
suasana ruangan tunggu perawatan untuk Mami saat ini terasa menegangkan dan aura kesedihan terasa dari satu-persatu orang yang berharap cemas dengan kondisi Beliau saat ini.
Berto berdiri lunglai bersandar pada dinding ruangan menekuk wajah, istrinya sedang berada diujung nyawa.
Handi berdiri mematung di samping Papinya, ia merasa bersalah telah menyebabkan semua kekisruhan ini.
Ia tidak berani menjelaskan apa-apa sebelum Papinya yang lebih dulu bertanya, semoga kondisi Maminya tidak buruk.
Tanti duduk dikursi tunggu memangku Narra yang sudah tertidur karena menangis melihat Omanya tidak sadarkan diri. Tanti tahu ini hal yang baru bagi Narra, gadis kecil itu ketakutan.
"Kau sudah hubungi istrimu?" Handi terkesiap mendengar pertanyaan Papinya.
"Be-belum, Pi. Handi tidak sempat memberitahu Marva." jawabnya gugup.
"Huh." Papi membuang nafas kasar, menatap putranya dengan tatapan yang sulit diartikan "Cepat hubungi," perintahnya tegas.
Sebelum Handi sempat merogoh ponselnya dari saku celananya, Tanti lebih dulu berbicara "Tuan, saya sudah memberitahu Marva. Marva sedang dalam perjalanan kesini,"
Setelah itu tidak ada percakapan lebih lanjut.
Setekah beberapa saat menunggu pada akhirnya yang dihubungi tadi datang juga. Marva datang dengan wajah cemas dan nafas terengah-engah memburu waktu agar sampai ke rumah sakit.
"Bagaimana keadaan Mami? Apa yang terjadi? Hah?" Marva membrondong pertanyaan.
"Dokternya belum keluar, Nak." itu jawaban dari Bibi Tanti.
Bagaimana bisa selama ini dokter juga belum keluar? Perjalanan dari desa sampai ke kota ini memakan waktu ber-jam lamanya. Apa selama ber-jam dalam perjalanan, selama itu juga Mami masih belum ada kabar?
Marva tidak tahu apa yang menyebabkan Mami martuanya drop lagi, pesan singkat dari Bibi Tanti langsung memburu Marva agar segera pulang dari rumah orang tua Franda. Semua masalah sudah ter-selesaikan dengan baik disana.
Ckrek.
Semua mata tertuju pada seorang pria paru baya ber-jas putih keluar dari dalam ruang rawat Mami.
"Pasien berhasil melewati masa kritisnya," Semua orang bernafas lega mendengar pernyataan dari dokter tersebut, sudah dua kali Tuhan memberi kesempatan kehidupan bagi Mami. "Saya tidak tahu bagaimana bisa Nyonya Vera kembali drop, bisa jadi salah satu anggota keluarga membuat Beliau terkejut. Oh satu lagi, obat penenang jantung yang saya berikan kemarin itu sudah sangat langka. Jadi kalian pikirkan sendiri apa yang harus dilakukan untuk mempertahankan hidup pasien." Lucu sekali memang seorang dokter berbicara seperti itu, tapi Berto cukup mengeri seperti apa dokter yang menangani istrinya. Bukan hanya dikenal sebagai seorang dokter tetapi juga salah satu bagian masa lalu perjalanan cinta mereka. Entah karena takdir apa yang mempertemukan mereka kembali di posisi pasien dan dokternya.
"Kami boleh masuk, Dokter?" Tanya Berto canggung.
__ADS_1
Dokter mengangguk kecil mempersilahkan masuk "Tapi tidak untuk anak manis yang sedang tertidur itu. Dan masuknya satu-persatu saja, agar tidak menganggu istirahat pasien." Lanjutnya.
"Papi masuk terlebih dulu. Marva, bawa Narra pulang. Handi, kembali ke kantor." Ujar Berto tegas
Dengan berat hati Marva melangkah pulang.
🌹🌹🌹
Mami tersenyum pilu menatap kedua anak menantunya memandang bergantian. Setelah kesadarannya kembali, Beliau langsung meminta agar Handi dan Marva segera datang menemuinya. Menceritakan apa yang menjadi beban pikirannya kepada sang suami adalah syarat agar permintaanya dikabulkan suaminya Berto.
Setelah merasa cukup lebih baik, Vera menarik nafas memulai mengatakan apa yang tersimpan dalam hatinya.
"Marva," Vera menggemgam tangan menantunya erat "Jujur pada mami, Nak. Apa yang sebenarnya terjadi pada hubungan kalian? Apa yang kalian sembunyukan?"
Marva menunduk menggigit bibir bawahnya merasa gugup menjawab pertanyasn martuanya.
