Bukan Pelakor! Mas, Cintailah Aku!

Bukan Pelakor! Mas, Cintailah Aku!
Yasmine sakit. (Irfan bertemu Aruna)


__ADS_3

Saat ini Aruna sedang duduk bersama Yasmine yang bermanja-manja kepadanya, tangan Aruna terus mengusap rambut hitam itu. Mendekapnya dengan sayang, tapi tiba-tiba mata Aruna berkaca-kaca dia teringat seseorang.


Segera ia usap air mata itu sebelum jatuh coba membuang nafas dengan tenang agar ia tidak terbawa suasana.


Anakku.. gumamnya dalam hati.


Ternyata Aruna teringat pada anaknya lebih tepatnya almarhum anaknya yang sudah tiada, dan rupanya Aruna ini sudah pernah menjadi seorang ibu namun itu hanya sekejap karena anak tercintanya sudah meninggal dunia saat umurnya baru satu tahun.


Anaknya lahir saat usia kandungan baru delapan bulan, dan itu bisa di sebut prematur jadi karena itu anaknya tidak bisa bertahan dan akhirnya meninggal dunia.


Saat itu hidup Aruna hancur Putri tercintanya yang ia harapkan lahir ke dunia justru Tuhan ambil lagi darinya.


Aruna dan suaminya telah lama menikah tapi mereka belum juga mendapatkan anak lalu, saat kabar Aruna hamil jelas saja keluarga suaminya sangat senang memang itu yang mereka dambakan, tapi Tuhan tidak membiarkan Aruna bahagia saat anaknya di ambil lagi untuk selamanya. Dan begitu juga dengan posisinya langsung di tendang dari keluarga suaminya hingga suami Aruna menceraikan dia, di karenakan susah memberikan keturunan juga tidak becus memberikan anak kepada suaminya.


Saat itu hidup Aruna semakin hancur benar-benar hancur, kemudian orang tuanya mengajak Aruna pindah rumah agar suasana anaknya tidak semakin terpuruk dan mereka membuka usaha berjualan bunga sebagai hobi Aruna yang penyuka bunga.


Awal pindah Aruna masih belum melupakan semua kejadian dalam hidupnya, dia masih terpuruk bahkan ia hampir menjadi gila, lalu orang tuanya berusaha menyembuhkan Aruna dengan mengajak ke psikiater akhirnya Aruna bisa sedikit tenang dan mulai saat itu Aruna menjadi status baru yaitu seorang wanita singgel dan orang-orang tahu nya kalau Aruna ini masih gadis.


Orang tuanya ingin tidak ada yang tahu dengan kondisi Aruna yang sudah kehilangan anak.


Sebab bila ada yang menanyakan masalah itu jelas akan membuat anak mereka lebih sakit hati.


Bahkan Mama Irfan saja tidak tahu kalau Aruna ini sebenarnya seorang janda yang pernah punya anak.


Kemudian beberapa waktu telah berlalu Aruna tinggal di tempatnya sekarang ini dia bertemu dengan seorang gadis kecil yang mungkin seumuran Jelita, nama almarhum anaknya.


Aruna coba dekat dengan Yasmine dari sejak itu, tapi orang tuanya selalu mengingatkan kalau itu bukan Jelita melainkan Yasmine. Karena orang tua Aruna tidak mau anaknya menganggap anak orang lain sebagai Jelita, itu bisa berbahaya.


Aruna pun sadar bila di depannya ini bukanlah Jelita nya tapi Yasmine, namun dia sangat sayang terhadap Yasmine.


"Tante napa sedih?" tiba-tiba ucap Yasmine mendongak keatas menatap Aruna yang termenung.


"Ah, tidak kok sayang." balas Aruna yang langsung tersenyum menunjukkan wajah bahagia seperti sebelumnya.


"Tapi tadi wajah Tante sedih." kekeh nya.


"Nggak kok Yasmine, Tante cuma lagi mikirin apa Oma kamu udah sampai atau belum gitu sayang." Aruna berbohong.


"Ooh gitu Tante, Tante telepon saja Oma." usulnya.


"Hm kamu benar Yasmine, tapi bukannya Oma yang akan mengabari Tante 'kan." ujar Aruna yang berfikir mungkin Mama Irfan lupa.


"Tante aja yang telepon." kembali ucapnya.


"Yaudah Tante coba telepon ya." kemudian Aruna merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel,. tapi rupanya ponsel Aruna mati alias kehabisan baterai nya.

__ADS_1


"Kenapa Tante?" tanya Yasmine karena Aruna diam.


"Yah Yas, hp Tante nya mati habis baterai." jawab Aruna.


"Yah, gak bisa telepon Oma?" Yasmine agak sedih.


"Iya , Tante lupa bawa charger sayang. Maaf ya, nanti kita telepon Oma nya ya." ujar Aruna merasa tak enak padahal Yasmine sudah ingin mendengar kabar Oma nya.


Yasmine pun mengangguk.


Beberapa jam kemudian, Yasmine yang lagi tidur mengigau sambil menggigil.


