BUKAN KEKASIH GELAPKU

BUKAN KEKASIH GELAPKU
Marva


__ADS_3

Ini adalah pagi yang tidak biasa bagi Marva, entah firasat apa tang merayap di pikirannya. Ia merasa ragu saat mengantar Narra sampai ke gerbang sekolah.


Narra terlihat sedikit pucat dan tak selera menyantap sarapan. Marva sudah mengatakan untuk Narra tidak masuk hari ini kesekolah, tetapi anak itu keras kepala memilih bertahan dengan sakit perut. Obat pemberiannya memang sudah di minum Narra, namun tentu perasaan seorang ibu tidak lepas begitu saja.


Belum lagi tadi Marva sempat memperhatikan penampilan kusam suaminya Handi. Entah ada apa dengan pria itu, Marva tidak berani bertanya, toh lelaki itu tidak menjawab.


Tetapi tidak lupa seperti biasa ia akan menitipkan bekal makan siang kepada asisten Handi tanpa sepengetahuan dan mencampurkan vitamin bubuk di dalamnya.


"Fokus Marva,,, fokus!" Marva menghela nafas lelah lalu memukul mukul setir.


Tin, tinn,.!!.


Suara klakson dari beberapa kendaraan sudah memburu untuk cepat berjalan setelah lampu berubah hijau. Marva baru menyadari jika sekarang ini ia berhenti tepat di lampu merah.


Satu pencapaian terbaik adalah saat kita bisa membeli barang barang dari hasil jeri payah kita sendiri.


Marva telah berhasil mengumpulkan pundi pundi uang untuk membeli mobil pribadi cukup nyaman untuk di isi sekeluarga, Tidak perlu keluaran terbaru, yang penting mobil itu bisa berfungsi untuk banyak orang.


"Pagi Bu " Marva tersenyum ramah kepada Tina salah satu pegawai di tokonya.


"Ada apa Tina, kenapa kau terlihat berbeda pagi ini?" Marva menegur gadis yang sudah mengabdi dari awal perintisan toko sampai saat ini.


"Ahh, tidak kok Bu Marva. Silahkan Bu masuk ke ruangan Ibu, ada sesuatu disana," Marva mengerut bingung.


"Baiklah. Selamat bekerja, ya." Tina mengangguk patuh.


Buket bunga sekumpulan mawar berbagai warna di bungkus plastik bening di lilit pita jepang berwarna merah, Marva mendadak di kirimi bunga oleh seseorang tidak bernama.


Menghirup aroma dari bunga kemudiam meneliti lagi sesuatu yang ia dapat dari sela sela diantara bunga. Secarik kertas berwarna merah jambu:


"Selamat pagi, semoga hari mu menyenagkan."

__ADS_1


Tulisan singkat tanpa ada nama si pengirim tertera disana.


Tidak tahu bunga itu harus di kemanakan, Marva memilih meletakkan bunga di tempat seharusnya agar bunga itu tidak cepat layu.


Jujur, ia sangat suka sekali bunga mawar. Itu memang berduri, tetapi Marva memang pecinta bunga mawar.


Seandainya saja ia hidup seperti bunga mawar, berduri tapi tetap bernilai.


Benar banar tidak ada semangat untuk membuka segala laporan laporan hasil toko dan grosir yang sudah menumpuk di meja kerja, Marva memilih duduk bersandar di kursi kerja. Pikirannya menerawang tentang pernikahannya.


Andai saja ibu dari Handi, tidak mengetahui tentang kejadian dimana malam itu ia dan Handi teridur di apertemen satu ranjang. Mungkin mereka berdua tidak akan menikah bahkan sampai sejauh ini Narra datang kedunia.


Tidak ada kebahagiaan di dalam hatinya, sifat Handi sungguh tidak pantas untuk di katakan sebagai suami.


Laki laki itu tidak pernah terlihat dengan wanita manapun, kecuali Franda.


Marva tau itu karena mendapatkan informasi dari sketaris dan asisten Handi.


