
Posisi mereka berjalan saat ini sudah seperti keluarga kecil anak ibu dan ayah. Tangan kanan Narra di gandengan Marva, sementara tangan kiri di gandeng Lefrando. Anak itu menurut saja tidak mau jauh dari bunda takut hilang di antara keramain pengunjung.
Kebun binatang terletak di pertengahan kota. Sangat strategis di hiasi pepohonan untuk tempat para pengunjung sekedar duduk berteduh dari terik matahari. Kantin cukup luas menyediakan makanan yang tidak banyak menggundang bahan plastik yang dapat mencemari keasrian. Hewan melata hewan buas dan sebagainya di masukkan ke dalam kandang berjejer rapih sesuai jenis ras dan kelompok hewan. Berpagar besi cukup tinggi membentengi pengunjung dari serangan hewan yang sewaktu waktu bisa saja terjadi apa bila meresa terusik.
Apa bila di butuhkan, pengelola kebun binatang juga menyediakan para pegawai bertugas menerangkan setiap hewan yang di tanyakan pengunjung. Satu lagi, photografer akan seharian berada menunggu pengunjung memakai jasa mereka.
Tadi Lefrando sudah mengabadikan foto bersama Marva dan Narra, berlatar belakang patung mulut singa sedang menganga sebagai iconik ciri khas kebun binatang ini. Foto tercetak langsung. Dari sudut manapun jelas terlihat raut kebahagian dari wajah wajah orang di dalam foto tersebut.
Satu potret yang membuat Lefrando bahagia, ketika dengan tiba tiba Narra mencium pipi Lefrando kemudian,,cekrekk,, jari Lef menyentuh lingkaran merah di ponsel layar camera depan.
Tidak ingin Narra merasa kesulitan berjalan, karena tubuh mungil itu tenggelam diantara tubuh orang orang dewasa. Insting kebapakannya memutuskan untuk menggendong Narra, awalnya gadis kecil itu menolak. tetapi setelah mendapat persetujuan dari bunda, tangan Narra mengalung di leher Lefrando.
Mata gadis itu terus terpaku melihat kandang kandang, kemudian bertanya tanya tentang apa saja hewan hewan masih setia disana. Suara melembut Lefrando, menjawab satu persatu. Di balas anggukan dari gadis itu.
Mengeja huruf demi huruf tertera di papan tanda pengenal keterangan hewan, Narra berhasil membeo ucapan Lefrando.
"Nama paman singa itu susah sekali, Om." Narra merutuki sebaris kalimat yang sangat susah di lidah.
"Itu bahasa latin biologi, sayang." Lef mengelus rambut kuncir Narra dengan sayang. Gadis kecil itu semakin mengeratkan tubuh kedada Lef, "Nanti Narra juga mempelajari kalau sudah SMP."
Mereka terus berjalan menyusuri kandang demi kandang sambil Narra berceloteh kesana kemari. Sedangkan Marva seperti seorang kacung hanya mengekor dari belakang. Tapi tak apa, asal melihat putrinya bahagia.
Narra memiliki stok tenaga sangat banyak, sedari tadi gadis itu tidak henti hentinya bertanya tanya. Sampai-sampai membuat pengunjung lain mencubit gemas pipi Narra. Bukan kesal. Justru Narra merasa senang ada orang lain yang baik kepadanya.
"Nnggaumm nngaummm!!! " suara harimau terdengar menyeramkan di telinga orang yang masih seumuran Narra.
Gadis itu memilih menutup mata dan telinga tidak ingin melihat si harimau. Menengelamkan wajah kedalam pelukan Lefrando.
"Om. Narra tidak suka suara harimau itu. Ayo kita tinggalkan kandang ini." ucap. Narra sedikit bergetar.
Sambil berjalan, Lefrando mengusap punggung Narra berusaha menenangkan.
Wajah Narra benar benar pias di pelukan Lefrando, tangan kiri Narra menutup telinga bagian kiri rapat rapat.
"Ayo kita duduk dulu disitu Lef," Marva menunjuk satu tempat duduk kosong disamping kolam Soang (sejenis angsa). Lefrando menurut membawa Narra.
__ADS_1
"Sayang buka matanya. Lihat kita berada dimana sekarang?" Marva membujuk Narra dari pangkuan Lef. Untuk kali ini Narra menolak sentuhan Bundanya, malah semakin beringsut mendekati Lef. Narra masih diam, suara itu menggema di telinganya.
"Narra, ayo lihat ke depan. Hiiii ada hewan apa itu berenang berenang?" Lefrando berbisik di telinga Narra mencoba membujuk anak itu.