"Oma, Oma." ucapkan pelan.


"Ya ampun Yasmine, kamu kenapa sayang?" Aruna panik karena Yasmine tiba-tiba menggigil dan badan nya panas.


"Sayang Yasmine kamu sakit?"


"Bangun Yasmine, jangan buat Tante takut." Aruna menangis ia takut terjadi sesuatu pada Yasmine dan trauma beberapa tahun lalu ia rasakan kembali.


Takut yang luar biasa.


"Mama, Ma." sekali lagi Yasmine meracau namun anak itu memanggil sang Mama.


Air mata Aruna semakin luluh turun membasahi pipinya dia merasa anaknya tengah memanggilnya.


"Kita ke rumah sakit ya, sayang. Kamu harus kuat anakku." sekarang dalam bayangan Aruna yang ia gendong itu adalah Jelita.


"Kamu harus kuat sayang, kamu jangan tinggalkan Mama lagi." sekarang ini pikiran Aruna berkecamuk.


Dia berjalan menggendong Yasmine dan akan bersiap ke rumah sakit karena takut terjadi hal buruk pada Yasmine.


Saat wanita itu membuka pintu depan kesusahan karena menggendong Yasmine tapi dia dikejutkan dengan munculnya sosok Pria asing.


Beberapa saat mata mereka saling tatap dengan Aruna yang bertanya-tanya siapakah dia?


Lalu pria itu menatap Aruna dengan pertanyaan yang sama apakah ini wanita yang bersama anaknya.


"Anda siapa?" akhirnya Aruna bersuara.


"Kamu sendiri siapa?" pria itu justru balik bertanya.


"Saya Aruna." jawabnya.


"Saya gak nanya nama kamu, tapi kamu sedang apa disini?" ujar Pria itu

__ADS_1


"Maaa," terdengar Yasmine memanggilnya sambil mendekapnya erat.


"Astaga," Aruna sadar dia harus secepatnya ke rumah sakit tapi dia malah membuang waktu bersama pria asing ini.


Saat Aruna akan melewatinya tangan dia di tahan Pria itu, "Heh tunggu, kamu mau kemana? Apa itu Yasmine?" ucapnya.


Aruna terkejut kenapa Pria ini bisa tahu pada Yasmine.


"Anda itu siapa? Eh tapi kita bicara nanti saja, sekarang ini saya harus pergi ke rumah sakit." ucap Aruna sambil menyingkirkan tangan Pria itu lalu akan pergi.


"Tunggu, rumah sakit? Siapa yang sakit." tanyanya lagi menghentikan Aruna.


"Putriku dia sakit," tunjuk nya lewat ekor mata kearah Yasmine.


"Anakmu?" pekik nya terkejut.


"Dia itu Putriku." lanjutnya lalu tanpa Aruna duga Pria tadi merebut Yasmine dari pelukannya.


"Yasmine sayang, ini Ayah Nak." ucap Irfan.


Mata Aruna terbelalak dan ia akan marah kenapa orang asing ini mengaku-ngaku kalau Yasmine putrinya.


"Heh, kembalikan Yasmine dia itu lagi sakit, dan harus segera di tangani." Aruna berteriak pada Irfan.


"Kamu itu dasar tidak becus apa yang sudah kamu lakukan pada Putriku hah? Dia sampai sakit begini? Kau meracuni nya hah?" Irfan malah menuduh Aruna.


"Apa yang kau lakukan pada Yasmine?" teriaknya dengan mencekal lengan Aruna cukup kasar.


"Awww, apa yang kau katakan, aku tidak melakukan apapun pada Yasmine. Aku menyayanginya, kenapa kau begitu kasar." ucap Aruna.


Irfan akan berkata lagi tapi itu tidak jadi saat merasakan kalau tubuh Yasmine melemah dan rupanya anak itu jatuh pingsan.


"Sayang Yasmine, bangun Nak." Irfan panik.


"Astaga, Yasmine kamu kenapa." begitu juga dengan Aruna semakin takut Yasmine kenapa-kenapa.


Irfan segala berjalan menuju mobil untuk membawa Yasmine ke rumah sakit, dan Aruna mengikutinya dari belakang berniat akan ikut juga.


"Heh, ngapain kamu ikut?" ucap Irfan dengan cetus.


"Aku ... Aku juga mau ikut Aku takut Yasmine dia kenapa-napa." jawab Aruna.


"Tidak, kamu tidak bisa ikut."


"Kenapa? Aku juga sayang padanya. Ku mohon, biarkan Aku ikut." Aruna menurunkan harga dirinya dia memohon pada pria kasar ini demi Yasmine.

__ADS_1


Irfan tidak punya banyak waktu dia harus secepatnya membawa Yasmin dan akhirnya membiarkan Aruna ikut dengan nya mengantarkan Yasmine. Dan keduanya berada dalam satu mobil yang sama dua orang asing yang tidak saling kenal sebelumnya duduk berdampingan dengan suasana jadi canggung.


__ADS_2