
Malam ini adalah malam menyakitkan bagi sepasang suami istri ini, mereka berdua merasakan cerita kesedihan yang berbeda.
Handi dengan rasa kalutnya, pergi meninggalkan istrinya menuju kediaman kekasihnya. Kabar duka yang ia dapat dari Dokter Lisa cukup meghantam hati Handi.
Baru tadi pagi ia menerima kabar bahwa Franda masih dalam keadaan seperti biasa, suara Om Darwin pun tidak mencurigakan dari seberang sana. Tetapi kabar malam ini, Handi belum mempercayai kabar kepergian Franda untuk selamanya.
Mobil melaju menempuh perjalanan panjang ketempat Franda di rawat.
Jalan raya tampak sepi pengendara. Hanya ada beberapa mobil dan sepeda motor yang berpapasan dengan mobilnya.
Handi tidak menakutkan apa pun dalam menempuh perjalanannya, ia hanya ingin cepat sampai ketempat yang ia tuju beberapa waktu yang lalu.
Sesekali ia mengusap wajah menghapus jejak air mata agar tidak menganggu pengelihatannya, Handi menangisi Franda pujaan hatinya.
Melihat jam tangan yang melingkar di tangan kiri. pukul 00:02 WIB. ia memacu laju kecepatan mobil diatas rata rata mengendalikan rem pedal agar terhindar dari bahaya kecelakaan.
Handi mencengkram setir mobil penuh emosi, pikirannya sungguh kacau menerima kenyataan nasib cintanya.
"Aku harap semua ini tidak benar, Franda" teriaknya dalam hati masih tidak percaya.
Drett drett drett!...!
Handi merogoh ponsel dalam saku melihat nama yang memanggil dalam layar.
'Marva, memanggil', Handi menyentuh tombol merah di layar kemudian melempar ponsel kebangku samping secara asal.
Sudah tiga kali ponsel itu bergetar, tetap saja Handi mengacuhkan tidak berniat mengangkatnya atau sekedar melihat siapa yang memanggilnya lagi.
Lelaki itu terlalu fokus dengan kesedihan, sehingga mengacuhkan segalanya.
Handi terus melajukan mobil sampai menuju desa perkampungan yang di jalaninya beberapa waktu lalu, menembus gelapnya jalan demi memastikan apa yang ia dengar.
Tibalah Ia didepan rumah tempat Franda di rawat. Terlihat orang orang berlalu lalang mengerumuni rumah itu. Wajah kesedihan memancar dari warga sekitar.
__ADS_1
Handi membeku disamping badan mobilnya. Tubuhnya meluruh menyentuh aspal berbatu, tak bertenaga untuk melangkah memasuki rumah. Isakannya perlahan keluar, membanjiri wajah berlinang air mata. Handi mengepalkan tangan bergetar, wajahnya menunduk memejamkan mata yang masih menangis.
Sampai ia merasakan seseorang menyentuh kedua bahunya, barulah Handi mengangkat wajah, melihat siapa orang yang di hadapannya saat ini.
"Dokter Lisa," ucapnya lirih.
"Masuklah, lihat Franda untuk yang terakhir kalinya." Dokter Lisa memberi sedikit penakanan agar Handi beranjak untuk masuk kedalam.
🌹🌹🌹
Disinilah Marva sekarang. Di rumah sakit, tepatnya didepan ruang IGD.
Entah malam seperti apa yang ia hadapi saat ini. Baru bebetapa jam lalu, Marva harus merelakan Handi pergi begitu saja, kemudian menerima kabar Franda dari sana. Sekarang.
"Ahhkk!!" Marva mencengkram kepalanya yang sakit. Baru setengah jam yang lalu ia mendapat kabar tentang Mami martuanya yang tiba tiba datang kerumah mereka, dan entah kenapa, Mami langsung jatuh pingsan di depannya.
Segera ia membawa Mami kerumah sakit terdekat, Meninggalkan Narra dan Bibi Tanti di rumah. Papi sedang dalam perjalanan dari kota asal menuju kemari.
"Bagaimana keadaan Mami saya, dokter?" tanya gemetar penuh kecemasan. Saat dokter keluar dari ruang tempat Mami di baringkan.
"Nyonya," sahut si dokter dengan lembut mencoba menenangkan keluarga pasien yang ia tangani. "Mami anda kelelahan sehingga memacu penyakit jantungnya kambuh," dokter lelaki paru baya itu tersenyum lembut, memandang wanita yang di hadapannya. "Tetapi untung saja anda cepat membawanya kemari, sehingga kondisi pasien tidak terlalu parah, dan sudah selesai kami tangani."