Beberapa detik berlalu, Narra mengangkat kepala menengadah menatap Lefrando "Om. Kata temennya Narra di sekolah, Harimau itu memakan manusia. kita kan manusia juga, nanti harimau itu memakan kita, Om." Narra mengulangi cerita apa yang di katakan temannya.
"Kalau manusianya nakal, ya pasti di makan sama harimau itu."
"Lef." itu peringatan dari Marva.
"Tapi kata Bunda, Narra tidak nakal,"
"Itu sebabnya, mana mungkin Harimau itu memakan Narra."
"Iya deh. Narra percaya."
Ini kali pertama Narra gampang percaya kepada orang yang baru di temuinya.
Suasana kembali seperti semula lagi. Kali ini Lefrando mengajak Narra mengelilingi kolam buatan fasilitas kebun binatang untuk memberi makan ikan ikan berenang didalam.
Gadis kecil itu bertepuk tangan kecil menikmati ikan ikan didalam air.
"Narra, ke sebelah sana,yuk?" Lefrando dengan cekatan menuntun Narra ke arah utara kolam. Selagi Lefrando yang mengendalikan dirinya, Narra mengangguk patuh.
Sebelum pengunjung merendam kaki kedalam kolam, terlebih dahulu harus mencuci kaki sampai bersih di keran yang sudah tersedia dibibir kolam.
Lefrando membantu membersihkan kaki Narra, agar kotoran kotoran yang menempel di kaki tidak terkontaminasi yang bisa menyakiti ikan didalam sana.
"Bunda yang jagain sepatu Narra. Ya." dengan tidak sopan Narra mengatur Bunda.
Marva mengelengkan kepala melihat tingkah putrinya seharian bersama Lefrando.
Belum genap sehari interaksi mereka sudah seperti anak dan,,.Ah. Tidak. Tidak,,Lagi-lagi Marva berpikir melenceng dari kenyataannya.
Dengan hati hati Lefrando mendudukan Narra keatas bibir kolam, mencelupkan kaki Narra kedalam air.
__ADS_1
"Ahahahaha geli, ahaha geli Om!" Narra terkekeh geli ketika ikan ikan mengeremuni dan menjilat-jilat kaki Narra.
Hari sudah semakin sore, matahari mulai masuk memunculkan warna jingga diatas langit. Para pengunjung mulai berbalik arah keluar pintu gerbang hendak pulang. Tak terkecuali Lefrando, Narra dan Marva.
Sesampainya di mobil, Lefrando membaringkan Narra yang sudah terlelap di kabin penumpang. Menyelimuti dengan jacketnya kemudian menutup pintu. Gadis itu sepertinya sudah kelelahan setelah menghabiskan waktu berpetualang didalam kebun binatang.
"Marva, coba tutup pintunya sekali lagi. Sepertinya kamu kurang bagus nutupnya," Lefrando merasakan keanehan saat hendak menyetir.
"Oh iya." tangan Marva memutar gagang kearah kiri pembuka pintu mobil. Saat hendak menutup kembali, karena kurang hati hati hampir saja jari telunjuk Marva ikut terhepit diantara pintu.
"Auhh!" pekik Marva panik.
Sontak saja itu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi Lefrando. Dengan cepat ia meraih tangan Marva kemudian memeriksa,
"Kau tidak apa apa ternyata." ucap Lefrando sebagai seorang dokter. Jari Marva tidak ada yang lecet sama sekali.
"A-aku hanya terkejut saja tadi, maaf mungkin aku karena melamun makanya jadi kurang hati hati, deh."
Gemgaman itu tidak terlepas, Lefrando menikmati sentuhan tangan halus Marva.
Entah keberanian dari mana, Lefrando dengan lancang mencium tangan Marva yang berstatus sebagai istri orang. "Masih merasa terkejut?"
"Ti-tidak lagi." Marva menepis tangan Lefrando kasar. Sayangnya wajah itu terlihat memerah salah tingkah, berbeda dengan reaksi dari tubuh Marva.
"Mau kuantar pulang kerumah atau ke tokomu lagi?"
"Ehh." menoleh kebelakang dimana Narra masih tertidur "Kerumah, tapi jangan sampai ke gerbang rumah ya. Aku takut nanti kita di katatakan yang aneh aneh lagi."
"Baiklah."
Wajarkan, memang Marva masih sah menyandang sebagai istri Handi. Baiklah tidak sampai gerbang rumah.
Suatu hari nanti Lefrando akan memperjuangkan cinta secara jantan, bukan secara diam diam. Bahkan akan mengantar Marva sampai masuk kedalam rumah.
Lefrando sangat berharap.
__ADS_1
👇👇👇