
Sudah sampai sore begini Handi belum juga mengangkat telepon dari Marva memberitahu Narra sedang sakit. Sudah tahu itu akan sia sia, tapi melihat keadaan Narra sebegini parahnya, apapun pasti di lakukannya.
Narra keracunan sesuatu yang di telannya membuat gadis itu merasakan sakit kepala, pening, muntah, perut terasa keram, berkeringat berlebihan. Guru yang mengantar kerumah sakit sudah kembali kesekolah setelah Marva datang.
"Ayahh,, ayyahh!!" Narra terus meracau lirih dalam tidurnya. Bibir mungilnya yang pucat ikut bergetar.
Marva mengusap lembut kepala Narra mencoba menengkan gadis itu.
Apa yang sebenarnya terjadi tadi malam pada mereka? Marva sudah bertanya tetapi mulut Narra seolah terkunci tidak mau menjawab, bahkan Marva mampir kekamar Narra tetepi gadis itu sudah tidur membelakangi pintu kamar menyelimuti tubuh memeluk boneka. Ia tahu Narra pura pura tidur menyembunyikan kesedihannya.
"Masukk!" seru Marva menjawab ketukan pintu dari luar sana. Salah perkiraan. Jangan harap Marva pria itu akan datang, "Pak Dian," Marva kecewa, asisten suaminya yang justru datang.
"Selamat sore, nyonya." Dian membungkuk hormat "Maaf sebelumnya kalau saya yang datang kesini. Tapi sungguh Nyonya. Skhir akhir ini tuan Handi sibuk sekali. sekarang beliau sedang rapat dengan rekan bisni."
"Duduk di sofa saja Pak. Takutnya menganggu Narra nanti." menunjuk sofa fasilitas VIP.
"Baik nyonya."
Wajah cantik itu begitu lesu tidak bersemangat, manik matanya terlihat sendu di liputi berbagai macam pikiran pikiran. Marva menarik nafas dalam dalam, menyiapkan hati mendengar cerita tentang suaminya dari asiaten Pak Dian. Jika boleh bilang, pak Dian adalah ibarat ponsel bergerak bagi mereka berdua, selalu setia menjadi pengantar kabar.
Lucu juga ya, humm, mungkin sebenarnya pak Dian merasa aneh atau risih menghadapi hubungan mereka ini? Ia pernah bertanya pada pak Dian langsung, tetapi laki kaki kaku ini selalu menjawab tidak apa. Marva tertawa sumbang dalam hati, sampai kapan mereka akan terus seperti ini? Narra sudah sebesar sekarang.
"Saya tahu Nyonya merasa tidak enak dengan saya. Tapi tolong hilangkan pikiran itu Nyonya." Marva tersentak mendengar penuturan Pak Dian.
"Saya akan mendengar informasi dari Bapak. Bicaralah."
Hampir saja air mata itu jatuh lagi didepan pak Dia. Handi memburu waktu menyelesaikan pekerjaan berat di kantor demi mengumpulkan kesempatan untuk menemui Franda disana. Kesehatan Handi juga kurang stabil saat ini hanya karena memikirkan wanita lain di seberang sana. Pria itu kurang asupan makanan kehilangan selera karena menahan rindu untuk wanita lain. Sebegitu besarkah cinta suaminya pada Franda?
"Pak Dian, apa bapak membawa sesuatu untuk kuberikan kepada Narra saat ia bangun nanti?"
"Melakukan itu lagi Nyonya?"
__ADS_1
"Lalu harus bagaimana lagi Pak, kita harus berbohong lagi kan pada Narra?!"
"Hahh!" Dian menghela nafas kasar. Ia adalah seorang duda beranak satu ditinggal mati oleh sang istri karena sakit gula basah beberapa tahun lalu, ia juga pernah mengalami hal yang sama saat Vida putrinya sakit meracau memanggil nama ibunya yang sudah tiada. Pasti sangat berat menghadapi situasi seperti ini. Ia masih bisa toleransi pada Vida karena ibunya memang sudah tiada, tetapi ini Narra, jelas jelas ayahnya masih bernafas di bumi ini. Harusnya Tuan Handi datang memeluk Narra membelai rambut gadis itu menyuapi makan membantu meminumkan obat untuk Narra.
Tetapi ia sadar batasan anatar asisten dan tuan seperti apa, ia tidak banyak bicara. Melalui Marva ia dapat membantu sedikit wanita rapuh ini.
"Tidak ada Nyonya. Tapi saya akan pergi sebentar untuk mencarinya."
"Mencari yang seperti apa pak? Boneka atau apa?"
"Bukan Nyonya. Sebaiknya Nyonya tunggu saya di sini, saya akan mengambil barang itu lalu kembali kesini." Dian berjalan meninggalkan Marva.
Langit sudah gelap saat Pak Dian meniggalkan ia sendiri menjaga Narra. Menelopon bibi Tanti, ahh wanita yang sudah dianggapnya seperti ibu sendiri pasti sudah kelelahan mengurus rumah sendirian. Ia segan meminta tolong untuk menemaninya. Jam makan malam di lewatkannya, menelan sebutir nasi saja kerongkongan rasanya susah menerima. Agar bertenaga sedikit, Marva memakan roti yang di berikan Lefrando padanya.
