BUKAN KEKASIH GELAPKU

BUKAN KEKASIH GELAPKU
Mamah Martua


__ADS_3

Gemgamlah apa yang seharusnya kau miliki, lepaslah apa yang tidak seharusnya kau miliki.


Sudah dua hari lamanya Narra di rawat di rumah sakit proses pemulihan dari racun dalam tubuhnya, hari ini sang Bunda akan membawa Narra kembali kerumah.


Selama ia merawat anaknya sakit, Marva memutuskan untuk tidak bekerja dulu. Narra adalah segalanya dalam hidup Marva. Terkadang Bibi Tanti datang sekedar untuk membawa pakaian ganti dan makanan, Marva tidak mengizinkan Bibi Tanti ikut berjaga melihat usia bibi Tanti sudah semakin tua. Sebenarnya ia kurang enak hati menerima bantuan Bibi Tanti. Tapi bagaimana lagi, dirinya juga tidak memungkinkan meninggalkan Narra.


Ada hal lain yang Marva heran akhir akhir ini, setiap pagi ia akan menerima bingkisan bunga dari salah satu suster perawat yang berbeda beda pula orangnya. Setiap ia bertanya siapa nama pengirimnya, Marva tidak mendengar kepuasan dari mulut mereka. Akhirnya bunga itu hanya layu di dalam bungkusannya kemudia di buang ke tempat sampah. Bukannya tidak menghargai, ia sendiri bingung harus dikemanakan bunga itu.


Lefrando beberapa kali menyuri waktu senggangnya untuk menjenguk Narra dan mengajak gadis itu bermain sedikit mencoba menghibur Narra. Dan berhasil, Narra tersenyum lucu saat Lefrando mengajak gadis itu bercerita dan perlahan tapi pasti Narra tidak memikirkan ayahnya lagi. Gadis itu sangat susah di tebak apa maunya jika menyangkut tentang Handi ayahnya.


"Bunda gendong ya sayang," ajak Marva melihat Narra tidak niat bergerak dari atas brankas.


Narra menggeleng pelan, matanya tertuju pada pintu ruangan. Seketika senyumannya mengembang melihat seseorang pria dari balik pintu "Narra, mau di gendong Om Lef. Boleh ya, Bunda?" Narra mendongak memelas pada Bunda.


"Sayangnya Bunda," Marva mengelus pucuk kepala Narra "Om Lefnya pasti masih kecapean. Masih untung loh om Lef mau ngantar kita pulang."


"Tidak kok," dengan sigap Lefrando meraih tubuh mungil Narra lalu mengendongnya, Narra kegirangan mengeratkan pelukannya. "Kita pulang berangkat sekarang anak gadis. Kau Marva, bawalah tas tas itu." Lefrando berlalu begitu saja.


Marva berdecak kesal selalu bertindak sesuka hati pada mereka. Tapi tidak di pungkurinya., kehadiran Lefrando sangat membantunya.


"Lef, apa kau tidak merasa capek atau,, " Marva terlebih dulu bersuara selama beberapa menit keheningan di dalam mobil.


"Tidak." Lefrando hanya menjawab singkat.


"Aku sudah banyak merepotkanmu,"


"Tidak."


"Tapi aku tidak enak hati,"


"Itu kamu. Aku tidak."


"Lef. Kau marah ya? Tumben sekali jawabanmu singkat-singkat."


"Tidak, Marva."


"Ohh." jawabnya lemah. Kembali ia mengelus kepala Narra yang sudah tertidur di atas pangkuannya.

__ADS_1


Mobil mereka sudah melewati gerbang rumah juga terparkir di halaman. Marva turun masih mengendong Narra dalam tidur gadis itu, Lefrando mengeluarkan barang barang bekas Narra di rumah sakit meletakkannya di atas keramik.


"Kamu tidak mampir dulu, Lef?" tanya Marva basa basi.


"Tidak Marva. Aku langsung kerumah sakit lagi, ya." berjalan kearah Marva kemudian mengecup pipi Narra yang bersandar di ceruk leher Marva "Jaga dia baik baik, ya. Om pulang, cepat sembuh Narra." ucap Lefrando dengan tulus.


Setelah mobil Lefrando berputar balik keluar gerbang, para pelayan langsung meraih tas kemudian masuk kedalam rumah. Marva mengekor dari belakang mengendong Narra masih terlelap.


"Ohw! selamat datang menantu cantik ku." Marva menghentikan langkahnya ketika mendengar suara sinis mama martua sambil bertepuk tangan. Marva membeku di tempat ia berdiri.


"Mami, kapan sampai di sini?" tanya Marva berusaha setenang mungkin.


"Ternyata ini yang kau perbuat di belakang anakku, pulang bersama pria lain. Hahh!" tangan mami dengan seenaknya menjambak rambut Marva.


Marva meringis kesakitan, ia semakin mengeratkan pelukan agar Narra tidak terjatuh "Mami, lepas Mi...Auhhh!" tangan itu kuat sekali menarik rambutnya, sehingga ia tidak bisa menahan ringisan menyebabkan Narra ikut terbangun.


