Catatan Mahasiswa Akhir

Catatan Mahasiswa Akhir
Kondisi Alifa Membaik


__ADS_3

Suasana pagi itu terasa hangat dan penuh harapan di kamar Alifa dirawat. Cahaya matahari menyelinap lewat jendela dan menerangi wajah Alifa yang sedang berbaring di tempat tidur. Meskipun sedang dalam masa pemulihan, Alifa tetap memberikan senyuman cerah ketika Bu Dokter memasuki kamarnya.


Dokter dengan ramah menyapa Alifa, menunjukkan kepedulian dan perhatian yang tulus terhadap kondisinya. Dalam kehangatan percakapan, Bu Dokter menanyakan bagaimana perasaan Alifa hari ini, dan harapan untuk mendengar kabar baik mengenai perkembangan kondisinya.


"Pagi, Alifa! Bagaimana kondisimu hari ini? Apakah sudah lebih baik?" sapa Bu Dokter dengan senyumnya.


Alifa dengan rendah hati mengungkapkan bahwa ada beberapa perbaikan dalam kondisinya. "Pagi juga, Dok! Alhamdulillah, sudah mendingan, dong! Cuma masih sakit kepalanya. Napasnya juga enggak beraturan."


Meskipun ada keluhan, Alifa berusaha tetap optimis bahwa ia pasti sembuh dengan menunjukkan semangat dalam proses penyembuhannya. Alifa tersenyum dengan penuh harapan.


Bu Dokter memberikan dukungan dengan senyumannya yang hangat, mengapresiasi perbaikan yang telah terjadi, tetapi tetap berkomitmen untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Ia ingin memastikan bahwa Alifa mendapatkan perawatan terbaik. Dengan penuh perhatian, Bu Dokter menyatakan bahwa akan memeriksa kondisi Alifa dengan mengambil sampel darah, sebagai bagian dari langkah medis untuk memantau perkembangan penyembuhannya.


Suasana kamar terasa tenang, meskipun ada ketegangan ringan terkait pemeriksaan yang akan dilakukan. Namun, Alifa merasa nyaman dengan kehadiran Bu Dokter yang memberikan perhatian penuh padanya. Semangat Alifa yang kuat dan perawatan yang teliti dari Bu Dokter menjadi harapan bersama untuk pemulihan yang lebih baik di hari-hari mendatang.


Setelah itu, Bu Dokter memeriksa Alifa dengan teliti. Ia memeriksa tekanan darah, mendengarkan detak jantung Alifa, dan mengukur suhu tubuhnya. Alifa terlihat sedikit tegang, tetapi tetap berusaha tenang.


Bu Dokter kemudian mengambil sampel darah dengan hati-hati. Alifa menahan rasa sakit dan menggigit bibirnya. Setelah selesai, Bu Dokter memberi pujian pada Alifa atas kerja samanya.


"Bagus, Alifa! Kamu sangat berani," puji Bu Dokter sambil tersenyum. "Hasil tes darahnya akan keluar dalam beberapa jam lagi. Sementara itu, kita akan terus memantau kondisimu."


"Baik, Dok. Apakah saya bisa pulang hari ini?" tanya Alifa dengan harapan.


Bu Dokter menggeleng lembut. "Belum, Alifa. Kami perlu memastikan bahwa semua gejala yang kamu alami sudah benar-benar mereda dan kondisimu stabil. Jangan khawatir, kami akan merawatmu dengan baik di sini."


Alifa mengangguk dan berterima kasih. Ia merasa sedikit kecewa, tapi juga tahu bahwa keputusan terbaik adalah tetap berada di bawah pengawasan dokter.


Selama berada di kamar, Alifa merasa senang karena banyak keluarga dan beberapa temannya yang datang menjenguk, bahkan teman-teman akrab kakaknya pun turut menjenguk dan menyemangati Alifa. Mereka membawa buah-buahan, camilan seperti roti dan wafer, bunga, serta kartu dengan harapan Alifa segera sembuh. Suasana kamar pun menjadi riuh dengan tawa dan obrolan ceria.


Beberapa jam kemudian, hasil tes darah Alifa keluar. Bu Dokter kembali masuk ke dalam kamar sambil membawa selembar kertas hasil tes.


"Alifa, ada kabar baik! Hasil tes darahmu menunjukkan perkembangan yang bagus. Infeksinya sudah berkurang, dan organ-organ utama dalam tubuhmu tampak lebih stabil," ucap Bu Dokter dengan senang.


