BUKAN KEKASIH GELAPKU

BUKAN KEKASIH GELAPKU
Satu Kamar Lagi


__ADS_3

Dengan keterpaksaan Mami meminta di rawat rumah saja karena Beliau sudah sangat bosan terbaring di brankas rumah sakit. Tidak mungkin juga Mami dibawa pulang ke kota asal, jaraknya terlalu jauh. Lagipun, kondisi Mami belum memungkinkan dalam perjalanan yang lama. Jadilah Mami di bawa kerumah Handi dan Marva, menantunya. Marva tidak bisa menolak, sangat tidak sopan tentunya.


Satu kamar kosong sudah di bersihkan Bibi Tanti untuk di tempati Mami nanti. Ingin sekali Mami tidur satu kamar dengan Narra, tapi di tolak oleh Marva beralasan keadaan Mami tidak baik untuk anak-anak. Narra bisa saja menganggu Omahnya.


Untuk itu, Papilah yang satu kamar dengan istrinya.


"Pi. Bagaimana, apa anak itu sudah dalam perjalanan pulang?" tanyanya pada sang suami yang sedang rebahan di sebelahnya.


"Tidak tahu, Mi. Handi hanya membaca pesan ku, tapi dia tidak membalasnya." jawabnya mengarahkan badan pada istrinya


"Semoga Handi pulang, yah Pi." ujar Mami lirih. Ia melihat jam dinding tergantung diatas pintu kamar, menghitung waktu kedatangan Handi. "Mami berharap anak kita pulang hari ini, Pi."


"Kita tunggu saja."


Tok tok tok!!


"Masuk." sahut Papi mendengar suara ketukan dari balik pintu kamar.


"Selamat siang Tuan besar, Nyonya Besar. Ada hal apa yang akan di bicarakan dengan saya?" tanya Bibi Tanti setelah membungkuk hormat. Wanita itu tadi di minta untuk datang menemui mereka kekamar untuk membicarakan sesuatu, setelah menyelesaikan tugasnya.


"Tanti," sapa Mami tersenyum ramah, "Duduklah, ambil kursi itu," Mami menunjuk kursi meja nakas "disini, disamping ku". Tanti menurut. "Jangan terlalu formal begitu. Seperti orang asing saja."


"Tanti. Apa yang terjadi selama ini dengan rumah tangga Handi dan Marva?" tanya si Tuan Besar tanpa basa-basi. Beliau membantu Mami agar bisa duduk menyandar di sandaran tempat tidur.


Tanti menunduk ragu.


"Jangan takut, Tanti. Kami tidak akan berbuat macam macam pada keponakanmu itu. Percaya pada kami, ceritakanlah sejujur-jujurnya." Mami tersenyum meyakinkan


Tanti sudah mengabdi cukup lama pada keluarga Hutama. Semenjak suaminya meninggal tanpa meninggalkan seorang anak, Tanti memutuskan untuk hidup baru meninggalkan keluarganya juga adiknya Abdi, yang tidak lain adalah ayah dari Marva untuk mrlupakan kesidahannya. Mengabdi menjadi pekerja rumah tangga pada Ayah dari Tuan Besarnya, malaikat baik hati yang memberi Tanti pekerjaan dan kehidupan baru. Tanti tidak menikah lagi. Ia mencari keberadaan adiknya yang katanya sudah menikah. Takdir alhirnya mempertemukan mereka, tepat Handi sering membawa dua gadis yang saling bersahabat, berkunjung ke apertemen Handi.


Tanti mengetahui salah satu dari kedua gadis itu, adalah anak dari adiknya Abdi.


Ia bertahan bekerja demi menjaga Marva sebagai penebusan rasa bersalahnya pada Abdi, setelah Handi menikahi Marva.

__ADS_1


Tanti bisa melihat dari Marva. Keponakannya itu sudah tidak ingin bertahan lagi dalam rumah tangganya. Ia juga sudah sangat merasa sakit melihat Marva menangisi suaminya terus menerus. Ia ingin melihat Marva bahagia, lepas dari keluarga ini.


Jika ia memceritakan perbuatan Handi selama ini. jelas ini tidak. adil. Nyonya Besar ini ingin sekali mempertahankan Marva tetap jadi menantunya. Jika memang begitu, Marva dan Handi akan selalu seperti dulu lagi. Tanti tidak percaya, Handi bisa berubah hanya karena mendengar nasihat nasihat dari orang tuanya. Ia sudah sangat-sangat mengenal betul watak dan sifat Tuanya Handi.


