BUKAN KEKASIH GELAPKU

BUKAN KEKASIH GELAPKU
Ekstra Part: Kado Untuk Narra


__ADS_3

Alunan lagu ulang tahun dan tepukan tangan mengisi perayaan ulang tahun Narra yang ke 8 tahun, gadis kecil itu terlihat bahagia meniup lilin berbentuk angka delapan sesuai usianya. Perayaan ini dipestakan secara besar-besaran di hotel bintang lima yang tidak lain adalah hotel kepunyaan keluarga ayahnya.


Semua sahabat sekolahnya diundang, rekan bisnis, bahkan tak lupa diisi oleh bintang tamu artis penyanyi anak-anak yang sangat terkenal. Tak tanggung-tanggung keluarga besarnya memberi yang terbaik untuk Narra, gaunnya saja sampai dipesan dari desainer terbaik di selur negeri.


"Selamat ulang tahun, Narra." Theodon mengulurkan tangannya.


Narra tersenyum suka cita "Terima kasih. Tapi, kadonya mana?" tanya Narra polos.


"Tadi, lagu yang aku nyanyikan barusan." jawab Theodon juga sama polosnya.


Pria kecil yang bernama Theodon usianya 10 tahun, sudah sukses menjadi penyanyi anak-anak terpopuler. Wajahnya yang tampan dan suara yang masih cendrung menggemaskan menambah daya pikat anak ini, dan Narra juga sangat menggemarinya.


"Ah, aku lupa!" ucap Theodon menepuk jidatnya sendiri, "Aku punya kado spesial buat kamu, tunggu dibsini yah." Theodon berlari kecil meninggalkan Narra.


Dengan setia, Narra tersenyum manis menunggu kado dari artis favoritnya itu.


"Taddddaaa. Boneka panda untuk kamu!" ucap Theodon suaranya tenggelam dalam badan boneka yang dibawanya.


"Yeeyy!!" pekik Narra kegirangan. Dengan cepat tanggan mungilnya menerima boneka itu langsung memeluknya.


Ke dua anak itu masih terus mengobrol riang, sampai Handi datang dan mengajak Narra untuk berkenalan dengan om rekan bisnis keluarganya.


Dengan senyum terpaksa Narra berkenalan dengan orang yang menurutnya tidak penting, masih belum puas memgobrol dengan Theodon tadi.


Setelah itu, Handi mengantar Narra kepada bundanya yang duduk di sana. Handi melanjutkan lakmgi berkumpul dengan temannya.


"Bonekanya bagus ya sayang!" Marva mengajak Narra berbicara. Tangan lembutnya mengelus pucuk kepala putrinya.

__ADS_1


Narra hanya menangguk lemah, menelungkupkan wajah ke dalam boneka. "Narra bosan, Bunda."


"Sebentar lagi pestanya selesai kok sayang. Sabar, yah." bujuknya.


Narra tiba-tiba mengingat sesuatu, dan langsung menatap serius kepada bundanya. "Bunda, Om Lef ada ngirim kado buat Narra, nggak?"


Sebelum menjawab Marva meghela nafasnya kasar, menggeleng kepalanya pertanda tidak ada kiriman apa pun dari lelaki itu.


"His, menyebalkan." ucap Narra kesal. Sejak mereka pindah ke rumah kakeknya dua tahun lalu, kabar omnya itu juga hilang.


Jujur saja. Narra masih sangat menyayangi Lefrando sampai saat ini, tetapi itu hanya diceritakan kepada bundanya saja. Itu pun bundanya sudah mengatakan untuk ia mulai melupakan om itu, tetapi mana bisa! Narra juga sudah mulai paham apa yang terjadi dengan bunda dan omnya itu, ia hanya berharap suatu saat mereka diberi kesempatan untuk bertemu.


"hoekk!"


"Bunda!" Narra panik melihat bundanya yang ingin memuntahkan sesuatu.


🌹🌹🌹


Setelah selesai membersihkan diri, Marva merebahkan badannya yang lelah ke atas tempat tidur empuk miliknya. Bahkan ia tidak sempat mengeringkan rambutnya yang basah karena terlalu kelelahan, entah kenapa badannya terasa aneh akhir-akhir ini.


Berganti Handi yang sudah rapih berpakain setelah menunggu Marva, tetapi ia tercengang melihat istrinya ini justru sedang tidur-tiduran, ia menghampiri Marva yang tidak biasanya seperti ini.


"Ung, Mas," pekik Marva sambil menutup hidungnya.


Handi heran dengan tingkah laku Marva, ia mencium tubuhnya sendiri "Apa? Aku baru saja mandi, tidak bau juga."


"Jauh-jauh, Mas. Aku pusing mencium. aroma parfum Mas." Marva menyelumuti bagian wajahnya.

__ADS_1


"Ini parfum yang biasa mas pakai, tapi tidak pernah kamu mengatakan seperti ini."


"Ah.. Aku tidak. mau tahu ya, Mas. Cepat ganti parfummu itu, baunya benar-benar membuat aku pusing bahkan sampai mau muntah."


"Baiklah. Besok mas akan ganti parfumnya yah, sekalian kamu yang memilih parfumnya nanti." ucap Handi lembut.


Ya. Selama dua tahunan ini, hubungan mereka menjadi lebih baik. Handi tidak pernah membahas soal Franda lagi, ia sudah berhasil melupakan wanita yang sudah tiada itu. Marva juga sudah berjanji tudak mencoba berkomunikasi lagi dengan Lefrando, dan Marva berhasil menepati janjinta itu.


Sekali sebulan keluarga kecil itu akan berkencan bersama, layaknya yang sedang pacaran saja. Handi juga sudah berusaha menjadi ayah yang baik untuk Narra, perlahan tapi pasti Narra juga sudah dekat dengan ayahnya.


Keputusan mereka saling mempertahankan pernikahan, membuahkan hasil yang sangat baik. Mereka ber dua berhasil mengalahkan ke egoisan demi mempertahankan keluarga kecil mereka. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki sesuatu selagi masih diberi kesempatan, Handi dan Marva mengambil kesempatan itu.


Dokter pribadi yang dipanggil Tuan Berto sudah sampai kemudian memeriksa kondisi Marva, dokter itu tersenyum lembut setelah mengetahui hasil diagnosisnya.


Se isi rumah panik setelah mendengar Marva tiba-tiba sakit, tuan besar cepat tanggap memberi tindakan. Bahkan Narra sampai menangis melihat bundanya yang sakit, gadis itu mengomeli dirinya sendiri merasa bersalah telah membiarkan bundanya kelelahan di pesta ulang tahunnya.


"Selamat untuk kita semua. Nyonya Marva sedang hamil!"


Satu kalimat itu membuat seluruh keluarga bahagia. Handi menciumi seluruh wajah istrinya, Tuan Berto dan Nyonya Vera saling berpelukan akan mendapat cucu lagi, Bibi Tanti menangis terharu.


Narra meloncat-loncat kegirangan sambil betputar-putar., "Horeee!! Narra mau punya adik!!" lalu melompat berhambur ke pangkuan ayahnya.


Keluarga besar Hutama menyambut baik akan berita ini, mereka akan menjaga baik-baik apa yang sudah mereka nanti-nanti selama ini..


🌹🌹🌹 TAMAT 🌹🌹🌹


.............................................................................

__ADS_1


__ADS_2