Alifa tersenyum bahagia mendengarnya. "Jadi, kapan saya bisa pulang, Dok?"


Bu Dokter menjelaskan, "Kami akan terus memantaumu selama 1-2 hari ke depan. Jika kondisimu tetap stabil, dan infeksinya terus menurun, maka kamu boleh pulang. Tapi ingat, kamu harus banyak istirahat dan minum obat sesuai dengan resep yang diberikan. Apalagi kondisi lambungmu sangat memprihatinkan. Tolong benar-benar dijaga pola makan dan pola hidupnya, ya!" Bu Dokter berkata, seolah-olah aku adalah anaknya.


Dokter tersebut memang dikenal sangat baik dan perhatian kepada semua orang, apalagi pasiennya, ia selalu ramah, sehingga bisa membuat pasien-pasien yang ditangani tidak tegang.


Alifa berjanji akan patuh dengan perintah dokter. Dia merasa lega mendengar perkembangan positif mengenai kondisinya.


Hari berlalu, kondisi Alifa terus menunjukkan peningkatan yang baik. Bu Dokter merasa senang melihat perkembangannya yang menggembirakan. Setelah dua hari perawatan tambahan, akhirnya Alifa diperbolehkan pulang.


"Selamat tinggal, Bu Dokter! Terima kasih atas perawatannya," kata Alifa sambil berlari kecil keluar dari kamar.

__ADS_1


"Sampai jumpa, Alifa! Jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatanmu," sahut Bu Dokter sambil melambaikan tangan.


Alifa kembali ke rumah dengan perasaan bahagia. Meskipun perjalanan pemulihannya belum selesai, tetapi ia yakin dengan dukungan dari keluarga, teman-teman, dan perawatan yang baik dari dokter, ia akan sembuh sepenuhnya.


"Kun fayakun biidznullah!" Alifa menyerahkan harapannya hanya kepada Allah.


Hari ini adalah hari yang istimewa bagi Alifa karena ia pulang ke Kalianda bersama orang tuanya. Mereka telah merencanakan perjalanan ini untuk memberikan Alifa kesempatan agar benar-benar merehatkan diri dari segala aktivitas yang menuntutnya selama ini.


Orang tua Alifa sangat paham dengan sifat keras kepala anaknya. Apalagi sejak Alifa kuliah dan tinggal di kosan, ia selalu saja sibuk dengan ambisi dan keinginannya untuk berhasil dalam studi dan kehidupannya. Padalah pikiran dan tenaga juga membutuhkan waktu beristirahat. Alifa sering banget memforsir pekerjaannya, sehingga berkali-kali tubuhnya menuntut untuk direhatkan.


Saat Alifa tiba di rumah, kedua orang tua Alifa mempersilakan masuk. "Selamat datang kembali di rumah kita, Nak! Kami senang karena akhirnya kamu bisa pulang ke rumah setelah hampir sebulan minap di rumah sakit."


Alifa tersenyum lebar. "Terima kasih, Ibu, Ayah! Aku juga senang bisa pulang. Di rumah sakit sangat membosankan, enggak bisa ngapa-ngapain. Gerak dikit aja, infusnya nyedot darah Akifa. Terus Alifa pengen ngerjain tugas, disuruh istirahat. Alifa paling enggak bisa diem aja, Bu. Ibu tahu itu, kan?" Alifa menggerutu. Bibirnya maju satu senti.


Semua orang tertawa melihat ekspresi Alifa yang memang khas banget; cerewet, suka mengambek, dan kalau sudah marah sama seseorang, pasti lama banget bisa meredakan emosinya. Nisa, Ibu Alifa, sampai khatam kalau anaknya lagi marah atau mengambek, didiamkan saja. Nanti juga emosinya reda sendiri kalau sudah mengomel-ngomel.


Terkadang seseorang hanya butuh waktu menyendiri untuk meredakan emosi dan mendamaikan hati serta pikiran. Sifat Alifa yang ini memang sama persis dengan ibunya.


Zaidan, Ayah Alifa, berkata dengan lembut. "Kamu tahu, Alifa, kami memahami betul sifat keras kepalamu. Kami tahu betapa ambisiusnya kamu dalam mengejar mimpi. Tapi hari ini, kami ingin kamu benar-benar istirahat. Pikiran dan tubuhmu butuh waktu untuk pulih."


Nisa menambahkan, "Yang merasakan sakit itu, kamu. Jadi, ibu harap kamu bisa menjaga diri ya, Nak. Tolong jaga kesehatan. Jangan selalu membuat kami khawatir."


