Catatan Mahasiswa Akhir

Catatan Mahasiswa Akhir
Ketekunan Alifa Menginspirasi


__ADS_3

Meskipun harus melalui banyak kunjungan ke rumah sakit, Alifa tetap gigih mengejar ketinggalan materi perkuliahan. Suatu pagi, dengan hati tenang, ia mendengarkan pengumuman dari seorang dosen Rekayasa Perangkat Lunak mengenai penerima tiket bebas Ujian Tengah Semester dan Ujian Akhir Semester. Deg-degan dirasakan semua mahasiswa di kelas, termasuk Alifa yang tidak berharap banyak karena absennya selama berbulan-bulan akibat penyakit. Libur kuliah yang berlebihan membuatnya sadar akan keterbatasan yang mungkin memengaruhi hasilnya.


"Sekarang saya akan berikan petunjuk. Di kelas ini, akan ada dua mahasiswa yang patut mendapatkan penghargaan atas ketekunan mereka dalam belajar. Keduanya terdiri dari laki-laki dan perempuan," kata Pak Zul, sang dosen.


Mahasiswa-mahasiswa mulai berspekulasi siapa yang akan mendapatkan tiket bebas ujian itu.


Pak Zul memberikan petunjuk lagi terkait kedua mahasiswa beruntung itu.


"Orang-orang ini berada di sebelah kiri dan kanan saya."


Mahasiswa yang duduk di tengah merasa tidak berharap lagi. Mereka semakin penasaran.


Tiba saatnya Pak Zul mengungkap identitas mereka.


"Mahasiswa laki-laki adalah Wahyu, dan yang perempuan adalah Alifa," ucapnya dengan tegas.


Alifa terkejut. Ia tidak pernah membayangkan bahwa salah satu yang terpilih adalah dirinya.


Seorang teman di sampingnya mengucapkan selamat sambil tersenyum.


"Selamat! Aku sudah tahu, pasti kamu yang akan mendapatkannya," ujar Aryani sambil tersenyum pada Alifa.


Alifa tersenyum, masih dalam keadaan tidak percaya. "Iya, makasih. Aku tidak berharap sama sekali, Mbak. Kan aku sering absen kuliah karena sakit."


Alifa memanggil Aryani dengan sebutan "Mbak" karena Aryani lebih tua darinya.


Pak Zul menjelaskan lagi alasannya memilih Wahyu dan Alifa sebagai mahasiswa berprestasi yang pantas mendapatkan penghargaan.


"Saya telah memantau mereka sejak awal kuliah hingga sekarang. Keduanya sangat tekun dalam belajar. Semua tugas dikerjakan dengan baik. Saya sungguh kagum dengan dedikasi mereka berdua. Saya ucapkan, selamat untuk kalian berdua."

__ADS_1


"Terima kasih, Pak," balas Alifa, merasa tidak tahu kata-kata apa yang bisa diucapkannya lagi. Perasaan haru sungguh terpancar dari pencapaian yang telah diraih selama ini.


Ketika Alifa mengucapkan terima kasih dengan suara yang lirih, ekspresi terharu jelas terlihat di wajahnya. Ia merenung sejenak, teringat perjuangannya yang keras dalam mengejar ketertinggalan. Setiap kunjungan ke rumah sakit, setiap upaya belajar yang ditekuninya, semua itu akhirnya membuahkan hasil yang manis.


Pak Zul tersenyum ramah, melihat reaksi Alifa. "Kamu layak mendapatkan apresiasi ini, Alifa. Keterbatasan yang kamu hadapi tidak pernah menghalangimu untuk tetap gigih belajar. Ini adalah pengakuan atas dedikasimu," ujar Pak Zul dengan tulus.


Alifa memandang Pak Zul dengan rasa bangga dan berterima kasih. Ia merasa bahwa usaha dan kerja kerasnya tidak sia-sia. Semua itu menjadi semakin berharga dengan hadiah yang ia terima hari ini.


Sambil mengusap mata yang sedikit berkaca-kaca, Alifa berpaling ke arah Aryani yang duduk di sebelahnya. "Terima kasih, Mbak. Kamu selalu mendukungku dan percaya padaku meskipun aku sering absen kuliah."


Aryani tersenyum hangat. "Kamu pantas mendapatkannya, Alifa. Ini hasil dari usahamu sendiri. Aku hanya senang bisa menjadi bagian dari perjalananmu."


Sementara itu, suasana di kelas pun menjadi hangat. Teman-teman Alifa memberikan tepuk tangan dan senyuman penuh dukungan. Mereka mengakui betapa kerasnya Alifa dalam usahanya demi mengejar ketinggalan.


Pak Zul melanjutkan pengumumannya tentang rencana penghargaan tersebut. "Selain tiket bebas ujian, kalian berdua juga akan mendapatkan akses ke seminar ekstra mengenai rekayasa perangkat lunak. Ini kesempatan langka untuk mengembangkan pengetahuan kalian lebih lanjut."


Alifa tersenyum lebar, merasa begitu beruntung mendapatkan kesempatan ini. Pandangannya terasa lebih jelas, semangatnya semakin membara, dan ia merasa siap untuk menghadapi ujian-ujian yang akan datang.


Dari arah belakang, suara memanggil nama Alifa menggema. Suara itu terdengar akrab.


"Alifa...! Kamu benar-benar, deh. Jalannya cepat banget," kata Farah dengan napas terengah-engah. Sekarang, Alifa dan Farah saling berhadapan. "Cie... yang mendapatkan tiket bebas ujian dari Pak Zul," goda Farah sambil mengusap perutnya yang semakin membesar. Farah telah memutuskan untuk menikah muda dengan seorang duda yang sudah memiliki seorang anak laki-laki. Kehidupan memang penuh dengan pilihan dan itulah yang Farah pilih untuk dirinya.


