
Rumus dunia adalah, semua harus berpisah. Yang menjadi pemecahannya adalah, bagaimana kita mengiklaskan dia?
Semua warga desa turut bersedih atas kepergian Elfranda Putri Darwin. Sebagian dari mereka sudah menangis di pelupuk wajah, ada juga yang keluar karena tidak tahan mendengar suara isakan orang yang berada di dekat tempat pembaringan gadis itu.
Pemuka agama sudah selesai membawa doa-doa mengiringi kepergian Franda. Dan pembacaan riwayat hidup Franda, juga sudah selesai. Sepenjang acara doa tadi, banyak mata melihat begitu sedihnya pria yang sedang menangis pilu disamping kanan peti. Baru-baru ini mereka melihat pria ini ada disini.
Pak Darwin. Hanya bisa terus menatap wajah putrinya yang sudah kaku dan tidak bergerak lagi. Sedari tadi beliau mengusap air mata dengan pergelangan tangan. Ia tidak menyesal uangnya habis untuk biaya pengobatan Franda. Setidaknya ia sudah berusaha menahan takdir untuk terus memperpanjang hidup putrinya. Harta masih bisa dicari. Tetapi waktu mereka saat saat merawat dan menjaga Franda, adalah hal yang paling berharga yang pernah mereka miliki.
Yang menjadi beban adalah, mereka sudah tidak mempunyai keturunan lagi, Franda adalah anak tunggal mereka. Siapa yang akan menemani mereka di masa tua nanti?
Nyonya Darwin. Wanita itu sedari tadi tidak berhenti terisak sambil mengusap pipi Franda yang sudah mulai terasa dingin. Ia juga terus terpaku menatap mata puyrinya yang sudah tertutup rapat, bibir Franda juga sudah terlihat mengering.
Apa lagi yang harus di katakan sekarang. Kemarin bisa saja ia mengatakan, telah merelakan putrinya untuk pergi. Sekarang, ia juga menangis kan?. Kemarin ia bisa mengatakan, putrinya pasti merasakan sakit yang teramat merasakan penyakitnya. Atau. mereka juga merasa kelelahan terus seperti ini. Sekarang, jika boleh memohon, ingin sekali ia mengulang merawat putrinya kembali, memandikan Franda, dan.
Iklaskan dia pergi,?
Handi. Ia menyandarkan kepala pada bibir peti, melihat tubuh kekasihnya yang sudah tidak berdaya lagi.
Rasa cinta pada Franda masih sangat besar sampai detik ini, tapi itu hanya tinggal rasa saja, karena cintanya telah pergi keatas.
Handi mencengkram erat bibir peti, emosi kesedihan membuncah ingin memeluk tubuh itu untuk terakhir kali, tapi Handi masih bisa menahan kewarasannya. Akhirnya Handi melepas cengkramannya, duduk termenung di tengah keramaian. Air mata itu sudah meleleh sedari tadi. Untungnya ia masih bisa menetralkan isakannya.
Dipikirannya saat ini hanya Franda.
Dokter Lisa. Ia duduk diarah kaki Franda, kedua jempol Franda sudah terikat seutas kain putih.
Lisa sangat menyayangi pasiennya yang satu ini. Bahkan ia sendiri sudah menganggap. Franda seperti adiknya, bagaimana ia bisa dengan mudah merelakan Franda pergi?
Teringat dulu. Betapa semangatnya Franda saat minum obat-obat yang ia berikan, adiknya itu sudah menelannya seperti permen.
__ADS_1
Senyuman Franda saat selesai terapi, seolah-olah Franda menegaskan dirinya akan sembuh.
Franda pernah mengatakan, dirinya bahagia selamat dirawat oleh dokter seperti Lisa.
Semangat Franda akan menjadi semangatnya untuk menjalani kehidupan sebagai dokter saraf dan kanker untuk kedepan hari. "Aku berjanji, Framda." ucapnya lirih.
Lagu lagu yang mengalun dari seluruh orang yang berada di dekat mereka, semakin membuat air mata itu tumpah lebih deras dari yang tadi. Lagu itu seolah memberi pengaruh agar mereka menyadari Ftanda benar benar sudah pergi.
