taman. Membersihkan sisa coklat dari pipi Narra, menyuapi Narra ice criem. Senyuman Narra membuat ia merasa hangat dalam hati. Tapi itu kejadian beberapa jam lalu.


Sekarang apa yang sudah di lakukannya, ia melupakan putrinya sangat lama.


Tadi orang tua Franda menghubungi Handi meminta tolong mentransfer uang untuk biaya pengobatan Franda. Ya Handi berjanji membiayai setengah pengobatan wanita itu sebagai tanda ia masih mencintai Franda. Justru panggilan itulah yang membuat ia melupakan Narra.


Handi membiarkan Narra menunggu terlalu lama. Dan lihat sekarang, Handi kehilangan Narra. Padahal kemarin itu Ia sudah memperhitungkan semua dengan teliti, itulah ia mberanikan diri membawa Narra keluar.


Ditegaskan lagi. Waktu itu seperti terlalui begitu saja karena keegoisannya.


Tingg..!


Cepat cepat ia membuka pesan masuk dari ponselnya. Ia tercengang membaca isi pesan itu;


Marva: Kutunggu kau dirumah, Narra sudah bersamaku.


Handi bisa menebak pesan ini ditulis dengan kemarahan. Tak biasanya Marva memanggil ia dengan sebutan 'kau'.


Apa yang harus ia katakan nanti ketika sudah sampai dirumah? bukan menghadapi Marva, tapi Narra, putrinya pasti semakin membenci dirinya.


"Tenang Handi,, semua pasti bisa kau hadapi." monolog nya sendiri, lalu menghidupkan mesin mobil berlalu pergi.


👇👇👇

__ADS_1


__ADS_2