BUKAN KEKASIH GELAPKU

BUKAN KEKASIH GELAPKU
Sakit


__ADS_3

Tengah malam Marva terbangun dari tidurnya karena merasakan ada sesuatu yang harus ia keluarkan dari sana, terburu-buru menyingkirkan selimut lalu menghidupkan lampu tidur dan langsung berlari kilat kearah kamar mandi.


Setelah merasa lega Marva keluar dari kamar mandi melangkah menuju tempat tidurnya, matanya menelisik arah jarum jam yang tergantung di dinding diatas pintu pukul 03:35 WIB.


Sebelum berbaring, Marva menoleh melihat Handi masih tertidur lelap dibawah sana. Sebenarnya ia tidak enak hati akan hal ini, harusnya ia yang tidur di posisi Handi yang sekarang, tempat tidur ini milik Handi bukan milik Marva. Tapi apa mau di kata, Handi sendiri yang melakukan ini secara implusif tanpa memberi tahu terlebih dahulu.


"Huff. Semoga kau tidur nyenyak, Mas." ucap Marva lirih lalu berbaring.


"Ehhh," Marva menoleh lagi kearah Handi merasakan ada suara dari mulur Handi. Ia kembali menyingkirkan selimut yang sudah di pasangnya tadi, melangkah menghampiri Handi.


Cahaya remang lampu tidur yang dinyalakan Marva diatas nakas membantu penerangan untuk melihat wajah suaminya.


Wajah itu basah oleh keringat yang menetes dari pelipis Handi, alis mata Handi bergerak naik turun, bibirnya bergetar seperti sedang meracau, tapi tak ada suara dari mulut Handi.


Marva menelusuri permukaan wajah Handi yang sepertinya sedang gelisah, Handi mimpi buruk.


Hampir saja Marva menjerit terkejut, Handi menyamping berbelok kearahnya dan langsung mengemgam tangan Marva erat, Marva terkesiap antara percaya atau tidak Handi mengemgam tangannya dalam keadaan tidak sadar. Tangan Marva ikut basah karena tangan Handi yang berkeringat menyentuh kulit Marva. Saat ia hendak menyingkirkan tangannya, entah mengapa gemgaman Handi semakin menguat bahkan tidak memberi tangan Marva ruang untuk terlepas, Marva kebingungan sekaligus merasa gugup, apa yang harus di. lakukannya?


"Franda."


Marva tercengang mendengar Handi yang meracau, bukan meyebut namanya.


🌹🌹🌹


Cahaya matahari pagi menembus cela kaca jendela menyilaukan mata Handi yang masih terpejam, ia mengerjapkan mata perlahan menetralkan rasa kantut yang masih tersisa sepanjang tidur tadi malam, mengucek mata lalu menggeliatkan tubuhnya.


Bangkit dari baringan dengan rasa badan yang tidak segar seperti biasa, pagi ini ia terbangun karena merasakan kurang sehat.


Tulangnya terasa remuk sampai terasa di ubun-ubun kepala, kerongkongannya terasa kering seperti tidak minum berhari-hari, dan lagi badannya terasa lengket seperti tidak mandi saja.


"Aahhkk." Handi meringis kecil merasakan badannya tidak bisa di gerakkan, "Ck, kepalaku sakit sekali. Ahhkk." Handi kembali meringis menyentuh pelipisnya yang terasa berdenyut. Ia memukul ambal masih dalam keadaan mata terpejam, sepertinya ia memang sedang sakit.


"Hahh." Handi mendesah lemah tidak bertenaga untuk berdiri, ia berbaring lagi tidak kuat sekedar melangkah saja.

__ADS_1


Ia teringat apa yang telah menyita hari-harinya sehingga ia berakhir dengan kondisi seperti ini, ia paling tidak suka namanya jatuh sakit apa lagi dalam situasi secanggung sekarang. Jujur, ia juga merasa butuh istirahat dari banyaknya tugas yang menumpuk terlebih untuk menjernihkan pikirannya yang masih kalut. Tapi, ia ragu untuk beristirahat didalam kamar ini terlebih ada Marva, ia ingin tidur seharian di kamar didalam ruang kerjanya di kantor. Kalau ia beristirahat di kantor, siapa yang merawatnya? Ah sudahlah, Handi mengalah untuk kali ini. Mengaku saja ia juga tidak bisa merawat diri sendiri.


