BUKAN KEKASIH GELAPKU

BUKAN KEKASIH GELAPKU
Puncak Bukit


__ADS_3

Selangkah demi selangkah kaki Lefrando berhasil melewati kerikil kecil yang menjadi landasan jalan menuju tempat dirinya menghibur diri ketika pikirannya sedang kalut, mengganti jas dokternya menjadi jacket tebal berbahan kulit berwarna hitam untuk melindungi tubuhnya dari rasa dinginnya malam.


Jalanan sedikit menanjak hanya bermodalkan lampu remang berwarna kuning ditutup bulatan transparan berjejer rapi di sisi jalan. Hingga sampailah ia berdiri disebuah perbukitan puncak tempat ia melepaskan kesedihannya, dibatasi pagar besi cukup untuk menahan tubuh agar tidak terjatuh kebawah, pemandangan alam dan kabut malam menjadi kesenangan tersendiri bagi Lef untuk menemaninya disini, disertai suara nyanyian binatang malam.


Lefrando menyandarkan badannya pada pagar pembatas, menerawang kelangit malam yang awannya tidak mendung.


"Lef. Martuaku mengalami serangan jantung, dan aku dituntun agar menjaga mamiku dari pikiran yang membuat jantungnya bisa kapan saja kumat,"


"Mami martuaku sudah tahu cerita yang sebenarnya, dan beluau memintaku untuk mempertahankan rumah tanggaku."


Lefrando mwngacak tatanan rambutnya yang sudah kusut jadi tambah semakin kusut, ia masih mengingat curahan hati Marva saat di ruangannya waltu itu.


"Aku tidak bisa berjanji untuk mengiyakan permintaan mami martuaku. Kenapa Lef? saat aku sudah tidak ingin bersama Mas Handi lagi, ada satu kejadian yang menjadi penghalang untukku? Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Lef,"


"Aku tidak nyaman dengan situasi seperti ini. Bawa aku lari, Lef."


"Tidak, Marva. Kau harus menghadapi masalah, bukan menghindari masalah."


Lefrando menekan sisi kiri kanan kepalanya yang terasa sangat berdenyut, memejamkan mata mengurangi rasa sakit di kepalanya.


Mereka sudah sama-sama dewasa. Tidak harus mengungkapkan pun, ia tahu Marva sudah nyaman berada dekat dengannya. Namun, ia bukanlah pria sepengecut itu kan? Ia harus merebut cintanya secara baik-baik dan sehat, bukan menambah masalah.


"Hoh Lefrando. Terkadang cinta itu seperti angin, yang tidak tahu kapan datanngnya dan kemana ia berhembus."


ejekan Oapinya benar juga, apakah arah cintanya kepada orang yang salah?


"Tapi yang satu harus tetap kita ingat, cinta juga harus berlandaskan logika. Jika kau hanya menggunakan hati, maka hati itu juga yang harus kau jaga agar tidak merasakan sakit. Cinta itu memang indah, bila berada di posisi yang indah juga. Percayalah."


apa ia salah jatuh cinta pada Marva?


"Om. Omah dan Opah tinggal di rumahh Narra,"


"Kata Omah, Bunda sama Ayah sudah tidur satu kamar lagi. Narra sendirian tidurnnya,"


"Omah tadi bilang, mau bicara sama Bunda. Makanya Narra baca dongengnya sama Nenek Tanti malam ini, Om."

__ADS_1


Ya, ocehah Narra tadi saat mereka vidio call sudah membuktikan semuanya, keluarga Handi sudah menerima Marva.


Sekarang, ia berada di jalan buntu untuk memperjuangkan cintanya atau tidak, penantiannya hampir di ujung waktu.


Peluangnya hanya tingal sedikit lagi.


"MMMAAARRVVVAAAA!!!!"


suara teriakkanya menggema ke seluruh penjuru bukit, ia memanggil nama wanita yang ia cintai dalam ruang hampa. Ia terduduk diatas lantai yang berembun menekuk lututnya yang lunglai, air matanya mulai turun membasahi wajahnya yang kusam.


