BUKAN KEKASIH GELAPKU

BUKAN KEKASIH GELAPKU
Membuka Mata


__ADS_3

Apakah kabar ini tidak bisa datang hari esok saja tanpa mengacaukan pikiran Lefrando? Ia dan Lisa pulang menyusul Marva yang terlebih dulu, menuruti perintah papi mereka agar cepat sampai ke rumah ada kabar yang harus disampaikan.


Mereka baru saja tiba saat waktu petang hari di malam menjelang, membersihkan diri masing-masing dan langsung menemui papinya yang sudah di ruang kerja. Rasanya waktu menguap pun tidak ada, mereka seperti dikejar waktu hanya untuk sekedar 'kabar'.


Lefrando menerima map kuning dari tangan papinya, dengan malas ia membukanya. Tetapi saat membaca isi map tersebut Lefrando tercengang, surat pemindahan tugas. Bagaimana bisa secepat ini? Bukankah ia baru saja pulang dari luar negri baru menyelesaikan pendidikan dokter spesialisnya, mengapa terburu-buru sudah dipindah tugaskan? Keningnya berkerut menebak semua itu.


"Lefrando, dengarkan papi. Di kota tersebut ada sebuah desa terpencil sedang dilanda gizi buruk yang cukup parah, semua rumah sakit sudah mengutus masing-masing dokter untuk bertugas di sana, memberi pelayanan kesehatan medis. Jadi pihak rumah sakut kita sudah mengutus agar kamulah yang harus bertugas di sana." Harif menjelaskan apa yang tertera di dalam map tersebut. Ia harus bisa meyakinkan putranya agar mau ditugaskan dan pergi dari kota ini.


Lefrando menutup map dengan malas, meletakkan kembali ke depannya.


"Berapa lama kira-kira bertugas di sana?" tanyanya lirih.


"Tidak bisa ditentukan, bisa setahun lebih. Kau tahu sendirikan menangani masyarakat desa itu tidak segampang yang kita pikirkan, dan juga kalian yang ditugaskan nanti akan banyak melaksanakan aksi sosial dan sebagainya. Nanti akan ada salah satu dokter senior dan perwakilan mentri kesehatan yang mengarahkan apa saja yang harus kalian kerjakan."


Lisa menarik tangan kakaknya lalu mengemgamnya memberi kekuatan, ia paham apa yang dirasakan kakanya saat ini.


"Apa boleh aku saja yang menggantikan kak Lefrando, Pi?" tanyanya mencoba bernegoisasi.


Harif tersenyum penuh arti, ia hampir lupa ada Lisa putrinya yang juga bisa dikategorikan sebagai dokter yang sudah cukup ilmu untuk dipindah tugaskan, ia harus mencari alasan agar Lisa tidak ikut campur "Tidak bisa, Lisa. Coba kau ingat lagi sudah berapa lama kau sering absen di rumah sakit kita, dokter yang selalu menggantikanmu sudah cukup banyak bekerja demi mengambil alih pasienmu. Bukan begitu?"


Lisa diam, apa yang dikatakan papinya benar juga.


Lefrando hanya diam saja memikirkan apa yang membuat dirinya ingin menolak tugas itu. Dari awal kepulanganya ia bertekat ingin merebut cintanya Marva, mendampingi Narra bila perlu. Ia ikut merasakan sakit saat Marva bercerita tentang rumah tangganya, dasar itulah ia berpikir kemungkunannya hidup bersama Marva berpeluang besar. Tetapi mendengar kabar dari papinya yang mengejutkan ini, ia bisa menebak ada maksud lain dari sini.


"Lefrando?"


"A-apakah aku bisa mencari dokter lain untuk menggantikanku? Aku belum siap menghadapi keadaan desa itu,"


"Wah, baru kali ini kau melemah menjadi seorang dokter. Biasanya kau menjadi dokter yang selalu optimis, apa ada pertimbangan lain yang kau pikirkan?"


"Ada, Pi."


"Hah," Harif menyandarkan badanya kesandaran kursi kerjanya, memijit pelipisnya yang sedikit berdenyut. Memperhatikan wajah putranya yang sedang duduk di depannya, baru kali ini putranya menampilkan ekspresi sedih di hadapannya langsung. Nurani kebapakannya tidak tega membiarkan putranya terus seperti ini, mungkin ia harus mengalah memberi sedikit kesempatan.


"Begini saja. Apapun yang memberatkan hatimu untuk menerima tugas ini, segera selesaikan satu atau dua hari lagi, apapun itu. Mereka juga butuh tanganmu untuk membantu masyarakat di sana, mereka tahu kamu adalah dokter yang kompoten dan cukup mampu." ujar Harif tegas.


"Baiklah, Pi."


🌹🌹🌹


Setengah perjalanan sudah hampir ditempuh membelah jalan raya di malam hari, kendaraan tidak terlalu padat mungkin ini memang waktu lengang sehingga tidak perlu macet-macetan untuk berkendara.


Marva dan Handi sedang dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, papinya lah yang menjaga mami untuk malam ini.


Handi menyetir dengan kecepatan standar sambil sesekali melirik wanita yang di sampingnya yang sudah tertidur. Mereka belum makan malam, apa ia perlu membangunkan Marva untuk berhenti di restoran depan makan dulu sebelum sampai rumah? Tapi rasanya sangat canggung sedari tadi pun mereka tak saling mengobrol sepanjang perjalanan, jujur perutnya tidak bisa berbohong menahan rasa lapar.

