
Mama Irfan sengaja membawa cucunya pergi karena tidak mau mental Yasmine rusak oleh Ayahnya sendiri. Juga Mama ingin putranya sadar akan kehadiran Yasmine itu bukan suatu masalah, sadar kalau Yasmine membutuhkan Irfan dan begitu juga dengan Irfan butuh Yasmine.
Mama pun telah mendapatkan kabar dari Bibi kalau tadi pagi Irfan pergi ke rumah utama untuk mencari Mama dan Yasmine.
Tentu saja itu membuat Mama senang mungkin dengan begitu Irfan mulai dasar juga kehilangan anaknya. Mama berharap keputusan nya membuahkan hasil yang baik.
Mama Irfan mendekap cucunya yang lagi tidur sambil meminum ASI dalam botol bayi.
"Cucuku sayang, Oma tidak akan membiarkan nasibmu malang sayang. Walaupun kau sudah tak punya ibu lagi." ujar Mama Irfan mencium Yasmine.
"Oma juga berharap dengan kita pergi Ayah mu akan sadar Nak, ya. Itu pasti." Mama sangat yakin ini semua hanya butuh waktu saja bagi Irfan menerima kenyataan pahit kalau ini adalah takdir.
Di lain tempat Irfan masih mencari keberadaan Mama nya dan juga Yasmine. Pria itu duduk termenung di kamar Yasmine aroma wangi khas bayi masih terasa di kamar itu semakin membuat Irfan menyesal sudah menyia-nyiakan anaknya Dua tahun ini.
"Sayang tolong maafkan Aku yang udah menyakiti putri kita sayang." dengan menangis memeluk bantal Yasmine Irfan merasa kesepian.
"Sayang hadirlah dalam mimpiku agar Aku tidak kesepian." Irfan berharap bisa bertemu Jasmine walau dalam mimpi.
Tapi malam itu dia tidak merasakan kehadiran Jasmine mungkin ini karena Jasmine kecewa padanya.
****
Sementara itu Mama lagi memandikan Yasmine yang sudah bangun tidur.
"Ayo kita mandi dulu sayang." ucap Mama mulai membasahi tubuh Yasmine dengan air lalu memberikan sabun tak lupa sampo.
Yasmine kecil tersenyum melihat pada Oma nya karena dia akan senang bila mandi.
"Oma! Oma!" Yasmine menepuk-nepuk air
"Kamu suka Nak?"
Yasmine segera mengangguk.
"Nih pakai sampo dulu." Mama mengusap lembut kepala Yasmine.
Sudah tiga bulan lamanya Mama berada di sini dengan Yasmine, bahkan kini anak itu sudah tidak menanyakan Ayahnya lagi dan tidak rewel. Rupanya Mama masih menghukum Irfan.
Selesai dengan acara mandi Mama menggantikan pakaian Yasmine lalu memberikan susu kepada cucunya itu biar perutnya kenyang dan hangat.
Ting Tong.
Bel rumah berbunyi Mama berjalan untuk membuka pintu ternyata seorang wanita membawa bunga datang.
"Assalamualaikum Bu."
"Waalaikumsalm kamu ayo masuk." ajak Mama seperti sudah saling kenal.
__ADS_1
"Baik Bu, Yasmine lagi apa Bu?" tanya wanita itu lalu meletakkan bunga di atas meja.
"Tuh dia lagi minum susu nya." Mama menunjuk Yasmine.
"Aku kesana ya, Bu." ijinnya
"Hm." Mama mempersilahkan.
Dia adalah Aruna seorang wanita yang memiliki toko bunga tepat di sebrang rumah Mama ini. Dan kini menjadi toko langganan Mama yang memang suka dengan bunga, Mama selalu memesan bunga itu dari toko milik orang tua Aruna.
Aruna adalah wanita yang baik ramah dan juga penyayang kepada anak kecil, baru kenal dua bulan ini dia sudah akrab dengan Yasmine.
Sehingga Aruna kadang datang hanya untuk bermain atau menemui Yasmine bukan untuk mengantarkan bunga. Sebab Mama juga selalu senang bila Yasmine bersama Aruna.
"Halo gadis kecil, udah mandi belum?" tanya Aruna pada Yasmine.
"Tante Aluna." Yasmine yang masih cadel pun senang melihat kedatangan Aruna dan langsung duduk di pangkuan Aruna.
"Wah udah wangi, pasti udah mandi ya."