Alifa tersenyum malu. "Iya, Ayah, Ibu. Alifa memang sering memforsir diri, tapi Alifa enggak bisa diem aja. Alifa takut tertinggal. Nanti target lulus Alifa melesat lagi kalau Alifa enggak ngerjain tugas dan izin kuliah terus. Apalagi Alifa sekarang lagi menyusun laporan PKL. Kapan selesainya coba kalau belum bimbingan lagi."


"Sebenarnya, Alifa ingin sekali duduk santai sambil membaca buku kesukaanku. Tapi sejujurnya, ada rasa takut kalau-kalau ada tugas yang tertunda."


Zaidan mencoba membuat anaknya memahami situasi dan kondisi yang sedang dijalani. "Tenang saja, Nak. Kami akan membantu mengingatkanmu kalau ada tugas yang perlu dikerjakan, tapi untuk saat ini, biarkan pikiranmu beristirahat. Nanti bisa minta tolong teman-temanmu untuk mengirim catatan dan memberitahu tugas-tugas yang diberikan oleh dokter.


Alifa mengangguk. "Baik, Ayah. Alifa akan mencoba untuk benar-benar merelaksasi diri dan menikmati waktu bersama kalian."


Selama beberapa hari di Kalianda, Alifa benar-benar menikmati momen istirahatnya. Ia merasa senang bisa berkumpul bersama keluarga dan melupakan sejenak semua tekanan serta tuntutan yang biasa dihadapi di kosannya. Orang tua Alifa dengan sabar membantunya untuk benar-benar melepaskan diri dari rutinitas yang menguras energi.


Di taman belakang, Alifa duduk santai sambil membaca buku kesukaannya. Wajahnya terlihat lebih cerah dan rileks. Ia juga lebih banyak berbicara dengan orang tuanya, berbagi cerita, dan tertawa bersama. Semua itu membuat orang tua Alifa sangat bahagia melihat putrinya menikmati waktu bersama keluarga.


Kakak Alifa menelepon ibu mereka dari kosan.


"Bu. Gimana keadaan Alifa? Apakah sudah membaik?" tanya Humairah, kakak Alifa, berharap mendapatkan jawaban baik dari mulut ibunya.


"Alhamdulillah, sudah cukup baik, Kak. Kakak gimana laporan proposalnya? Sudah sampai mana, nih?" Nisa menunjukkan kepedulian kepada Humairah karena ia sadar bahwa putri sulungnya itu selalu direpotkan dengan menjaga kedua adik-adiknya, Alifa dan Billal.


"Insyaa Allah, segera selesai, Bu. Doakan Humairah ya, Bu. Semoga bisa selesai tahun ini." Humairah tersenyum dan berterima kasih kepada Allah karena memiliki seorang ibu yang begitu perhatian padanya karena hal itu bisa membuatnya bersemangat dalam menyelesaikan kuliah.


Terkadang hatinya perih karena sampai sekarang ia belum juga lulus kuliah. Apalagi banyak kendala yang menghambat kelulusannya, salah satunya adalah ia harus membagi dan mengorban waktu untuk menjaga kedua adiknya. Namun, Humairah selalu belajar ikhlas dalam menerima takdir, itu sebabnya hidupnya selalu tenang. Ia percaya, apa pun yang terjadi dalam hidupnya adalah semata-mata karena kehendak Allah.

__ADS_1


"Alhamdulillah kalau begitu. Ibu senang mendengarnya. Kakak tenang aja, ibu akan selalu mendoakan keberhasilanmu, Nak. Kamu jaga diri baik-baik, ya. Jaga kesehatan juga. Jangan lupa kasih kabar kalau ada apa-apa." Nisa terus mendoakan semua anak-anaknya karena ia tidak ingin anak-anaknya mengalami apa yang dialami.


Ibu Nisa adalah sosok wanita yang hebat. Ia juga beberapa kali bolak-balik rumah sakit, bahkan sudah pernah dioperasi karena kangker payudara dan gagal ginjal. Itu sebabnya, Nisa menangis saat tahu Alifa memiliki sakit komplikasi ditubuhnya.


"Oh iya, Bu, surat izin tambahan Alifa untuk tidak masuk kuliah sampai sembuh, sudah diserahkan ke semua dosen yang mengajar Alifa. Namun, ada kejadian lucu loh, Bu." Humairah tertawa kecil.


