
Pagi yang cukup cerah menyambut seluruh manusia yang mulai sibuk dengan aktifitas masing-masing, memulai hari dengan ceria dan ada juga yang memulai hari dengan bermalas-malasan.
Tak terkecuali dengan seorang pria yang dengan malas untuk bangkit dari ranjang tidurnya padahal sudah waktunya ia berangkat bekerja.
Seperti seorang perempuan yang galau hatinya karena baru saja patah hati, hal yang sama dirasakan Lefrando masih menggulung tubuhnya di balik selimut tebal posisi menyamping meringkuk malas.
Tak peduli dengan waktu yang terus berputar, yang terpenting baginya saat ini adalah untuk menenangkan dirinya dari pikiran yang berkecamuk.
Setelah keluar dari ruang kerja papinya malam itu, Lefrando menuruti permintaan Lisa adik kembarnya untuk membeli makanan seafood di luar.
Ia pergi berharap ada sesuatu yang indah di luar sana saat perjalanan menuju tempat yang dimaksud Lisa, menghirup udara luar katanya.
Namun bukan yang indah yang dilihatnya melainkan sebaliknya, wanita pujaannya sedang duduk makan bersama dengan 'suaminya'. Ya, tersenyum ironi menyadarkan wanitanya sudah bersuami bahkan sudah memiliki seorang putri cantik, mereka sejak kapan mulai sedekat itu? Lefrando tidak tahu.
Pantaskah dirinya cemburu? Pantas. Tetapi hanya sekedar cemburu, 'cemburu sendirian'.
Dirinya sadar ia tidak cukup berjuang untuk merebut Marva? Bukan itu Lefrando, cinta datang di saat dan di waktu yang salah.
Jadi sebesar apapun perjuanganmu, jika tadir tidak merestuimu, maka perjuanganmu tidak berbuah.
Tok tok tok..
Mendengar suara ketukan pintu Lefrando tidak bergeming, justru ia semakin mencoba memejamkan mata untuk tidur lagi.
Lama ia menutup mata tapi tak kunjung tidur juga, ia sekali lagi mendengar suara ketukan pintu dan pintu kamarnya dibuka seseorang.
"Kak, bangunlah. Kaka harus kerumah sakit sekarang," sapa Lisa sambil meletakkan sarapan pagi untuk kakanya di atas nakas.
"Aku membuka pintu kamar kaka menggunakan kunci cadamgan," melangkah mendekati tubuh kakanya yang masih meringkuk.
"Bukankah papi menyuruh menyelesaikan urusan yang harus kaka urus sebelum pergi bertugas itu?" Tanyanya.
Lefrando terkesiap mendengat pertanyaan itu, sedari tadi ia diam tidak menanggapi ocehan adiknya.
Perlahan ia menggeliat menyingkirkan selimut dari tubuhnya, duduk bersandar pada tepian ranjang. Menatap nanar kearah Lisa "Apa harus sekarang?" tanyanya dengan nada lirih.
Lisa mengerti keadaan kakaknya saat ini, tadi malam ia sudah mendengar cerita itu dari Lefrando sendiri. Lisa memghela nafas ikut sedih merasakan apa yang terjadi "Harus, Kak. Pergilah dari kota ini dan lupakanlah Marva. Mungkin di luar sana banyak kejutan yang menantimu, Kak. Seperti yang kusarankan sebelumnya, selesaikan perasaan kaka, temui Marva untuk terakhir kali 'perpisahan sebagai rasa cinta'. Dan jika waktu mempertemukan kalian kembali 'pertemuan sebagai rasa sahabat atau hanya sebatas orang yang pernah saling mengenal', kurasa itu cukup." Mengemgam telapak tangan Lefrando "Jangan ragu, semoga ini yang terbaik." Lisa tersenyum memberi dukungan pada Lefrando.
"Semoga saja."
Lefrando dan Lisa sudah sering seperti ini, menyempurnakan gen kembar mereka. Saling bertukar pikuran, bertukar pendapat, dan salung mendukung satu sama lain. Jadi tidak heran, saran Lisa dapat diterima oleh Lefrando.
Setelah menyantap sarapan pagi yang dibawakan Lisa, Lefrando mengirimkan pesan singkat kepada Marva.
"Baiklah, aku akan menemuimu.'
__ADS_1
Kembali mengirim pesan untuk memberi waktu dan tempat di mana mereka bertemu.
Balasan itu yang ditunggu-tunggunya.
🌹🌹🌹
Hari ini Marva memutuskan tidak masuk kerja, badannya masih terasa lelah sisa yang kemarin.
Setelah tadi pagi ia dikejutkan dengan fakta perubahan suaminya terlihat lembut, sekarang ia terkejut dengan pesan Lefrando;
"Marva, selamat pagi! Kau ada waktu untuk bertemu denganku hari ini? Ada yang ingin kusampaikan padamu, sekaligus salam pamitku kepadamu."
Deg.
Ada rasa kehilangan di hatinya, padahal ini masih hanya sebatas pesan. Apakah ini keterakhir kali mereka bertemu? Mengirim balasan untuk mengiyakan ajakan Lefrando.
