
Hari-hari berikutnya, Alifa dengan penuh tekad terus bekerja keras menyelesaikan penelitiannya, berusaha mengenalkan pentingnya sistem pencatatan terkomputerisasi bagi usaha kecil. Ia bahagia bisa memberikan kontribusi dan menghemat biaya agar tidak terlalu boros kertas.
Namun, di tengah semangatnya, Alifa merasa luka-luka jiwanya kembali terbuka ketika pertengkaran dengan Alim terus terjadi. Alifa merasa tidak dipahami sepenuhnya dan kesedihan itu membuatnya pergi dari kosan tanpa tujuan yang pasti. Ia berjalan kaki, mengikuti jalur tak tentu, sambil merasa kesepian dan belum memiliki tempat untuk pulang. Air matanya mengalir deras, pikirannya penuh kegelisahan.
Dalam perjalanannya mencari rumah untuk ditinggali dan menetap, Alifa belajar untuk mempercayai dirinya sendiri dan menghargai perjalanan hidupnya. Ia menyadari bahwa ketakutan dan ketidakpastian adalah bagian dari kehidupan. Dengan penuh keyakinan, ia berjanji untuk terus berjuang mencari tempat yang disebut sebagai rumah sejati, di mana hatinya benar-benar merasa nyaman dan dicintai.
Saat Alifa melanjutkan perjalanan, rasa kekosongan dan kehilangan arah membuatnya menjadi sangat emosional. Ia menangis dengan penuh kesedihan sambil mengomel tentang perasaannya yang rumit dan kerumitannya dengan Alim. Saat itulah, Alifa menjadi pusat perhatian di sekitarnya.
"Kenapa sih, Alim, enggak pernah bisa ngertiin aku? Padahal dia tahu banget bagaimana kondisi mentalku. Seharusnya di saat seperti ini, dia bisa menjadi rumah untukku berpulang. Ini mah, kagak. Malah nambahin beban pikiran." Ia menangis sepanjang jalan sampai dilihat oleh orang-orang yang dilalui.
Dalam kekosongan dan kehilangan arah itu, seharusnya Alim bisa menjadi tempat berlindung bagi Alifa, tetapi kenyataannya Alim terus menguji kesabaran Alifa dengan pertengkaran yang tidak kunjung usai. Perasaan kekecewaan dan kesedihan semakin mengisi hati Alifa.
Di tengah kebimbangan, Alifa berusaha mencari kedamaian dalam dirinya sendiri. Ia mencoba merenung dan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung terjawab. Namun, kesulitan ini tidaklah mudah bagi Alifa, karena luka-luka masa lalu terus menghantuinya.
"Aku kira sudah bisa berdamai dengan masa lalu, nyatanya orang yang pernah terlibat di masa lalu dan salah satu penyebab kesehatan mentalku terganggu malah bikin ulah. Tak bisakah buat aku hidup tenang? Belum lagi masalah drama di kampus, terus sikap Alim yang suka kekanak-kanakan. Capek aku, ya Allah! Aku capek!" Alifa menangis sesenggukan.
Tidak terasa, ternyata langkah kaki Alifa sudah jauh. Ia juga sudah lelah berjalan. Akhirnya, setelah sampai di jalan raya, Alifa menelepon salah satu teman dekatnya yang memang sudah biasa dimintai tolong.
"Darma! Kamu lagi di mana?" tanyaku dengan napas tak beraturan. Keringatku becucuran karena terik matahari.
"Lagi di rumah. Kenapa, Fa?" tanya Darma yang sudah tahu kebiasaan buruk Alifa. Perasannya sudah tidak enak.
"Boleh minta tolong jemput aku di istana buah, enggak? Aku berantem lagi sama Alim." Alifa mengelap keringatnya yang tak henti bercucuran.
"Ya udah, tunggu di sana," jawab Darma yang tidak pernah menolak untuk membantu kapan pun Alifa butuh.
__ADS_1
Alifa pun melihat sekelilingnya, banyak orang berlalu lalang di sana dengan kesibukan mereka masing-masing. Banyak yang sedang berjuang untuk hidup mereka agar bisa mencukupi kebutuhan, mengejar impian, dan lainnya. Karena pada dasarnya, setiap orang sedang berjuang dengan permasalahannya masing-masing.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Darma datang juga. Ia menghentikan motornya, tepat di hadapan Alifa. Wajah Alifa tampak lesu dan pucat.
"Kalian berantem kenapa lagi?" tanya Darma merasa prihatin.
"Nanti aku ceritakan di perjalanan aja. Yuk, kita pergi dari sini dulu," pinta Alifa dengan nada letih.
Darma mengangguk. Alifa menaiki motor. Lalu, setelah posisi dusuk Alifa sudah benar, aman, dan nyaman, Darma melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Saat motor sudah dijalankan, Alifa mulai menceritakan beberapa permasalahan yang sedang dihadapi, termasuk seseorang di masa lalunya yang terus-terusan mengganggu hidupnya. Darma mendengarkan dengan saksama.
Selama di perjalanan, sambil bercerita, air mata Alifa menetes kembali. Darma berusaha untuk menenangkan Alifa, sehingga fokusnya terbagi, memperhatikan jalan sambil mendengarkan curhatan Alifa.
Hingga tiba di kosan Alifa, Darma tidak pergi sebelum Alifa benar-benar tenang. Ia adalah sosok sahabat terbaik buat Alifa, yang selalu ada untuk Alifa. Itu sebabnya Alifa merasa ada yang melindunginya.
Alifa tersenyum.
"Nah, begitu dong. Kalau senyum kan enak ngeliatnya. Ini baru temenku yang selalu menunjukkan keceriaannya." Darma tersenyum seakan puas karena sudah bisa mengembalikan senyum Alifa.
