Catatan Mahasiswa Akhir

Catatan Mahasiswa Akhir
Rekonsiliasi yang Hangat


__ADS_3

Suasana di kampus kali ini begitu bising, Alifa menjadi tidak bisa berkonsentrasi dalam belajarnya. Padahal hari ini ada ujian tengah semester di kelasnya. Alifa ingin memarahi siapa saja yang menyebabkan kebisingan itu, tetapi ia juga sadar kalau terakhir kali ia membentak orang-orang di tribun, Alifa malah bertengkar dengan Alim.


"Astaghfirullahal 'adziim ...! Berisik banget sih orang-orang di sini," gerutu Alifa dengan muka ditekuk.


Semua orang seakan lupa kalau hari ini ada ujian, bukannya belajar, mereka malah mengobrol dan bermain-main. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka, kenapa bisa setenang itu di saat ujian akan berlangsung.


Alifa menaikkan alisnya sambil memperhatikan sekelilingnya. Ia menggelenglan kepala.


Bicara tentang Alim, Alifa jadi ingat kalau bibinya Alim memintanya untuk berkunjung ke rumah Alim. Alifa yang entah memang terlalu baik seperti yang orang mengenalnya katakan atau ada misi tertentu dalam hidupnya, sehingga ia berniat untuk memaafkan Alim. Berharap, sikap Alim bisa berubah.


Tidak lama kemudian, dosen memasuki kelas. Dengan langkah tegas dan tatapan tajam, dosen itu berjalan menuju meja pengajarannya. Ia meletakkan tasnya dengan keras, mengundang pandangan takut dari para mahasiswa yang terdiam seketika. Suasana yang sebelumnya riuh menjadi tenang seperti kuburan.


Dosen itu melirik sekilas ke arah Alifa yang duduk di pojokan dengan ekspresi wajah kesal. Alifa merasa diperhatikan, tetapi ia tidak punya waktu untuk memikirkannya lebih lanjut karena dosen itu langsung memulai ceramahnya dengan suara lantang.


"Kalian ini apa, ya? Kampus ini bukan tempat untuk berkumpul dan berisik seperti pasar! Ada ujian tengah semester hari ini, bukan waktu untuk bersenang-senang!" ujar dosen dengan suara yang bergema di kelas.


Para mahasiswa mengangguk ketakutan dan berusaha untuk mengurangi kebisingan yang mereka timbulkan sebelumnya. Mereka merapikan buku-buku, menyusun pulpen dengan cemas, dan berusaha menenangkan diri untuk menghadapi ujian.


Alifa merasakan kelegaan dengan perubahan suasana di kelas. Meskipun masih sedikit kesal, ia juga merasa lega karena dosen itu memberikan peringatan kepada teman-temannya yang bising. Alifa berharap bahwa dengan suasana yang lebih tenang, ia akan dapat fokus dalam mengerjakan ujian.


Saat dosen memberikan petunjuk dan membagikan lembar soal, Alifa melirik sekilas ke arah Alim yang duduk di barisan depan. Ia melihat Alim dengan wajah tegang, tampaknya juga merasa gugup menghadapi ujian. Meskipun hati Alifa masih berbunga-bunga dengan dendam, ia memutuskan untuk menahan diri dan tidak memarahi Alim di saat-saat seperti ini.


Alifa menyadari bahwa ujian tengah semester adalah momen yang penting bagi setiap mahasiswa. Tidak ada waktu untuk memikirkan masalah pribadi atau memperburuk situasi dengan bertengkar. Ia memilih untuk fokus pada tugasnya dan berusaha mendapatkan hasil yang terbaik.


Selama ujian berlangsung, suasana kelas tetap tenang. Para mahasiswa sibuk mengerjakan soal, hanya terdengar suara pulpen yang bergerak di atas kertas. Alifa mengucapkan doa dalam hatinya, berharap dapat menjawab semua soal dengan baik.


Setelah selesai mengerjakan ujian, Alifa menghela napas lega. Ia melihat sekeliling kelas dan melihat wajah-wajah yang lelah tetapi puas. Meskipun suasana kelas kali ini bising di awal, akhirnya semua dapat berkonsentrasi dengan baik.

__ADS_1


Ketika dosen mengumumkan bahwa ujian telah berakhir, Alifa merasa lega dan bahagia. Ia menyimpan buku-bukunya dengan rapi dan bersiap untuk pulang. Meskipun kebisingan di kampus mempengaruhi konsentrasinya, Alifa berhasil melewati ujian dengan baik.


Setelah keluar dari kelas, Alifa memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada Alim. Ia mengingat janji untuk berkunjung ke rumah Alim dan memaafkan masalah mereka yang lalu. Alifa menyadari bahwa belajar di kampus tidak hanya tentang menguasai materi, tetapi juga tentang mengendalikan emosi dan menjaga hubungan baik dengan sesama mahasiswa.


Dengan harapan yang baru dan keinginan untuk menciptakan suasana yang lebih baik di kampus, Alifa berjalan meninggalkan kampus dengan langkah pasti menuju ke rumah Alim yang kebetulan rumah Alim baru saja mengalami kebanjiran untuk ke sekian kalinya. Lingkungan di rumah Alim kalau hujan deras memang bisa menyebabkan banjir. Namun, entah mengapa mereka tidak mau pindah dari sana, meskipun rumah selalu banjir. Kalau sudah nyaman, memang susah untuk pindah ke tempat lain.


