
Beberapa bulan kemudian, setelah melewati hari-hari yang cukup melelahkan, menguras emosi, tenaga, dan air mata. Akhirnya Alifa bisa menyelesaikan Laporan PKL dengan baik. Hubungannya dengan Alim pun kembali membaik karena selalu saja ada hal yang mendekatkan mereka kembali. Alim juga turut andil dalam membantu Alifa untuk menyelesaikan berkas-berkas keperluan sidang Laporan PKL, termasuk mengantar Alifa ke kantor tempat perempuan bertubuh mungil dengan kulit kuning langsat ini, tetapi orang lain menyebutnya Muli Lampung bermata sipit dengan kulit putih.
Tiba di kantor perbankan tempat Alifa PKL beberapa bulan lalu, Alifa memberikan berkas wawancara untuk ditandatangani oleh beberapa karyawan termasuk Kepala Unit di sana. Alim menunggu di parkiran karena ia merasa tidak pantas masuk ke kantor karena tidak memiliki kepentingan seperti Alifa.
Alifa masuk ke dalam kantor dengan wajah berseri. Saat membuka pintu, ia disambut dengan hangat.
"Eh, ada Alifa. Gimana kabarnya? Mau ketemu Pak Handoko, ya?" sapa Bu Lita, bagian pemasaran dengan senyum ramah sambil cipika-cipiki dengan Alifa.
Alifa membalas dengan senyuman. "Alhamdulillah, Mbak. Iya, Mbak. Pak Handokonya, ada?"
"Ada di ruangannya. Ketuk aja pintunya, Fa. Saya juga barusan dari ruangan bapak." Bu Lita mempersilakan Alifa ke ruangan Pak Handoko dan ia pamit untuk mengerjakan pekerjaannya.
Alifa berjalan menuju ruangan Pak Handoko. Entah mengapa, jantungnya berdegup kencang, seakan baru pertama kali ingin menemui bos di kantor tersebut.
Tiba di depan ruangan Pak Handoko, Alifa mulai mengetuk pintu.
"Permisi, Pak. Ini Alifa, anaknya Pak Zaidan. Bolehkah saya masuk?" ujar Alifa.
Terdengar suara dari dalam ruangan. "Oh iya, Fa. Masuk aja." Pak Handoko mempersilakan Alifa masuk dengan tangan terbuka.
Alifa membuka pintu. Ruangan persegi yang memang tidak asing lagi bagi Alifa, membuatnya mengingat saat-saat ia harus keluar-masuk ruangan tersebut untuk meminta tanda tangan atau keperluan berkas untuk kebutuhan Laporan PKL-nya.
Alifa dipersilakan duduk.
Duduk di depan Pak Handoko, Alifa mencoba untuk tenang meski masih merasa gugup. Pak Handoko adalah atasan di tempatnya melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL), dan pertemuan ini mungkin sangat penting baginya.
"Ada apa, Alifa?" tanya Pak Handoko dengan ramah, menyadari kegugupan di wajah Alifa.
"Dulu waktu PKL, saya belajar banyak dari Pak Handoko dan ayah saya, Pak Zaidan. Saya sangat berterima kasih atas kesempatan tersebut. Sekarang, saya telah menyelesaikan studi dan ingin berbicara tentang pekerjaan di perusahaan ini. Saya sangat berminat untuk bergabung dan berkontribusi di sini," kata Alifa dengan mantap, berusaha menenangkan diri. Alifa memulai candaannya, padahal ia baru akan sidang Laporan PKL dalam waktu dekat.
Pak Handoko mendengarkan dengan seksama, menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa ia memperhatikan kata-kata Alifa. Mau-maunya lagi ikut terlibat dalam drama yang dibuat Alifa. "Saya senang mendengarnya, Alifa. Kamu memang menunjukkan semangat dan dedikasi selama PKL. Selain itu, hasil pekerjaanmu juga cukup impresif."
"Wah, terima kasih banyak Pak," ucap Alifa dengan tersenyum, merasa sedikit lega dengan tanggapan positif dari Pak Handoko.
Namun, Pak Handoko juga menambahkan dengan bijaksana, "Namun, kamu harus tahu bahwa untuk bergabung di sini, persaingannya cukup ketat. Banyak kandidat berkualitas yang juga menginginkan posisi yang sama." Wajahnya serius banget, padahal Alifa sudah tidak kuat menahan tawa.