__ADS_1


Kruyykkk!!


Siall! Perutnya berbunyi nyaring minta segera diisi, dari pada ia menahan rasa lapar berujung tidak fokus menyetir, lebih baik ia membangunkan Marva untuk makan malam.


Setelah memberhentikan mobil di parkiran restoran dan membayar uang parkir, ia diam sejenak memikirkan bagaimana cara membangunkan Marva.


Tangan Handi meraih pundak Marva menepuknya lembut "Marva, bangunlah dulu," tidak ada sahutan dari Marva.


Handi mengguncang bahu Marva sedikit keras agar Marva terbangun "Ayo bangun, kita makan malam dulu," seperti mayat saja, Marva ternyata tertidur begitu nyenyak.


Oh satu cara yang inplusif dilakukannya, mendekatkan wajah ketelinga Marva, jarak wajah mereka begitu dekat. Sekejap Handi menyadari gurat kelelahan menghiasi wajah istrinya, dan juga baru menyadari istrinya ternyata cantik juga. Matanya menelisik seluruh inci wajah Marva, dan kemudian ia berbisik "Mar,,,"


"Aahhhhh!!"


Puk.


"Auhhh," rintih Handi kesakitan saat kepala Marva berbenturan dengan keningnya. Handi begitu terkejut mendengar teriakan Marva yang tiba-tiba.


Ia mundur mengusap keningnya yang terasa ngilu.


"M-maaf. Tadi aku tidak sengaja, a-aku terkejut saat bangun tadi," ucap Marva panik. Marva merasa ada yang ingin menciumnya di dalam tidurnya tadi, mimpinya seperti terasa begitu nyata.


"Iya tidak apa, lagi pula tidak terlalu sakit." jawabnya. Menoleh kesamping memperhatikan wajah Marva yang sepertinya merasa bersalah. Ah sudahlah tidak perlu diperpanjang lagi, ia sudah lapar.


Menyadari ada yang aneh di sekitarnya, Marva merasa ini bukan rumah mereka.


"Turunlah, kita makan malam dulu." tanpa basa-basi Handi langsung turun dari mobil disusul Marva dari belakang.


Mereka duduk satu meja saling berhadapan, terlihat Marva menundudkan wajah masih menahan kantuk yang masih tersisa.


"Eh," lirih Marva terkseiap merasakan sentuhan lembut di tangannya.


"Maaf, aku masih mengantuk." entah mengapa sentuhan sederhana dari Handi terasa ada yang berbeda kali ini, langsung bisa menyadarkannya.


Tanpa sadar bibir Handi melengkung tersenyum merasa sangat menggemaskan melihat ekspresi wajah terkejut Marva "Iya. Um, kau mau pesan apa?" Handi membuka lembaran tebal bertulis menu makanan.


"Nasi goreng saja. Ada?"


"Hah," balas Handi tersentak. Jika hanya sebatas nasi goreng saja, mamang dijalanan juga ada bahkan di kantin rumah sakit pun ada. Merasa ini sangat lucu, lagi-lagi Handi tersenyum.


Kali ini senyuman itu cukup lebar, itu bukan senyum menjengkelkan bukan juga mengejek.


"Ada yang salah, yah?" Marva menunduk malu. Jujur saja ia sangat lapar ingin makan nasi, dan senyuman Handi tadi.


"Ahahaha," Handi tergelak, ia sangat menikmati momentum ini.

__ADS_1


"Ini restoran seafood, Marva. Aku pikir kau ingin memesan udang saos atau sejenis cumi,"


"Um, kau pilihkan saja."


Melihat raut wajah itu sungguh membuat Handi tidak tega, tidak mungkin juga ia mengajak pindah restoran lagi.


"Baiklah." Handi menjentikkan jarinya memangvil salah satu pegawai pelayan.


Seorang pria berseragam pelayan datang menghampiri mereka sambil tersenyum ramah "Mau pesan apa, Tuan Nyonya?"


"Nasi goreng seafood dua porsi, es jeruk nipis dua gelas. Itu saja sudah cukup saya rasa." jawab Handi


"Baik, mohon tunggu sebentar." ujar pria itu kemudian berlalu pergi.


"Jangan mengantuk lagi, yah. Kita makan dulu." ucap Handi menghalus.


Mereka makan dengan serius tanpa berbicara, menikmati makanan mereka masing-masing.


Setelah mereka menghabiskan makanan, mereka langaung pulang ke rumah.


Tak ada jarak lagi di antara mereka seperti biasanya, berjalanan beriringan layaknya sepasang kekasih walau tanpa bergandengan tangan.


"Mar, kita sa,,,," ucapan Handi menggantung tak kala melihat istrinya sudah tertidur lagi di kursinya.


Tidak tega membangunkan, akhirnya Handi memutuskan menggendong istrinya ke dalam rumah.


Kejadian maminya tadi perlahan menyadarkan Handi dari kesalahannya, ia mulai sekarang akan melihat kedepan. Seperti kata maminya, ia akan membuka mata.


Tanpa mereka sadari ada seorang pria yang tidak sengaja telah melihat kebersamaan mereka di restoran tadi.


Pria itu merasa sesak.


Pria itu kembali kerumah membawa luka.


👇👇👇


Putri titian Aura kasih,


Cukup sekuan dan terima kasih.


.


.


Air bersih dalam cangkir,

__ADS_1


terima kasih sudah mampir.


MUACHHH


__ADS_2