BUKAN KEKASIH GELAPKU

BUKAN KEKASIH GELAPKU
Narra


__ADS_3

"Bundaaa!" kaki pendek Narra setengah berlari menuju sang Bunda yang tengah duduk manis didepan meja kerja, semangatnya masih tersisa walau sehabis pulang sekolah.


"Hayy, sayangnya Bunda. Siapa yang ngantar Narra kesini?" Marva membawa Narra kedalam pangkuan lalu mencium pipi gembul Narra.


Sudah hampir empat tahun ini Marva berhasil berdiri sendiri membangun usaha toko roti sekaligus grosir penyedia alat dan bahan membuat kueh kueh.


"Nenek Tanti tadi jemput Narra kesekolah. Nenek langsung pulang." Narra memanyunkan bibir tanda anak itu sedang merasa kesal.


"Haa, kenapa memang kalau nenek Tanti yang jemput" Marva menoel pipi Nara gemas "Bukannya Narra suka di jemput sama Nenek. Kan biasanya Nenek selalu nurutin apa yang Narra minta. Hayoo," goda Marva yang berhasil membuat Narra memalingkan wajah karena merasa malu, rahasianya ketahuan.


"Bunda," Narra merengek di pelukan Marva, mata anak itu mulai berkaca kaca.


"Eh kok murung lagi, ada apa sayang?"


"Kapan ayah punya waktu jemput Narra pulang sekolah," adu Narra.


Jelas Marva tersentak, dengan cepat ia menyambunyikannya. Anak ini terlalu pintar di usianya "Umm, coba tanya sendiri sama ayah, deh. Rayu ayah supaya mau jemput Narra atau antar Narra ke sekolah." sebenarnya ia ragu cara itu. Tapi apa salahnya, mencoba Narra yang meminta langsung. Selama ini Marva memohon mohon setidaknya Handi mau meluangkan sedikit waktu untuk anak mereka. Namun permohonan itu di jawab iya iya dan iya.


"Caranya?" mata Narra berbibar binar penuh keingin tahuan.


"Buatkan ayah sesutu, lalu berikan pada ayah saat ayah berada di ruang kerja. Setelah itu bicaralah kepada ayah. Mau?"


"Mau Bunda." Narra mengangguk antusias "Tapi membuat apa ya," mencoba berpikir sejenak, "Susu coklat seperti yang bunda ajarkan waktu itu, iya iya itu enak. Pasti ayah suka." Narra melonjak turun dari pangkuan bunda, tiba tiba saja ia mengingat susu coklat buatan Bundanya.


"Nah itu Narra tahu. Sekarang Bunda ingin melihat tugas sekolah Narra. Boleh kan?" Marva mengalihkan topik.


Seperti biasa gadis kecil itu duduk menempel di atas keramik membuka tas sekolah lebar lebar mengeluarkan buku tulis beserta alat tulis dari dalam, jari jari mungil itu membuka lembar demi lembar sampai kehalaman terakhir tulisan. Ada sebuah angka cukup bernilai tinggi tertera di kertas bertinta biru di campur tinta abu abu dari pensil. "Narra dapat nilai banyak dari ibu guru." Narra menunjukkan buku kedepan Marva dengan rasa bangga.


Tidak terasa Narra sudah berusia 6 tahun dan tumbuh menjadi gadis perempuan yang manis menggemaskan, sangat cekatan dan aktif, nilai poin kecerdasan menerun dari ayahnya Handi . Tak sampai di situ saja, bola mata itu persis seperti milik Handi, bedanya cara menatap Narra lebih bersinar dari Handi.


Jika di perhatikan lagi, ekspresi senang Narra dan Handi juga mirip sekali.


Marva ingat waktu itu Handi sangat sangat bangga ketika perusahaan keluarga Hutama menigkat pesat karena usaha dari diri Handi. Lihat ini tadi, cara senyum dan cara tatap mata Narra menunjukan buku tulis itu juga mirip seperti ayahnya.


Hampir saja Marva menangis didepan Narra lagi, dengan cepat ia menutupinya. "Pintar sayangnya Bunda, nanti nilai itu tunjukin juga ke ayah ya. Pasti ayah merasa bangga."


Ya Tuhan, Marva memberi harapan pada anak itu lag. Belum tentu Handi merespon dengan baik. Selama ini Ia sudah berusaha bercerita banyak tentang perkembangan Narra, tetapi jawaban Handi tidak memuaskan hatinya.


Selama ini Marva hanya menjadi pengantara cerita Narra kepada Handi. Lalu jawab Handi akan selalu berubah dari mulut Marva, "Iya sayang, ayah memberimu hadiah karena nilaimu bagus." padahal hadiah itu dari tangan Marva sendiri, "Ayah, lagi bekerja keluar kota cari uang untuk Narra bila sudah besar nanti." padahal Handi entah pergi kemana Marva tidak tahu. Dan banyak lagi kebohongan tercipta darinya agar Narra tidak membenci ayah yang selalu bersikap cuek kepada mereka berdua.

__ADS_1


Mulai hari ini, Marva akan membuat Narra langsung yang akan berhadapan dengan Handi.