"Mami ingin mendengar pengakuan dari kamu." Mami berujar lirih namun terdengar tegas di telinga.
Marva melirik Handi suaminya dengan ekor matanya berharap Handi meresponnya, namun Handi justru memalingkan wajahnya. Baiklah ia akan mengaku saja.
Vera menyentuh bagian dadanya menggunakan tangan yang tidak tertusuk infus, ia merasa sesak. Dengan cepat ia menetralkan emosinya agar tidak menimbulkan kepanikan.
"Kalian melakukan itu demi Mami'kan?" Itu alasan Handi yang terucap sewaktu perdebatan dikamar Handi tadi malam.
Hening tidak ada yang menjawab.
Setelah mendengar pengakuan dari putranya, Vera merasa kecewa.
Selama ini ia mengira bahwa hubungan rumah tangga putranya sudah membaik selama ia dan suaminya berada dirumah Handi. Namun ternyata salah.
Handi mengatakan telah membuat kesepakatan sepihak berpura-pura mesra dihadapan orang tuanya, semata-mata demi menjaga kesehatannya selama dirinya masih tinggal dirumah Handi. Setengah mati ia memaksa Handi agar mau berkata jujur, mengaku bercerita apa yang mereka tutupi.
Karena terlalu memikirkan itu semua, pikirannya kacau. Pagi saat mencoba mengalihkan pikirannya dengan mendandani Narra bersiap sekolah, justru ia pingsan tepat dihadapan cucunya.
Apakah ia harus merelakan menantu terbaiknya? Bukan demi alasan nama baik keluarga Hutama, hanya mengandalkan firasat seorang ibu mencoba memberi yang terbaik kepada anaknya.
"Handi, Mami sudah berusaha mempertahankan yang terbaik untukmu. Yang Mami rasakan adalah, Marva orang yang baik untukmu dan Narra adalah anak termanis anugerah yang dipercayakan Tuhan kepadamu. Jika kau membuka matamu, maka kau akan melihatnya. Mami tidak akan memaksa kalian lagi."
__ADS_1
Semua orang menangis melihat air mata turun dari wajah Mami, termasuk Handi.
Ini pertama kalinya ia melihat langsung di depan matanya Mami menangis, dan lagi-lagi ini karena ulahnya.
Harusnya ia menyadari dari awal betapa berarti air mata itu, ia tahu posisinya adalah anak tunggal. Tapi justru harapan anak tunggal itu tidak tersemat dalam dirinya.
"Mamiii,,, Mamiii!" Handi tersadar dari lamunannyaendengar teriakan Marva dan Papinya mengguncang tubuh Maminya.
"Tidak, Mi!" Handi segera berdiri merebut pelukan Maminya menyandarkan kepala di atas kening Maminya berbisik memohon ditelinga "Jangan pergi, Mi. Handi berjanji mulai sekarang akan mendengarkan perkataan Mami, Handi akan menjadi anak terbaik bagi semua keluarga, Handi akan memperbaiki semuanya. Handi jamji. Mami. Mami,, Mami!" Handi terus berseru mencium seluruh sisi wajah Maminya, ia menangis sesenggukan.
Tiiittttt!!
Detak jantung Vera melengkung kembali.
🌹🌹🌹
Setelah beberapa saat berjuang keras membangunkan Vera, Harif berhasil membawa Vera pulang ketubuhnya.
Duduk disofa ruang kerjanya, melempar jas kesembarang arah.
"Lefrando. Mengapa kau jarus merasakan apa yang dulu papi rasakan, harus merelakan cinta ketangan orang lain," Harif menatap kosong ke arah langit ruangan.
Tadi ia sempat melihat adengan drama Handi menangis dipelukan Vera, mengintip dari celah kaca transparan di sekitar pintu ruangan Vera dirawat.
Jika dulu ia yang bodoh telah menyiakan kesempatan cintanya bersama Vera, terpaksa merelakan Vera sudah dijodohkan bersama pria asing. Maka sekarang nasib itu turun kepada Lefrando putranya, cinta yang salah tempat.
Bedanya Lefrando sudah semestinya tidak mempertahankan perasaannya terjadap wanita yang sudah sah menjadi milik orang lain. Ia harus melakukan sesuatu untuk menghindarkan Leftando dari Marva.
Berjalan ke arah meja kerja, merogoh sesuatu dari dalam laci.
Harif membaca ulang isi map kuning tersebut.
"Maafkan Papi, Lef. Papi harus melakukan ini."
👇👇👇
Maafkanlah daku yang karyanya tidak sebagus karya orang lain. Otakku kurang mampu mengembangkan cerita ini untuk lebih bagus lagi. Masih banyak ketidak sempurnasn dalam cerita ini.
__ADS_1