"Maaf Pak. Izinkan kami untuk menutup peti ini." ujar salah satu petugas pembawa doa. Karena memang waktunya sudah acara menutup peti.
Darwin menoleh kesamping, melihat istrinya semakin menangis, "Mah. Ayo bergeser, kita berdiri ya," ajaknya menopang tubuh istrinya untuk berdiri, memberi ruang untuk petugas penutup peti.
"Ja-Jangan tutupi putriku," bu Darwin mulai hosteris, "Aku masih ingin melihatnya. Jangan tutup dulu." Tubuhnya bergetar hebat, kakinya membeku tidak rela untuk menyingkir. Bu Darwin justru semakin mengeratkan cengkraman kebibir peti Franda.
"Bu. Ayo kita berdiri ya," kini giliran Handi yang mencoba membujuk wanita rapuh itu.
Baru saja kedua tangannya menyentuh bahu Bu Darwin. Tapi justru tangannya di tepis kasar oleh beliau. Handi mengalah.
Tapi justru lisa harus merasakan pukulan dari Bu Darwin tepat mengenai pipinya. Lisa tidak merasa tersinggung.
"Haaa. Jangan bawa pergi putriku, kumohon." ujar bu Darwin semakin histeris.
Beliau seolah kehilangan kewarasannya. Ia menangis bertetiak memanggil nama putrinya. "Franda, jangan tinggalkan mamah, Nak. Huaaa."
Istrinya tidak bisa mengendalikan diri lagi. Darwin menarik paksa istrinya untuk berdiri. "Bantu saya untuk memapah istri saya, Handi,"
Handi bertindak cepat. Segenap kekuatan di kerahkannya untuk menahan tubuh wanita itu agar tidak tumbang lagi.
"Silahkan, Pak." ujar Darwin lirih.
__ADS_1
Sepanjang petugas penutup peti melaksanakan tugasnya. Tangisan Bu Darwin semakin pecah meggema seluruh ruangan.
"Ahh, putriku,, putriku,, jangan pergi dulu Naak!!" Wanita itu terisak sesenggukan di pelukan suaminya.
Tubuh itu kini sudah tertutup didalam kotak terbuat dari papan bercat putih. Petugas mulai mengunci setiap. sisi kenop penutup peti, memutar memakai obeng kecil.
Darwin masih memapah tubuh istrinya erat. Handi membawa foto Franda, sedangkan Lisa membawa bunga rangkai untuk di letakkan disamping nisan Franda nanti.
Mereka berjalan menuju pemakaman yang tidak jauh dari rumah itu.
🌹🌹🌹
Darwin memapah tubuh istrinya yang sudah kehilabgan banyak tenaga, melangkah kedepan menabur bunga keatas gundukan tanah.
"Selamat jalan putri papah. Franda sudah tidak merasakan sakit lagikan. Doaka kedua orang tuamu, Nak. Agar kami tetap tangguh hidup tampamu." ucap beliau lirih. Tangannya bergetar mengemgam bunga. Akhirnya bunga itu jatuh, basah oleh keringat tangan Darwin.
Giliran Bu Darwin yang menyisakan tenaga menabur bunga diatas makam putrinya. Suaranya sudah habis karena menangis, ia tak berucap apa-apa.
Semua orang satu persatu berjalan meninggalkan makam, karena acara pemakaman telah selesai beberapa menit yang lalu.
Kini tinggallah Handi seorang diri, masih setia berjongkok di hadapan mengelus nisan bertuliskan nama kekasihnya disana.
Sedangkan Om Darwin dan Dolter Lisa sudah berlalu terburu buru. Tadi Bu Darwin jatuh pingsan, itulah Dokter Lisa ikut cepat pulang memeriksa kondisi Bu Darwin.
Lama Handi termenung menekuk wajah sendu. Hatinya hancur berkeping keping bersama kepergian Franda. Memori saat kebersamasn mereka terus berulang-ulang didalam kepala Handi, semakin ia mengingat, semakin air mata itu ikut jatuh juga.
.
.
__ADS_1
Inilah akhir cerita Franda. Franda terbebas dari rasa sakit yang di deritanya. Tetapi banyak luka yang tertinggal disana.
👇👇👇