Catatan Mahasiswa Akhir

Catatan Mahasiswa Akhir
Perjuangan Akhir


__ADS_3

Setelah beberapa bulan bimbingan skripsi, akhirnya dosen pembimbing dan penguji Alifa menyetujui laporan skripsinya untuk dilakukan sidang dan pengujian program yang sudah dibuat. Senyum sumringah terpancar jelas dari wajahnya. Ia pun langsung melengkapi berkas-berkas persyaratan sidang skripsi. Alifa tampak sibuk, mengurus berkasnya seorang diri. Ia memang salah satu perempuan mandiri. Apa pun bisa dilakukan sendiri, meskipun terkadang batinnya tidak kuat karena merasa hidupnya tidak memiliki teman yang mengusahakan untuk selalu ada. Namun, Alifa sadar kalau tidak semua hal harus dilakukan bersama teman-temannya, ada kalanya kita perlu melakukan sendiri karena kesuksesan adalah tanggung jawab masing-masing.


Alifa masuk ke ruang baku yang ada di gedung paling depan, menghadap gerbang utama kampus.


"Permisi, Mbak. Saya mau minta bebedapa formulir untuk pengajuan jadwal sidang skripsi," ujar Alifa kepada salah seorang penjaga di sana.


Perempuan yang tingginya hampir sama dengan Alifa, berjilbab biru dan berpakaian putih yang ditutupi oleh blazer itu memberikan formulir-formulir yang diperlukan Alifa. "Ini formulir-formulirnya. Silakan diisi dan dilengkapi persyaratan berkas pengajuan sidangnya. Nanti kalau sudah lengkap, silakan ke sini lagi," ujarnya dengan senyuman.


Alifa membalas senyuman staff baku yang bernama Bianca itu, "Oke. Makasih banyak, Mbak."


Alifa tampak senang setelah mendapatkan formulir untuk pengajuan jadwal sidang skripsi dari Mbak Bianca di ruang baku kampus. Segera setelah itu, ia bergegas meninggalkan gedung tersebut dan berjalan cepat menuju kosannya, melewati jalan tikus yang berada di samping kampus.


Di sepanjang perjalanan, ia melihat banyak mahasiswa yang juga sibuk di sekitar kampus, bahkan ada yang sedang makan di warung sekitar. Alifa dengan tekun melangkahkan kakinya menuju kosan untuk segera memulai proses pengajuan sidang skripsinya.


Alifa tiba di kosannya dengan niatan yang kuat untuk segera menyelesaikan formulir pengajuan sidang skripsinya. Ia masuk ke kamar kosannya, menyalakan laptop, dan mulai mengisi formulir sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh pihak kampus.


Setelah beberapa jam berlalu, Alifa berhasil menyelesaikan formulir dan menyiapkan semua berkas yang diperlukan. Ia merasa lega dan puas dengan kemajuan yang telah dicapai. Kemudian, ia memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum kembali ke kampus untuk menyerahkan berkas-berkas tersebut.


Alifa merasa optimis dan yakin bahwa ia akan segera menyelesaikan sidang skripsinya dan meraih gelar sarjana yang sudah lama didambakan. Dengan semangat yang tinggi, ia melanjutkan perjalanannya ke kampus untuk menyerahkan berkas pengajuan sidang skripsi.


Di perjalanan menuju kampus, Alifa bertemu dengan dua orang teman kosannya yang bernama Meli.


"Wih, Fa. Buru-buru banget kayaknya, nih!" ujar Meli sambil senyum close up.


"Iya, nih! Soalnya gua mau masukin berkas untuk sidang skripsi," jawab Alifa yang menghentikan langkahnya sejenak, menghargai temannya yang bertanya.


"Widihh ...! Udah mau kelar aja nih, kuliahnya. Ngebut juga lu," ujar Meli dengan wajah berseri. Ia turut bahagia atas pencapaian Alifa. Sebab, ia tahu bagaimana perjuangan Alifa untuk bisa sampai di titik sekarang.


"Iya, Mel. Alhamdulillah. Akhirnya perjuangan gua enggak sia-sia, walaupun banyak drama," ujar Alifa. Lalu, kami tertawa bersama, mengingat semua perjuangan Alifa. Apalagi sampai bolak-balik ke rumah sakit karena Alifa terlalu keras dengan dirinya sendiri. Sehingga tidak memikirkan kesehatannya.


"Ya udah, gua ke kampus dulu ya, Mel. Biar cepet selesai," kata Alifa sambil melangkahkan kakinya kembali menuju kampus.


