
Suasana canggung menyelimuti ketiga orang dewasa ini. Papi martua sudah sampai jam 0530 tadi dan langsung menuju rumah sakit tempat Mami di rawat.
Tadi malam setelah Mami sadar, sebenarnya Mami sangat ingin membicarakan sesuatu dengan Marva. Tetapi Marva menolaknya, mengatakan lebih baik Mami istirahat kembali, karena ini sudah larut malam. Jadilah pagi ini setelah Mami sarapan dan minum obat, barulah Mami menceritakan, apa yang sebenarnya terjadi. Papi juga turut berada disitu.
Sangat hati hati, Marva membantu mami untuk duduk bersandar di kepala brankas, kemudian merapikan rambut Mami yang sudah kusut.
Papi martua memperhatikan gerak-gerik menantunya itu. Beliau tersenyum tulus. Ada rasa penyesalan dalam hati. Mengapa ia tidak membela menantunya. Ia sadar, harusnya bukan begitu cara memperlakukan seorang menantu. Membiarkannya tersiksa sendirian.
"Sudah Mi. Ceritalah, apa yang ingin Mami sampaikan." ucap Marva lembut.
Sebelum mulai bercerita, Mami menatap suaminya yang duduk di sebelah kanan Marva. Mami tersenyum sungkan mulai berbicara.
Setelah puas memaki maki menantunya didalam ruang kerja Marva, Mami meminta pak supir memutar jalan kearah kantor HutamaOne. Sedangkan Papi sudah tidak peduli lagi. Papi melanjutkan perjalanan pulang kekota asal.
Mami mendapati keberadaan Handi sedang tidak ditempat. Jadilah ia hanya berjalan kesana kemari menyusuri ruang kerja putranya. Toh Mami ibu dari Handi, sehingga ia dapat dengan leluasa masuk kedalam ruangan Handi. Tujuannya datang untuk memberi tahu, bahwa Mami sudah memperingatii Marva
Memperhatikan hiasan dinding dan isi lemari. Mami berdecak kagum, itu cukup rapi dan tertata dengan baik. Meja kerjanya juga sangat bersih dan sangat rapi.
Ruangan itu cukup luas. Tersedia sofa untuk tamu juga ada satu kamar khusus untuk Handi beriastirahat sejenak.
Mami berdecak kagum memperhatikan kamar itu juga terlihat nyaman dan rapi.
Mami membangga-bangakan putranya dalam hati. Ah, mana ada anak lelaki memperhatikan kebersihan dan kerapian seperti putranya. Mami tersenyum bangga.
Kembali mami menyusuri ruangan Handi. Entah bagaimana, tiba tiba saja Mami berpikiran untuk menggeledah laci nakas meja kerja Handi.
Hap, Mami dengan gampang membuka gembok laci menggunakan trik yang ia pelajari memakai salah satu jepit rambut dari atas kepala Mami. Mengapa sampai di kunci seperti ini, toh isinya hanya dokumen saja. Pikir Mami dalam hati.
Mami mengatupkan mulutnya tercengang melihat apa yang ia temukan.
__ADS_1
Mami masih ingat betul dengan jam tangan yang saat ini ia pegang. Hadiah dari Franda sewaktu mereka masih pacaran dulu. Mami memperhatikan dengan teliti lagi. Sepertinya jam ini sudah tidak berfungsi lagi, jarum jam tidak bergerak lagi. Handi masih menyimpan benda ini.
Mami merogoh kedua laci nakas meja kerja Handi. Apa ini. Laci kiri tempat penyimpanan barang pribadi Handi, itupun tidak banyak.
Laci kanan tempat penyimpanan semua barang barang kenangan saat putranya masih berpacaran dengan Franda. Jam yang tadi, lalu foto Franda, lalu foto mereka berdua. Mami sangat-sangat tercengang dengan apa yang ia lihat hari ini. Terlebih, tidak ada satu barang pun yang mencerimkan adanya istri atau Narra cucunya. Jejak itu tidak ada.
Setelah menutup laci nakas. Mami melangkah lunglai duduk diatas sofa yang tersedia. Wanita paru baya itu menangis kekecawaannya.
Betapa ia adalah ibu yang terbodoh telah membela putranya yang jelas salah menjalani hidup rumah tangganya. Putranya berbohong memutar balikan fakta saat bercerita kepada Mami lewat sambungan telepon. Mami merutuki kebodohannya lagi, begitu mudah percaya pada putra kebanggannya, tanpa ia menasihati atau memberi saran. Justru ia merasa sok benar kemudian membuat pemikiran salah yang sudah menghancurkan kepercayaan cucunya. Dengan gaya angkuhnya ia datang membawa serta suaminya untuk menemui Marva, menuduh menantunya yang tidak-tidak.
