
Di pagi yang cerah, Lilis telah bersiap dengan penuh semangat untuk memberikan beberapa buah segar kepada Alifa. Namun, ketika Alifa akan memakan buah-buah yang sudah dikupas dan dipotong oleh kakak sepupunya itu, tiba-tiba dokter datang dan menghampiri mereka berdua. Lilis terlihat agak kaget dan bingung dengan kehadiran dokter, tapi ia tetap tersenyum sopan.
Dokter tersenyum ramah. "Maaf, Bu, saya harus menghentikan Anda sejenak. Alifa sebaiknya tidak boleh makan buah-buahan untuk sementara waktu."
Lilis mengerutkan dahinya karena bingung. "Mengapa, Dok? Bukankah buah-buahan sehat dan baik untuk pemulihan Alifa?"
"Iya, sebenarnya buah-buahan memang kaya akan nutrisi yang baik untuk kesehatan. Namun, dalam kondisi tertentu seperti ini, Alifa perlu menjalani diet khusus. Dia hanya diperbolehkan minum jus jambu merah untuk sementara waktu," jelas dokter.
Alifa mengira kalau dokternya sedang bercanda. Ia menanggapi dengan senyuman. "Jadi selama dua tahun ke depan, aku tidak boleh makan buah, Dok? Yah, masa princess kagak makan buah, Dok. Takut keracunan buah-buahan seperti di film barbie ya, Dok, yang nenek sihir ngasih buah apel. Terus princessnya tertidur. Nanti pangeran datang, menciumnya. Udahnya, bangun si princess. Eh, iya, kan? Film barbie-barbie itu. Yah, gitulah pokoknya. Coba nanti googling aja, Dok." Alifa tertawa kecil. Gaya bicaranya sangat khas dan kalau sudah bicara, ya ia akan bicara terus seperti burung beo. Namun, Alifa bicara memang kalau dibutuhkan saja sih. Tidak langsung menyambar seperti petir. Ia sangat menjaga etika dalam bersikap.
Dokter menggelengkan kepalanya seraya tersenyum mendengarkan ocehan dari Alifa. "Tidak, Alifa. Saya harus memberi penjelasan yang lebih jelas. Kamu bisa mulai makan buah-buahan lagi setelah kondisimu benar-benar pulih. Tapi, ini memang akan memakan waktu, dan kamu perlu mengikuti aturan diet yang telah ditentukan."
Alifa sedikit kecewa dan merasa sangat tersiksa dan kecewa mendengar kabar bahwa ia tidak boleh makan buah-buahan selama dua tahun ke depan. Rasanya seperti mimpi buruk bagi Alifa yang biasanya sangat menyukai buah-buahan dan kini harus menghadapi kenyataan bahwa ia harus menghindarinya untuk jangka waktu yang cukup lama.
"Hmm ..., baiklah, Dokter. Jika ini untuk kesembuhanku, maka aku akan mengikutinya," ujar Alifa. Bunga yang tadi segar, seketika layu. Alifa menunduk dengan muka ditekuk.
Lilis bersimpati "Jangan khawatir, Alifa. Alak akan tetap menyediakan jus jambu merah segar untukmu setiap harinya. Kita akan menjalani ini bersama-sama." Percakapan mereka menggunakan bahasa Lampung.
__ADS_1
Nisa, Ibunda Alifa, mengusap kepala Alifa. "Kamu pasti bisa melewati ini, Nak. Keluarga kita akan selalu mendukungmu."
Meskipun Alifa merasa kecewa karena harus menghindari buah-buahan selama beberapa waktu ke depan, ia tetap tegar dan menerima saran dari dokter dengan lapang dada. Dukungan dari Lilis dan keluarganya membuatnya merasa lebih kuat dan yakin bahwa dia akan segera pulih sepenuhnya. Perjalanan kesembuhannya mungkin akan berlangsung lama, tapi Alifa yakin bahwa bersama dengan perawatan dan dukungan yang tepat, dia akan melewati masa sulit ini dan kembali menjadi sehat seperti sebelumnya.
Di dalam ruangan kecil itu, suasana pun terasa semakin murung. Alifa merasa frustasi karena janji pertemuannya dengan dosen pembimbingnya harus dibatalkan, dan sekarang ia juga harus menahan diri dari kesukaannya untuk makan buah-buahan. Semua perasaan itu campur aduk di hati Alifa, ditambah dengan kondisinya yang masih lemah dan harus dirawat di rumah sakit.
Namun, di tengah-tengah kesedihan dan ketidaknyamanan itu, Alifa merasa beruntung memiliki dukungan dari anggota keluarganya, terutama ibunya yang selalu berada di sampingnya selama masa perawatan. Keberadaan keluarga membuat Alifa merasa lebih kuat menghadapi cobaan ini. Ibu Alifa juga sangat perhatian dalam memastikan Alifa mendapatkan makanan yang sesuai dengan anjuran dokter.
Rosa, alak Alifa, yah kalau dalam bahasa Indonesianya, alak itu "uak" ya, guys! Ia juga memberikan dukungan nyata dengan selalu membawa makanan untuk keluarga Alifa dan memastikan Alifa tetap terpenuhi kebutuhannya selama dirawat di rumah sakit. Semangat dan canda tawa dari Rosa dan keluarga menjadi pelipur lara bagi Alifa dalam situasi sulitnya.
