BUKAN KEKASIH GELAPKU

BUKAN KEKASIH GELAPKU
Memulai dan Pamit ( End )


__ADS_3

Dengan tangan gemetar akhirnya Marva meraih bunga dari tangan suaminya, menghirup aroma tulip terasa masih segar di indra penciumannya. Setelah itu ia mengakat dagunya menatap suaminya yang sedang tersenyum manis kepadanya, ia masih belum tahu ingin berkata apa kebingungan memenuhi isi hatinya.


Handi hanya mampu tersenyum manis namun itu terasa masih kosong, ia masih bisa menerima tanggapan Marva tidak seperti apa yang diharapkannya.


"Ayo duduk dulu," ajaknya memecahkan keheningan.


Keluarga kecil ini sedang duduk mengelilingi meja bulat beserta beberapa hiasan yang menggambarkan keromtisan, Marva dan Handi duduk berhadapan sementara Narra duduk di antara kedua orang tuanya.


"Narra mau biskuit ini?" tanya Handi menawarkan biskuit rasa coklat kesukaan Narra yang tersaji di atas meja bersama kue ulang tahun untuk pernikahan. Handi mengalihkan perhatian Narra dengan memberi makanan kesukasn putrinya, agar gadis itu tidak merasa bosan diam terus.


"Mau." Narra mengangguk antusias. Tidak ragu lagi, ia sudah asik dengan biskuitnya.


Marva masih tetap diam memperhatikan interaksi ayah dan anaknya, kemajuan yang sangat cepat. Ia belum bisa percaya sepenuhnya.


"Marva," panggil Handi melembut, ia harus bisa mengutarakan apa yang diinginkannya dan apa yang dipikirkannya secara matang. "Maaf selama ini aku jahat padamu dan Narra, aku mengabaikan keluargaku kecilku. Aku juga tidak pernah menghargai pernikahan kita, aku sering memberi rasa sakit hati padamu juga Narra." ucapan yang terdengar gugup, Handi terus melanjutkannya "Berkali-kali aku minta maaf padamu, Marva." pada dasarnya kepribadian Handi yang irit bicara semakin menyulitkannya untuk mengucapkan kata maaf.


"Lalu apa maumu sekarang?" jawab Marva penuh penekanan. Ia masih enggan membalas tatapan suaminya, ia meragu.


Handi merasa atmosfer di sekitar mereka terasa panas, mungkin inilah yang dirasakan Marva selama mereka hidup berumah tangga, perkataan demi perkataan maminya hari kemarin membuat dirinya perlahan menyadari kesalahannya.


"A-ak-aku ingin memperbaiki semuanya dari awal lagi, Marva. Akuu ingin belajar mencintai keluarga kecil kita. Aku mohon terima aku lagi di kehidupanmu."


"Segampang itu, hah?" jawab Marva mulai meninggikan volume suaranya, ia sedikit merasa emosi mengetahui semudah itu berkata maaf. Dirinya lupa ada Narra di antara mereka, gadis kecil itu menghentikan acara kunyahnya. "Bundaa,,".


"Oh, maaf sayang." Suara Marva seketika melembut.


Tanpa diduga Handi justru meraih tanggan Marva kemudian menggemgannya erat, barulah Marva berani menatap manik Handi. Tidak seperti biasanya, manik ini jelas berbeda dari tatapan sebelumnya.


"Aku tahu kau mungkin sulit mempercayai kata-kataku. Tetapi aku sudah yakin dan memantapkan hati untuk memulai dari awal memperbaiki hubungan kita, beri aku kesempatan kedua, Marva. Biarkan aku yang berjuang kali ini, berjuang mencintai keluarga kita, berjuang merebut kepercayaanmu lagi. Ini bukan tentang permintaan mami, ini berasal dari diriku sendiri. Aku akan memulai semuanya, tetapi berilah aku kesempatan itu lagi."


Tak kuasa sambil mengatakan itu Handi meneteskan air mata, mendekatkan tangan kemudian mengecup pergelangan tangan Marva cukup lama.


Marva kehabisan kata-kata, semua berputar di kepalanya. Masih ada sisi baik Handi yang ditangkapnya, suaminya bukan seperti pria lain di luar sana yang dapat terang-terangan mempermalukan rumah tangga mereka di muka umum. Keluarga besar Hutama pun sudah menerima Marva menjadi anggota keluarga itu, acara pesta ulang tahun keluarga Hutama sekaligus memperkenalkan Marva ke publik harinya sudah dekat. Narra adalah yang penting, gadis itu dengan polos secepat itu menerima Handi tanpa memandang kesalahan ayahnya yang dulu. Dengan banyak pertimbangan ia menerima Handi lagi, walau cintanya sudah berkurang.


Seperti yang dikatakan Handi tadi, biarlah suaminya yang memulai dari awal, ia akan berusaha mempercayai Handi. Jika Handi sudah siap menutupi kenangan di belakang, ia juga akan berusaha melupakan kenangan dan gejolak yang menuntut ia meninggalkan Handi. Marva juga akan berusaha menghilangkan rasanya untuk Lefrando, pria itu terlalu baik jika mendapatkan wanita bekas sepertinya, Lefrando masih punya kesempatan besar di luar sana bersama wanita baik-baik.


