
" Nie, Rudi tadi datang tapi kamu belum pulang kuliah. Mami suruh Rudi telepon kamu langsung. Telepon tidak dia ? " mami Winnie memberi kabar begitu Winnie masuk menuju ruang keluarga.
" Tidak ada telepon Nie nih mam. Mungkin tidak penting" jawab Winnie sambil menunjukkan handphone di tangannya.
" Ooo ya mungkin mau ngobrol, sudah berapa tahun Rudi berlayar ?" tanya mami Winnie lagi
" Hampir 2 tahun kayaknya tuh"
" Sudah lama juga ya tidak terasa"
" Iya moms"
" Ya sudah sana kamu mandi dulu sebentar lagi kita makan malam"
" Oke, moms"
__ADS_1
Tidak ada yang menelpon dari tadi, Winnie mencek handphonenya. Nanti saya aku menelpon kak Rudi setelah makan malam pikir Winnie dan bergegas mandi karena hampir waktunya makan malam bersama keluarganya.
Makan bersama keluarga di malam hari juga suatu hal yang wajib di lakukan jika ayah Winnie tidak ada meeting dengan klientnya. Dan mereka bercerita tentang kegiatan mereka pada hari ini. Ayah Winnie bukanlah ayah yang otoriter sebagai kepala keluarga walau kesen tegas dan dingin masih terlukis di wajahnya tapi kepada keluarga sangat hangat malah terkadang bisa ikut menggoda atau mengejek tingkah laku ke dua anaknya.
Begitu pula dengan ibu Winnie, bukanlah seorang ibu yang membatasi semua aktivitas anaknya. Ibu Winnie memberikan kebebasan penuh kepada ke dua anak gadisnya. Segala hal boleh di lakukan asal bertanggung jawab dan boleh bermain dan bertemen dengan siapa saja asal ada batasnya.
Subjek hari ini di meja makan keluarga Winnie adalah Rudi, semua keluarga Winnie mengenal Rudi. Hingga ayah Winnie pun mengenal Rudi, walau belum pernah ngobrol dengan Rudi tetapi ayah Winnie sudah beberapa kali bertemu karena Rudi mengantar Winnie pulang dari aktivitas kegiatan bersama.
Winnie dan Rudi sama-sama aktivitas di kegiatan sosial dari teman SMP mereka. Mereka berkumpul seminggu sekali dan mengumpulkan anak jalan deket lampu merah atau deket terminal bis antara kota. mereka mengajarkan membaca dan menulis.
Mereka juga terkadang juga memasak dan memberikan makanan kepada anak-anak jalan dan memberikan bungkus lebih untuk keluarga mereka. Yang terpenting mereka selalu mengajarkan membaca dan menulis supaya anak-anak tersebut lebih dapat melihat dunia lebih indah lagi.
Orang tua Winnie mendengarkan semua kisah tentang aksi sosial yang terhenti, akhirnya mereka menyarankan supaya Rudi bisa mendelegasikan tugas aksi sosial itu kepada orang kepercayaan Rudi jika nanti Rudi berlayar lagi.
Kak Tanti mengenal Rudi bukan dari aksi sosialnya saja melainkan kak Rudi yang jahil, karena tingkatan kak Rudi lebih kecil 1 tahap level pendidikan dari Kak Tanti. Sehingga kak Tanti menganggap Rudi seperti adiknya sendiri.
__ADS_1
Selesai pembahasan kak Rudi dan aksi sosial yang terbengkalai dan solusi dari orang tua Winnie mengakhiri pembicaraan mereka di meja makan. Mereka sekeluarga kembali ke kamar tidur masing-masing dan melakukan aktivitas mereka. Menyelesaikan segala kegiatan yang belum terselesaikan untuk hari itu.
Ibu Winnie kembali kedapur untuk memberikan catatan kepada pembantu rumah tangga masakan yang harus mereka sediakan untuk makan lagi mereka. Dan Winnie menghampiri ibunya, awal Winnie ke dapur tersebut untuk mengambil botol persediaan minum untuk di kamar tidur nya nanti.
" Kamu sudah menghubungi Rudi ?" tanya ibu Winnie ketika bertemu di dapur
" Belum "
" Teleponlah Rudi, tadi Rudi menunggumu juga lumayan lama dia di temani kakak mu itu" jelas ibu Winnie
" Ngobrol dengan kak Tanti ? kak Tanti sudah pulang kantor tadi ?" tanya Winnie bertubi - tubi.
" Kakak mu pulang agak cepat tadi karena daddy mu juga pulang cepat hari ini" jelas mani Winnie menjelaskan kebingungan Winnie.
" Sepertinya Rudi sudah banyak pengalaman selama kerja berlayar" ibu berbicara seperti untuk dirinya sendiri bukan untuk Winnie.
__ADS_1
" Iya, mam mungkin sekarang lebih dewasa tidak pecicilan kayak dulu lagi ya" jawab Winnie mendengar perkataan ibunya. Winnie pun balik ke kamarnya untuk menyelesaikan tugas kampus sebelum dia berencana menelpon Rudi.
------