Catatan Mahasiswa Akhir

Catatan Mahasiswa Akhir
Menggapai Mimpi dengan Bijaksana


__ADS_3

Setelah beberapa hari berlalu, Alifa pulang kembali ke kosannya dengan hati bahagia dan pikiran yang lebih segar. Ia merasa lebih bersemangat untuk kembali mengejar impian-impian dan tujuannya, tetapi juga menyadari betapa pentingnya memberikan waktu istirahat yang cukup untuk tubuh dan pikirannya. Alifa memang seringkali ingkar dalam menjaga kesehatan, tetapi ia akan berusaha lebih mencintai dirinya sendiri agar sakitnya tidak kambuh terus-menerus.


Saat itu, ketika ia merenung di tengah kamar kosnya, Alifa teringat akan masa-masa sulit yang telah dihadapi sebelumnya. Ia terlalu fokus mengejar cita-citanya tanpa memperhatikan tubuh dan pikiran yang semakin melelahkan. Hal itu membuatnya kehilangan keseimbangan, bahkan sempat merasa terjatuh di tengah perjalanan menuju mimpinya.


Alifa sambil tersenyum bahagia. "Ahh, rasanya begitu lega dan bahagia bisa pulang setelah beberapa hari yang melelahkan. Pengalaman di sana membuatku menyadari betapa pentingnya memberi waktu istirahat yang cukup untuk diri sendiri."


Kamar kos Alifa terlihat bersih dan rapi. Ia duduk di depan jendela sambil membukanya untuk mendapatkan udara segar.


"Aku berjanji pada diri sendiri, mulai sekarang aku akan lebih bijaksana dalam mengatur waktu dan mengenali batas kemampuan diri. Aku tidak boleh lagi memforsir diri. Tubuh dan pikiranku juga butuh istirahat," batin Alifa.


Di samping Alifa, teman sekamar yang tidak lain adalah kakaknya sendiri, Humairah, sedang sibuk mengerjakan laporan proposalnya. Ia melihat Alifa pulang dengan semangat yang berbeda, hal tersebut membuatnya penasaran.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri begitu, Dek? Kayak orang habis menang lotre aja." Humairah berkata sambil mengerjakan tugasnya dan sesekali melirik ke arah Alifa.


"Alifa kenapa ya, Kak? Alifa bingung dengan diri sendiri. Kenapa Alifa jadi lemah begini? Padahal kata ibu, Alifa ini dulunya kuat banget. Hemm ...!" Alifa tersenyum tipis sambil menggelengkan kepalanya. Matanya berkaca-kaca, menahan air mata agar tidak terjatuh.


Humairah menghentikan aktivitasnya. Beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Alifa. Ia memeluk Alifa dari arah belakang. Tatapan Alifa kosong ke arah jendela.


"Dek. Alifa enggak boleh ngomong gitu, dong! Alifa itu adeknya kakak yang kuat. Ibu pernah bilang sama Alifa kan, kalau Alifa pasti sembuh."


Alifa mengangguk. Air matanya mulai menetes beriringan dengan rintik hujan yang turun di luar kamar. Ia membalikkan badan dan memeluk erat tubuh kakaknya.

__ADS_1


"Kalau mau nangis, nangis aja, Dek. Jangan ditahan-tahan." Humairah mengusap-usap punggung Alifa dengan lembut.


"Kak, aku merasa seperti kehilangan diri sendiri. Aku terlalu memaksakan diri, hingga sekarang tubuh dan pikiranku begitu lemah. Aku takut tidak bisa mencapai impian-impianku," ujar Alifa sambil terisak.


Humairah mengelus rambut Alifa dengan lembut sambil melepaskan pelukan mereka. Ia bicara sambil menatap mata Alifa dengan penuh cinta. Tangannya memegang kedua pipi Alifa. "Dek, kamu tidak sendirian. Kita semua punya batas kemampuan yang terkadang membutuhkan waktu untuk beristirahat dan merenung. Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Kamu kuat, dan aku yakin kalau kamu bisa melewati masa sulit ini."


Alifa mengangguk sambil menatap mata kakaknya. Mata Alifa berkaca-kaca. "Tapi aku takut gagal, Kak. Aku ingin membuktikan pada diri sendiri dan juga pada orang-orang terdekat bahwa aku bisa sukses."


Humairah bicara dengan lembut. "Kamu tidak perlu membuktikan apa-apa kepada siapa pun, Dek. Yang penting adalah kamu bahagia dan sehat. Kesuksesan akan datang jika kamu bekerja keras dengan bijaksana dan tanpa melupakan kesehatanmu."


Alifa mengeringkan air matanya. "Terima kasih, Kak. Aku bersyukur memiliki kakak sepertimu yang selalu mendukungku."


Humairah tersenyum. "Itulah tugas seorang kakak, menjaga dan mendukung adiknya. Ayo, bersama-sama kita mengatasi semua ini. Kamu pasti bisa bangkit dan mencapai apa yang kamu inginkan."


Humairah berkata sambil memegang tangan Alifa, "Itu dia, Dek! Aku tahu kamu bisa melakukannya. Jangan lupa, aku akan selalu ada di sampingmu, mendukungmu sepanjang perjalanan ini."


Alifa tersenyum bahagia. "Aku beruntung punya kakak sepertimu, Kak. Terima kasih atas dukungannya."