Meskipun Alifa merasa sedih dan frustasi, ia tahu bahwa ini adalah langkah yang diperlukan untuk kesembuhan dan kesehatannya. Ia akan berjuang melewati masa-masa sulit ini dan berusaha untuk tetap menjalani hidup dengan semangat yang tinggi. Selama di rumah sakit, Alifa berencana memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk belajar dan berusaha tetap produktif walaupun di lingkungan yang terbatas.
...***...
Di malam hari, langit dipenuhi dengan gemerlap bintang yang indah, dan suara jangkrik menciptakan suasana alam yang nyaman. Meskipun suasana di luar begitu riuh, Alifa merasa bosan karena keterbatasan aktivitas. Ia mencoba menghibur diri dengan membuka media sosial, tapi isinya monoton dan tak menarik. Tidak dapat menulis atau posting ke websitenya karena tidak membawa laptop dan harus menjaga pikiran tetap tenang. Ia perlu benar-benar istirahat dari rutinitas kampus dan aktivitas lain, kecuali beribadah. Sayangnya, Alifa sulit salat ketika sakit karena selalu haid saat dirawat di rumah sakit.
Malam semakin larut, Alifa terbaring di tempat tidurnya dengan pandangan yang tetap terpaku pada langit malam yang indah. Ia merenungkan betapa besarnya ciptaan Tuhan yang terpancar melalui gemerlap bintang di langit. Suara jangkrik yang konsisten berdengung seperti mengajaknya untuk merenung dalam kesunyian.
__ADS_1
Alifa merasa agak gelisah karena keterbatasan aktivitasnya, namun ia mencoba mencari kenyamanan dalam doa dan ibadah. Ia sadar bahwa saat sakit, salat memang tidak wajib dilakukan, sehingga ia berusaha memahami keadaan dirinya dengan lapang dada.
Di tengah malam yang sunyi, Alifa memutuskan untuk membuka aplikasi bacaan Al-Qur'an di ponselnya. Ia merasa ada ketenangan dan kedamaian ketika melantunkan ayat-ayat suci. Dalam setiap rukuk dan sujudnya, Alifa merasa lebih dekat dengan Sang Pencipta, dan itu memberinya ketenangan hati yang sangat ia butuhkan.
Meski rasa bosan masih menghantuinya, Alifa mencoba untuk bersabar dan menerima situasi dengan lapang dada. Ia menyadari bahwa dalam kesunyian malam ini, ia memiliki kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dengan lebih dalam. Ia berharap agar cepat sembuh sehingga dapat kembali beraktivitas seperti biasa, namun ia tahu bahwa istirahat dan kesabaran adalah kunci dalam proses pemulihan.
Dengan pikiran yang lebih tenang dan hati yang lebih pasrah, Alifa akhirnya tertidur dengan perasaan yang agak lega. Ia meyakini bahwa dalam segala situasi, ada hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik. Sembari menanti kembali beraktifitas, ia berkomitmen untuk selalu merawat diri dan menjaga kesehatan agar dapat lebih produktif di masa yang akan datang.
Pagi tiba dengan sinar matahari yang perlahan menyusup masuk melalui jendela kamar Alifa. Ia terbangun dengan perasaan yang lebih segar dan siap menghadapi hari yang baru. Kehadiran cahaya pagi mengingatkannya akan harapan baru dan kesempatan untuk lebih menghargai setiap momen.
Setelah beristirahat semalam, Alifa merasa lebih bertenaga dan memutuskan untuk berbicara dengan orangtua dan tim medis tentang keinginannya untuk beribadah meskipun dalam kondisi sakit. Mereka pun dengan penuh pengertian mendukung keputusannya dan memberikan saran yang bijak tentang bagaimana Alifa bisa melaksanakan ibadahnya dengan tetap menjaga kesehatan.
Meskipun masih terbatas untuk beraktivitas fisik, Alifa memanfaatkan waktu untuk memperdalam pengetahuan tentang agama dan berbagai bidang lain yang menarik minatnya. Ia membaca buku-buku yang bermanfaat dan mengikuti kelas daring untuk memperluas wawasannya. Dengan bantuan teknologi, ia tetap terhubung dengan teman-teman di kampus dan berbagi cerita serta pengalaman.
Sambil menunggu kesembuhan sepenuhnya, Alifa merasa berbahagia bisa beribadah lagi dan mengisi hari-harinya dengan aktivitas yang bermanfaat. Ia memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana, namun ia berkomitmen untuk tetap tegar menghadapinya dengan sikap positif dan penuh syukur.
Malam kembali tiba, langit dihiasi gemerlap bintang yang sama indahnya. Suara jangkrik masih terdengar nyaring, tetapi kali ini Alifa merasa lebih damai dan bahagia. Ia tahu bahwa dalam setiap malam yang sunyi, ia dapat menemukan kedamaian dan berhubungan dengan Tuhan melalui doa dan ibadah.
__ADS_1
Kisah Alifa mengajarkan bahwa dalam setiap cobaan dan keterbatasan, ada banyak peluang untuk tumbuh dan berkembang. Meski malam yang sunyi kadang membuatnya bosan, ia menyadari bahwa di dalamnya terdapat keindahan yang dapat ditemukan dengan membuka hati dan pikiran. Dengan penuh harapan dan keyakinan, Alifa melangkah ke masa depan dengan semangat yang lebih kuat, siap menghadapi segala tantangan yang menghampirinya.
...****...