
Merindukan orang yang telah tiada memanglah sangat susah untuk diungkap. Mendoakannya saja belum tentu membuat rasa rindu bisa hilang. Ah, atau tepatnya rasa itu hanya hilang sementara saja. Mengharapkan orang itu berada di dekat kita, itu tidak akan pernah terjadi, kecuali kita sudah siap untuk ikut mereka.
Marva mengusap foto gambar dirinya beserta kedua orang tuanya. Senyum Marva remeja terukir cantik menghiasi aura kebahagiaan didalam foto itu. Sesekali ia mendekap foto dalam tubuhnya, menangisi sebuah kesedihan, bercerita kepada foto itu seolah olah bercerita kepada orang tuanya.
Menengadah keatap, genangan air mata itu agar tidak tumpah lagi. Tetapi semua sia-sia. Kembali ia mengingat kenangan pahit itu, semakin kuat hasrat ia ingin menangis.
Ia hanya ingin berada didekat orang tuanya bercerita banyak tentang kisah yang ia jalani, sungguh saat ini ia merasa sendirian
Jika masalah rumah tangga di selesaikan suami istri, masih bisa ditahan Marva sesakit apa pun itu. Bisa dibilang Marva siap menghadapi Handi.
Namun kenyataannya sungguh memalukan sekaligus menguras emosi.
Keesokah harinya setelah Lefrando datang kerumah mereka, siang harinya tiba tiba saja kedua orang tua Handi datang menemui Marva. Kemudian dengan tidak tahu malu, justru menjumpai Marva tepat didalam ruang kerjanya. Bisa saja para karyawan bisa tahu masalah rumah tangga ia dan Handi.
Entah mereka tahu dari mana. Yang pasti, tanpa basa basi Mami menyerangnya dengan makian ini itu, sementara Papi martua tidak berniat membela sama sekali.
"Jika saja berita tentang kalian berdua waktu itu tidak menyebar, mana sudi saya merestui anakku menikahimu,"
"Kau bisa menghianati Franda sahabatmu, itu berarti kau bisa sajakan menghianati suamimu. Berselingkuh di belakang anakku. Hah, kau ternyata wanita murahan juga, ya." Marva menyentuh pipi kanan tepat bekas tamparan dari mami.
"Dan, kalau sampai perbuatanmu kau ulangi lagi dan merusak nama baik keluarga kami. Jangan harap Narra bisa hidup bersana mu. Ingat itu. Dahulukan nama baik keluarga kami dari pada rasa cintamu pada pria selingkuhanmu itu." ancaman itu membuat Marva ketakutan, Narra adalah bagian dari hidupnya.
Sudah berbusa busa Marva menjelaskan tentang itu semua, tetapi Mami tidak mau mendengarnya. Masalah Papi martua, ia tidak tahu bagaimana pendirian bahkan sifat beliau.
"Ibuu Ayahhhh!!!" Marva berteriak menggema seluruh sudut ruang kerjanya. Malam ini dia berbohong pada putrinya agar bisa berpisah untuk tidur satu ranjang. Marva ingin sendirian saat ini.
Tangannya bergetar memeluk foto itu, ia terisak seorang diri.
__ADS_1
"Apa bu,,hiks hikss,, siapa yang membelaku dimasalah ini hahh,, aku butuh kalian ibu ayah,, aku,,aku ingin pulang kepangkuan kalian,,,ingin nasihat dari kalian bu ayah!" Marva berteriak keras mengeluarkan segala hal yang ia pendam. Malam ini ia bebas bersuara tanpa ada gangguan dari orang lain, memilih berdiam diri diruangan ini adalah pilihan terbaik baginya.
"Ayahh" jari jemari Marva menyusuri permukaan wajah beliau walau dihalangi kaca, "Aku ingin suami seperti ayah, bisa mencintai keluarganya. Tapi ta-tapi,, hiks hikss,, mengapa Tuhan memilih Handi untukku,,aku ingin berpisah tapi aku tidak mau Narra diambil oleh mereka. Keluarga Handi mempunyai banyak uang untuk melalukan banyak cara agar pengadilan memutuskan hak asuh Narra. Ayah apa yang harus kulakukan?" Marva tetduduk lemah bersandar pada sofa tunggal yang tersedia diruangan itu.