Oh, pria itu tadi menyempatkan waktu menjenguk Narra, kali ini Lef tidak menangani Narra pasien anak karena ada pasien anak yang harus di rawat Lefrando secara intensif. Dokter.Julia adalah teman Lefrando sesama dokter anak yang bertugas merawat Narra.
"Bunda. Mana ayah?" kalimat itu yang di ucapkan Narra pertama kali begitu ia bangun.
"Bunda menangis" tangan mungil Narra mengusap wajah Bunda. Permukaan kulit Narra yang panas menyatu dengan permukaan wajah Marva yang basah karena air mata, "Narra mau ayah menjemput Narra kalau pulang sekolah. Tapi ayah bilang waktunya ayah masih sibuk Bunda. Ayah tidak suka susu buatan Narra, Narra minum susu itu tapi rasanya tidak enak seperti buatan Bunda, Narra tidak mau susu coklat lagi. Narra tidak jadi menunjukan hasil nilai Narra pada ayah, ayah menyuruhku untuk cepat tidur. Bunda mana ayah?" Narra berucap dengan suara parau.
Marva sudah terisak menerima pelukan Narra mencari kehangatan disana, Narra mengigil tapi kulitnya terasa panas. Marva membungkukan badan menyeimbangkan tubuh Narra di atas brankas "Hiks hiks hiks Narra" tubuh mereka berdua sama sama bergetar karena menangis.
Percuma ia menekan tombol intetcom itu, toh Dokter Julia tadi mengatakan telah berhasil mengeluarkan racun dari muntahan Narra terakhir kali. Narra terlalu merindukan ayahnya, hanya ayahnya yang bisa menyembuhkan Narra saat ini.
"Bunda. Tadi Narra bermimpi ayah pergi meninggalkan kita. Ayah tidak mau pulang bersama kita, Narra mengejar ayah tapi Narra justru terjatuh." ucap. Narra masih dalam pelukan Bunda, menceritakan mimpinya.
"Iya ayah pergi meniggalkan kita, menemui orang yang di cintainya. kita bukan,,bukan." Marva terisak berat melanjutkan perkataan dalam hatinya.
"Diingginnn!"
'Iya sayangg" cepat cepat ia menyelimuti Narra mendekap tubuh Narra mengurangi rasa menggil Narra, tapi panas dan keringat masih menjalar di tubuhnya.
__ADS_1
Suasana rumah sakit didalam ruangan VIP tentu menambah kepanikan Marva, tidak ada orang lain bersama mereka. Marva menangis di tengah keheningan malam sendirian tanpa ada orang yang bisa ia mintai bantuan. Martuanya jauh tidak mungkin dengan cepat bisa sampai kekota ini. Ia hanya menyampaikan, bahwa Narra hanya keracunan makanan itupun sang mama martua dengan tidak tahu diri memarahi habis habisan Marva di telepon. Sambil mengucapkan doa doa dalam hati ia memeluk Narra erat erat.
"Nyonya. Maafkan saya, saya terlambat.", Marva menoleh merasa lega ada Pak Dian dan bibi Tanti datang.
"Nak Marva tenanglah, kami datang membawa sesuatu untuk meredakan Narra." Marva membalas pelukan Bibi Tanti, tangis nya pecah di sana.
"Bu. Marva takut hiks hiks hiks."
"Lihatlah Marva sudah tertidur lag. Cucu ibu tidak akan kenapa kenapa, ya." Bibi Tanti menepuk nepuk pundak Marva.
Keadaan sudah tenang kembali. Isakan Marva perlahan menghilang, Narra kembali tertidur tetapi tubuhnya masih mengigil.
"Ini kemeja kotor Tuan Handi, aroma parfum masih melekat di situ. Selimuti kemeja itu kepada Narra, aroma parfum akan menyatu dengan aroma badan Narra. Alam bawah sadar Narra akan mengira Tuan Handilah yang memeluknya." Dian pergi sebentar kerumah Handi mengambil kemeja yang kotor semalam karena tidak sempat di cuci.
"Pak Dian yakin?" balas Marva ragu ragu.
"Saya yakin Nyonya. Vida langsung tenang setelah saya melakukan itu dengan pakaian ibunya."
"Baiklah. Semoga saja."
Perlahan lahan Marva menyingkirkan selimut rumah sakit kemudian menutupi tubuh Narra dengan kemeja kotor Handi tadi kemudian menyelimutinya kembali.
Dengan sayang Marva mengusap rambut Narra.
Ajaibb. Menit demi menit berlalu, suhu panas perlahan berkurang, getaran karena mengigil juga berkurang. Narra mengerjap sebentar lalu kembali tertidur pulas seperti biasa gadis itu tidur di kamar.
Ketiga orang dewasa itu bernafas lega.
Dian kembali pulang kerumah, sementara Marva sudah tertidur nyanyak di sofa di atas pangkuan Bibi Tanti.
👇👇👇
__ADS_1