"Mami mohon Marva. Katakan apa yang sudah kalian sembunyikan dari kami tentang rumah tangga kalian," bujuk mami pada Marva.
Menantunya itu jadi menangis selama ia menceritakan apa yamg ia lihat didalam ruangan Handi. "Marva," Mami mengangkat wajah Marva yang sudah tertunduk menangis.
"Mi, Pi," ucap Marva parau. Mulutnya masih enggan untuk bercerita. Banyak hal yang harus ia pertimbangkan disini. Sesungguhnya penyesalan keluarga suaminya ini sudah terlambat.
"Mami tahu, kamu masih ragu. Mami dan Papi mengaku salah. Mami dan Papi minta maaf, Marva." Mami menoleh melihat suaminya juga sudah ikut bersedih.
"Papi tahu, bahwa Handi pergi melayat Franda kedesa itu. Papi dapat informasi dari asisten Dian.'
"Iya, pi."
"Papi bisa menyimpulkan. Tidak ada rasa cinta diantara kau dan Handi. Begitu kan?"
"Tidak, Pi." Marva menggeleng. "Aku kecewa terhadap, Mas Handi. Banyak yang tidak bisa kuceritakan pada Mami dan Papi, apa yang sudah di perbuat Handi pada aku dan Narra." tukas Marva memperhatikan kedua martuanya ini. "Marva boleh jujur. Aku sudah tidak mempercayai Mami dan Papi lagi. Ja-jadi, untuk lebih benarnya lagi.. Silahkan Mami dan Papi tanya langsung pada putra kalian saja." Seketika Marva menangis lagi. "Maaf mi pi, Aku tidak bisa menceritakan semua itu. Maaf" gumamnya lagi. Ia mengusap air matanya.
Sebelum Mami angkat bicara lagi. Terlebih dahulu Papi yang bicara. Mami akhirnya menutup mulutnya padahal ia ingin sekali mengatakan kemauannya.
"Pergilah sarapan dulu, Marva." ucap Papi lembut. "Kau belum sarapan, kan? Pembahasan ini nanti kita lanjutkan lagi." tukas Papi mengalihkan pembicaraan. Ia tahu ada rasa kecewa yang besar didalam menantunya. Ia mengerti, menantunya belum siap bercerita.
__ADS_1
Kembali Papi menatap pada istrinya, mengisyaratkan, agar tidak berlanjut lagi. Mami tersenyum mengerti.
"Sarapanlah dulu. Kita sama sama menunggu Narra datang."
🌹🌹🌹
Marva melangkah lunglai, menyeret kaki sambil mengusap. sisa air mata di wajahnya.
Bukannya mengarah kekantin rumah sakit. Kakinya berjalan keruangan Dokter Lefrando. Seperti biasa, ia ingin curhat lagi kepada pria itu.
Betapa terkejutnya Marva mengetahui dokter yang merawat Mami adalah ayah dari Lefrando. Pantas seperti pernah bertemu. Ternyata mirip dengan Lefrando.
Tahu ada sesuatu diantara putranya dengan wanita yang berada bersama mereka saat ini. Dokter itu memutuskan keluar dari ruangan putranya.
Menepuk pundak Lefrando mengisyaratkan sesuatu.
"Pi ihh,, sudah ah. Lebih baik anda pergi dari sini, hus hus." usir Lefrando cengengesan.
"Baikah. Papi keluar dulu. Nanti Papi balik lagi."
"Pii!" teriak Lefrando menghadapi papinya yang super jahil ini. Begitulah memang mereka. Ketiga anggota keluarga berprofesi sebagai dokter.
Marva tersenyum melihat tingkah orang tua dan anak ini. Sungguh diluar dugaannya.
Setelah beberapa lama ia menceritakan rasa hatinya. Secara implusif Marva sudah menangis di pelukan Lefrando.
Lefrando mengusap punggung Marva, memberi ketenangan disana. Sesungguhnya Lefrando ikut menangis melihat wanita yang ia cintai dalam keadaan seperti ini.
Lefrando hari ini menghadapi dua wanita yang bersedih. Satu lagi. Lisa kembarannya disana, pasien kesayangannya sudah pergi.
__ADS_1
👇👇👇