"Bunda.. Huaaaa,,," Narra menangis histeris di pelukan bundanya, menenggelamkan wajah di dada Bundanya.


"Mami, lepas Mi. Jangan bertindak kasar di depan Narra,,,.Auhh!" Marva meringis lagi ketika mami melepaskan tangannya.


"Anak saya di luar sana sedang bekerja, kau malah enak enakan dengan pria lain itu." Mami menatap Marva nyalang.


"Dengar ya. Mami tidak percaya denganmu. Sekarang juga kau serahkan cucuku pada Mami, kau tidak becus mengurus anakmu. Lihatkan dia sampai keracunan begini, itu karena kau tidak memperhatikan asupannya."


"Jangam ambil Narra, kumohon Mi." Marva semakin mengeratkan pelukan menahan tubih Narra yang di tarik paksa oleh Mami.


"Huaaa huaaa,,, Bunda, Narra tidak mau ikut Omah. Lepas Omaah."


"Tidak sayang. Bundamu tidak becus merawatmu. Narra ikut Omah sekarang kita kerumah Omah ya," bujuk mami menarik sekuat tenaga.


Takut melukai tubuh Narra, Marva mengalah melepaskan Narra dari gendongannya.


"Oma lepas Narra tidak mau. Omaaaahh!" Narra histeris di gendongan Omahya, sekuat tenaga Narra memukul punggung omah dari belakang. Masih menjerit Narra memohon pada Omahnya.


Sementara Marva tersungkur diatas keramik menatap pilu Narra sudah menghilang bersama mama martuanya. Ia masih mendengar jeritan Narra dari luar.


"Bunddaaaa, huaaaa!!

__ADS_1


"Narra, maafkan Bunda, Nak. Bunda lemah."


🌹🌹🌹


Sesampainya di luar rumah, Narra melakukan apa yang ia lihat tadi dari Omahnya kepada Bunda, menjambak Omah sekuat tenaga. Tubuh Narra bergerak gerak meronta minta di turunkan, "Omah jahat. Narra benci Omah, turunkan Narra!" suara mungil itu berteriak tepat di telinga oma.


"Narra astaga.. Auhh!" tidak dapat menahan rasa sakit, Mami menurunkan Narra dari gendongan.


"Ayah tidak pulang tiga hari, ayah tidak melihat Narra di rumah sakit, ayah tidak mau menjemput Narra pulang sekolah, ayah tidak mau minum susu buatan Narra makanya Narra meminum susu itu, ayah tidak mau menggendong Narra, ayah tidak pernah memeluk Narra." sambil menangis, dengan kata kata seadanya Narra sesenggukan mengutarakan isi hatinya pada Omah.


Mami terdiam, tentu wanita berpendidikan seperti beliau bisa mengerti apa maksud ucapan Narra, "Narra." mami berucap lirih.


"Tidak mau." Narra menepis kasar tangan Omah yang hendak menyentuh pipinya "Narra benci sama Omah juga benci ayah!" Narra berlari lari meninggalkan Omah.


"Narraaa!" Mami memanggil nama cucunya, tetapi yang di panggil tidak menoleh sama sekali.


Mami menyesali perbuatan kasar kepada Marva di depan Narra tadi.


Dengan sekejap. beliau kehilangan kepercayaan dari cucunya, padahal sebelumnya Mami sangat dekat dan sayang pada Narra sebagai Omahnya.


Panas setahun, dihapus hujan sehari.


🌹🌹🌹


Narra berlari ketakutan sampai ke pintu kemudia gadis kecil itu berjongkok memutar kenop pintu untuk mengunci pintu agar Omah tidak bisa masuk lagi. Tubuh pendeknya belum menjangkau untuk sampai ke engsel pengunci pintu sebenarnya. Belum puas Narra menggeser meja kecil yang berada di samping pintu kemudian menyandarkan meja itu kedekat pintu.


Bunda sudah tidak ada di ruang tamu lagi, Narra berlari menuju kamar bundanya. Membuka pintu yang tidak terkunci


"Bundaa." tangis Narra pecah melangkah naik keatas ranjang memeluk Bunda yang terduduk lemah di atas ranjang.


"Sayang,,hiks hiks hiks." Marva mencium seluruh permukaaan wajah Narra, memeluk putri kesayangannya dengan erat.


"Bunda. Narra tidak suka Omah. Omah menarik narik rambut bunda, Omah mau menjauhkan Narra dari Bunda,,, hiks hiks hiks." adu Narra, suara isakannya terdengar pilu ditelinga.


Marva mengusap punggung Narra menenangkan gadis itu dari rasa takutnya.


Untuk kali ini, Marva tidak menasihati sikap buruk Narra pada orang lain.

__ADS_1


Ingatan ini akan membekas selamanya di memori anak kecil seusia Narra.


👇👇👇


__ADS_2