__ADS_1
Alifa mengangguk mengerti. "Ya, Pak. Saya paham itu. Saya siap bekerja keras dan terus belajar untuk bisa berkontribusi maksimal di perusahaan ini," ujarnya menahan dengan senyum dikulum.
Pak Handoko tersenyum mengapresiasi sikap positif Alifa. "Bagus, Alifa. Karena saya melihat potensi dalam dirimu, itu sebabnya saya akan memberikan kesempatan padamu. Kamu akan mengikuti tahapan wawancara dengan tim HRD besok pagi. Persiapkan dirimu sebaik mungkin, ya."
"Wah, terima kasih banyak, Pak! Saya tidak akan mengecewakan kesempatan ini," ucap Alifa dengan bersemangat. Lalu, tawanya pecah. Alifa dan Pak Handoko tertawa terbahak-bahak.
Tidak lama kemudian, perempuan yang tingginya hampir sama dengan Alifa, tapi masih tinggi Alifa sekitar satu atau dua senti, mengetuk pintu dan dipersilakan masuk oleh Pak Handoko. Perempuan itu akrab disapa Mbak Ratih. Ia menyuguhkan makanan dan minuman kepada Alifa. Alifa memang sudah seperti keluarga bagi karyawan-karyawan, OB, bahkan Satpam di sana karena rasa peduli, ramah, jujur, dan kepintarannya yang membuat Alifa mudah diterima oleh siapa pun.
"Minum dulu, Mbak Alifa, sambil dicicipin kuenya," kata Mbak Ratih dengan senyum ramahnya.
Alifa membalas senyumannya. "Oh, iya, Mbak Ratih. Terima kasih banyak."
Mbak Ratih pun keluar ruangan. Alifa dan Pak Handoko kembali berbincang dan kini mengarah pada pokok pembahasan yang memang ingin Alifa sampaikan.
"Pak, ini ada beberapa pertanyaan untuk Pak Handoko untuk kebutuhan lampiran pada form wawancara pada laporan saya. Mohon kesediaan waktunya untuk menjawab," ujar Alifa penuh harap.
"Oke. Silakan ajukan pertanyaannya. Saya sambil ngopi, enggak apa-apa, ya?" Pak Handoko memang orang yang ramah dan sangat santai, tetapi ada kalanya ia sangat serius. Jadi, Alifa bisa mengimbangi sikap beliau.
Lalu, tanpa menunggu lama, Alifa memulai wawancaranya.
Kemudian, setelah keluar dari ruangan Pak Handoko, Alifa ke ruangan Bu Lita, Pak Andi, dan yang lainnya. Ia memberikan kuesioner yang harus diisi oleh beberapa orang di kantor tersebut. Lalu tidak lupa dibubuhi tanda tangan setelah menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang ada pada lembar kertas kuesioner tersebut. Alifa juga meminta fotokopi-an beberapa berkas penting.
Setelah mendapatkan semua tanda tangan dan beberapa berkas yang diminta Alifa sudah lengkap, Alifa pamit dan tak lupa berterima kasih kepada semua orang di kantor. Mereka mendoakan keberhasilan Alifa dan semoga kelak bisa bertemu kembali di lain kesempatan.
Alifa mengajak Alim kembali ke kosan, di Bandar Lampung. Sepanjang perjalanan, Alifa tak henti-hentinya bercerita dan mengungkapkan rasa bahagianya karena impiannya untuk bisa lulus tiga tahun sesuai target awal sudah terbuka lebar. Ia akan segera mendapatkan apa yang diinginkan.
Setelah perjalanan yang cukup lama dari kantor perbankan, Alifa dan Alim akhirnya tiba di kosan di Bandar Lampung. Mereka duduk di depan rumah ibu kosan sambil menikmati secangkir kopi hangat. Kosan Alifa memang tidak mengizinkan laki-laki yang bukan mahram untuk masuk ke dalam kamar. Jadi, kalau ada teman laki-laki anak-anak kos, maka harus bertamu di luar; teras rumah ibu kosan yang sudah disediakan tempat duduk.
Alifa sambil tersenyum bahagia. "Alim, aku tidak tahu bagaimana aku bisa mengucapkan terima kasih padamu. Tanpa dukungan dan bantuanmu, aku mungkin tidak akan pernah bisa menyelesaikan Laporan PKL ini dengan baik."
Alim tersenyum lembut. "Kamu tahu, Alifa, aku selalu percaya padamu. Kamu memang memiliki potensi dan kemampuan yang luar biasa. Aku hanya ingin membantu meraih impianmu. Lagian, semua ini berkat kerja keras dan kegigihanmu dalam menyelesaikannya."