Marva menarik nafas lega. "Terima kasih, Dokter." Marva tersenyum membalas tatapan lembut sang dokter. Sepertinya dokter ini pernah ia temui sebelumnya, tapi dimananya, Marva tidak jelas mengingat. "Apa saya sudah boleh masuk, Dokter?" tanyanya penuh harap.
"Silahkan. Ini juga sudah larut malam. Jadi kemungkinan besar pasien besok pagi akan di pindahkan keruang perawatan. Masuklah."
"Terima kasih, Dokter."
🌹🌹🌹
Marva duduk diatas kursi disamping brankas pasien, menggemgam tangan Mami dengan lembut.
Mami belum bangun dari pingsannya. Marva melihat lekat lekat tatanan wajah martuanya. Kemiripan dengan Handi mendominasi wajah mami, alis mata itu, bibir itu, dan bentuk pipi mereka juga hampir sama.
__ADS_1
Oh, mengingat nama Handi. Marva langsung menghubungi nomor itu, tetapi sial sekali rasanya. Sudah berkali-kali ia menghubungi, namun tak ada tanggapan dari seberang sana. Bukan untuk menyuruh Handi pulang. Tentu ia sebagai seorang anak harus mengetahui keadaan orang tuanya sekarang ini, niat hati hanya ingin memberi kabar saja.
Marva menyerah. Ia memutuskan tidak menghubungi nomor Handi.
"Mami," Marva mengelus permukaan tangan maminya lembut "Bangun Mi, banyak yang harus aku sampaikan pada Mami. Aku sudah lelah menghadapi kalian. Bangun Mi." ucap Marva tanpa basa basi. "Lihatkan anak kesayangan Mami, bahkan tidak mau mengangkat telepon dari aku. Padahal, aku hanya menyampaikan kabar tentang Mami saja." sejenak Marva menghentikan ucapannya menarik nafas lelah. "Wanitanya meninggal Mi. Mas Handi sedang dalam perjalanan kesana. Mami tidak tahu kan, anak kesayangan Mami itu, bagaimana dia memperlakukan aku dan cucu Mami," Marva mengusap air mata yang hampir jatuh lagi "Ah sudahlah Mi, percuma Marva bercerita dalam keadaan Mami tidak sadar seperti ini. Sedangkan dalam keadaan sadar pun Mami mungkin tidak percaya".
Ting!!.
Marva melihat ponselnya terdapat ada dua pesan masuk tertulis didalam. layar.
Pesan pertama, ia merasa lega akhirnya Narra sudah tidur juga. Pasti neneknya sudah berusaha keras membujuk anak itu tidur lagi. Marva membalas pesan itu. Agar Bibi Tanti besok datang bersama Narra ke rumah sakit menjenguk Omahnya setelah pulang sekolah.
Pesan kedua dari Dokter Lisa.
Marva menatap sedih foto Franda dalam baringan keterakhir itu. Ternyata jenazah Franda tidak di makamkan di kota ini. keluarga akan memakamkan di desa itu. Pupus sudah harapan terakhirnya, padahal Marva sudah menyiapkan waktu dan hati untuk melihat temannya Franda untuk terakhir kalinya. Ternyata takdir lebih mengizinkan Marva untuk tidak melihat itu.
Ia tidak mungkin nekat datang kesana, sementara Mami martuanya sedang sakit. Marva bukan takut untuk bertemu dengan kedua orang tua Franda termasuk ayahnya Franda, atau juga Handi. Ah, semua menyulitkan.
Kembali ia mengusap layar, foto Franda di tatapnya dengan sendu "Franda, maafkan aku tidak bisa bersamamu saat kau mengalami sakitmu." Marva mencium layar seolah olah mencium Franda.
Sepertinya juga Papi martua belum sampai malam ini, mungkin besok pagi buta.
Marva menyandarkan kepala disamping tangan Maminya, ia mulai terpejam mengistirahtkan badan. Namun belum beberapa menit ia tertidur.
"Marva," suata lirih itu membangunkan Marva dari rasa kantuknya.
"Mami. Sudah bangun Mi."
Eh, apa ini. Tiba tiba mami mengusap kepala Marva lembut, dan lagi, mami tersenyum dibalik masker oksigen padanya.
Marva, kamu tidak sedang bermimpikan.
👇👇👇
__ADS_1