
Irfan merasa sangat khawatir ketika mendengar istrinya berteriak kencang sambil menangis di dalam ruangan nya Bu Salma. Cepat-cepat Irfan pun kembali ke ruangan itu untuk melihat apa yang terjadi.
Dilihatnya Jasmin nampak terduduk di lantai dengan keadaan menangis histeris.
''Sayang kamu kenapa hm? Katakan padaku Jasmin apa yang terjadi ?'' tanyanya begitu cemas.
''K-kak, i-ini.'' ucapnya terbata sambil menunjukkan surat di tangannya pada Irfan.
''Surat? Surat apa ini?'' gumam Irfan bingung.
''Itu dari ibu.'' sahut Jasmiine memberitahu.
Perlahan Irfan membaca isi suratnya sambil sebelah tangannya menahan tubuh Jasmin yang kelimpungan.
''Ya Tuhan, apa ini maksudnya? Jasmine, ini beneran dari Bu Salma ?'' tanya Irfan sangat shock.
''Iya Kak, tapi aku tidak perduli pada yang ibu bilang soal ibu kandungku atau siapalah itu. Karena yang Aku inginkan ibuku kembali Kak, aku mau sama Ibu.'' Jasmine masih menangis.
''Tenangkan dirimu.'' ucap Irfan mengusap bahu Jasmin.
Hari itu juga almarhum Bu Salma dikebumikan, Jasmiine sangat sedih hidupnya tidak berwarna lagi setelah kepergian Bu Salma, ibu yang merawatnya dari kecil, ibu yang begitu menyayanginya tapi pada kenyataannya beliau bukan ibu kandungnya.
''Bu, yang tenang disana ya Aku sayang padamu.'' ucap Jasmine lirih.
Irfan mengajak Jasmine pulang karena hari sudah mau malam. ''Ayo kita pulang.'' ajaknya
''Aku ingin ke rumah ibu Kak, aku mau mengenang Ibu.'' pintanya dengan berlinang air mata.
''Yasudah kita kesana ayo.'' Irfan menyetujui permintaan Jasmine dan Wanita itu balas dengan anggukan.
Tiba di rumah, Jasmine langsung masuk kedalam kamar Bu Salma. Memeluk bantal milik Ibunya yang merawatnya selama ini.
''Ibu, apa yang ibu katakan Aku ini anak ibu, aku anakmu. Bu, aku tidak perduli dengan warna kulit kita yang beda karena bagiku Ibu adalah ibuku.'' ucap Jasmin berbicara sendiri.
Hingga Jasmin ketiduran di kamar itu dengan sesekali isakkan tangannya masih terdengar. Irfan datang ke kamar itu untuk melihat kondisi istrinya, saat dilihatnya Jasmin tertidur Irfan pun langsung menarik selimut untuk Jasmine dan mencium keningnya. Membiarkan si istri istirahat di kamar sang Ibu.
Pagi pun tiba.
''Sayang bangunlah, ini kamu makanlah dulu pasti kamu lapar dari kemarin kamu belum ada makan apapun ayo sayang.'' Irfan membujuknya agar makan.
''Tidak Kak, aku tidak lapar.'' balasnya sambil menatap kosong kedepan.
''Tolong jangan seperti ini Jasmin, aku yakin ibumu akan marah padaku bila melihat mu seperti ini. Ayo makan walau sedikit saja.'' kembali bujuknya.
''Benarkah kak, ibu akan marah?'' ujarnya menatap Irfan.
''Ya, tentu Ibumu marah karena dia sayang padamu.'' balas Irfan
__ADS_1
''Tapi kak, Ibu sudah bohongi aku.'' kata Jasmine kembali bersedih.
''Aku rasa Ibu punya alasannya Jasmin, atau mungkin justru ini karena Ibumu sangat sayang padamu sehingga dia tidak mau kau di ambil Ibu kandungmu.'' kata Irfan mengatakan yang dia asumsikan.
Jasmine memikirkan apa yang dikatakan Irfan, itu sudah pasti karena yang sayang padanya hanyalah Bu Salma, bukan Ibu kandungnya itu yang bahkan detik ini tidak pernah menemuinya.
''Ayo makan ya.'' kata Irfan sambil menyuapkan bubur kearah Jasmin.
Jasmin perlahan membuka mulutnya karena dia tidak ingin Bu Salma marah atau cemas padanya. Irfan sedikit lega karena akhirnya Istrinya ini mau makan juga.
''Sudah Kak aku kenyang.'' ujar Jasmiine menolak suapan itu.
''Satu kali lagi aja ya.'' bujuk Irfan dan Jasmine mengangguk agar selesai acara makannya dia benar-benar tidak bernafsu.
Irfan tidak ingin membahas dulu soal Ibu kandungnya Jasmine karena dia tidak ingin wanita itu merasa terguncang apalagi kondisinya masih dalam keadaan duka, maka pria itu memilih untuk diam tanpa membahayakan isi surat tersebut.