Waktu itu tidak sengaja, Marva mencuri dengar menguping Handi membahas tentang pencarian Franda entah kenomor siapa.


Marva mencengkram rambut panjangnya, ia sakit hati posisi sebagai istri tidak pernah di hargai.


Ada banyak hal permasalahan dalam. setiap rumah tangga. Masalah finansial, Handi kaya Marva juga sudah bekerja menghasilkan uang sendiri. Martua, awal pernikah Marva memang tidak terlalu dekat akan tetapi kehadiran Narra cukup berpengaruh untuk hubungannya dengan martua. Mabuk mabukan atau berjudi, tidak, Handi pria yang cukup baik tidak melakukan itu, kalaupun mabuk itu hanya sesekali saja. Bertindak main fisik, apa lagi itu tidak ada setitik bekas sedikitpun di permukaan kulit Marva dan Narra.


Bermain wanita, pria itu menjung tinggi martabat keluarga. Selingkuh, apakah memikirkan wanita yang bukan istri juga termasuk berselingkuh?


Tidak,, tidakk,, Marva menggeleng, ia sadar ia bukan wanita yang di cintai Handi.


Tidak seperti pasangan suami istri yang lain. Mereka jarang tidur satu kamar kecuali martua bertandang kerumah.


Tidak pernah merayakan ulang tahun pernikahan bersama, setahun lalu Marva mencoba mengajak merayakan tetapi Handi justru memilih kerja di hari libur waktu bertepatan dengan ulang tahun pernikahan. Postingan foto berdua pun tidak ada di sosial media mereka masing masing.

__ADS_1


Handi tidak pernah memberi kabar, tiba tiba sudah di rumah, tiba tiba tidak di rumah, seperti bayangan muncul lalu menghilang. Berkat asisten lah Marva bisa tenang Handi sedang berada dimana.


Sebagai seorang ayah. Marva akan menerima barang barang pemberian Handi melalui asisten, untuk Narra. Berlibur waktu senggang, Marva akan menghafal banyak skenario untuk berbohong pada Narra. Jika bukan karena bibi Tanti, Marva tidak bisa sepenuhnya membagi waktu anatara anak dan pekerjaan.


Lalu selama ini apa alasan Marva tetap bertahan dalam pernikahan mereka. Cinta, Marva hanya menganggap dirinya sebagai ibu dari Narra anak mereka. Marva tidak pernah macam macam diluar sana, selalu menjaga sikap sebagai wanita yang telah menikah. Memberi perhatian Handi, ya dirinya melakukan tugas sebagai istri. Hanya sebatas itu kah?


"Ibu Marva kenapa?", suara Tina membangunkan kesadaran Marva dari lamunannya.


"Tidak ada Tina." Marva mengangkat kepala menghadap Tina.


"Ibu dari tadi melamun ya, sampai sampai ibu tidak mendengar ponsel Ibu berdering dari dalam tas Ibu" Tina berucap lembut. Gadis ini sedikit tahu permasalahan apa yang sedang di alami atasannya


"Oh astaga, terimakasih sudah memberitahuku Tina." Marva sedikit panik membuka tas mengeluarkan ponsel dari dalam tas.


Dan benar saja, ada tiga panggilan tidak terjawab dari sekolah Narra.


Ada apa ini, tidak biasanya ia di panggil via telepon begini.


Tangan bergetar Marva mengangkat nomor yang sama:


"........"


"Iya dengan saya sendiri disini. Ada apa ya bu?' ketakutan menjalar di hati Marva.


",,,,,,,".


"Ap-apa anak saya Narra muntah muntah? Baiklah saya kesana sekarang."


"Tina. Aku harus pergi ke sekolah Narra, tolong jaga toko ya. Aku pergi dulu."


"Baik, Bu." Tina menjawab patuh. Gadis ini meras ikut prihatin melihat Marva sekacau ini.

__ADS_1


👇👇👇


__ADS_2