
Foto dirinya terbingkai mahal dengan epik menempel dinding bercat warna krem sesuai yang di sukainya. Tubuh indah itu sedang berdiri sambil memegang sebuah piala penghargaan berwarna emas di lilit pita merah putih mengikat kepala piala, tertulis keterangan di dalam pemenang model Fashion week di negaranya tahun 2013 lalu. Orang itu begitu cantik menggunakan gaun biru langit menjuntai indah sampai mata kaki, rambut pirang tergerai bebas berhias mutiara mutiara kecil menggantung disana, high heels berwarna menyerupai awan putih tumit setinggi 7cm, dan selempang berukiran namanya. Menjelaskan orang itu begitu berprestasi pada masanya.
Merogoh isi laci meja hias miliknya, begitu banyak jenis jenis aksesoris bermacam merek bentuk dan warna bertumpuk di dalam. Laci sebelahnya, tak kala lebih menarik lagi. Berbagai warna tinta pena, barang barang elektronik seperti charger laptop charger HP power bank dan sejenisnya. Ia menutup laci itu rapat.
Iseng menghidupkan laptop, membuka apa apa saja yang akan membantu ingatannya. Foto foto selfi dirinya ada berpuluh puluh tersimpan dalam satu folder, lalu membuka file documen terselip diantara folder dalam folder.
Kali ini ia sudah mengetahui, apa pekerjaan sebelum kecelakaan itu merebut sebagian memorinya.
Ahh, gadis itu belum puas akan pencariannya. Papahnya bilang, ia memang bekerja sebagai kepala keuangan di perusahaan keluarga. Betul-betul hanya jejak itu yang ia dapat setelah merogoh laci dan melihat isi lemari pakaiannya. Dan masalah lomba model, sepertinya itu Bisa ia tanyakan pada mamahnya nanti.
Gadis itu menghempaskan tubuh keatas tempat tidur king size menghembuskan nafas kasar, ia merasa kesal. Mengguling kekiri kekanan, memukul sprei yang tidak bersalah, mengeram dalam hati. Tubuhnya masih sedikit lemas untuk melakukan pergerakan banyak.
Kondisinya sudah lebih baik selama menjalani setahun terapi berkala di rumah sakit. Dan baru dua hari ini ia baru di perbolehkan masuk kedalam kamar pribadinya.
Yusditira Arhandi Hutama.
Pria itu menyebut nama lengkapnya yang selalu mengikutinya akhir akhir ini, mengingat nama itu membuat ia semakin kesal saja.
Bagaimana tidak, pria itu selalu mengaku sebagai kekasih di hadapannya. Hanya di hadapannya. Tetapi, tidak didepan orang tuanya, membuat ia merasa ragu tidak percaya ucapan pria itu. Buktinya mana, bahkan selembar foto foto mereka saja tidak ada ditemukannya.
Ia tidak mengetahui Papah telah membuang foto dan barang barang pemberian pria itu.
Ahh. Ok. Mari berusaha lagi. Gadis itu membuka lagi laci tempat penyimpanan aksesoris tadi, membuka paksa laci membuang seluruh benda keatas tempat tidur. Ya, gadis itu menemukan sebuah gelang, terbuat dari karet berwarna hijau terang 'F n M'. Memperhatikan lebih seksama, sepertinya benda ini adalah pemberiat seorang sahabat. Pertanyaannya sekarang, siapa inisial M itu, ia harus mencari orangnya. Mungkin si M adalah orang yang bisa membantunya memulihkan ingatan.
Entah mengapa, ia tahu bahwa Papanya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
M, siapakah kau? Ia tidak tahu orang yang di cari adalah orang yang akan membawa luka untuknya.
"Franda!"
Gadis itu cepat cepat berlari kearah pintu merasa namanya di panggil.
Untung saja barang barang tadi sudah di simpan di balik selimut. Membuka pintu selebar wajah, tubuhnya tenggelam di balik pintu
"Ada apa, Mah?" tersenyum menutupi kecanggungan.
__ADS_1
"Mamah. Boleh masuk sayang?"
"Hah..Uhmm,, i-iya boleh kok Mah. Tapi jangan ke atas kasur ya Mah, akuu, " Franda menundukan kepala menahan malu.
"Iya. Mamah tahu, buka pintunya sayang."
Franda di bawa mMamah kebalkon kamarnya. Memegang pagar pembatas, memandang atap rumah tetangga dari atas
"Mamah. Mau ngomongin apa?"
"Tadi, Dokter Lisa memberi Mama pesan untuk membawamu terapi lagi besok lusa. Kamu mau ya, Nak,"
"Terapi apa lagi?" Franda mendengus "Tapi Mama bilang terapiku sudah selesai,"
"Tenang dulu, sayang. Percaya sama Mamah. Terapi besok berbeda dari yang biasanya. ok."
