BUKAN KEKASIH GELAPKU

BUKAN KEKASIH GELAPKU
Keluarga Franda


__ADS_3

Hari yang telah di tentulan Lisa sudah tiba, waktu keberangkatan mereka menuju desa tempat Franda di rawat dulu sekaligus desa yang akan di tinggali oleh orang tua Franda untuk selamanya. Awalnya Lisa menentang keputusan agar tidak menetap di desa tersebut, ia masih ragu untuk meniggalkan sepasang suami istri itu hidup sendirian disana. Sebenarnya tidak sendirian, para warga desa sangat baik kepada mereka bahkan sudah srperti keluarga tambahan untuk Darwin dan istrinya. Lisa ingin sekali selalu berdekatan dengan mereka dan ingin menjaga mereka. Tapi, keputusan Darwin sudah bulat, nanti Lisa bisa berkunjung kesana di senggang waktu.


Masalah pekerjaan Darwin sudah memutuskan untuk beralih profesi, para warga mengusulkannya agar ikut mencalon sebagai kepala desa mengingat latar pendidilan Darwin yang sangat mendukung untuk menjadi pemimpin desa. Tentu, istrinya sangat setuju berharap kesibukan mereka nanti apa bila terpilih dapat menutupi kesedihan mereka. Jabatan Darwin di perusahasn sudah di alihkan, Darwin juga akan di kirimi gaji pensiunanan dari perusahasn tiap bulannya.


Marva juga sudah menyiapkan segalanya untuk ikut seperti apa kata Lisa. Untuk alasannya sendiri, ia mengatakan ada hal yang penting untuk urusannya keluar kota dua hari, bertemu dengan teman seprofesinya sebagai penghias desain kueh untuk pengembangan toko rotinya.


Ia tetpaksa harus berbohong mengingat ini berkaitan dengan Franda, nama wanita itu terdengar sensitif di telinga keluarga martuanya.


Papi martuanya tidak ingin nama itu di sebut-sebut, terlebih dihadapan Handi. Jadilah ia memang harus berkilah.


Untuk Handi sendiri, ia tidak terlalu memusingkan kepergian Marva. Justru ia merasa sedikit lega karena waktunya bersandiwara harinya sedikit berkurang.


🌹🌹🌹


Marva tidak tahu apa rencana yang telah Lisa lakukan untuknya, membuat perasaannya bercampur aduk untuk naik ke dalam mobil yang dikendarai oleh seseorang yang sangat ingin dihindarinya.


"Marva, kau tidak ingin naik? Mau sampai kapan kau berdiri di situ, Lisa dan orang tua Franda sudah terlebih dulu berangkat. Papiku tidak jadi ikut, ada pasien mendadak." ucap Leframdo dati dalam mobil.


"I-iya. Aku naik." jawab Marva gugup. Dengan gontai ia berjalan membuka pintu mobil.


"Hey, kenapa kau duduk di situ? Di depan, mari." ucap Lefrando tegas.


Hufff.. Marva mendesah melangkah menuruti kemauan Lefrando. Menutup pintu secara kasar, memasang tali pengaman mengomel. Membuat Lefrando tersenyum ironi.


Mobil terus melaju menyusuri setiap sudut jalan, tidak ada percakapan diantara mereka berdua. Lefrando fokus menyetir, sementara Marva sibuk memandang keluar jendela menghindari Lefrando.


"Marva,"


"Eh, iya?"


Setelah beberapa menit berjalan dengan hening, Lefrando memulai percakapan terlebih dulu.

__ADS_1


Marva tersentak mendengar namanya di


panggil Lefrando.


"Bagaimana keadaan mama martuamu?"


"Sudah lebih baik." jawabnya singkat, ia takut percakapan mereka melebar kemana-mana.


Bukan Lefrando namanya jika ia langsung menyerah, ia tidak mau kalah dengan perempuan ini. Lefrando menoleh sebentar kesamping, memamerkan senyumnya kepada Marva. "Masih mau minum obat, kan?" tantanya asal, yang penting ada bahasan.


"Iya,"


"Aku rindu pada Narra, kenapa kau tidak mengajaknya?"


"Dia masih sekolah,"


"Ita juga, yah." Lefrando merasa garing dengan dirinya sendiri.


Ia hanya menunggu Marva memulai bercerita seperti biasa, tapi untuk kali ini rasanya beda. Marva tidak mau bercerita tentang kehidupan selama martuanya datang.