Di bukit ini terdapat sebuah bangunan tempat berlindung atau untuk sekedar duduk sambil melihat keindahan alam dari sini, Lefrando tentu yang menceruskan ide itu.


Ia juga pernah mengajak Marva ketempat ini, memberi ruang pada wanita itu untuk melampiaskan kesedihannya dengan berteriak seperyi yang ia lakukan tadi.


Dan, tempat ini juga menjadi saksi bisu, pertama kali dirinya memdekap Marva dalam pelukaanya. Dan Marva adalah wanita kedua yang ia bawa kesini setelah Lisa adik kembarnya.


Puncak bukit ini menyimpan banyak kenangan.


Ting,


Butuh beberapa menit berlalu setelah ia mengabaikan notofikasi itu, barulah Lef berniat membuka ponselnya membaca pesan yang masuk dari Lisa;


Anak itu, begitu peduli dengan mereka.


🌹🌹🌹


Sengaja Marva mengulurkan waktu lagi untuk masuk kedalam kamar itu demi menghindari tatap wajah dengan Handi. Ia berharap Handi sudah tidur saat ia masuk nanti.


Setelah berbicara dengan martuanya dan sampai akhirnya Beliau tertidir karena obat yang di konsumsinya, Marva keluar sudah mendapati Papi martuanya yang tersenyum di balik daun pintu. Tersenyum canggung, ia berhasil melewati pria itu.


Menemui Narra kekamar Bibi Tanti, kemudian membacakan dongeng pada anaknya. Dirinya memaksa agar Narra tidur di kamarnya sendiri saja dari pada tidur bersama Bibi Tanti. Ia akan mengulur waktu disana.


Sudah setengah jam Narra tertidur, barulah ia merasa cukup dan memutuskan melangkah kedalam kamar ia dan Handi.


'Apa? kenapa Mas Handi, belum kekamar sih," gerutunya tidak nelihat suaminya didalam kamar seperti apa yang ia harapkan tadi.

__ADS_1


'Huff. Semiga kau cepat tertidur, Marva. Ck, ahk."


Entah mengapa ini terjadi, Marva belum juga mengantuk. Padahal setahunya dengan kegiatan yang melelahkan hari ini, harusnya ia bisa cepat tidur. Ia sudah satu jam menunggu waktu dengan baca buku, justru matanya tidak bisa diajak kompromi.


Ia merutuki dirinya sendiri dalam hati.


Marva berdiri berjalan mengintip dari pintu memperhatikan keadaan sekitar.


Dari ujung tangga dilihatnya lampu ruangan sudah padam, biasanya itu pertanda semua penghuni rumah sudah masuk kamar. Tiba-tiba matanya beralih kearah ruang kerja suaminya yang tidak jauh dari kamar ini. Marva terlonjak kaget, pintu itu terbuka, Handi datang.


Dengan gesit ia menutup pintu lalu meloncat ketempat tidur menyelimuti badan, seolah ia sudah tertidur


"Marva, ayo tidurlah!" gumamnya dalam hati memaksa matanya terpejam.


"Krek!" itu Mas Handi sudah sampai pintu.


"Tak, tak, tak!" itu suara jejak kaki Mas Handi.


'Krek!" suara pintu ruang ganti.


"Marvaa.. Tidurlah... Pejamkan matamuuu!!!" marahnya pada diri sendiri.


Ia berusaha tidak bergerak sama selali, seperti orang yang benar-benar sudah tertidur, jantungnya berdetak kencang menanti apa yang terjadi selanjutnya.


"Ha, itu seperti suara tikar yang di gelar."


"Bantalnya juga diambil dari sini."


"Tekk!"


Loh, sejak kapan Mas Handi suka mematikan lampu waktu tidur begini? Apa ia tahu aku tidak. suka lampu hudup kalau tidur, tah?"


Marva memberanikan diri membuka matanya dan perlahan menggeliat mencoba mengintip, Handi tidur di lantai bersama ambal dan tikar yang memang tersedoa disini.


"Hah,!" Marva menenangkan jantungnya yang berdetak. Dibawah, Handi tidur membekakangi tempat tidur.

__ADS_1


"Marva tidurlah. Setidaknya malam ini kau aman."


👇👇👇


__ADS_2