Sedewasapun seorang anak pastilah mereka ingin selalu berada disamping keluarga. Pulang kerumah, saat ia sudah tidak tahan menghadapi masalah seorang diri. Marva ingin bertukar pikiran dengan kedua orang tuanya menemukan cara penyelesaian masalah. Ujung ujungnya mengeluh kepada orang tua.
Sebab suaminya hanya sebatas titipan.
Perasaannya sedikit lega setelah menangis berjam-jam. Marva bangkut berdiri berjalan kearah jendela, menatap hujan mulai turun membasahi tanah.
Marva mendekatkan wajah merasakan hawa dingin dari luar karena hujan. Menatap kosong keluar, kalimat-kalimat mami terngiang ngiang di telinganya.
Banyak, sungguh banyak yang menjadi kelabu dalam hidupnya. Ia juga ingin meraskan bagaimana rasanya di sayang martua sendiri. Tapi melihat landasan pernikahan mereka saja, sudah jelas Marva bukan menantu idaman.
Berita itu menyebar cepat keseluruh telinga, sehingga sanksi sosial harus memaksa mereka menikah dan, menghapus pencemaran nama keluarga Hutama.
Dan lagi, Handi langsung memutuskan untuk pisah rumah dengan orang tuanya. Mereka hanya menginap semalam saja, tepat selesai resepsi pernikahan. Handi juga tidak memberi izin Marva untuk menginap atau mengunjungi martuanya. Itulah mengapa selalu martuanya yang datang mengunjungi mereka untuk menghabiskan waktu bersama Narra.
"Iya iya!! Pasti Mami berpikir kalau aku yang jahat pada mereka." Marva bermonolog sendiri.
Ahh yaa, Marva berpikir ia masih bisa menghadapi ini sendirian, sehingga ia tidak pernah bercerita pada martua tentang kelakuan anaknya.
Ternyata tidak lagi saat ini. Ia sudah tidak sanggup menahannya lagi. Ketika ia ingin bercerita, tetapi Handi sudah terlebih dulu mencuci pikiran orang tuanya.
Baru ia percaya Handi adalah segelintir laki laki pengecut yang ia kenal.
Duuarrrr.
__ADS_1
"Narra!" ucap Marva melompat kebelakang, suara petir itu membangunkan ia dari lamunannya.
🌹🌹🌹
Malam ini Narra tidur sendirian tanpa Bunda. Bundanya tadi bilang, ada yang harus di kerjakan malam ini seperti hitung hitungan uang hasil penjualan toko. Makanya Bunda harus menginap malam ini dulu di toko, sama kaka kaka yang kerja dengan Bundanya.
Narra percaya itu.
Ia tidur meringkuk memeluk boneka pisang kesayangannya. Mencoba memejamkan mata tanpa belaian dari bundanya
"Narra. Tidak boleh seperti ini. Kalau udah besarkan Narra juga akan tidak tidur sama bunda lagi. Ayo Narra tidur lagi." ia berucap menyemangati diri sendiri.
Duarrrr!
"Bunda!" Narra berteriak memanggil Bunda. Ia terbangun mendengar suara petir yang mengelegar "Aaa,, huaaa,, Bundaa Bundaaa,, huaaa", layaknya anak anak Narra histeris ketakutan.
Suara hujan deras dari luar sakin membuat Narra merasakan takut sejadi jadinya.
"Astaga cucu nenek," Nenek Tanti datang bagai pahlawan langsung membawa Narra kepangkuan. Narra terus menangis tersedu sedu, badan gadis kecil itu bergetar hebat, keringat dingin menjalar keseluruh permukaan kulit Narra. "Sssst tenang sayang. Disini ada nenek ya," nenek Tanti membujuk Narra menepuk nepuk punggung gadis itu.
"Bun,, hiks hiks hikss,, Bundaa,," entah mungkin ada batin antara ibu dan anak, Narra seolah ikut merasakan apa yang di tangisi bundanya.
Emosinya terus meluap luap. Suara tangisan itu begitu pilu, membuat nenek Tanti ikut menangis.
Hampir dua jam lamanya Narra menangis meracau kata bunda di setiap isakannya. Suara itu tenggelam dalam pelukan Nenek Tanti dan suara hujan diluar.
Dengan sendirinya Narra tertidur di pangkuan Nenek Tanti.
__ADS_1
Hati hati beliau menyelimuti tubuh Narra, kemudian ikut tertidur di samping cucunya, memeluk Narra penuh rasa sayang.
👇👇👇