
Irfan mendorong tubuh Putri kecilnya itu hingga jatuh tersungkur, bocah kecil yang tidak tahu apa kesalahannya itu menangis histeris akibat perlakuan sang Ayah.
Dia masih sangat kecil untuk memahami apa yang terjadi pada hidupnya. Yasmine hanya butuh sosok sang Ayah setelah ia tidak lagi bertemu dengan sang ibunda dan itu untuk selamanya.
Tangis sesenggukan terdengar pilu dari bocah itu, dia merasa sakit hati dan mungkin bila ia bisa mengutarakan ia akan bertanya dimana salahnya, sampai ia diperlakukan kasar oleh sang Ayah.
Seorang wanita dengan tergopoh-gopoh menghampiri lalu terkejut melihat cucunya menangis di lantai sementara Ayah dari anak itu hanya menatap tajam.
"Fan, apa yang sudah kamu lakukan pada anakmu." teriak Mama Irfan.
Irfan hanya diam bergeming.
"Kau keterlaluan, kenapa kau menyakiti Putrimu sendiri hah? Dasar kau biadab." umpat Mama Irfan
Ini sudah kesekian kalinya Irfan jadi kasar pada sang anak, dari sejak meninggalnya Jasmine.
"Ma, jangan membelanya." kata Irfan menunjuk Yasmine.
"Dia masih kecil Irfan, dan anakmu tidak bersalah. Kenapa kau mengkuhumnya hah? Kau itu benar-benar Ayah kurang ajar." kembali Mama mengumpat.
"Ma, apa Mama lupa hah? Gara-gara dia istriku meninggal Ma, Jasmine pergi untuk selamanya." kata Irfan dengan nada tinggi.
Plakkkk
Tak tahan lagi Mama pun langsung menampar pipi Irfan dia sudah geram dengan perangai anaknya itu, yang seenaknya dan sudah tidak waras menyalahkan anak yang tak berdosa.
"Mama kenapa menampar ku, Ma?" Irfan marah tak terima.
"Itu memang harus Mama lakukan sejak lama padamu agar kau sadar Fan, atas semua kesalahan mu selama ini. Dia adalah darah daging mu sendiri, dia tidak punya salah apapun tapi kau malah menyalahkan nya, kau benar-benar Ayah yang tak waras." setelah mengatakan semua itu Mama pergi meninggal Irfan yang masih dalam amarah.
"Sialan!" Irfan mengumpat
Hari-hari berlalu, Yasmine masih tidak bisa dekat dengan Ayahnya rupanya kewarasan Irfan belum sadar juga belum sembuh.
Mama yang tidak mau cucunya itu terganggu mentalnya akhirnya memutuskan untuk membawa pergi Yasmine dari Irfan, mungkin dengan begitu Irfan akan sadar dan kembali mencintai anaknya.
"Ma, Mama mau kemana?" tanya Irfan di suatu pagi melihat Ibunya sudah siap dengan membawa koper.
"Mama ingin pergi Fan, dan Mama juga akan bawa anakmu ini. Karena Mama tidak ingin dia lebih sakit hati atas sikap mu yang harusnya melindungi dia." ucap Mama menyindir Irfan.
"Oh, yaudah. Bawa saja dia pergi Ma, itu jauh lebih bagus." kata Irfan dengan santai seolah dia tidak masalah saat akan jauh dengan anaknya.
__ADS_1
Mama sampai terkejut mendengar semua itu yang keluar dari mulut Irfan kepada cucunya.
"Astaghfirullah Irfan, kenapa kamu tega sekali Fan." bahkan Mama sampai menangis dan langsung pergi.
Hari itu rumah tampak sepi, tidak ada lagi suara tangisan Yasmine. Tidak ada yang mengganggunya lagi.
Harusnya dia merasa senang bukan dia seharusnya bahagia tapi Irfan malah merasa kesepian, dia butuh suara tangisnya Yasmine. "Sialan, seharusnya Aku senang dia tidak ada disini." ujarnya
Ia melangkah pergi ke kamar sang istri, dia rindu Jasmine. Pria itu membuka pintu kamar mereka yang setiap malam selalu menjadi tempatnya dalam kesengsaraan.
"Kau tega sekali padaku Jasmine!" entah kenapa tiba-tiba Irfan berkata seperti itu.
"Jasmine, kenapa kau pergi meninggalkan ku hah? Lalu mengapa sekarang anakku harus pergi dariku juga, kenapa?" Irfan berteriak kencang hingga suaranya menggema.