Yasmine pun mengangguk.
"Kita main di luar yuk, kamu mau?" Aruna mengajak Yasmine keluar .
"Mau," lagi Yasmine mengangguk memang mereka sudah sedekat ini.
"Let's go." dengan bersemangat Aruna menggendong Yasmine.
"Apa gak ngerepotin kamu?" ucap Mama
"Tidak kok Bu, di toko masih sepi." jawab Aruna
"Yaudah." kata Mama akhirnya mengizinkan.
Mama tersenyum melihat pemandangan di depannya yang membuat Mama bahagia karena ada wanita sebaik Aruna. Tapi, Mama juga jadi sedih karena teringat pada Jasmine andaikan menantunya masih ada mungkin akan lebih bahagia lagi dari sekarang ini.
"Nak, semoga kamu tenang disana ya. Mama merindukan mu Jasmiine." sambil mengusap air mata.
Kringgggg
Tiba-tiba telepon Mama berdering Mama mengambil lalu melihat siapa yang menghubunginya. Itu dari suaminya yaitu Papa Irfan.
[Halo Pa.]
[Halo nyonya ini Bibi.]
[Oh Bi, ada apa? Semua baik-baik saja kan?]
__ADS_1
[Ini nyonya, Tuan sakitnya kambuh lagi dan sekarang harus ke rumah sakit.] beritahu Bibi.
"Apa Bi, Papa sakit lagi.] Mama terkejut juga cemas.
[Benar nyonya.]
[Yaudah gini Bi, tolong Bibi hubungi Irfan dulu suruh dia yang bawa Papa ke rumah sakit ya Bi.] pesan Mama
[Baik nyonya, tapi Tuan berpesan agar nyonya juga pulang.] kata Bibi memberi tahu pesan dari Papa Irfan.
Mama langsung diam beliau cukup bingung dan lama berfikir.
[Halo nyonya.] Bibi memanggil dan menyadarkan Mama.
[Ok Bi, saya nanti pulang.] ucap Mama
[Baik nyonya.]
Mama diam memikirkan semuanya sebenarnya Mama masih tidak ingin membawa Yasmine pulang sekarang tapi kondisi suaminya mengharuskan dia untuk pulang.
"Andai Irfan bekerja lebih keras untuk mencari mu Nak, mungkin kamu akan Oma bawa pulang. Tapi, Ayah mu justru menjadi Pria yang tak bertanggung jawab dia malah menjadi-jadi."
Rupanya Irfan malah semakin tidak bisa di atur dia jadi pria yang suka mabuk. Dan bermain wanita hal ini membuat Mama sakit hati, atau mungkin Mama yang salah pilih langkah beberapa tahun lalu.
Tiba-tiba Mama punya ide ketika melihat Aruna.
Mama pun mengajak Aruna untuk berbicara "Aruna, kesini sebentar ada yang ingin Ibu katakan." ucap Mama
"Iya Bu, ada apa?" kini dua wanita itu duduk saling berhadapan.
"Saya harus kembali ke kota xx, tapi saya tidak akan membawa Yasmine Aruna."
"Kenapa Ibu gak membawa Yasmine?" tanya Aruna
"Biar dia disini bersama mu, gimana kamu mau kan menjaga cucuku?" tiba-tiba ucap Mama.
"Apa Bu, ini ibu serius? Maksud saya apa Ibu percaya pada saya."
"Hmm saya percaya padamu, lihatlah sekarang saja cucuku selalu menempel padamu Aruna. Dia akan aman bersama mu." ucap Mama dengan tersenyum.
'Tapi maaf Bu, kenapa tidak di bawa saja Yasmin, kasihan dia Bu bila di tinggalkan."
"Apa kamu gak mau merawat cucuku?" Mama pura-pura marah.
"Eee anu Bu, maaf bukan maksud saya gitu saya mau Bu merawat Yasmine." tentu saja Aruna akan senang akan hal itu hanya saja dia merasa aneh kenapa membiarkan cucu Ibu ini dengan wanita asing walaupun mereka sudah dekat dua bulan ini.
"Bagus kalau kamu setuju, tolong jaga cucuku ya, saya percaya padamu Aruna."
__ADS_1
"Em baiklah Bu, akan saya jaga gadis kecil ini dengan aman dan sebaik mungkin." balas Aruna menatap Yasmine dengan sayang.
"Terima kasih Aruna."