BUKAN KEKASIH GELAPKU

BUKAN KEKASIH GELAPKU
Franda Pergi


__ADS_3

Handi mondar mandir didepan ruang UGD tempat Franda di baringkan, mengabaikan ponsel bergetar sudah berkali-kali. Raut kecemasan tergurat jelas menutupi ketampanan pria itu.


"Apa yang sudah terjadi Handi?" Bu Darwin menghampiri Handi dalam keadaan nafas tidak teratur. Wanita itu langsung pergi meninggalkan pekerjaan begitu ia mengetahui anaknya pingsan di taman tempat rencana mereka tadi. Ini diluar dugaaan mereka.


"Dokter Lisa masih didalam Tante." Handi berucap singkat tidak menatap bu Darwin sama sekali.


Seolah olah hanya dialah yang paling mencemaskan Franda.


Bu Darwin mendengus pasrah. Saat ini beliau sendirian menghadapi pria egois ini. Sang suami baru saja terbang meluncur keluar pulau urusan bisnis. Dan selama di tempat, pasangan itu tidak akan bisa berkomunikasi karena sinyal sangat rendah disana.


Seandainya Darwin ada disini, pasti kaki Beliau dengan ringan menendang lutut Handi.


Beberapa saat berlalu berdiam dalam keheningan, hanya terdengar suara gaduh dari rumah sakit. Tidak dengan dua orang beda generasi ini, dari tadi diam masuk kedalam pikiran masing-masing. Dokter Lisa keluar bersama suster perawat, seperti biasa suster itu berlalu pergi tanpa pamit.


"Bagaimana keadaan Franda, Nak Lisa?" Bu Darwin berhambur mendekati dokter Lisa. Mereka memang sudah sedekat itu


"Begini Bu. Dia pingsan merasakan sakit di bagian kepala belakang, ini akibatnya bila dia mencoba memaksa ingatannya," Dokter Lisa tersenyum meyakinkan, lalu menoleh kearah pria tinggi disamping Bu Darwin. Dokter Lisa menatap sekilas. "Jika boleh usul, tolong jauhkan Franda dari orang orang yang sudah memancing paksa ingatan Franda."


"Anda menyinggung saya, Dokter?" Handi tersinggung.


Dokter Lisa tidak menjawab bahkan tidak menghiraukan Handi, "Jika ini terus terjadi. Bisa di pastikan, Franda akan mengalami kesakitan teramat hebat didalam kepala daan,,," uapan Dokter Lisa menggantung. Berat sebenarnya mengatakan hal itu, tetapi ia harus menyampaikan kondisi pasien "Itu bisa memicu kanker otak, Bu."


Bu Darwin meremas tangan merasa bersalah. Seharusnya ia tidak menyetejui rencana itu, akan tetapi Marva pun tidak sepenuhnya salah, "Apa yang harus kami lakukan untuk Franda, Nak Lisa?"


"Seperti yang sudah di sepakati sebelumnya. Tinggalkan kota ini agar Franda mempunyai kehidupan baru. Teman baru. Kalau boleh cari suasana yang cukup jauh dari keramain kota. Itu cukup bagus bagi Franda." Dokter Lisa menjelaskan lagi kesepakatan mereka bertiga beberapa waktu lalu, hanya memang waktulah kurang mendukung menyebabkan usulan itu mengulur.


Handi tercengang di tempat ia berdiri, tetapi ia masih diam.


"Ibu akan bicarakan lagi dengan Papah Franda."


Jawaban Bu Darwin menyentak Handi. Merasa tidak di anggap kini gilirannya untuk bicara "Tante. Tolong jangan pisahkan saya dan Franda lagi. Saya berjanji tidak menyakiti Franda. Tolong jangan lakukan itu," mohon Handi lirih meruntuhkan harga diri yang tinggi jika sudah menyangkut Franda.


"Diamlah Handi. Kau bukan dokter atau tabib yang bisa menyembuhkan putriku. Tidak ada urusannya denganmu, kami orang tuanya akan melakukan yang terbaik untuk Franda." jawab Bu Darwin setengah berteriak.

__ADS_1


Sedangkan dokter Lisa tersenyum kemenangan.


"Saya boleh melihat Franda sekali lagi untuk yang terakhir kali, sebelum tante pergi membawanya?" Handi mengalah membenarkan perkataan Bu Darwin.


"Silahkan. Tante beri 15 menit." tukas Bu Darwin tegas, beliau sudah sangat bosan menghadapi tingkah Handi selalu menganggunya bertanya tentang Franda ini itu. Sehingga beliau mengubah sikap kepada Handi.


Handi berjalan masuk kedalam ruangan Franda di rawat, tersenyum melihat wanita itu baru saja membuka mata. Mendekati brankas dengan lancang mencium kening Franda "Maaf telah membangunkanmu."


Yang di cium tidak menolak juga tidak membenarkan tindakan Handi, justru menatap lurus kearah tembok "Apa kau benar pernah menjadi kekasih ku?' suara Franda masih melemah.


