
Semua pegawai langsung menoleh ke arah Axel yang mengatakan dia akan menikah dengan Evelyn, sontak saja hal itu membuat semua orang terkejut dan kembali riuh saling berbisik membicarakan soal perkataan Axel tadi.
"Apa yang di maksud Pak Axel tadi itu, dia yang akan menikahi Bu Evelyn. Tapi bagaimana bisa?" ujar salah satu staf
"Iya ya, sebenarnya ini ada apa dan apa yang terjadi pada Pak Irfan, Bu Evelyn dan juga Pak Axel?" sahut yang lain ikut kebingungan.
"Benar ini semakin membuat kita penasaran dan bingung saja." tambah satu orang lagi.
"Saya tahu kalian pasti bingung bukan, tiba-tiba saya mengatakan ini. Tapi, saya menegaskan sekali lagi bahwa saya lah yang akan segera menikah dengan Evelyn. Seharusnya kalian tidak perlu terlalu terkejut karena Irfan telah punya isteri," Alex menunjuk pada Jasmine, "Jadi, disini saya dan Evelyn juga tidak salah bukan bila kami menikah." lanjutnya.
"Iya sih benar juga." ucap seorang pegawai.
"Jadi maksudnya Pak Irfan sama Bu Evelyn itu sudah tidak ada hubungan begitu ya, maaf saya menanyakan ini." tanya seorang pegawai yang penasaran dan mewakili semuanya.
"Hm itu benar, saya dengan Evelyn sudah berakhir. Itu sudah cukup lama kami tidak saling bersama." jawab Irfan
"Dan setelah mereka berakhir saya langsung mendekati Evelyn dan mengutarakan perasaan saya." tambah Axelo.
"Ooh begitu iya kami mengerti sekarang." ujar beberapa pegawai.
"Dan saya ingin mengatakan alasan saya mengumpulkan kalian itu karena saya akan mengadakan pesta pernikahan saya dengan Istri saya ini, Minggu nanti. Saya harap semua akan hadir di acara kebahagiaan saya dan istri." ucap Irfan mengumumkan tujuannya.
"Baik Pak, tentu kami akan hadir."
"Iya Pak, kami pasti hadir dalam acara kebahagiaan bapak sama Nona."
"Iya,"
"Iya , kami pasti hadir."
"Baik sebelumya saya mengucapkan terima kasih, kalau begitu kalian sudah boleh pergi dan kembali ke tempat kerja." ucap Irfan mengakhiri pertemuan.
Sebelum mereka keluar semuanya pada maju mendekati Irfan dan ternyata mereka pun memberikan selamat pada Jasmine.
Jasmine awalnya merasa terkejut dia diperlakukan seperti ini tapi dia memang cukup senang, rupanya para stafnya Irfan sangat menghormati nya.
__ADS_1
"Selamat Pak Irfan, Bu!"
"Terima kasih,"
"Terima kasih."
Setelah pertemuan dan memperkenalkan Jasmine kepada semua pegawai nya, Irfan pun mengajak istrinya itu ke ruangan nya. Jasmine berjalan di samping Irfan tiba juga mereka di ruangan.
"Kamu istirahat lah dulu." ujar Irfan
"Iya mas." angguknya
"Aku harus mengecek dulu dokumen ya, kalau kamu menginginkan sesuatu bilang saja nanti Aku bilang pada Rio." ujar Irfan lagi sambil duduk di kursi kebesarannya, sementara Jasmine juga duduk di sofa panjang.
"Rio, siapa dia mas?" tanya Jasmine
"Oh dia asisten ku disini, hm kamu belum kenal ya."
"Belum, kan kamu gak mengenalkan nya." kata Jasmine
"Iya nanti ku kenalkan dia padamu, tapi ingat kalau ingin sesuatu bilang!" ulangnya
Irfan mulai fokus ke pekerjaan nya dan Jasmine memilih melihat-lihat ruangan suaminya itu, pertama wanita itu melihat kearah jendela yang bisa langsung terlihat bangunan besar dan juga jalan yang padat oleh kendaraan, lalu di depan bisa langsung tertuju pada taman yang berada di belakang kantor nya Irfan ini.
"Bagus banget taman nya penuh dengan bunga dan pepohonan, nanti aku ingin kesana sama mas Irfan." gumamnya.
Kemudian Jasmine pun kembali masuk dan dia tiba-tiba merasa sedikit pusing.
"Mas aku merasa pusing." adu nya pada Irfan
"Kamu sakit yank?" Irfan jadi panik
"Tidak mas tidak, aku baik-baik saja cuma sedikit pusing saja."
"Yasudah kita pulang."
__ADS_1
"Gak usah mas, aku masih mau disini, cuma mungkin butuh istirahat saja." Jasmine akan merasa tidak enak bila mereka pulang sementara mereka itu baru saja sampai.
"Tapi yank, aku gak mau kamu kesakitan, kalau gak kita ke rumah sakit ya." Irfan sudah akan beranjak tapi cepat di cegah oleh Jasmine.
"Mas, aku gak sakit parah cuma ingin tiduran sebentar kok, nanti juga sembuh kamu jangan cemas."
"Baik kalau kamu tidak mau ke rumah sakit kamu tiduran aja di kamar Mas itu." sambil menunjuk kamar miliknya.
"Jadi disana itu ada kamar juga mas?" tanya Jasmine
"Iya ada, sudah sana istirahat."
"Yaudah mas, aku kesana."
"Hm,"
Jasmine pun berjalan ke kamar pribadi Irfan dan ini memang Jasmine baru tahu ada kamar di dalam ruangan Irfan, kemudian wanita itu masuk dan mulai duduk di pinggir ranjang ia pun merebahkan tubuhnya disana, matanya mulai ia pejamkan tapi tetap tidak bisa tidur.
"Aku jadi penasaran ada apa di ruangan ini, kalau aku lihat-lihat boleh tidak ya, hm maksudku takutnya di bilang gak sopan tapi kok aku jadi penasaran.
Sambil berjalan melihat-lihat ruangan itu entah kenapa tangan Jasmiine ingin sekali melihat isi di laci lemari berwarna putih itu.
"Hm disini cuma ada beberapa kertas yang mungkin itu penting."
Tangannya kembali melihat kedalam isi laci lainnya tapi tiba-tiba mata wanita itu terbelalak lebar,
"Kenapa ini ada disini?"
"Apa kamu masih cinta sama dia?"
"Sampai kamu masih menyimpan nya di dalam kamar mu."
"Hikss, kamu tega sekali sama aku,"
"Foto wanita yang memakai pakaian kurang bahan ini, masih ada di dalam ruangan mu,"
__ADS_1
"Mas, kamu tega sekali." Jasmine lupa bila di luar kamar itu kan ada Irfan yang jelas akan mendengar suaranya apalagi ruangan tersebut belum memakai tombol kedap suara.
"Ya Tuhan sayang kamu kenapa?" tanyanya cemas.