
Di balik tirai kehidupan sehari-hari, Alifa yang tangguh, seorang pejuang yang tak kenal lelah. Namun, takdir seringkali memaksanya untuk menangis, membasahi pipinya sambil melanjutkan tugas-tugas yang harus diselesaikan. Seperti hujan yang turun di tengah lautan, air mata Alifa mengalir dengan deras tanpa menghentikan langkahnya.
Alifa adalah sosok yang unik, ia memiliki keahlian khusus dalam seni menangis. Ia bisa menangis sambil makan, seakan air mata adalah garam yang menghiasi setiap suap makanannya. Ia bisa menangis sambil mengerjakan tugas, seakan setiap coretan pena adalah luka yang tergores di hatinya. Bahkan saat menulis, jari-jarinya tetap meluncur di atas kertas, sementara tetesan-tetesan kesedihan menumpuk di sudut matanya. Saat bercerita, kata-kata yang keluar dari mulutnya seolah tercipta dari desiran kesedihan yang melintas di dalam hatinya. Sebab, setiap tetes tangis yang jatuh adalah nyala kehidupan yang menghangatkan, mengingatkannya bahwa di balik kesedihan, masih ada harapan yang terus membara.
Seperti angin sepoi-sepoi yang berhembus di padang pasir yang sunyi, Alifa kembali muncul dalam kehidupan ini setelah lama menghilang tanpa jejak. Namun, dengan kehadirannya, luka lama yang telah sembuh seperti terbuka kembali, meninggalkan bekas yang tak terhapuskan. Air mata Alifa mengalir deras, mencerminkan duka yang mendalam.
Dalam tangisnya yang pilu, ia mengutuki dirinya sendiri, "Mengapa kamu harus mencicipi pahit lidahmu sendiri, Fa? Dulu kamu berjanji untuk tidak jatuh cinta pada siapa pun sebelum menikah. Jika saja rasa cinta menyergap hatimu, maka laki-laki itu harus menjadi yang terakhir dalam hidupmu." Alifa menahan kata-katanya sejenak, mencerna kesalahan yang telah dilakukannya.
Kemudian, dia melanjutkan dengan penuh penyesalan, "Kamu tidak adil pada dirimu sendiri. Kamu membiarkannya terluka oleh harapan dan janji-janji palsu. Terlalu polos, Fa. Kamu mengetahui sedikit tentang sifat laki-laki itu sebelum terjerat dalam ikatan hubungan, tetapi kamu masih menerima dia. Betapa sakit hatimu. Trauma itu sekarang menghantui dan membuatmu sulit untuk mempercayai orang lain, kan?"
Alifa menghela napas panjang, seolah mengeluarkan beban berat yang bertumpuk di dalam dadanya.
Dalam keheningan malam yang terbungkus oleh kelam, Alifa duduk sendirian di sudut kamarnya. Air mata mengalir deras dari matanya yang lelah, seolah menjadi sungai kepedihan yang tak terbendung. Di hadapannya, tumpukan tugas menumpuk seperti gunung yang tak terjamah.
__ADS_1
Sambil menangis, Alifa menggenggam pena dengan erat, menorehkan setiap huruf dengan getir. Air mata yang jatuh seperti menghias setiap titik dan garis pada kertas tugasnya, menandai kesedihan yang tak terungkapkan. Dalam tangisnya, ia mencoba melahap secuil makanan, tapi rasanya tak berarti lagi. Setiap gigitan terasa pahit di mulutnya yang terus menangis.
Tugas-tugas menanti dengan kejam, seperti bayangan yang mengikuti Alifa di setiap langkahnya. Namun, ia terus mengerjakannya, meski air mata masih mengalir. Jari-jarinya menari di atas keyboard, menciptakan melodi tangisan yang terdengar samar di antara ketukan huruf-huruf. Kata-kata yang tercipta pun seakan membawa luka dan kehampaan yang tersembunyi dalam setiap kalimatnya.
Alifa terus menulis, sambil terus menangis. Air mata dan tinta berpadu menjadi satu, mengisi halaman demi halaman dengan cerita dan keluh kesahnya. Suaranya bergetar saat bercerita, lirih tetapi penuh dengan kekuatan emosional. Ia telah terbiasa menangis dalam segala situasi, seperti melukis kepedihan di setiap kanvas hidupnya.