Humairah bicara dengan bijak. "Tidak perlu berterima kasih. Kita keluarga, saling mendukung adalah hal yang harus dilakukan. Sekarang, mari kita jalani hari ini dengan penuh semangat dan bijaksana!"


Alifa dan Humairah kembali berpelukan, ia merasa lebih lega dan kuat setelah berbicara dengan kakaknya. Mereka saling memberi semangat dan dukungan dalam meraih impian masing-masing. Dari hari itu, Alifa belajar untuk menghargai dirinya sendiri, menjaga kesehatan, dan tidak lagi memforsir diri. Bersama dengan dukungan kakaknya, Alifa tahu bahwa ia dapat menghadapi semua tantangan dan meraih impian-impian yang diinginkannya.

__ADS_1


Dari hari itu, Alifa benar-benar mengikuti janjinya pada diri sendiri. Ia berjanji pada diri sendiri, akan lebih bijaksana lagi dalam mengatur waktu dan mengenali batas kemampuannya. Tidak akan memforsir diri dengan terlalu berlebihan, karena ia menyadari bahwa pikiran dan tenaganya juga butuh istirahat.


Dalam usahanya mengejar impian dan tujuan hidup, Alifa akan mengingat untuk memberikan waktu istirahat yang cukup bagi dirinya. Istirahat bukan berarti kegagalan atau kelemahan, tapi merupakan sebuah kebijaksanaan untuk menjaga keseimbangan antara usaha dan istirahat. Ia sadar bahwa hanya dengan tubuh dan pikiran yang sehat, maka ia bisa berjalan jauh menuju impian-impian tersebut, serta membuatnya semakin produktif dan merasa lebih bahagia dalam mencapai tujuannya. Alifa juga berbagi pengalamannya dengan teman-temannya, mendorong mereka untuk menjaga kesehatan fisik dan mental mereka sambil mengejar impian masing-masing.


Setiap kali merasa terlalu lelah atau terbebani, Alifa berjanji akan memberi kesempatan bagi dirinya untuk beristirahat, mengisi kembali energi dan semangat. Ia tak ingin mengulangi kesalahan masa lalu yang hampir meruntuhkan segalanya. Mengenali batas kemampuan dan memberikan ruang untuk istirahat adalah cara Alifa memastikan bahwa dirinya akan selalu siap untuk menghadapi tantangan dan rintangan di masa depan.


Dengan tekad dan komitmen barunya, Alifa melangkah maju dengan keyakinan dan ketenangan yang lebih. Ia memahami bahwa hidup adalah tentang keseimbangan, dan kini ia siap menghadapinya dengan bijaksana. Impian-impian besar masih ada di depannya, maka dari itu Alifa akan lebih menghargai waktu istirahat dan memahami batas diri agar tiba pada tujuan dengan selamat dan bahagia.


Alifa menuliskan sesuatu di buku hariannya, tentang mimpi dan harapan.


Di tengah hamparan ladang harapan, terdapat seorang perempuan berani yang sedang menggapai mimpi-mimpi dalam keabadian. Seperti bunga yang menghadapi tiupan angin, ia tidak gentar menghadapi tantangan yang bergulir seperti ombak di lautan kehidupan.


Ia adalah cahaya yang berkelap-kelip di antara gelapnya malam, menjelma menjadi bintang yang menuntun arah para pengembara jiwa. Dalam setiap langkahnya, ia menyusuri jalur yang tak terjamah, menembus kabut kebingungan dengan keyakinan yang membara.


Dari jauh, ia tampak seperti burung rajawali yang teguh di angkasa, memandang dunia dengan mata penuh impian yang menjulang tinggi. Kala rintik hujan menyentuh tanah, dia menari-nari dalam lembutnya titik-titik embun yang mencerahkan kegelapan. Begitu juga dengan setiap rintangan yang datang, dia berani menghentakkan langkahnya, mengubah batu-batu tajam menjadi tangga menuju puncak cita-citanya.


Pada setiap pergantian musim, ia selalu bermetamorfosis seperti kupu-kupu yang cantik. Dari seorang gadis polos, ia berkembang menjadi wanita berani yang mengepakkan sayapnya untuk mencapai dunia baru. Seperti ombak yang mengikuti irama laut, dia mengalir dalam kesederhanaan, namun meninggalkan jejak-jejak keajaiban di sepanjang pantai hati orang-orang yang bertemu dengannya.


Dalam cakrawala mimpi, ia seperti penerang malam yang menerangi jalan para pelaut kesulitan. Perempuan itu tak pernah ragu untuk merangkai garis-garis bintang menjadi pola-pola cerita. Dalam goyangan langkahnya, dia mewujudkan rasa cinta dan kebahagiaan bagi orang-orang yang mencari inspirasi.


Ia adalah seorang penyair yang tak kenal batas, menyampaikan pesan-pesan bijak melalui rangkaian kata-kata seperti petir menyambar di tengah kesunyian. Dengan ketekunan dan kesabaran, ia menggelar karpet-karpet harapan yang mengiringi perjalanan panjangnya. Lalu, ketika matahari terbit di ufuk timur, ia tahu bahwa tak ada lagi batas bagi impian yang telah diraih.

__ADS_1


Perempuan itu adalah metafora keberanian yang menggenggam teguh impian dan membuktikan bahwa wanita juga bisa menjadi pelopor perubahan di tengah lautan perjalanan hidup.


****


__ADS_2