"Udah, ngomongnya?" Alifa merespons sambil mengambil napas dalam-dalam. "Kamu ini, tidak bisa berbicara dengan tenang, ya? Kamu bahkan lupa kalau kamu sedang hamil. Jalannya ngebut banget lagi. Kamu ingat enggak, pernah hampir terjatuh saat berada di kosanku tempo hari?"


Farah meminta maaf sambil menggelengkan kepalanya. "Maaf ya, Alifa. Aku turut senang untukmu. Lagipula, kamu seperti ibu-bapak Farah, suka banyak bicara. Padahal, kamu belum menjadi seorang ibu," keluh Farah dengan senyum.


Keduanya saling tertawa menghadapi momen lucu ini, mengingat semua kenangan dan perjalanan panjang persahabatan mereka.


Sambil tertawa, Alifa menyentuh perut Farah dengan penuh kehangatan. "Kamu dan si kecil harus sehat-sehat ya, Farah. Aku senang berteman denganmu, meskipun kamu selalu membuatku terkejut dengan caramu yang begitu spontan."

__ADS_1


Farah membalas sentuhan Alifa dengan senyuman lembut. "Terima kasih, Alifa. Aku tahu kamu selalu ada untukku. Kamu selalu mendukungku, bahkan dalam keputusan gila seperti ini."


Alifa tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja, sahabatku. Kita selalu berbagi segala cerita dan perjalanan hidup. Meskipun kita memilih jalan yang berbeda, tetapi aku senang melihatmu bahagia."


Farah merasa bersyukur memiliki sahabat seperti Alifa. "Aku juga bersyukur memiliki kamu, Alifa. Kamu adalah sosok yang selalu memberiku semangat dan inspirasi. Dan sekarang, kamu harus fokus menghadapi ujian sidang proposalmu dengan baik. Aku yakin kamu akan sukses."


Alifa mengangguk tegas. "Aku akan berusaha sebaik mungkin. Terima kasih atas dukungannya, Farah."


Dengan senyum penuh kehangatan, mereka berdua berjalan bersama, mengobrol tentang masa lalu, masa depan, dan segala hal yang dibagikan. Persahabatan mereka tetap kuat, meskipun jalan hidup mereka berbeda. Keduanya menyadari bahwa sahabat sejati selalu mendukung satu sama lain, tanpa menghiraukan perbedaan atau pilihan yang diambil.


Setelah momen hangat dengan Farah, Alifa dan Farah harus berpisah di gerbang utama kampus. Farah tersenyum pada Alifa sambil berkata, "Ayo, Alifa. Aku akan dijemput oleh suamiku. Semoga ujiannya lancar, ya!"


Alifa tersenyum balik. "Terima kasih, Farah. Semoga kamu juga sehat-sehat selalu. Sampai jumpa!"


Sementara Alifa berjalan kaki menuju kosannya yang tidak terlalu jauh dari kampus, Farah melanjutkan langkahnya bersama suaminya yang sudah menunggunya. Mereka pergi dalam pelukan hangat dan tawa lembut, menunjukkan kebersamaan dan kebahagiaan mereka dalam memilih hidup bersama.


Alifa melangkah sendirian, merenung tentang segala hal yang telah terjadi hari ini. Ia merasa beruntung memiliki teman sebaik Farah, yang selalu ada untuknya dalam suka dan duka. Ketika tiba di kosannya, Alifa merasa semangat dan tekadnya semakin kuat. Ujian mungkin menantang, tetapi ia tahu bahwa dengan ketekunan dan dukungan teman-temannya, ia bisa menghadapinya dengan baik.


Perpisahan Alifa dan Farah di gerbang utama kampus menggambarkan bagaimana hidup membawa kita ke berbagai arah, tetapi persahabatan sejati akan selalu tetap ada, menghubungkan kita dalam ikatan yang kuat.


Dalam perjalanan Alifa menuju kosannya, langit perlahan berubah warna, memancarkan nuansa senja yang tenang. Di sepanjang jalan, Alifa merenung tentang momen-momen indah yang baru saja dialaminya. Ia merasa semakin termotivasi untuk menghadapi ujian-ujian yang akan datang.


Saat sampai di kosannya, Alifa melepas sepatunya dan duduk sejenak di meja belajar. Ia membuka bukunya dan mulai memeriksa materi yang perlu dipelajari. Cahaya lampu temaram menerangi ruangan, menciptakan atmosfer yang tenang dan khusyuk.


Di sela-sela belajar, Alifa teringat obrolan dengan Farah. Dia tersenyum mengenang bagaimana sahabatnya itu kini memulai babak baru dalam hidupnya. Meskipun jalannya berbeda, mereka masih saling mendukung dan bersama dalam persahabatan yang kuat.


Beberapa jam berlalu, Alifa merasa lelah, tetapi puas dengan usahanya belajar. Ia menutup bukunya dengan perasaan lega. Tidak lupa, Alifa mengambil telepon genggamnya dan mengirim pesan singkat pada Farah.


"Semoga kamu selalu bahagia ya, Farah. Aku yakin kamu akan menjadi ibu yang hebat. Kamu belajar yang giat untuk ujian RPL nanti. Aku juga akan berusaha semaksimal mungkin dalam sidang proposal nanti. Doakan semoga proposalku segera acc sidang. Sampai jumpa nanti!"

__ADS_1


Setelah mengirim pesan tersebut, Alifa merasa lega. Ia mengetahui bahwa persahabatan mereka akan selalu ada, meskipun jarak dan waktu memisahkan. Dengan perasaan yang damai, Alifa merencanakan untuk tidur dan menghadapi hari berikutnya dengan semangat baru.


...****...


__ADS_2