"Benarkah? Kejadian apa, Nak?" tanya Nisa dengan rasa penasaran.


"Waktu masuk di salah satu kelas, pas Humairah kasih surat izinnya, ekspresi Pak Dosen buat semua mahasiswa terkejut dan merasa deg-degan. Apalagi ketika dosen itu menyebutkan kalimat, 'innalillahi';¹ semua rawut wajah teman-teman Alifa pada sedih. Mereka bertanya-tanya tentang Alifa. Pada salah paham, dikira Alifa meninggal. Antara ingin ketawa atau sedih, Humairah cuma bisa menyaksikan drama yang dibuat Pak Dosen." Humairah tersenyum. Matanya sambil memeriksa berkas-berkas yang ada di hadapannya.


Nisa ikut tertawa mendengarkan cerita lucu dari Humairah. "Padahal kan, kalimat tersebut bukan hanya diucapkan ketika ada yang meninggal saja, tetapi untuk orang sakit atau musibah lainnya juga."


Humairah menggelengkan kepalanya. "Tahu tuh, Bu. Lagian juga, ada-ada aja tuh dosen. Kocak memang, Bu."


"Terus, dijelaskan enggak sama dosennya tentang makna kalimat 'innalillahi" itu?" Nisa bertanya sambil memeriksa suhu tubuh Alifa. Saat ini Alifa sedang beristirahat. Ritme napasnya² menandakan kalau ia benar-benar lelah.


"Dijelaskan kok, Bu. Oh iya, Bu. Humairah mau bimbingan jam 11, sudah dulu, ya. Nanti Humairah telepon lagi. Assalamu'alaikum, Bu." Humairah mengucap salam untuk menutup percakapan.


"Wa'alaikumsalam, Nak. Semoga sukses selalu, ya. Doa ibu selalu menyertaimu."


Setelah menutup telepon, Nisa memandangi wajah lelah putri keduanya itu. Banyak harap yang selalu diurai dalam doa untuk Alifa dan juga anak-anaknya yang lain. Air matanya tak terasa menetes. Karena tidak ingin membangunkan Alifa yang sedang tertidur nyenyak, ia meninggalkan putrinya di kamar agar bisa beristirahat dengan tenang.


****


Footnote :


¹ Kalimat "Innalillahi wa inna ilaihi rajiun" mengandung makna yang dalam seperti dijelaskan dalam Al-Qur'an surah Al Baqarah ayat 155-156. Maknanya adalah sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali.


² Ritme napas mengacu pada pola pernapasan yang teratur dan terukur yang dilakukan oleh seseorang. Pernapasan adalah proses alami tubuh untuk mengambil oksigen dari udara dan membuang karbon dioksida sebagai hasil sampingan dari metabolisme sel. Ritme napas mengatur frekuensi dan kedalaman pernapasan dalam satu siklus pernapasan.


Siklus pernapasan terdiri dari dua fase utama:


1. Inspirasi (inhale): Fase di mana udara masuk ke paru-paru melalui hidung dan/atau mulut. Diafragma dan otot-otot pernapasan lainnya berkontraksi, memperluas rongga dada, dan membuat paru-paru mengembang untuk menarik udara masuk.


2. Eksiprasi (exhale): Fase di mana udara yang mengandung karbon dioksida dikeluarkan dari paru-paru. Diafragma dan otot-otot pernapasan berelaksasi, dan paru-paru berkontraksi, memaksa udara keluar dari tubuh.


Ritme napas yang normal dan sehat bervariasi tergantung pada keadaan fisik dan emosional seseorang. Namun, secara umum, ritme napas dewasa yang normal adalah sekitar 12-20 kali per menit saat beristirahat. Jumlah napas per menit ini bisa lebih tinggi selama aktivitas fisik yang intens atau dalam situasi stres.


Memiliki ritme napas yang teratur dan mendalam penting untuk kesehatan dan keseimbangan tubuh. Pernapasan yang baik membantu memastikan pasokan oksigen yang cukup ke seluruh tubuh, termasuk otak dan organ vital lainnya. Selain itu, pernapasan yang baik juga membantu mengurangi tingkat stres, meningkatkan konsentrasi, dan membantu tubuh berfungsi dengan lebih efisien.


Jika seseorang mengalami kesulitan dalam menjaga ritme napas yang normal atau mengalami perubahan drastis dalam pola pernapasan mereka, hal ini dapat menjadi indikasi masalah kesehatan yang perlu diperiksa oleh tenaga medis.


...****...

__ADS_1


__ADS_2