"Ok Bunda. Narra akan lakukan itu nanti malam" Narra merapikan kembali apa yang sudah berserakan di lantai lalu menutup tas dengan sempurna.


"Halo." Marva mengangkat ponsel yang sedang bergetar memecah kehingan diantara ibu dan anak itu. "Astaga, baiklah aku dan Narra akan menemuimu disana. Tunggu kami ya."


"Kita mau kemana bunda?"


"Bunda mau ngenalin Narra pada teman Bunda, ikut ya?"


"Ok, Bunda."


Setelah mengganti pakaian Narra, mereka berdua sudah bersiap berangkat kesuatu tempat yang di katakan si penelopon tadi, mobil melaju membelah jalan raya sambil mendengar ocehan Narra bercerita keseharian di sekolah. Tak terasa mereka sudah sampai.


🌹🌹🌹


"Lefrando. Apa kabar kamu?" Marva menyambut pria itu dengan senyuman terbaik.


"Baik, duduklah dulu" Lefrando tidak kala bahagia lagi melihat perempuan yang masih tersimpan di hatinya. Dua tahun ini dirinya sibuk memperdalam ilmu kedokten di luar negeri membuat pertemuan mereka menjadi jarang. Tetapi komuniksasi mereka tetap lancar. Berkat nilai akhir memuaskan, Lefrando pulang kenegara asal.


Marva mendudukan Narra tepat di hadapan Lefrando, sedangkan ia sendiri memilih tempat diantara mereka berdua. Meja restoran yang menyediakan hanya tiga kursi untuk pengunjung.


"Narra, Om." Narra mengulurkan tangan, sesuai apa yang di ajarkan bunda saat berkenalan dengan seseorang.


"Om. Kenapa tidak menyalam tangan Narra, kita kan mau kenalan Om. Kata Bunda orang baru kenalan itu harus bersalaman." Narra merutuki Lefrando karena Om yang di depannya ini tidak membalas uluran tangannya.


Lefrando terbahak merasa gemas dengan tingkah Narra, bukannya menyalam Justru ia mengacak rambut Narra. "Kau mengemaskan Narra." ucap Lefrando sambil mengigit gigi bawahnya.


"Jangan merusak rambutku, Om" Narra memprotes menepis tangan Lefrando dengan tenaganya "Bunda susah payah mengikat rambutku." Narra mengerucutkan bibir.


"Baiklah maafkan Om. Nama Om adalah Lefrando."


"lerfando," ucap Narra merasa kaku menyebut nama itu.


"Salah Narra. Ikuti Om ya. lef,"


"lef." Narra membeo ucapan.


"Fran,"

__ADS_1


"Fran," Narra masih mengikuti.


"Do,"


"Do." Narra mengangguk mengerti


"Lefrando".


"Nahh itu benar,, tapi panggil Om, Om Lef saja. Ok." Lefrando mengacungkan jari kelingking tanda persahabatan.


"Ok. Om Lef." jari kelingking Narra menyatu dengan jari Lefrando, mereka sudah resmi berteman menurut Narra.


Interaksi kedua orang itu tak luput dari perhatian Marva, ada rasa hangat menjalar ke dalam hatinya. Hampir saja Marva berpaling. Tidak tidak. Marva menggelengkan kepala menepis pikiran buruk tidak baik bagi rumah tangganya dengan Handi.


Siapa pun perempuannya, pasti merasa luluh saat di hadapkan dengan pria lain yang jauh lebih baik dari pemiliknya.


Lefrando sedikit demi sedikit mencuri hati Marva.


"Bunda." Narra menguncang tangan bundanya diatas meja.


"Ya sayang," Marva tersentak karena melamun.


"Lihat mereka semua sudah makan, kita tidak makan Bunda?" Narra menoleh kepada orang orang yang sudah menyantap pesanan makanan mereka sendiri.


"Astaga sampai lupa. Lihat menu makanan dulu. Kalian berdua mau pesan apa? Aku yang traktir."


"Aku ikut pilihan bunda Om. Kata Bunda Narra tidak boleh makan sembarangan, Om." Narra menoleh memohon pada Marva.


"Ummm, kau pilihkan saja menu yang sehat untuk anak anak Lef. Sekalian juga menu yang sehat untukku. Kau kan dokter pasti tau makanan yang sehat seperti apa." Marva menelisik menatap Lefrando.


"Hiss baiklah. Tapi nanti setelah kita makan siang, kita jalan jalan ya. Aku belum rela berpisah dengan Narra,"


"Mau mau mau." Narra bergoyang di kursi kegirangan "Ada Bunda, ada, Om Lef. Asyikk,, Narra bosan terus menerus hanya berjalan jalan bersama Bunda dan Nenek Tanti saja. Ayah tidak pernah ikut."


Sebelum melebar kemana mana Marva mengalihkan suasana. Mengambil tissu yang tersedia, berpura pura mengusap wajah sok berkeringat "Cepat pesan saja Lef, aku sudah kelaparan, haus dan kegerahan."


"Siapp Tuan putri."


👇👇👇

__ADS_1


Alur nya kecepatan ya??


__ADS_2