"Hey, kau tidak bertanya di mana kita bertemu? Baiklah, kita bertemu di puncak bukit tempat kita kemarin, nanti malam setelah urusanku semua selesai. Ok!"
🌹🌹🌹
"Bundaaa!" teriak Narra di seberang telepon sana.
"Astagaa," Marva menghela nafas lelah menyingkirkan anakan poni yang menutupi pandangannya. Mengatur ritme nafasnya yang masih tersengal akibat kelelahan panik mencari Narra tiba-tiba hilang dari sekolahnya.
"Tadi ayah sudah mengantar Narra ke sekolah, sekarang menjemput juga. Ayo Bunda, makan siang di luar bersama ayah," oceh Narra antusias, tidak mungkin gadis kecil itu mengerti keadaan bundanya sekarang ini.
Waktu pulang sekolah tadi Marva bertanya di mana Narra, satpam menjawab 'Narra tiba-tiba hilang'.
Sangkin paniknya, Marva tidak berpikir menghubungi suaminya. Dirinya sibuk mencari Narra bersama pihak sekolah.
"Kamu mau'kan?" Marva terkesiap mendengar suara lembut dari seberang telepon.
"Iya. Aku akan datang, Mas. Sekarang di mana kita makan siangnya?"
"Di rooftof kantor Hutama."
"Ha?" responya terheran.
"Datang saja, ada kejutan untukmu."
Setelah telepon terputus, Marva mengelus dadanya merasa lega. Narranya bukan hilang, tetapi sedang bersama ayahnya.
Tadi pagi memang Handilah yang bersikeras mengantar Narra ke sekolah, bahkan Handi juga menyuapi Narra. Ahh tepatnya merayu, agar Narra mau bergandengan dengan ayahnya.
Jelas saja Narra mudah terbujuk, bagaimanapun gadis itu masih belum mengerti arti kata 'membenci' dan selama ini anak itu memang merindukan ayahnya'kan?
__ADS_1
"Terima kasih atas kerja kerasnya mencari anak saya, Pa, Bu. Anak saya ternyata sudah dijemput ayahnya." ujar Marva canggung.
"Sama-sama, Bu Marva. Yang terpenting putri ibu tidak hilang."
🌹🌹🌹
Marva terkagum melihat gedung tunggi yang berada di hadapannya, sudah ada perubahan di sini setelah beberapa tahun ia tidak melihat bangunan ini.
Ada perdebatan sedikit saat di ruang resepsionis yang tidak percaya bahwa Marva adalah istru direktur di sini, namun setelah Pak. Dian menjemputnya barulah Marva masuk dengan tenang.
Sambutan yang cukup menenangkan.
Narra berlari menghampiri bundanya yang baru saja keluar dari lift, memeluk bundanya sebatas perut.
"Eh sayang." sapanya tersenyum keibuan.
"Ayo naik ke atas sana, Bunda. Ayah sudah menunggu di sana. Tempatnya bagus sekalii, ada makanan enak di atas meja, ada bunga juga, ada kejutan juga buat bunda kata ayah." Narra berceloteh sepanjang perjalanan menuju lift yang akan terhubung ke atap gedung.
Marva turut tersenyum bahagia melihat senyuman putrinya mengembang, ada rasa hangat yang menjalah ke dalam hatinya tak kala mengetahui suaminya sudah mulai membuka hati untuk mencintai keluarga kecil mereka.
Mereka terus berjalan bergandengan, Marva merangkul bahu Narra erat. Sesekali Pak Dian melirik kedua wanita berbeda usia yang di depannya ini. Tadi tuannya memulai bercerita yang membawa arti positof mengenai keluarga kecilnya yang akan dipertahankan tuannya, ia bisa melihat dan menilai rasa penyesalan di mata tuannya.
"Saya permisi kembali bekerja lagi, Nyonya. Semoga kalian berbahagia," ucap Pak Dian tulus, kemudian berlalu meninggalkan Marva dan Narra yang hendak menaiki lift.
Marva tercengang dengan apa yang dilihatnya. Pemandangan kota dan semilir angin yang pertama dirasakannya, kemudian netranya melihat sesosok pria yang dengan gagah sambil tersenyum manis berdiri menghampiri mereka sambil membawa sebuket rangkaim bunga tulip putih.
Tubuh Marva menegang, refleks rangkulannya terlepas dari bahu Narra.
Terpaku berdiri tidak bisa berkata-kata, antara mimpi atau nyata, percaya atau tidak.
Pada dasarnya Handi tidak bisa romantis di depan pasangannya Marva, tetapi ia juga bukan lelaki bodoh yang tidak tahu menahu soal cara meminta maaf pada wanita.
Handi berlutut di depan Marva menyodorkan bunga sambil berkata "HAPPY ANNYVERSARY PERNIKAHAN KITA YANG KETUJUH TAHUN, SAYANG."
Marva tercengang Handi ingat hari ulang tahun pernikahan mereka, padahal justru kali ini Marva tidak mengingat sama sekali tentang hari ini.
👇👇👇
Buah nangka Buah Pir,
Buahnya memang berkulit,
Nggak nyangka masih ada yang mampir,
Yah walaupun masih sedikit.
__ADS_1
Jangan lupa like cerita author yang masih acakadut ini.. hehehe..