"Makasih ya, Darma. Kamu memang teman terbaikku. Sahabat sih harusnya, ya. Sahabat terbaik yang selalu ada kapan pun aku butuh. Sabar dalam menghadapi temennya yang suka mood swing. Makasih, makasih banyak pokoknya."
Darma pun pulang dengan rasa lega. Alifa langsung menuju kamarnya.
Meskipun dalam kesulitan, Alifa tetap gigih menjalani kehidupannya. Ia berusaha memahami dan menerima dirinya sendiri, sekaligus mencari cara untuk berdamai dengan masa lalu dan hubungannya dengan Alim.
__ADS_1
...***...
Ketika malam tiba, Alifa duduk di bawah bintang-bintang, berbicara dalam hati dengan harapan dan keinginan yang baru. Ia berusaha meyakinkan diri bahwa ada cahaya di ujung setiap gelap. Mungkin suatu saat nanti, Alifa akan menemukan kedamaian sejati, entah dengan Alim atau dengan cara yang berbeda.
Dengan hati yang lebih ringan, Alifa melanjutkan perjalanannya. Ia tahu bahwa masih banyak tantangan yang harus dihadapi, tetapi ia percaya bahwa setiap langkah akan membawanya lebih dekat pada rumah sejatinya. Alifa belajar untuk menghargai setiap momen, karena di dalamnya terdapat kekuatan untuk terus maju dan menemukan tempat yang akhirnya akan menjadi rumah bagi hatinya.
Alifa memejamkan mata, melepaskan semua lelah dan melupakan permasalahan yang tak henti-hentinya menghampiri hidupnya. Namun, ia harus berusaha untuk tetap tegar untuk membuktikan kepada kedua orang tuanya, terutama ayahnya bahwa ia bisa menjadi anak kebanggaan sang ayah seperti kakaknya; Humaira.
Dengan tekad yang bulat, Alifa menghadapi setiap rintangan dengan semangat juang yang membara. Ia mengambil pelajaran dari kakaknya, Humaira, yang telah menjadi teladan dalam keluarga. Meskipun hatinya terkadang gemetar dan ragu, Alifa tidak pernah menyerah. Ia tahu bahwa perjalanan menuju kesuksesan tidaklah mudah, tetapi ia berkomitmen untuk berusaha sekeras mungkin.
Di balik mata yang terpejam, Alifa merenung tentang impian dan tujuannya. Ia membayangkan saat-saat di mana ia akan bisa mengangkat kepala dengan bangga dan memberikan kebahagiaan kepada ayahnya. Dalam setiap hembusan napasnya, ia merasa semangat baru membara, mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia memiliki potensi yang luar biasa.
Perlahan tetapi pasti, Alifa membuktikan dirinya melalui usaha dan dedikasinya. Ia mengumpulkan keberanian untuk berbicara dengan ayahnya tentang impian dan tujuannya, mengungkapkan keinginannya untuk menjadi seseorang yang berarti dalam hidup. Meskipun ada ketegangan dan keraguan, percakapan itu memperkuat tekad Alifa untuk terus maju.
Setiap kali memejamkan mata, Alifa tidak hanya melepaskan lelah, tetapi juga memvisualisasikan masa depan gemilang yang diupayakan. Ia menyadari bahwa perjalanan ini adalah bagian tak terpisahkan dari pertumbuhan pribadinya dan bersiap menghadapi apa pun yang datang dengan kepala tegak serta hati yang penuh keyakinan.
Dalam perjalanan panjang ini, Alifa menemukan dukungan yang tak tergantikan dari keluarga dan teman-temannya. Mereka memberinya semangat dan dorongan yang dibutuhkan untuk terus berjuang. Ia juga belajar untuk mengelola perasaan cemas dan keraguan yang kadang-kadang muncul, dengan mengingat kata-kata bijak kakaknya, Humaira, tentang pentingnya menjaga pikiran positif.
Saat ia melangkah maju dengan tekad yang kuat, perlahan tapi pasti Alifa berhasil meraih pencapaian-pencapaian kecil yang membawa harapan lebih besar. Setiap kali berhasil mengatasi hambatan, ia merasa semakin dekat dengan tujuannya. Meskipun ada saat-saat ketika lelah hampir menghancurkan semangatnya, ia mengingat betapa pentingnya tetap berpegang pada mimpi dan tujuannya.
Suatu hari nanti, Alifa akan merasakan antara kegembiraan dan ketegangan saat waktu membuktikan kepada ayahnya bahwa dirinya bisa berhasil dalam potensi yang dimiliki. Dalam momen yang penuh emosi itu, Alifa membayangkan akan mengungkapkan semua yang telah diraih, semua usaha dan pengorbanan yang telah diberikan. Saat itu, mata ayahnya penuh dengan bangga dan haru, saat ia menyadari betapa besar upaya Alifa untuk menjadi anak yang kuat dan tangguh.
Alifa akan merasakan lega yang dalam setelah mendapatkan pujian dari ayahnya. Ia pun akan menyadari bahwa perjalanan yang ditempuh selama ini adalah bagian dari jalan menuju kematangan dan pertumbuhan, bukan hanya sebagai individu, tetapi juga sebagai seorang anak yang ingin membuat kedua orang tuanya bangga. Dalam setiap hembusan napasnya, ia tahu bahwa perjuangan belum berakhir, tetapi ia siap menghadapi apa pun yang akan datang dengan penuh keyakinan dan tekad yang tak tergoyahkan.
Hingga akhirnya, Alifa pun tertidur dengan nyenyak setelah ilusi membawanya kepada impian-impian yang diharapkan.
__ADS_1
...****...