"Aku berjanji, nanti jika aku lulus dan berhasil, maka aku akan memberikan hadiah istimewa padamu. Apa yang kamu inginkan?"
"Tidak perlu hadiah istimewa, Alifa. Melihatmu bahagia dan berhasil sudah menjadi hadiah terindah bagiku."
__ADS_1
Alifa tersenyum tersipu. "Terima kasih, Alim. Kamu selalu membuatku tersenyum dan merasa bersemangat."
"Kamu juga selalu membuatku merasa lebih baik setiap kali bersamamu."
Alifa merenung sejenak. "Ingatkan aku untuk tidak pernah menyerah, ya? Aku tahu masa depanku belum tentu mudah, tapi aku akan berusaha sekuat tenaga."
"Aku akan selalu mendukungmu, Alifa. Kita saling menguatkan dan berbagi semangat."
Mereka berdua tertawa kecil, menikmati momen kebersamaan setelah melewati banyak perjuangan. Kehangatan di antara mereka semakin erat dan canda tawa mengisi ruangan kosan Alifa.
Seminggu kemudian, akhirnya tiba saatnya Alifa melaksanakan sidang Laporan PKL. Banyak yang membantunya untuk menyukseskan sidang tersebut, bukan hanya teman-teman kosan, teman dekat di kampus, tetapi teman-teman kakak Alifa juga turut serta membantu. Alifa sangat terharu karena banyak yang peduli dengannya. Mereka mempersiapkan semuanya satu jam sebelum sidang berlangsung.
Hingga tiba waktunya, Alifa pun mempresentasikan hasil Laporan PKL-nya. Semua orang yang ada di dalam ruang sidang, menyimak dengan khusyuk. Apalagi penguji dan pembimbing Alifa, mereka benar-benar memperhatikan Alifa untuk memberikan penilaian.
Kemudian, setelah presentasi selesai. Alifa dan semua audien diminta untuk tunggu di luar. Pembimbing dan penguji pada sidang Laporan PKL Alifa berdiskusi berdua di dalam ruangan.
Tiga puluh menit kemudian, Alifa akhirnya disuruh masuk. Penguji memberitahukan kepada Alifa bahwa Laporan PKL yang baru saja dipresentasikan telah diterima dan ia lulus dengan nilai yang sangat memuaskan yaitu mendapatkan nilai A, ya walaupun ada beberapa hal yang harus diperbaiki, setidaknya usaha Alifa tidak sia-sia. Semua orang yang hadir merayakan berita gembira itu dengan penuh sukacita.
Alifa sambil menggenggam hasil penilaian penguji dan pembimbingnya. "Akhirnya, ini semua nyata. Aku lulus!" Alifa spontan ingin memeluk Alim, lalu ditahan oleh kakaknya; Eliz.
"Oh iya, aku lupa," ujar Alifa dan langsung beralih memeluk kakaknya serta teman-teman perempuannya.
Alim tersenyum lebar. "Selamat, Alifa! Aku tahu kamu pasti bisa. Ini awal dari kesuksesan kariermu."
"Aku tidak akan pernah melupakan semua yang sudah kamu lakukan untukku. Kamu adalah salah satu orang yang sangat berarti dalam hidupku. Terima kasih banyak, ya." Alifa terharu. Matanya berbinar.
Alim tersenyum hangat. "Sama-sama, Alifa. Kapan pun kamu butuh, aku siap membantu."
Yang lainnya pun mengucapkan selamat kepada Alifa. Akhirnya satu misi sudah terlewati, tinggal melewati misi-misi berikutnya untuk bisa wisuda dengan cepat.
Alifa dan semua orang yang hadir di sidang PKL Alifa merayakan keberhasilan tersebut dengan makan bersama dan merencanakan masa depan mereka. Alifa semakin yakin bahwa persahabatan mereka tidak hanya bertahan di masa kuliah, tetapi akan terus berlanjut dalam perjalanan hidup mereka.
Akhirnya, Alifa melangkah dengan percaya diri menuju impian masa depannya. Bukan hanya karena keberhasilannya dalam Laporan PKL, tetapi juga karena kehadiran Alim dan dukungan dari sahabat-sahabatnya yang lain. Mereka menyadari bahwa bersama, mereka bisa mengatasi segala rintangan dan meraih apa pun yang mereka inginkan.
...****...
__ADS_1