
"Tidak!"
"Astaga mas, bangun mas kamu mimpi?" Jasmin kaget ketika mendengar Irfan berteriak kencang di malam hari.
Tiba-tiba Irfan memeluknya dengan sangat erat hingga membuat wanita itu bingung. "Mas, ada apa?" tanyanya lembut.
"Aku gak mau kehilangan kamu sayang."
"Jangan pergi Jasmine, tolong!"
"Mas, Aku gak kemana-mana." sambil mengusap punggung Irfan.
Irfan membuang nafas panjang dia merasa lega bahwa mungkin itu tadi hanya mimpi buruknya saja. Dan Ia bersyukur cuma mimpi.
Tapi sungguh mimpi tadi itu sangat membuatnya takut benar-benar takut bila istrinya pergi meninggalkan dia. Entah bagaimana hidupnya bila Jasmine tiada mungkin dia pun akan ikut pergi.
Sekali lagi Pria itu memeluknya erat, "Mas kamu tenang dulu Ok!"
"Kamu tadi kenapa pas tidur teriak-teriak ketakutan gitu Mas, kamu mimpi buruk?" setelah Irfan tenang Jasmin bertanya lagi.
"Mas mimpi buruk sayang ... " kemudian Irfan mengatakan mimpinya itu.
"Itu semua mimpi sayang, lihatlah. Aku disini dengan mu, kamu jangan takut lagi ya." ujar Jasmiine dengan lembut memeluk Irfan.
"Terima kasih sayang, terimakasih kau disini."
Setelah mimpi buruk itu Irfan semakin ingin bersama istrinya, dia tak akan pernah dan tidak mau jauh dari sang istri. Ia pikir itu seperti bukan mimpi biasa entah dia yang terlalu cemas berlebihan, entahlah yang jelas Irfan takut.
Maka tak sehari pun Pria itu jauh dari Jasmine juga tidak meninggalkan dia.
Beberapa saat kemudian...
Hingga akhirnya, "Aaaaahhhh masss!" jerit istrinya itu membuat si pria kaget.
"Sayang kamu kenapa?" Irfan berlari ke kamar mandi dimana Istrinya tadi lagi ke toilet.
"Masss perutku mulas dan ini apa Mas?" ucap Jasmine Irfan melihat sesuatu yang mengalir dari tubuh istrinya, "Apa ini saatnya kau lahiran sayang?" ucap Irfan.
"Jadi aku akan melahirkan mas?" tanya Jasmin
"Sepertinya iya sayang." kata Irfan dan langsung membawa istrinya itu ke rumah sakit.
Kini sudah saatnya seorang wanita yang hamil sudah ke sembilan bulan itu mungkin akan melahirkan anaknya.
"Aduhh mas, sakit."
"Kamu harus kuat sayang." Irfan tak henti menyemangati istrinya.
"Mas, sakit."
Sudah berjam-jam tapi si utun belum juga mau keluar, itu membuat Irfan merasa tak tega melihat istrinya kesakitan.
__ADS_1
"Tuan, ini air ketuban nya sudah kering." ucap Dokter
"Lalu bagaimana Dok?"
",Ini bahaya Tuan untuk nyonya dan anaknya."
"Yasudah Dok, lakukan saja yang terbaik apapun itu." kata Irfan.
"Kita harus lakukan operasi sesar, apakah Tuan setuju?"
"Gapapa Dok, apa pun itu lakukan saja untuk keselamatan anak juga istriku lakukan Dok!" kata Irfan dan setuju.
"Baiklah,"
Sekarang Jasmiine sudah di bawa ke ruangan operasi untuk lakukan sesar. Irfan pergi ke masjid dan berdoa di sana.
"Ya Allah, Ya Tuhanku. Aku mohon Tuhan, lancarkan persalinan Istriku, pancarkan operasinya. Aku ingin dia dan juga anak kami selamat ku mohon."
Tapi tiba-tiba dada Irfan berdetak kencang dia ingat sesuatu mimpi buruk sialan itu kembali menghampiri pikirannya.
"Tidak Tuhan, tidak!"
"Jangan lakukan itu, jangan biarkan terjadi sesuatu yang buruk kumohon."
"Tuan." ada seseorang memanggilnya
Irfan pun bangun dengan terkejut saat suster datang membangun dia yang rupanya ketiduran.
"Tuan, operasinya sudah selesai."
"Alhamdulillah, lalu anak saya udah lahir kan Sus?" tanya Irfan dengan perasaan lega.
"Sudah Tuan, bayi Anda perempuan." ucap suster
"Bayiku perempuan Sus,"
", Iya, Anda sudah bisa melihatnya Tuan."
"Iya Sus, ayo." dan keduanya berjalan menuju ruangan anak.