"Yasmine, kau pergi meninggalkan Ayah juga? Kalian tega sekali padaku."
Tubuh itu luluh ke lantai dan meremas rambut dengan kuat. "Aku benci keadaan ini, aku benci!"
"Tuhan ini tidak adil, ini gak adil."
Karena kelelahan dia pun tertidur, kemudian ia seperti merasakan ada sentuhan di tubuhnya.
"Mass!"
Irfan langsung bangun melihat bayangan sang istri. ",Sayang, kau. Kau kembali sayang?"
"Mas, ada apa dengan mu hm?"
"Aku? Aku kenapa sayang?" tanya balik Irfan pada bayangan itu.
"Mas, kenapa kau menyakiti putri kita." ucap bayangan Jasmine.
"Karena dia lah yang menyebabkan kau pergi sayang." jawab Irfan
"Tidak mas." bayangan itu menggeleng kuat sampai menangis darah.
"Kau, jangan menangis sayang."
"Mas, kamu jangan menyalahkan Putri kita. Dia adalah buah cinta kamu sama aku 'kan. Lalu, kenapa kamu menyakitinya mas, anak kita tak bersalah. Kita yang tidak bisa bersama mas. Mas, tolong kembali pada Putri kita, jangan buat dia menderita lagi ku mohon." pinta bayangan Jasmine.
"Apakah dengan aku melakukan keinginan mu , kamu akan kembali ke sayang?" kata Irfan
__ADS_1
"Mas Irfan, Aku tidak pergi kemana-mana kok. Aku disini bersama mu, di dalam hatimu ada Aku." bayangan tersebut menyentuh dada Irfan.
Irfan langsung menutup matanya menikmati sentuhan di dadanya, sentuhan Jasmine yang memang ada dalam hatinya.
Bayangan itu menangis darah dia merasa sakit hati karena suaminya tidak mempedulikan buah hati mereka. Malam itu keduanya larut dalam kesedihan. Namun Irfan merasa kehangatan seolah seperti saat adanya Jasmine ketika masih hidup.
Wusssshhhh
Menjelang pagi bayangan pun hilang seiring bangunnya seseorang.
Pagi pun datang tapi Irfan tak melihat istrinya disana, dia tak menemukan Jasmine.
"Jasmin, kamu dimana sayang?" Irfan berteriak
Kemudian dia ingat dengan bayangan Jasmine bila wanita itu selalu ada dalam hatinya, Irfan buru-buru menyentuh dadanya dan teringat dengan permintaan sang istri kalau dia harus menjaga buah cinta mereka.
"Yasmine, Yasmine kamu dimana Nak?" kali ini Irfan mencari anaknya tapi di rumah sangat sepi ia tak menemukan siapapun, tidak ada ibunya maupun anaknya.
"Yasmine, kenapa kamu meninggalkan Ayah." Irfan berteriak histeris merasa kini dia yang sakit hati.
Tidak buang waktu dia pergi ke kediaman Mama, untuk mencari anaknya dan berniat akan membawa pulang karena ia sadar kalau selama ini dia sudah banyak salah pada Yasmin.
"Bi, Mama mana?" tanya Irfan pada pembantu di rumah Mama begitu sampai di rumah.
"Nyonya tidak ada Den."
"Tidak ada kemana maksudnya Bi?"
"Nyonya sudah pergi Den."
"Pergi, kemana Bi?"
"Maaf Den, Bibi gak tau Den, karena nyonya gak mengatakan nya pada Bibi."
"Ya Tuhan, Mama kemana Ma?" Irfan panik dan sadar kalau ibunya membawa koper itu artinya Mama mungkin akan pergi jauh.
Dan Pria takut bila memang Ibunya membawa Yasmine pergi jauh darinya, kali ini dia ingin menebus kesalahannya dan sangat menyesal sudah berlaku kasar terhadap sang anak juga pada ibunya.
"Kemana aku harus mencari mu Nak, tolong maafkan Ayah." Irfan duduk lemas dan bingung harus kemana apalagi saat nomor telepon Mama tak bisa dihubungi.
Di saat pria itu sudah menyadari kesalahannya namun sayang sang putri tidak tahu dimana keberadaannya, dan itu membuat Ayah satu anak ini benar-benar putus asa.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang, aku menyesal tak menjaga putri kita." Irfan meringkuk di teras dan rasanya dia semakin gila.