***
Sementara itu di tempat yang berbeda.
Evelyn baru saja selesai mandi itupun berjalan menuju walk in closed untuk memakai skincare nya.
Di lulurnya lengannya itu dari yang kanan hingga yang kiri secara bergantian.
Tok Tok
''Siapa?'' tanya Evelyn dengan berteriak.
''Ini Bibi Non.'' serunya yang menjawab itu adalah art.
''Oh masuk saja.'' suruh Evelyn
''Non maaf ganggu itu di depan ada tamu.'' ucap Bibi masuk kedalam kamar Evelyn.
''Tamu? Mau ketemu disapa itu Bi?'' tanya Evelyn kembali.
''Katanya tamu nya Non, mau bertemu sama Non.'' jawab Bibi
''Siapa Bi ? Apa teman ku?''
''Bibi gak tahu Non, tapi baru Bibi lihat kok itu orangnya dan dia sangat tampan Non.'' ucapan si Bibi terdengar terkekeh diakhir kalimatnya.
''Hah pria tampan,'' cepat-cepat Evelyn pun memakai baju karena dia jadi penasaran.
''Eh Bi, apa dia Irfan ?'' tanyanya menebak .
''Den Irfan, kayaknya bukan deh Non. Ini beda Non.'' seru Bibi
__ADS_1
''Ouh bukan.''
Evelyn pergi ke ruang tamu dia melihat ada seorang Pria yang tengah duduk membelakanginya.
''Sorry kamu cari saya---'' Evelyn terkejut ketika orang itu menghadap padanya.
''Lo!'' pekiknya
''Hai, bagaimana kabar kamu?'' ucap orang itu sambil tersenyum dan bernada lembut.
'Hah, kesambet apa dia.' batin Evelyn keheranan.
''Begini caramu nyambut tamu ya,'' sindirnya
''Eh, oh Lo ngapain kesini? Dan darimana lagi Lo tahu alamat rumah gue.'' ujar Evelyn dengan sangat cetus.
''Itu masalah gampang untuk saya, tapi ternyata kamu masih judes saja.'' kata orang itu.
''Sorry ya, gue lagi gak nerima tamu jadi mending Lo pergi dari sini, Lo keluar dari rumah gue!'' ucap Evelyn sambil menunjuk pintu.
Pria itu tidak membalas ucapan Evelyn yang cetus tapi dia hanya tersenyum padanya seolah tidak ada apa-apanya ucapan Evelyn.
''Ini untukmu.'' tiba-tiba dia menyodorkan paper bag pada Evelyn.
'Eh ngeyel banget nih orang, udah di usir juga bukannya pergi malah semakin menyebalkan.' batin Evelyn menggerutu.
''Apaan itu?'' tanyanya
''Yaudah ambil nih dan lihat saja.'' kata si pria
Perlahan Evelyn mengambilnya ini karena dia sangat penasaran saja iya hanya itu dan bukan karena yang lainnya.
''Hah ini?'' ucapnya dengan melirik pada si pemberi
'Aneh sekali, kok ini orang tahu ya gue lagi pengen buah kedondong, lalu sekarang dia bawakan buah ini apa dia cenayang ya, yang tahu apa yang sedang gue mau.' kata hatinya benar-benar merasa heran. Mata Evelyn langsung berbinar-binar.
''Gimana kamu suka tidak ? Dengan yang ku berikan?'' tanyanya si Pria
''Tidak, makanan apaan ini yang kamu bawa iuhh sangat tidak enak.'' jawabnya pura-pura tidak suka.
''Ouh jadi kamu tidak suka ya, padahal tadinya ku pikir kamu bakal suka yasudah sini biar aku buang aja.'' kata Alex dengan ingin mengambil paper bag ditangan Evelyn.
''Eee tunggu dulu, ini jangan dibuang sayang sih ah mending aku kasih ini untuk Bibi saja dia mah suka buah ini, tidak apa-apa kan?'' Evelyn langsung mencegah Alex yang ingin mengambil lagi buah pemberiannya.
''Ooh yaudah tidak apa-apa, tapi kalau kamu ingin memakannya juga ya itu jauh lebih bagus sih, karena Aku rasa kamu juga ngiler dan mau itu kan.'' ungkap Alex membuat Evelyn jadi kikuk.
Alex langsung tertawa melihat reaksi Evelyn yang diam tidak lagi banyak bicara.
__ADS_1
Aneh sekali ini orang, dia tiba-tiba baik ada apa ya dengan pria ini, apa dia memiliki rencana jahat lagi. Ah awas saja bila itu terjadi. Evelyn heran melihat sikap Alex yang jadi perhatian memberikan buah kedondong dan sialnya itu yang sedang dia inginkan hari ini. Rupanya Evelyn belum tahu kalau sebenarnya dia itu sedang hamil.