",Oh ya Sus, lalu istriku dia baik-baik saja kan?" di perjalanan Irfan menanyakan Jasmine.
"Anu Tuan," tapi Suster merasa kesusahan menjawab dan ini membuat Irfan takut.
"Suster ada apa? Jawab sus, apa terjadi sesuatu kepada istriku?"
"Istri Anda mengalami kritis Tuan karena kekurangan cairan dan juga kekurangan darah sekarang ini istri Anda tidak sadarkan diri." jelas suster dengan perasaan kasihan.
Tubuh Irfan terasa lemas seketika, dia langsung terduduk dengan tak berdaya. Ia benar-benar takut.
"Astaga Tuan." suster kaget saat Irfan langsung pingsan.
__ADS_1
Irfan tubuhnya lemah dia tidak makan juga tak minum dari sejak Jasmiine melahirkan kemarin hingga hari ini dia tidak ingin makan apapun sehingga tubuhnya tak berdaya dan diharuskan di rawat.
Pria itu bangun dan melihat ia berada di ruangan rawat inap, karena ingin melihat istrinya tak memperdulikan dia yang masih lemah langsung beranjak dengan melepaskan paksa jarum infus di tangannya.
Berjalan sempoyongan ke ruangan Jasmine tak perduli rasa pusing maupun lemas.
"Jasmine, sayang " air mata luluh membasahi pipi melihat sang isteri terbaring tak sadarkan diri. Semua alat terpasang di tubuh itu.
"Sayang." sang pria langsung memeluknya. Mendekap erat jari jemarinya. Mencium kening bibir dan tangannya.
", Sadarlah sayang, Putri kita membutuhkan mu."
Berhari-hari, bahkan berminggu-minggu juga berbulan-bulan sang istri belum juga mau sadar, suaminya tak lelah menunggu dia sadar kembali.
Delapan bulan lamanya sudah, Jasmiine masih belum mau sadar.
Putri kecil sudah duduk dan merangkak naik ke tubuh sang ibu yang belum juga mau siuman melihat wajahnya.
"Mam Mah,"
"Mah."
"Mammah."
Tangan lentik itu menyusuri wajah sang ibu menciumnya dengan sayang.
Tak kuasa air mata turun tanpa di undang tanpa disuruh membasahi pipi melihat pemandangan yang setiap hari menguras emosinya. Dia sudah melakukan semua cara, semua pengobatan telah dia lakukan untuk kesembuhan sang istri yang hidup karena alat memang begitulah kenyataannya. Dokter pun sudah mengatakan hal pahit itu kepada Irfan bahwa tidak ada kesempatan lagi untuk Jasmin hidup tapi pria itu langsung marah dan yakin kalau istrinya akan sembuh dan hidup dengannya kembali berserta anak mereka.
"Ayo sayang kamu cepat sadar dan buktikan pada manusia manusia bodoh itu kalau kau akan sadar hidup kembali demi Aku, demi anak kita ayo Jasmiine." Irfan berteriak keras merasa akan ada keajaiban atau mungkin dia lelah.
"Sayang, kau mencintaiku kan? Kau ingin melihat anak kita bukan? Maka ayo sadarlah buktikan pada manusia bodoh itu." terdengar ke putus asa an, dari diri pria itu.
Mungkin disini Jasmine yang lagi sakit tapi nyatanya pria itu lah yang sakit jiwanya. Tubuh semakin kurus tak terurus. Bulu-bulu halus tumbuh di area wajahnya dia tidak mencukur kumisnya hingga membuat dia terlihat menakutkan.
Gadis kecil mengusap wajahnya mencium nya pipinya mendekap erat sang Ayah.
"Yayah." panggilnya.
"Yasmine."
"Ayah." anak itu tersenyum melihat sang Ayah akhirnya memanggil namanya.
"Pergi kau Yasmine." tiba-tiba Irfan marah lagi.
"A-ayah." tubuh kecil itu jatuh ke lantai dengan air mata yang ikut jatuh.
"Pergi Yasmine, kau pembunuh ibumu sendiri." kata Irfan dengan penuh benci.
Dua tahun sudah penantian Irfan saat semua alat di lepaskan dari tubuh Jasmine dan akhirnya wanita itu pergi untuk selamanya meninggalkan sang kekasih yang setia menunggu kembali nya dia tapi sayang nasib tak memihak pada Irfan hingga Jasmine tak tertolong lagi dan sudah meninggal dunia.
Irfan berpikir ini semua karena lahirnya anak mereka yang merebut istrinya hingga pergi, entah setan apa yang merasuki Irfan hingga membenci Yasmine Irish Kurniawan. Putrinya bersama wanita yang dia cintai. Bukannya menyayangi menjaga putri mereka justru Pria itu menganggap ini kesalahan Yasmine yang lahir dan membuat cinta sejatinya pergi.
__ADS_1