BUKAN KEKASIH GELAPKU

BUKAN KEKASIH GELAPKU
Makan Malam Bersama


__ADS_3

Sudah di duga sebelumnya akan terjadi srperti ini.


Marva hanya bisa menerima apa yang sudah terjadi di rumah ini, martuanya akan menginap sementara waktu, selalu menjadi kekesalan di hati Marva.


Saat pulang dari tempat kerja bersama Narra, ia sudah tidak mendapati sebagian barang-barangnya di kamar tempatnya dan Narra.


Padahal ia sengaja tidak memindahkan barangnya terlebih dahulu. Ia bermaksud ini adalah bentuk perlawanan dari Marva untuk mereka. Jika biasanya ia sendiri yang harus repot berpura sok baik di hadapan martuanya, menahan rasa canggung satu kamar dengan suaminya. Sekarang, ini tidak ingin seperti itu lagi, ia juga merasa bosan.


Ini pasti ulah Papi martuanya yang sengaja, memerintahkan Bibi Tanti untuk memindahkan barangnya kekamar Handi. Supaya apa? Agar Marva tidak bisa menolak lagi. Ya, Papi benar juga. Akibat Marva yang tidak bisa melawan dari mulutnya.


Setelah selesai menemani Narra mandi, barulah Marva berjalan memasuki kamar kramat. Ya, kamar Handi dianggap kramat oleh Marva.


Ternyata Handi pintar juga mengandalikan situasi. Pria itu tidak ada didalam kamar, mungkin bersembunyi di ruang kerjanya. Biasanya memang seperti itukan, setiap martua berkunjung.


Tergesa-gesa ia mandi seadanya, sengaja berlama-lama didalam kamar. Padahal entah apa yang ia lakukan di kamar, yang pasti sengaja untuk menghindar berinteraksi dengan mereka.


"Nak, Marva!!" Suara Bibi Tanti menggema dari luar kamar.


"Masuk, Bi."


"Makan malam sudah siap Nak. Disuruh Tuan Besar turun sekarang,"


"Iya, Bi." jawabnya datar.


Marva merasa hangat saat Bibi Tanti mengusap punggungnya. Ia tersenyum hangat tanda terima kasih pada wanita terbaiknya itu.


"Semoga saja tidak terjadi yang aneh-aneh" ia bergumam dalam hati.


🌹RUANG MEJA MAKAN 🌹


"Bunda, sini duduk disamping ayah. Hanya itu tempat duduk yang kosong." ajak Narra antusias melihat Bundanya sudah datang.


Marva mendengus kesal dalam hati. Benar, memang hanya bangku yang disamping Handilah yang masih kosong. Yang lain sudah terisi, Mami, Papi, Narra, Bibi Tanti, Handi, dan dirinya. Loh mana bangkunya dua lagi? Biasanya bangku meja makan ini ada delapan buah. Wah wah wah, benar benar ia sudah dikerjai yah.


Dengan terpaksa ia duduk disamping suaminya.


Saat tangan Marva terulur untuk menyiapkan makanan untuk Narra, terlebih dahulu Bibi Tanti yang sudah melakukannya. Marva membatalkan niat itu, padahal memang biasanya dirinya sendiri yang melakukan itu.


"Terima kasih, Nek." ujar Narra cemberut. Gadis itu juga kebingungan dengan keadaan ini.


Mami. Harusnya Beliau makan dikamar, bukan disini. Pasti Mami memaksakan diri untuk makan bersama tanpa memperdulikan kesehatannya yang belum pulih.


Mami dengan cekatan mengisi piring Papi martua dengan lauk dan sayur, kemudian memberikan piring itu pada Papi.


"Makasih, sayang" ujar Papi tampak wakah berbinar menerima perlakuan dari istrinya.


Mami tersenyum lembut membalas ucapan suaminya.

__ADS_1


Handi sudah mengisi sendiri piringnya. Sedangkan Marva belum menyentuh piring sama sekali, bahkan piring itu masih telungkup di depannya.


Tentu, acara makan malam belum dimulai.


Marva menatap wajah aneh satu-persatu dari mereka. Ah, baru sadar piringnya masih kosong.


Marva tersenyum canggung. Cepat-cepat ia mengisi piringnya, kemudian meletakkannya di depannya.


Tapi, kenapa makan malam belum dimulai juga?


"Sayang. Pasti nanti makannya tambah nikmat. Kan, mami sendiri tadi yang ngelayanin kamu. Ya, kan?"


"Iya." jawab Papi. Tapi, senyum itu seperti di paksakan.


Marva baru mengerti maksud dari tingkah Mami martuanya ini. Ah, tepatnya penyindiran.


Marva menukarkan piringnya sendiri dan piring suaminya. Kan, tidak lucu harus mengisi piring satu lagi, siapa yang makan itu nanti.


"Ini Mas, nasinya." ucap. Marva tersenyum canggung.


Respon dari pria itu, cukup hanya anggukan saja.