Sambil menangis, sambil makan, sambil mengerjakan tugas, dan sambil bercerita, Alifa terus berjuang melawan gelombang kesedihan yang menghantamnya. Setiap tetes air mata yang jatuh adalah sebuah kehendak untuk tetap bertahan, meski dalam kesedihan yang terus menyelimuti dirinya.
Bagaimanapun masa lalumu, kamu punya masa depan yang cerah. Allah pasti akan memaafkan dengan menerima tobatmu. Tidak ada kata terlambat sebelum hari kematianmu. Allahummar zuqni taubatan nasuha qoblal maut. Innahuu huwat-tawwaabur-rohiim.
"Maka adapun orang yang bertobat dan beriman, serta mengerjakan kebajikan, maka mudah-mudahan dia termasuk orang yang beruntung." (QS. Al-Qasas 28: Ayat 67)
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya (tobat nasuha), mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, "Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."" (QS. At-Tahrim 66: Ayat 8)
__ADS_1
Alifa, setelah melewati berbagai tugas dan tanggung jawab, akhirnya merasa waktunya tiba untuk memberikan dirinya sedikit istirahat. Seperti burung yang akhirnya kembali ke sarangnya setelah mengarungi langit biru, Alifa merasa dirinya seperti layang-layang yang bebas terbang, memilih saat ini untuk turun dan beristirahat sejenak.
Saat itu, ia menemukan kenyamanan di atas kasurnya yang lembut seperti awan, seperti kapas yang terjatuh dari langit. Seperti bidadari yang turun dari surga, Alifa merebahkan tubuhnya dan merasakan kelembutan kasur itu merangkulnya dengan penuh kehangatan. Kasur itu menjadi pulau kecil di samudra kelelahannya, tempat ia bisa meredakan gelombang kehidupan yang tak henti menggelayuti.
Dalam keheningan yang mendalam, Alifa mulai berdialog dengan dirinya sendiri. Seperti dua pasang sayap yang beradu kelelahan, pikiran-pikiran dalam dirinya saling berpapasan di ruang batinnya. Seperti petir yang mengguntur di malam gelap, pertanyaan-pertanyaan dan pemikiran yang menggelora berkelebat di dalam pikirannya.
Alifa menyadari bahwa saat ini adalah momen langka, seperti bintang jatuh di tengah malam yang menghadirkan keajaiban yang tidak bisa diulang. Ia pun membiarkan pikirannya melayang bebas, seperti elang yang mengepakkan sayapnya dan melayang tinggi di angkasa. Pikiran-pikiran itu bergerak seperti aliran sungai yang melintasi hutan pada kesunyian, mengalir tanpa henti, membawa kehidupan dan kesadaran.
Dalam dialog batin yang berputar-putar, Alifa merasakan kedamaian yang mengalir dalam dirinya. Seperti embun pagi yang menari di atas daun hijau, ketenangan itu membasahi jiwanya yang kering karena segala hiruk-pikuk dunia. Ia merasakan kekuatan baru yang mengalir dalam dirinya, seperti api yang menyala di tengah kegelapan malam.
Dalam momen rehat yang penuh arti itu, Alifa menemukan kebijaksanaan dalam dirinya yang terpendam. Seperti bunga yang mekar di padang pasir yang tandus, ia menyadari bahwa di saat paling gelap sekalipun, ada keindahan yang tersembunyi di baliknya. Ia merasakan kehadiran dirinya yang seutuhnya, seperti bulan purnama yang bersinar di tengah malam gelap.
Alifa menyudahi dialognya dengan diri sendiri, seperti melengkapi sebuah lukisan dengan goresan terakhir. Ia merasa semangat dan kekuatan yang baru mengalir dalam dirinya, siap untuk melanjutkan perjalanan hidupnya dengan penuh keyakinan. Seperti matahari terbit yang memancarkan sinar kehidupan di ufuk timur, Alifa bangkit dari kasurnya dengan semangat yang membara, siap untuk menghadapi tantangan yang menantinya pada episode-episode kehidupan selanjutnya.
__ADS_1
...****...