Bukan Pelakor! Mas, Cintailah Aku!

Bukan Pelakor! Mas, Cintailah Aku!
Istriku polos


__ADS_3

Aku tidak tahu kenapa dengan perasaan ku ini, saat aku mendengar Kak Irfan sebelumnya dia sudah pernah berciuman dengan wanita lain, aku sangat kecewa dan ada rasa sesak dalam hati ini.


Mungkinkah Aku marah atau tidak terima ia pernah melakukan itu dengan perempuan lain selain aku? Bisa jadi mungil iya.


Aku kecewa padanya, padahal dia sudah mencuri ciuman di bibir ku. Apalagi ini adalah first kiss pertamaku, aku berikan padanya. Eh dia justru mengatakan kalau dirinya bukan pertama kali melakukan itu.


Pagi pun datang, tapi aku rasanya enggan keluar dari kamar ini aku malas melihatnya. Aku masih kecewa kepada kak Irfan.


Apa salah aku jadi seperti ini, tapi mau bagaimana lagi ini adalah perasaan yang tak bisa di bohongin.


**


Jasmine terus memikirkan kejadian kemarin, dan enggan keluar kamar.


Bibi Ida merasa cemas karena Jasmine belum juga keluar kamar, Bibi khawatir Jasmine sakit maka Bibi mengetuk pintu kamar Jasmine.


Tok


Tok


''Non, sudah bangun belum Non ? Ini udah siang.'' panggil Bibi dari luar.


Jasmine mendengar nya tapi dia tidak sekalipun bergerak dan masih diam di posisi berbaring.


''Non, Non baik-baik saja kan? Kenapa belum keluar kamar juga?'' sekali lagi Bi Ida memanggilnya nada suara bi Ida terdengar mencemaskan nya.


Jasmine jadi merasa tidak enak pada Bibi Ida yang tak tahu apa-apa juga tidak punya salah itu, mana Bibi Ida mencemaskan nya.


Akhirnya Jasmine mengalah ia beranjak kemudian membuka pintu.


''Iya Bi.'' ujarnya sembari tersenyum


''Non, baik-baik saja kan? Bibi takut Non sakiit karena belum juga keluar.'' ucap Bibi sangat pengertian.


''Aku baik-baik saja Bi, hanya tadi sedang di kamar mandi aku gak denger Bibi panggil aku.'' Jasmine sedikit berbohong dan tak mengatakan kalau ia sengaja sebab ingin menyendiri atau lebih tepatnya ingin menghindari Irfan.


''Ooh gitu Non, syukurlah kalau Non baik mah Bibi jadi tenang.'' ucap Bibi


''Makasih Bi udah baik sama Aku.'' ujarnya tulus


''Itu sudah pasti Non, kan Non Jasmine ini majikannya Bibi juga.'' ucap Bibi


''Ah Bibi bisa aja, aku hanya orang biasa kok bi, majikan Bibi mah hanya Kak Irfan.'' ucap Jasmin tidak mau besar kepala karena di sebut majikan oleh Bibi Ida.

__ADS_1


''Bagi Bibi mah Non juga majikannya Bibi, karena bagaimanapun Non adalah istri mas Irfan, jelas bibi harus hormati Non Jasmine juga.'' kukuh Bibi


''Bi, tidak usah seperti itu ah, aku malah jadi gak enak bi.'' Jasmine agak risih.


''Ya tidak apa-apa Non, oh ya Bibi sudah siapkan sarapan ayo Non makan dulu.'' ujar bibi mengatakan niat awal dia memanggil Jasmine dan karena bibi benar-benar cemas.


''Hm Bi, ayo.'' Jasmine menutup pintu kamar lalu berjalan bersama Bibi menuju tempat makan.


Rupanya Irfan masih ada di apartemen itu, Irfan belum pergi ke kantor.


''Mas mau sarapan sekarang ?'' Bibi menawarkan Irfan yang berada di dapur juga.


''Nanti saja Bi, Aku ingin minum teh saja.'' pinta Irfan


''Oh baik mas, biar Bibi buatkan.'' ucap Bi Ida sudah akan melangkah tapi di cegah Irfan.


''Tunggu dulu Bi,'' ujarnya Irfan


''Iya Mas ? Mas butuh apa lagi ?'' tanya bibi


''Aku butuh teh manis tapi yang di buatkan oleh istriku Bi,'' ucap Irfan mengejutkan.


Jasmine langsung menatap pada Pria itu, Apa maksudnya aku? batinnya bicara.


''Benar Bi, aku ingin teh buatan istriku ini.'' seru Irfan sembari mendekati Jasmine dan tersenyum padanya.


''Tapi aku gak bisa bikin teh manis.'' ucap Jasmiine berbohong.


''Benarkah gak bisa membuatnya ?'' Irfan seolah ragu..


''Ya.'' jawabnya singkat


''Tapi Aku gak percaya.'' Irfan berbisik pada Jasmine


''Yaudah kalau gak percaya.'' Jasmine membalasnya cuek.