"Iya. Semoga sukses, ya. Gua juga mau masak dulu, nanti kita makan bareng, ya. Gua tunggu di kosan." Meli bicara sedikit keras karena Alifa sudah melangkah sekitar 15 meter.

__ADS_1


Alifa menoleh sebentar. "Iya, Mel. Nanti kita makan bareng." Alifa tersenyum dan melanjutkan langkahnya menuju kampus dengan semangat yang masih berkobar. Ia merasa bersyukur memiliki teman seperjuangan seperti Meli yang selalu mendukung dan memahami perjuangannya.


Tiba di kampus, Alifa segera menuju ruang baku tempatnya mendapatkan formulir pengajuan sidang skripsi. Ia menyerahkan semua berkas yang telah dipersiapkan dengan hati-hati kepada petugas di sana. Petugas tersebut dengan ramah menerima berkas-berkas tersebut dan memberikan petunjuk lebih lanjut.


"Saya periksa dulu kelengkapannya, ya. Oh iya, udah ke ruang keuangan, kan? Terus, minta surat bebas sangkutan dari perpustakaan juga sudah, ya?" tanya Mbak Bianca dengan lembut.


"Sudah semua, Mbak. Bisa dicek saja berkasnya," jawab Alifa dengan rasa deg-degan.


Mbak Bianca memeriksa berkasnya dengan sangat teliti.


Setelah beberapa menit kemudian, Mbak Bianca memeriksa jadwal sidang yang kosong.


"Oke. Semua berkas sudah lengkap. Jadwal sidangnya hari Kamis, tanggal 25 September 2014, jan 11 siang, di ruang 301 gedung A." Mbak Bianca memberitahu jadwal sidang skripsi Alifa.


"Alhamdulillah. Oke. Mbak, terima kasih banyak," ujar Alifa, merasa bersykur.


Mbak Bianca melemparkan senyun manisnya. "Iya, sama-sama. Semoga lancar, ya. Semangat!"


Setelah menyelesaikan proses pengajuan sidang skripsi, Alifa merasa lega. Ia pun bergegas kembali ke kosan untuk bergabung dengan Meli seperti yang mereka sepakati sebelumnya. Mereka berdua akan merayakan pencapaian Alifa dengan makan bersama dan mengenang semua perjuangan yang telah mereka lalui bersama selama kuliah.


Perjalanan pulang ke kosan, Alifa tidak lupa mengabari dosen pembimbing dan pengujinya untuk konfirmasi jadwal sidang. Namun, sangat amat disayangkan, bagai petir menyambar, dosen pembimbingnya meminta Alifa mengatur ulang jadwal sidangnya karena ternyata bentrok dengan jadwal dosen pembimbingnya yang lain.


Alifa merasa kecewa dan sedikit terkejut mendengar kabar bahwa jadwal sidangnya harus diatur ulang karena bentrok dengan jadwal dosen pembimbingnya yang lain. Namun, ia tahu bahwa hal-hal seperti ini kadang-kadang tak terhindarkan. Dengan kepala dingin, Alifa mengirim pesan kepada dosen pembimbingnya untuk menjadwalkan ulang sidang skripsinya sesuai dengan ketersediaan waktu yang cocok untuk mereka berdua. Sedangkan dosen pengujinya, sudah siap kapan saja.


Setelah mengirim pesan, Alifa merenung sejenak, berusaha untuk tetap tenang dan fokus. Ia tahu bahwa meskipun ada hambatan, tetapi ia harus tetap berusaha dan tidak menyerah. Ia akan berjuang untuk menemukan jadwal yang sesuai agar bisa menyelesaikan sidang skripsinya dengan sukses.


Alifa kembali ke kosan dengan pikiran yang penuh dengan strategi untuk mengatasi masalah jadwal sidangnya. Ia yakin bahwa dengan kesabaran dan komunikasi yang baik, maka ia akan menemukan solusi yang tepat untuk mengatur ulang jadwal sidang skripsinya.


Dengan tubuh yang lemas, keringat dingin mulai membanjiri sekujur tubuh Alifa, tetapi ia tetap melangkahkan kakinya menuju kosan karena sudah ada janji dengan Meli kalau mereka akan makan bersama.


Tiba di kosan, Alifa seperti biasa, selalu menyembunyikan rasa sedihnya di hadapan orang lain, bahkan orang tuanya sendiri.


Pintu kamar Meli terbuka lebar, Alifa langsung menuju kamar Meli yang memang sebelahan dengan kamar Alifa.