"Baiklah, aku memberimu kesempatan."


🌹🌹🌹


Malam itu hujan turun dengan derasnya, menghambat Marva untuk pergi menemui Lefrando.

__ADS_1


Ia ingin menolak untuk tak datang alasan hujan, tapi ternyata Lefrando memaksanya dan bertekat untuk pertemuan mereka.


Ia berhasil membujuk Narra untuk tidur cepat, Handi tinggal di rumah sakit menjaga martuanya. Besok mami sudah diperbolehkan pulang.


Payung yang dipakai Marva tidak sepenuhnya melindungi tubuhnya dari cipratan air bujan, tetap saja ia sudah mulai basah. Marva turun dari taksi lalu berjalan menyusuri puncak bukit yang dialamtkan Lefrando.


"Leffff!!" teriaknya memanggil pria yang sudah basah kuyup di atas sana, suaranya tertutup gemuruh air hujan. Melepas sepatu agar tidak licin menaiki tangga, menghampiri Lefrando yang sudah menggigil.


"Kenapa membiarkan tubuhmu terguyur hujan?" tanyanya sedikit berteriak, lalu memberi payumg kepada Lefrando.


Lefrando berbalik menghadap Marva, mengelus wajah Marva sudah sedikit basah dan terasa dingin.


"Kau datang!" ungkapnya tidak percaya. Hampir saja ia pulang kecewa karema Marva tak datang, untung saja itu tidak terjadi saat melihat bayangan Marva dari bawa puncak.


Marva tertegun merasakan sakit, ia membalas gemgaman tangan Lefrando. Meskipun tertutup air hujan, ia tahu Lefrando sedang menangis.


"Aku mencintaimu, Marva."


Deg.


Akhirnya pernyataan ini terungkap juga. Refleks tangan Marva melepaskan gemgannya dan menjatuhkan payungnya, mereka sudah terkena hujan bersama.


"Maafkan aku mencintaimu." bisikan iru terdengar pilu di telinga Marva.


"Lefrando," Marva mencengkram kemeja basah yang dipakai Lefrando.


"Maafkan aku, aku tidak bisa membalas cintamu. Tapi kumohon jangan seperti ini, kau masih punya banyak waktu untuk mengejar perempuan yang sewajarnya kau cintai." Dan akupun akan berusaha melupakan perasaanku padamu, aku hampir lupa diri dan terlena akan perasaanku padamu. Aku sudah memiliki suami dan di situlah seharusnya.


Marva melepaskan pelukannya dan mengusap air huja yang menghalangi pandangannya, jarak mereka hanya beberapa centi saja.


"Terima kasih atas perhatian yang kau berikan pada kami, terima kasih atas waktu dan penghiburan yang kau buat untukku sewaktu aku merasa kesepian. A-aku tidak bisa mengikutimu, pergilah." ucapnya sedikit berteriak.


Lefrando hanya berdiri lemah di tempatnya. Memang harus seperti inilah nasib cintanya, tetapi mengapa harus sesakit ini? "Baiklah aku pergi." mengucapkan itu rasanya bagai ditimpa batu yang besar di hatinya.


Sekuat tenaga ia menahan rasa agar tidak menangis lagi, kelihatannya ia pria lemah untuk soal cinta.


Perlahan Marva mundur ke belakang memutuskan untuk berbalik. Namun saat baru setengah putaran, tiba-tiba Lefrando memeluknya lagi.


"Biarkan aku memelukmu lebih lama lagi untuk menuntaskan rasa rinduku. Aku masih mencintaimu sampai detik ini, biarlah waktu yang membantuku mengurangi perasasnku dan keegoisanku memilikimu."


Hujan sudah mulai reda seiring pelukan mereka melepas. Hujan seolah juga ikut mengakhiri kisah cinta mereka, hujan juga telah berhasil menutupi air mata mereka. Entah mengapa rasa dinginnya udara tidak menyulutkan dua insan ini untuk bertemu, justru mereka merasakan kehangatan saat berpelukan.

__ADS_1


"Aku pamit."


"Aku pergi." Marva sedikit berlari menuruni anak tangga, tidak ingin berbalik ke belakang.


Bayangan Marva mengecil dari atas tempat mereka tadi bersama taksi yang kebetulan lewat.


Lefrando mencengkram besi penyangga kuat-kuat, menundukkan kepalanya.


Penantianya berujung sia-sia, Marva kembali pulang kepangkuan suaminya.


Terkadang ia sendiri merasa bodoh telah mencintai wanita milik orang lain, dengan bodoh juga ia mempertahankan perasaannya. Tetapi ia dan siapapun tidak bisa menampik apa yamg sudah terjadi.


Cinta tidak memilih hadir untuk siapa saja.


.


.


.


..................T A M A T....................


👆👆👆👆👆👆👆👆


.


.


.


.Terima kasih atas pembaca yang sudah mampir yah..


Ini memang penyelesain kisah ini.


Saya harap ada pesan makna yang dapat diambil dari cerita ini.


Itu saja..


Sekali lagi..


TERIMA KASIH!!!!!!

__ADS_1


__ADS_2