"Mas," Handi membuka mata mendengar suara panggilan dari sebelahnya. Tahu itu Marva, ia memejamkan mata lagi.


"Apa," jawBnya dingin tapi terdengar lemah.


"Mas, sakit yah?" tanya Marva padanya. Ia merasa sedikit iba melihat Handi jatuh sakit. Dengan berani dan niat tulus, ia berusaha untuk memulai bantuan dari lubuk hati Marva.


"Humm." jawabnya singkat. Handi menutup matanya dengan pergelangan tangan kanannya, mrnghindar dari Marva.


"Emmm, Aku bantu buatkan air hangat mandi yah?"


"Tidak."


"Aku bawakan sarapan,"


"Ck."


"Aku panggilkan dokter,"


"Tapi kamu sedang sakit, Mas. Izinkan aku membantu Mas untuk,,, "


"Ahhk." Handi merasa jengah, ia menepis tangan Marva kasar.


"Baiklah, Mas." ucap Marva menyerah "Aku mandi dulu ya, Mas. Setelah itu baru Mas nyusul. Kita sarapan pagi bersama."


Setelah Marva berlalu untuk mandi pagi, Handi mencoba untuk tidur. Tubuhnya sedikit meriang, menutupi tubuhnya dengan selimut dari ujung kaki hingga batas leher, memejamkan mata.


Sungguh kali ini ia benar-benar butuh seseorang untuk membantunya berdiri. Ah baru ingat, hari pemakan Framda ia hanya makan malam saja. Waktu ia pulang kerumah ini pun, ia tidak makan juga tidak minum banyak. Ditambah pikirannya yang terasa kacau, pantas saja ia sakit hari ini.


"Ummmm." Handi menutup mulutnya menahan sesatu yang bergejolak dari dalam perutnya ingin keluar melalui mulutnya. Pandanganya berputar-putar berkabut, kepalanya berdenyut menimbulkan rasa nyeri di pucuk kepalanya, badannya gemetaran.


"Handi, kau menolak bantuan Marva. Kau gemsi sekali, kau tidak bisa mengurus dirimu sendiri saat sakit, Handi." rutuknya dalam hati. Hingga ia mendapatkan ide aneh agar bisa minta bantuan Marva lagi tanpa harus membuat dirinya sendiri yang menahan malu.

__ADS_1


"Uueekkk!!!"


"Astaga! Mas Handi, kau muntah?" Marva tercengang melihat muntahan Handi yang sudah menodai birunya warna ambal alas tidur Handi. Cepat-cepat keluar dari ruang ganti menghampiri Handi.


"Mas, Tolong terima bantuanku, yah? aku panggil dokter, aku ambil lap membersihkan wajahmu Mas. Mau yah?" tanyanya bertubi-tubi merasakan panik luar biasa.


Wajah suaminya sudah terlihat pucat pasih, wajahnya kotor karena muntahan Handi sendiri, nafas Handi melemah. Ia sungguh tidak kuat melihat hal seperti ini.


"Marva," Handi memcoba bersuara "Aku menerima bantuanmu, tapi harus kau ingat satu hal," ucapnya lambat-lambat.


"Mulai detik saat ini juga, aku memutuskan. Kita berdua akan berpura-pura menjadi pasangan yang di minta oleh Mami, kita harus seperti pasangan suami istri selayaknya hanya didepan orang tua ku saja. Jika sudah didalam kamar, jadilah seperti semula. Kau paham?"


Tanpa pikir panjang Marva mengangguk "Iya, Mas."


"Dengan keadaan ku sakit seperti ini, Mami akan menyangka kita sudah baikan. Kita melakukannya selama Mami dan Papi tinggal disini. Ingat itu."


Dengan berat hati Marva mengangguk lagi.


Marva tidak habis pikir menghadapi suaminya ini, sedang dalam kondisi sakit pun, bisa-bisanya Handi mengatakan hal itu bukan memikirkan kesehetannya.


Yang harus dihadapi Marva kedepan hari, bisakah ia berakting berpura-pura seperti apa yang suaminya katalan tadi?


Berapa lama, sampai kapan? Menunggu martuanya pulang dulu, sungguh lelucon yamg tidak lucu.


👇👇👇


Riang gembira canda tawa,


terima kadih sudah membaca.


Kue sobek punya nenek lampir,


jangan lupa besok mampir.

__ADS_1


Ada monas katanya monument,


mohon like, vote dan coment.


__ADS_2