''Oh ayolah, ini suami mu loh yang minta. Masa kamu gak mau menuruti keinginan suami.'' ujar Irfan entah ini suatu paksaan.


Apaan sih nih orang, pagi-pagi udah buat drama kaya gini, ngeselin banget nih orang. Bikin mood ku semakin gak baik saja. Lagian dia kesambet apaan ya, tumben minta aku yang buat biasanya juga Bibi kan yang melakukan itu. Jasmin menggerutu.


''Ayo dong istriku.'' pinta Irfan kembali


''Ok, tapi jangan kecewa ya kalau rasanya gak enak karena sudah ku katakan kalau aku gak bisa membuatnya.'' ucap Jasmiine berharap Irfan gak jadi memintanya.

__ADS_1


''Hm Ok, tapi aku yakin kamu bisa dan akan terasa enak teh buatan kamu, aku sangat yakin.'' kukuhnya


''Tau dari mana kalau teh nya akan seenak itu? Jangan dulu berharap karena nanti rasanya justru tidak seperti yang kamu kira.'' ucap Jasmine mencebik-kan bibirnya.


''Aku tahu dari ibumu,'' ungkap Irfan.


''Apa?'' jelas wanita itu memekik terkejut.


''Ya!'' Irfan tersenyum simpul.


''Ah ibu, ibu mah suka bercanda, kok kamu percaya pada ibu sih.'' Jasmine terus saja mengelak.


''Aku percaya pada ibumu, sudah ah cepat buatkan teh nya. Awas kalau kamu buatnya asal-asalan, artinya kamu gak ikhlas buatkan untukku. Aku tunggu di depan ya, istri-ku.'' ucap Irfan berbicara tepat di bahu Jasmine hingga membuat wanita itu merinding apalagi mendengar kata Istriku rasanya itu sangat aneh tapi Ingin lagi mendengarnya. .


''Ibu kok beritahu dia sih kalau aku bisa buat teh manis, sebenarnya sedekat apa Pria itu dengan ibu? Kok rasanya akrab sekali mereka.'' gumamnya sembari tangan sibuk memasukkan gula ke dalam gelas.


Ketika dia melihat ada tulisan garam di dalam toples bibir Jasmiine langsung terangkat alias tersenyum lebar.


''Ini garam, aku masukan ah ke dalam ge---'' namun belum sempat ia menuangkan garam rupanya Irfan mengagetkan hingga Jasmine tidak jadi memasukan garam itu.


''Hei Istriku, cepatlah! Ini sudah siang, suamimu harus bekerja, cepatlah istriku sayang!'' teriakan seseorang memanggilnya membuat tangan wanita itu terhenti saat akan mengambil sendok untuk menaruh garam.


Jasmin menolehkan kepalanya ke arah depan dimana Irfan menunggu nya.


''Astaga, apa yang dia lakukan. Teriak teriak kaya gitu memalukan sekali. Pasti Bibi mendengarnya,'' gerutu Jasmine sambil buru-buru menuangkan air panas di gelas itu, lalu setelah ia mengaduknya dengan sendok Jasmin pun membawa gelas itu dengan hati-hati di bantu kursi roda dan menghampiri Irfan.


''Ini teh nya Yang Mulia, silahkan di minum.'' ucap Jasmine sengaja mengatakan itu karena dia sebal pada Irfan, yang seenaknya teriak nyebut dirinya istri dan sayang.


''Ah akhirnya datang juga, makasih banyak ya istriku.'' ucap Irfan seolah tanpa rasa ragu lagi menyebut nya, senang sekali Pria ini menggoda Jasmine.


''Sssttt, Kenapa harus menyebut kaya gitu lagi sih, dan berhenti panggil aku seperti itu!'' Jasmin mengomel juga protes.


''Kenapa hm? Apa Aku salah bicara?'' tanya Irfan begitu datar seolah omelan Jasmine tak berpengaruh.


''Apa kamu bilang Kak? Aku gak enak tahu di dengar sama Bibi Ida, kita gak seperti itu.'' ucap Jasmine suaranya setengah bisik-bisik tapi penuh penekanan.


''Oh itu, sudah biarin aja kenapa malu sama Bibi, lagian Bibi paham kamu kan emang istriku, udah jangan di ributkan, ini hanya masalah sepele kok. Jangan malu kalau ku sebut kamu Istriku lagian memang itu kenyataannya.'' ucap Irfan tanpa beban kemudian menyeruput teh buatan Jasmine.


''Hmm, pantas yang dikatakan ibumu ini sangat enak, manis nya pas dan mungkin ini akan menjadi minuman favorit ku, jadi kamu harus sering-sering membuatnya untukku!'' sekali lagi pria itu berkata dengan lantang mungkin tanpa di pikirkan dulu.


Jasmine hanya bisa geleng-geleng kepala meresponnya.


''Terrserah!'' ucap Jasmiine kemudian pergi meninggalkan Irfan yang senyum-senyum melihat perilaku Jasmine.

__ADS_1


''Ah dasar istriku yang polos itu, menggemaskan sekali.'' ucap Irfan lirih.


__ADS_2