"Tentu. Kita saling mencintai sayang."


"Lalu, Marva itu benar istrimu?"


"Aku tidak mencintai gadis itu, dialah orang penyebab hancurnya hubungan kita,"


"Katanya kalian sudah punya anak."


Mendengar itu Handi gugup "A-aku tetap lebih mencintaimu, sayang,"


"Sayangg,"


Franda mendengus kesal "Aku memang tidak bisa ingat tentang kamu dan juga Marva. Tapi, bisakah kau menggunakan logika mu?"


'Tidak bisa."


"Aku saja bisa melupakanmu."


"Itu karena kau sakit sayang,"


"Tapi hatiku tidak ada bergetar saat berdekatan denganmu. Itu artinya aku juga lupa rasanya mencintaimu. Menyingkirlah." Franda menghempaskan gemgaman tangan Handi kasar.


"Franda," pernyataan itu menghujam jantung Handi bagai di tusuk ribuan pisau "Sampai mati pun aku tidak bisa melupakan cinta kita sayang," ucapnya bergetar.

__ADS_1


"Aku akan pindah bersama keluarga ku,"


"Aku menunggumu,"


"Pergi, aku bilang perg!i!" Franda mulai histeris, "Aku tidak butuh kamu. Aku hanya butuh Mamah Papahku" Franda mulai terisak. Hampir saja tongkat infus terjatuh kelantai karena gerakan serampangan Franda, jika saja Handi tidak segera menahan tongkat itu.


"Tenanglah, Franda." air mata Handi ikut jatuh melihat wanitanya merasa kesakitan, "Baiklah. Aku pergi. Tapi ingatlah, kemana pun kau pergi aku akan tetap mencarimu. Sku mencintaimu Franda. Selalu." dengan berat hati Handi melangkahkan kaki keluar. Sebelum benar benar pergi, Handi menyempatkan memutar badan melihat gadisnya masih menangis disana. Dungguh ini perpisahan yang menyakitkan. Air mata itu turun jatuh membasahi seluruh wajah Franda. Tetapi dirinya tidak bisa melakukan apa lagi.


Franda menyuruh Handi pergi melupakannya. Jika boleh minta, Handi juga ingin amnesia agar bisa menghilangkan wajah Franda. Seumur hidup Handi mencintai gadis itu.


Sampai didepan pintu ruangan, Bu Darwin dan Dokter Lisa menatap heran kepada Handi, wajah pria itu memerah kusam seperti habis menangis. Mulut Dokter Lisa sudah gatal ingin bertanya, tetapi urung di lakukan melihat reaksi bu Darwin menatap tajam Dokter Lisa.


Merasa di tatap seperti itu, Handi tidak mengubris. Ia lebih memilih pergi begitu saja menghindar dari kedua wanita itu.


Handi pulang bersama luka membawa air mata, nasib cintanya kini ada di ujung tanduk. Harapan pada wanita itu tinggal sedikit lagi, menunggu waktu mempertemukan mereka. Jika waktu sudi mengabulkan itu.


Keluarga Franda sudah tidak berpihak kepada nya, Franda sendiri ingin ia melupakannya.


Handi lupa ada cinta terselip di dalam rumahnya. Bukan Handi tidak menyadari itu, ia lebih memilih menutup mata.


Sementara didalam sana, Franda menangis sesengukan melihat punggung pria itu di telan daun pintu. Rasa hati bergetar yang di katakan tadi sebenarnya ada, tetapi perasaan hati wanita tidak dapat menampik kenyataan yang ada.


Tidak sengaja Franda mencuri dengar perbincangan dokter Lisa dengan Papahnya. Obat yang di telan selama ini mempunyai efek samping cukup mengerikan kepada organ lambungnya. Belum lagi benturan di kepala saat kecelakaan itu, membekas seumur hidup. Lubang itu sewaktu waktu dapat menimbulkan sel abnormal berkembang menjadi bakteri mengerikan tak kasat mata.


Handi hanya membuang waktu mencintai perempuan berpenyakit seperti dirinya.


Mengingat itu, Franda merasakan sesak didada. Menarik nafas perlahan menghilangkan emosi yang meluap luap.


Satu lagi pertanyaan Franda. Wajah perempuan bersamanya tadi tidak terlihat seperti orang jahat atau semacamnya. Gelang hijau itu persis seperti apa yang di temukan di laci meja rias, artinya mereka dulunya memang sangat dekat. Ia tidak ingat tentang kisah pertemanan mereka, tetapi tidak bisakah logika menyadarkan pria itu?


Handi sudah sepantasnya berusaha mencintai istri serta anaknya.


Perlahan rasa kantuk menjalar, Franda memejamkan mata setelah Dokter Lisa diam diam masuk menyuntikkan sesutu didalam cairan infus.

__ADS_1


👇👇👇


__ADS_2