Salah satu perintah mutlak Papi adalah, pada saat makan tidak ada yang boleh bersuara. Semua harus menjaga keheningan.


Tapi, keheningan itu hanya sekejap saja.


Lagi. Baru saja tangan Marva hendak meraih daging yang di pegang Narra, tetapi sudah lebih dulu Bibi Tanti bergerak cepat meraih daging milik Narra.


Marva menghela nafas jengah di buatnya.


Kembali ia menyantap makanan yang sudah kehilangan nikmat saat sampai di mulutnya.


Sementara Narra, gadis itu hanya menurut saja. Ia tadi merasa gembira saat dirinya tahu mereka semua akan ikut berkumpul makan bersama.


Sebelum Bundanya datang tadi, Narra mencari celah ingin duduk di kursi samping Ayahnya.


"Duduknya disamping Nenek. Tanyi, Ya." suara Opahnya terdengar menakutkan bagi Narra. Ia menurut saja.


"Bi. aku bantu bawain piring kotornyanya, ya? " ucap. Marva melihat Bibi Tanti kerepotan bolak-balik membawa piring kotor ke wastafel. Marva hendak meraih tumpukan piring kotor dari tangan Bibi Tanti.


"Tidak usah, Nak." tolak Bibi secara halus. Ia langsung berjalan membawa piring ke wastafel. Marva mengikuti langkah Bibi.


"Bi. Jawab jujur, yah. Apa yang kalian rencakan dengan Mami dan Papi? kenapa juga Bibi memindahlan barangku kekamar Mas Handi?" tanya Marva.


Pertanyaan ini sudah ia pendam sejak ia pulang dan melihat ada keanehan di kamarnya.


Wanita itu tidak menjawab, justru melanjutkan kegiatan cuci piringnya. Sengaja ia mengencangkan aliran air keran, agar suara aliran itu menjadi penghalang untuk Marva bertanya lebih lanjut.

__ADS_1


"Bi. Jawab aku," Marva sedikit mengeraskan suaranya.


Bibi Tanti tetap bungkam.


"Apa. Papi atau Mami yang menyuruh, Bibi?"


Sebagai jawaban, Bibi Tanti memberi anggukan kepala. Kemudian melanjutkan pekerjaannya.


Marva berbalik kearah meja makan, menyandarkan badan di dinding wastafel. "Menyebalkan." gumamnya merasa kesal.


Marva menatap jengah kesembarang arah.


Ingin sekali ia berlari dari keadaan ini, tapi sepertinya itu tidak semudah yang ia bayangkan


Apa benar, Mami dan Papi melakukan ini agar mereka bisa akur?


Atau,, penyakit jantung Mami, hanyalah konspirasi sebagai dari rencana ini? Akal-akalan mereka agar bisa menginap, lalu memantau perkembangan hubungan Marva dan suaminya. Tapi, tidak pantas rasanya, penyakit di permainkan seperti ini.


Pikiran Marva sudah jauh kemana-mana.


"Nak, Marva,"


"Eh. Bi, maaf, aku melamun." Marva terkesiap merasakan sesatu yang dingin menyentuh lengannya.


Bibi Tanti tersenyum hangat sambil mengeringkan tangan menggunakan lap yang tergantung di dinding atas wastafel.


"Jangan terus menghindar, Marva. Bibi tahu, kamu tidak suka martuamu ada disini. Mereka sudah tahu tentang hubungan kalian, Nak. Sekarang, berilah mereka kesempatan memperbaiki semuanya." ujar Bibi.


"Tapi, tidak dengan Handi."


"Biarlah dulu suamimu menikmati kesedihannya untuk Franda. Yang penting, martuamu sudah berpihak padamu."


"Tapi. Aku sudah tidak ingin bersama dengan Mas Handi, Bi. Kami tidak saling mencintai,"


"Franda, sudah pergi. Apa yang kau takutkan sekarang? Percayalah. Seiring dengan berjalannya waktu, kalian bisa membina rumah tangga kalian."


"Bibi tahukan bagaimana kehidupan rumah tangga kami. Sebenarnya, Bibi berpihak sama siapa, sih?" gerutu Marva. Entah apa yang merasuki Bibinya ini, tiba-tiba berbalik darinya. Apa martuanya sudah menghasut Bibinya?


"Jangan berpikir macam-macam tentang Bibi." ucapnya seolah bisa menebak pikiran Marva. "Yang perlu kau tahu, ramah tangga tidak selalu beralasan tentang cinta." nasihat Bibi ambigau. Langsung pergi begitu saja.


"Apa?" Marva belum mengerti


πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡


Betewe,, kan,, kawan kawann.. Aku sebenarnya belum menikah.. nah,, ceritaku ini ku tulis. aku sering mengikuti dengar acara curhat curhatan malam di radio.. segala persoalan ada disitu. ada juga yang ngasih masukan dan saran.. Aku ngumpulin ide ide konflik dari situ.


Gituuu

__ADS_1


__ADS_2