__ADS_1


"Mel ..., gua udah pulang, nih!" ujar Alifa sambil membuka sepatunya.


Meli baru selesai memasak, melemparkan senyumannya. "Wah ..., kebetulan banget, nih! Lu datengnya pas bener gua udah kelar masak," ujarnya sambil menghidangkan masakannya.


Alifa membantu Meli dengan mengambil piring, sendok, dan gelas untuk mereka minum.


"Widiihhh ..., wangi banget nih, masakannya. Dari gua berdiri di gerbang tadi aja, udah kecium baunya," ujar Alifa sambil mengambil nasi dan menaruh ke piringnya.


"Aih, bisa aja, lu," ujar Meli yang merasa senang atas pujian Alifa.


"Yee ..., beneran tahu ...! Perut gua malah langsung demo tadi, biar cepet-cepet makan. Makanya gua enggak ke kamar dulu dan langsung ke kamar lu." Alifa tertawa kecil.


Mereka pun berdoa menurut kepercayaan masing-masing. Alifa beragama Islam, sedangkan Meli beragama Kristen. Meskipun berbeda suku dan agama, tetapi mereka sangat menghormati dan toleransinya tinggi.


Setelah selesai berdoa, mereka langsung menyantap makan siang bersama.


"Oh iya, ngomong-ngomong, sidang skripsi lu kapan? Udah keluar belum jadwalnya?" tanya Meli setelah meneguk air minum.


Alifa tersenyum kaku. "Hah? Gimana?" tanya Alifa yang tidak mendengar apa yang ditanyakan oleh Meli karena pikirannya sedang kacau.


"Yaelah, ngelamun ya, lu?" tanya Meli dengan nada tinggi. Nada bicara orang Sumatera memang tinggi. Meli suku Batak, sedangkan Alifa sukunya Lampung. Kalau lagi ngobrol, seakan seperti orang sedang bertengkar.


"Hmm, enggak kok. Gua cuma deg-degan aja, nih!" Alifa masih berusaha menutupi kesedihannya. Apalagi hubungan Alifa dan Alim sepertinya memang sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Namun, entah mengapa, Alifa masih saja memberikan kesempatan kepada Alim untuk tetap menjadi pacarnya.


"Rileks aja, Fa. Lu kan pinter. Lu pasti bisa kok menjawab pertanyaan-pertanyaan dari dosen penguji skripsi lu nanti." Meli terus meyakinkan Alifa, memberikan semangat agar Alifa tidak kehilangan percaya diri.


Alifa dan Meli menikmati makanan yang mereka sajikan dengan penuh khidmat. Mereka berbicara, tertawa, dan mengenang berbagai kenangan selama kuliah, termasuk perjuangan Alifa untuk menyelesaikan skripsinya. Meskipun ada tantangan dengan jadwal sidang yang harus diatur ulang, mereka tetap bersemangat dan berharap yang terbaik.


Saat mereka makan bersama, Alifa merasa bersyukur memiliki teman seperjuangan seperti Meli yang selalu ada untuknya. Mereka merasakan kebahagiaan yang mendalam karena mereka tahu bahwa semua usaha dan perjuangan Alifa mendekati titik akhir yang berhasil. Makanan dan obrolan mereka menjadi momen yang istimewa dan penuh arti.


"Iya, Mel. Makasih banyak, ya, lu selalu ada buat gua. Enggak nyangka kalau kita bakal pisah. Huhu, tiga tahun ini cepet banget, ya." Alifa tersenyum sambil mengusap air mata yang mengisi matanya. Ia benar-benar merasa sangat bersyukur atas persahabatan yang telah dibangun selama ini.


"Ya udah, kita habisin makanannya dulu, ya. Nanti lagi kalau mau sedih-sedihan." Meli mencoba menghibur Alifa walaupun ia tidak tahu pasti, permasalahan apa saja yang sedang dipikirkan oleh Alifa.

__ADS_1


Mereka berdua menghabiskan makanan dengan penuh rasa syukur dan kebahagiaan, menciptakan kenangan yang akan selalu mereka ingat. Meskipun masa kuliah mereka hampir berakhir, tetapi persahabatan mereka akan terus berkembang dan bertahan. Setelah selesai makan, mereka berdua berbicara tentang rencana masa depan dan mengakhiri malam dengan senyuman, tahu bahwa apa pun yang terjadi, mereka akan selalu saling mendukung.


...****...


__ADS_2