"Ah. Terserah Mamah. Franda mau tidur saja." gadis itu selalu begitu jika marah.
Setelah Franda masuk kedalam kamar meninggalkan mamah diluar balkon. Wanita tua itu merogoh saku mengambil ponsel memberi pesan kepada seseorang. Beliau hanya bisa berharap pertemuan mereka tidak di ketahui suaminya. Dokter Lisa adalah teman terbaik untuk melaksanakan misi rahasia ini, embel embel terapi padahal tidak sama sekali.
Marva menatap sendu pada wanita yang ada di hadapannya. Tubuh itu tidak sebagus dua tahun lalu. Kulitnya putih pucat, bibir itu tidak seranum dulu lagi sudah memucat, mata itu sedikit menguning, wajah itu tidak semulus dulu lagi, ada noda hitam berbintik disana.
"Marva. Ibu sudah melakukannya, selamat berjumpa untuk besok. Temuilah Franda, jangan takut." pesan Ibu Darwin membawa Marva melangkah kesebuah taman.
"Franda," Susah payah Marva berhasil menyebut nama yang sudah sangat di rindukannya.
Perasaan Franda lain lagi. Di pikirannya, rumah sakit dokter Lisa adalah tempat mamah membawanya. Nyatanya, sekarang ini ia sedang berada disebuah taman sepi dekat rumah sakit bersama dengan perempuan yang menatapnya begitu dalam. "Tahu nama ku?" pertanyaan itu lolos begitu saja.
Marva tersenyum miris. Di keluarkannya sesuatu dari tas kecil, memperlihatkan kepada Franda "Aku adalah orang yang mengenalmu,"
"Gelang itu, sama persis dengan gelang yang kutemukan didalam laciku. Kau pasti temanku. Iya, kan?" jawab Franda antusias. Melangkah beberapa kali hendak memeluk Marva, bahagia sekali rasanya mengetahui orang yang akan membantunya memulihkan ingatan.
"Tidak, Franda." Marva mundur teratur menolak pelukan. Franda terdiam. "Aku bukan orang baik untukmu. Aku jahat, Franda," Marva terisak.
"Bicaralah baik baik, aku tidak mengerti apa maksudmu."
__ADS_1
"A-aku Marva, teman yang menghianatimu." penjelasan Dokter Lisa sudah menjadi pikiran matang untuk membuka rahasia ini.
"Hey. Jangan menangis teman, berbicaralah dengan benar. Aku tidak mengerti maksudmu."
"Aku sudah menikah dan punya anak dari kekasihmu, pria yang mengikutimu selama ini. Franda a-akuu,," suara Marva putus putus.
"Cukupp!" Franda menyentak, kepalanya terasa sakit berputar-putar.
"Franda, kau kenapa?" Marva panik melihat Franda memegang kepalanya.
Franda menahan sakit. Ia harus kuat membuka ingatannya "Kenapa bisa? Tapi Papah bilang, dia adalah orang jahat."
"Tidak Franda. Aku yang jahat, aku merusak hubungan kalian." Marva bergetar ketakutan.
Secara tidak sadar, gunjingan orang orang yang mengatainya penghancur hubungan orang sudah tertanam didalam diri Marva.
"Aku tidak tahu. Ahhh,," semakin menjerit kesakitan. Franda menarik rambutnya kasar, tubuhnya hampir jatuh kalau saja sesorang tidak menahannya.
"Marvaaa!" suara itu terdengar menghentak keheningan taman.
"Mas Handi," Marva terbelalak.
"Ini semua karena kau. Marva!" ucap Handi sarkastik.
"Ddiamm!! kepalaku sakit sekali." Franda meringis di pelukan Handi.
"Tahan sayang. Kita kerumah sakit sekarang." Handi berbisik di telinga dengan mesra. Setelah itu Handi menggendong Franda. Kali ini gadis itu tidak menolak, justru Franda semakin merapatkan kepala kedada bidang Handi. Mereka pergi meninggalkan luka bagi Marva.
Marva duduk bersimpah diatas rumput taman, suara isakannya keluar begitu saja. Air mata itu jatuh sangat deras, interaksi suaminya dan Franda tidak luput dari perhatiannya.
Apakah sesakit ini? Bagaimana pun juga Marva sudah menganggap Handi sebagai suaminya ayah dari Narra. Melihat lelakinya pergi bersama wanita lain.
Setidaknya Marva sudah berani berkata jujurkan. Spapun yang akan terjadi nanti, Marva sudah meneguhkan hati menerimanya.
👇👇👇
__ADS_1