Itulah alasannya, Tanti berpikir panjang untuk bercerita pada orang tua Handi.


"Apa yang akan Tuan dan Nyonya lakukan pada Handi, bila saya menceritakannya?" tanya Tanti.


"Kami akan berusaha membuat Handi mengerti. Memperbaiki keluarga kecilnya." jawab Tuan Besar.


"Tanti. Aku tidak ingin jauh dari cucuku Narra, kami baru saja berbaikan. Lagipun, aku sangat menyangi Marva yang bisa dengan sabar dan tegar hidup bersama putraku Handi. Intinya, aku tidak ingin mereka berpisah." jawab Mami tulus.


"Maaf, kali ini saya lancang. Bukankah anda mempertahankan Marva, takut merusak nama baik keluarga kalian, bila ada berita percerain dari keluarga kalian. Begitukan?" Tanti mengangkat wajah berani.


Dengan tenaga yang tersisa, Mami mendekatkan tubuhnya pada Tanti, mengemgam tangan Tanti erat. Mata itu berlinang, tidak ada kebohongan sama sekali. "Aku tahu, aku terlalu sombong. Tapi sungguh Tanti, aku benar benar tulus memohon agar Marva mempertahankan rumah tangganya. Bukan karena nama baik, atau apalah itu." Mami berucap tulus.


"Baiklah. Kita berharap, ini adalah jalan yang baik bagi mereka. Saya akan menceritakannya." Tanti luluh.


Semoga mereka dapat di percaya


🌹🌹🌹


Ragu, Handi melangkah masuk kerumahnya. Tepat jam 14:35 WIB ia sampai langsung pulang sesuai perintah dari papinya


Handi terpaksa meninggalkan orang tua Franda disana. Untungnya masih ada Dokter Lisa mendampingi mereka. Padahal masih banyak hal yang belum selesai di urus.


Rumah masih keadaan sepi. Bibi Tanti mengatakan, kedua orang tuanya menginap disini untuk perawatan. Maminya dan sedang tidur siang dikamar. Narra belum pulang dari sekolah, kemungkinan gadis kecil itu akan pulang nanti sore bersama Bundanya dari toko.


"Baguslah. Lanjutkan pekerjasn Bibi saja. Handi mau kekamar dulu istirahat. Handi yang bawa sendiri koperku."


"Baiklah, Tuan." Tanti membungkuk hormat.


Perasaannya sudah tidak enak sejak tadi. Ia merasa ragu untuk membuka kamarnya sendiri, seperti ada sesatu yang aneh didalam kamarnya.

__ADS_1


Karena memang sudah lelah. Handi memutuskan masuk membuka pintu dengan kunci yang ia simpan.


"Apa-apaan ini. Mengapa tiba tiba barang barang Marva ada disini?" gumam Handi kebingungan. Pasalnya, tiba-tiba saja ada peralatan rias Marva sudah berjejer rapi diatas meja rias yang dulunya kisong.


Handi semakin di buat lebih tercengang lagi, melihat baju baju Marva sudah berada didalam lemari yang waktu itu juga kosong. Sepatu Marva sudah bertengger di rak sepatu milik Handi. Bahkan peralatan mandi Marva juga.


"Tuan Handi, boleh saya masuk?", Handi terkesiap mendengar sayup sayup suara Bibi Tanti dari luar kamar.


"Masuk saja, Bi. Pintunya kan terbuka." sahutnya melangkah dari ruang ganti.


Bibi Tanti datang membawa makan siang untuk Handi, meletakkannya diatas nakas.


"Bi, kenapa barang barang Marva ada di kamarku?"


"Tuan Besar yang mengatakan itu, Tuan."


"Maksudnya?"


"Tuan dan Nyonya, kembali satu kamar lagi. Maaf Tuan Handi. Sebaiknya Tuan makan dan beristirahat siang. Nanti malam Tuan dan Nyonya besar akan berbicara dengan kalian."


Kepalanya terasa mau pecah saja mengetahui situasi ini. Apa yang sudah terjadi selama ia tidak ada disini? Apa orang tuanya sudah tahu cerita yang sebenarnya?


Satu kamar dengan Marva saja, Handi belum rela. Sampai berapa hari orang tuanya tinggal di rumahnya?


Apa yang akan mereka bahas nanti malam?


👇👇👇


Ada penyu makan rica-rica,


I love you pembaca


Ikan hiau cengar-cengir.

__ADS_1


I love you yang sudah mampir. ...


__ADS_2