Alifa melangkah dengan mantap menuju rumah Alim, membawa tas kecil yang berisi makanan yang dipersiapkan. Untuk bisa sampai di rumah Alim kalau jalanan tidak macet, sekitar kurang lebih 30 menitan juga sudah sampai. Alifa berharap kunjungannya kali ini akan membawa kedamaian dan memperbaiki hubungan mereka.


Ketika sampai di depan rumah Alim, Alifa menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Ia mengetuk pintu dengan lembut, menunggu dengan harapan bahwa mereka akan menerima kedatangannya dengan baik.


Pintu rumah terbuka dan Alim muncul di depan Alifa. Wajahnya terkejut saat melihat Alifa di sana, tetapi Alifa memberikan senyuman ramah. Lalu, Alim kembali ke kamarnya.


Alifa masuk ke dalam rumah Alim dan menemui keluarga Alim yang sudah berkumpul di ruang tengah. Rumah mereka masih terlihat berantakan. Katanya baru selesai ngepel. Mereka terlihat terkejut melihat Alifa, tetapi Alifa dengan rendah hati menyapa mereka semua. Keluarganya bingung, kenapa Alifa tidak bareng Alim saat ingin ke rumah. Namun, sepertinya tanpa diberitahu pun mereka paham setelah melihat tingkah laku Alim dan Alifa yang begitu canggung.


Alim tanpa rasa bersalah, memilih tidur di kamarnya tanpa menemui Alifa. Padahal sebelumnya, ia memohon maaf kepada Alifa atas kesalahpahaman yang terjadi. Mungkin karena Alifa mengabaikan pesannya kala itu, jadi Alim sedikit mengambek.


Keluarga Alim melihat Alifa dengan rasa terharu. Mereka menerima makanan dengan penuh kerendahan hati dan mengucapkan terima kasih kepada Alifa.


"Makasih banyak, Alifa. Kamu sangat baik hati," kata Teh Euis, bibinya Alim, dengan tulus.


Alifa tersenyum, merasa lega bahwa tindakannya diterima dengan baik. Ia berharap kunjungannya kali ini bisa menjadi awal yang baru dalam hubungannya dengan Alim dan keluarganya. Ia hanya tidak ingin ada musuh, mau masih sama Alim ataupun tidak bersama menjadi pasangan.


Teh Eius memanggil Alim dengan suara yang sedikit keras. "Alim! Ngapain sih di kamar? Ada Alifa juga di sini, malah di kamar bae," ujarnya dengan mimik muka kesal.


Alim keluar dari kamarnya, matanya melirik ke arah Alifa. Ada rindu yang menggebu dalam hatinya, tetapi gengsi untuk mengungkapkan.


Selama beberapa saat, Alifa dan keluarga Alim duduk bersama, berbincang, dan saling berbagi cerita. Semakin lama, suasana menjadi lebih hangat dan nyaman. Alifa merasa senang melihat bahwa hubungannya dengan perlahan-lahan membaik.

__ADS_1


Setelah beberapa waktu berlalu, Alifa mengucapkan terima kasih kepada keluarga Alim atas keramahan mereka dan berpamitan untuk pulang.


"Terima kasih sudah menyambut Alifa dengan baik. Alifa pulang dulu karena hari sudah sore. Mau belajar juga untuk persiapan ujian besok. Semoga hubungan kita selalu terjalin baik," ujar Alifa dengan tulus.


Keluarga Alim mengucapkan terima kasih kembali kepada Alifa dan mengatakan bahwa mereka juga berharap hal yang sama. Mereka saling berpelukan sebagai tanda rekonsiliasi.


"Pulang sama siapa, Mbak?" tanya Karina polos.


"Iya, Alifa pulang naik angkot tah?" tanya Teh Euis.


Alifa tersenyum sesaat, "Naik angkot, Teh. Kan Alifa enggak bisa ngendarai motor," jawabnya dengan santai.


"Nanti Alim yang nganterin," ujar Teh Eius sambil menatap Alim, seolah memberikan permohonan agar Alim mau mengantar Alifa. "Lu anterin Alifa ke kosannya gih," pintanya agak memaksa.


"Orang dianya enggak mau geh," ujarnya dengan pelan, tetapi masih terdengar jelas di telinga Alifa.


Alifa hanya diam sambil mendengarkan percakapan mereka.


"Ya, lu kayak enggak mau gitu geh. Gua juga males kalau ngeliat cowoknya kayak enggak bertanggung jawab gini!" ujar Teh Euis kesal.


Alifa menahan diri untuk tidak ikut campur. Ia membatin, "Lah, kenapa malah Teh Eius yang marah sama Alim? Aku enggak apa-apa kok, naik angkot juga. Udah biasa mandiri ini."


Tidak butuh waktu lama, akhirnya Alifa mengikuti keinginan Teh Eius untuk diantar oleh Alim. Yah, meskipun masih terlihat canggung, tetapi Alifa orangnya mudah memaafkan seseorang.


Kemudian, Alifa meninggalkan rumah Alim dengan perasaan bahagia. Selama di perjalanan, Alim kembali meminta maaf kepada Alifa. Mereka pun saling memaafkan dan hubungan menjadi baik kembali.


...****...

__ADS_1


__ADS_2