Oh iya, ia beru ingat.


"Marva, kita harus berjaga jarak dengan mobil Om. Darwin. Kalau sudah sampai disana, lalu kalian sudah bertemu, Om Darwin tidak mungkin menyuruhmu pulang kembali 'kan. Kau sudah terlanjur ikut, itu yang menjadi alasanmu nanti. Kau mengerti?"


"Iya." Marva meremas jarinya gugup. Apa yang dikatalannya nanti bila sudah bertemu dengan orang tua Franda? Ia tidak siap diacuhkan oleh suami istri itu.


"Jangan terlalu berpikir kemana-mana, Marva. Aku dan Franda ada bersamamu. Percayalah pada kami, dan percayalah pada dirimu sendiri. Ok." Lefrando tersenyum memberi penguatan pada Marva.


Marva merasa lebih tenang hanya karena mendengar sedikit nasihat penyemangat dari Lefrando, sesungguhnya ia merasa aman saat berada di sampung lekaki ini.


🌹🌹🌹

__ADS_1


Tantangan berikutnya untuk Marva. Setelah lepas dari Lefrando di dalam mobil yang terasa canggung, sekarang berganti menjadi rasa tegang akan berhadapan dengan orang tua Franda.


Sempat ia merasa ragu untuk masuk kedalam rumah ini, tapi berkat bujukan Lefrando, ia memberanikan diri


Setelah mendapat pesan dari Lisa mengatakan sudah waktunya untuk masuk, mereka berdua mekangkah membuka pintu rumah.


Lisa dan kedua orang tua Franda duduk manis di ruang tamu beristirahat sebentar setelah merasa kelekahan perjalan panjang. Suasana tadi masih baik-baik saja tidak ada hal mencurigakan, tapi setelah melihat sapaan dari perempuan yang masih berdiri mematung di depan pintu utama.


"Nak, Marva." ucap Bu Darwin lirih. Ia berdiri berjalan menghampiri Marva kemudian memeluk putrinya itu erat. Mereka menangis menuangkan rindu satu sama lain.


"Ibu, maafkan aku." Suara Marva terbata sambil sesenggukan dipelukan ibunya ini.


"Tidak ada yang perlu dibahas lagi, Nak." Bu Darwin melonggarkan pelukannya menangkup pipi Marva yang sudah basah air mata. Tangan rapuh itu mengusap menghapus air mata Marva dengan lembut, rasa sayang pada Marva tidak memudar sama sekali. "Ayo hampiri ayahmu, Nak. Beliau tetap. ayahmu, kami tetap menjadi orang tua pengganti untukmu."


"Ayah," Marva langsung bersujud dihadapan kaki Darwin, menggemgam pergelangan kaki Beliau yang terasa dingin.


Darwin terkesiap, anak ini terlalu berlebihan pikirnya. Tetap ia mempertahankan sikap dinginnya pada Marva, menunggu sejauh mana anak ini tulus kepada mereka. Darwin tidak memberi pergerakan sama sekali.


"Maafkan Marva, Ayah. Marva sudah menghianti keluarga, Marva juga tidak datang dihari kepergian Franda. Hiks hiks hiks. Marva tidak bisa membalas kebaikan keluarga Ayah. Ampuni aku." Marva terus berucap sambil sesenggukan masih bersimpah dikaki Darwin.


Hati Darwin perlahan luluh tidak kuat melihat air mata Marva, sejujurnya ia tidak marah sepenuhnya. Istrinya sudah menceritakan apa yamg sebenarnya terjadi antara hubungan putrinya dengan Marva dan Handi. Darwin mulai mengerti dan memahami situasi mereka.


Darwin menunduk menangkup bahu Marva mengajak berdiri. Tanpa banyak bicara ia memeluk Marva mengusap punggung putrinya dengan lembut.


"Franda."


Ucap Darwin lirih setelah melihat bayangan cantik Franda berdiri tersenyum dibalik badan Marva. Lalu dengan sekejap mata bayangan itu menghilang bersama udara, tapi senyuman itu menandakan bahwa putrinya bahagia melihat semuanya membaik.


"Ayah memaafkanmu, dan maafkanlah juga atas sikap ayah yang terlalu jahat kepadamu, Marva." kata-kata itu terucap juga.


"SEMOGA KAU TENANG FRANDA."

__ADS_1


👇👇👇


__ADS_2