Catatan Mahasiswa Akhir

Catatan Mahasiswa Akhir
Akhir Semester Lima


__ADS_3

Beberapa bulan berikutnya, di pagi hari, matahari terbit dengan sinar hangat yang menerangi kamar Alifa. Ia bangun dengan semangat baru, siap menghadapi hari-hari yang akan datang. Setelah sarapan pagi, Alifa kembali duduk di meja belajar, menatap berkas-berkas dan buku-buku kuliahnya. Ia tahu bahwa masih banyak perjalanan dan tantangan yang harus dihadapinya, terutama menjelang sidang akhir dan tugas-tugas lainnya.


Namun, Alifa memiliki keyakinan yang kuat. Ia ingat nasihat Miss Elda dan semangatnya sendiri yang telah membawanya melewati sidang proposal. Ia telah membuktikan bahwa dengan tekad dan persiapan yang matang, segala hal mungkin bisa dicapai. Dipikirannya, target kelulusan dalam tiga tahun terasa semakin nyata dan mungkin.


Setiap hari, Alifa terus bekerja keras. Ia menghadiri kuliah dengan penuh perhatian, mendiskusikan tugas-tugas dengan teman-temannya, dan rajin mempersiapkan diri untuk setiap ujian. Meski kadang capek dan lelah, tetapi ia tidak pernah melupakan tujuannya yang jelas: meraih gelar strata satu dalam waktu tiga tahun.


"Alifa! Kamu di mana?" tanya seorang teman satu bimbingan dengan Alifa dari ujung telepon.


"Aku lagi nunggu Miss Elda, nih. Mau bimbingan," jawab Alifa sambil memeriksa berkas-berkasnya.


"Berarti Miss Elda ada di ruang dosen, ya?" tanya teman Alifa itu untuk memastikan.


"Iya. Miss Elda ada di ruang dosen, kok. Kamu mau bimbingan juga, ya?" tanya Alifa.


"Iya, nih. Kabari aku ya, takut pas aku ke ruang dosen, Miss Elda udah pergi," pinta teman Alifa.


Alifa tertawa kecil. "Pernah kejadian, ya?"


Wajah teman Alifa cemberut. "Iya, nih. Kesel banget aku. Sebelumnya sih, udah ngehubungi beliau, cuma belum direspons. Aku langsung aja kan, ke kampus karena mau bimbingan aja, soalnya enggak ada kelas waktu itu. Eh, pas sampai kampus, dosennya udah pulang, dong. Mau nangis rasanya, tapi malu karena posisinya waktu itu rame orang."


Alifa menahan tawa agar tidak mengganggu orang lain yang ada di sekitarnya, apalagi ia duduk di ruang tunggu di depan ruang dosen.


"Sinta. Udah dulu ya. Udah giliran aku yang bimbingan nih," ujar Alifa dan buru-buru mematikan telepon.


Alifa berjalan menuju ruangan Miss Elda. Hatinya berdebar karena khawatir ada perombakan lagi di lapran skripsinya. Soalnya ia pernah diminta rombak rancangan sistem pada laporan proposalnya sebelumnya, jadi sedikit trauma. Kalau sudah rombak dipertengahan laporannya, otomatis rombak dari awal, analisisnya harus sesuai.


Alifa mengetuk pintu dan dipersilakan masuk. Miss Elda tampak sedang sibuk melihat beberapa berkas pekerjaannya yang ada di mejanya.


"Miss. Ini sudah saya revisi sesuai permintaan Miss Elda. Mohon diperiksa lagi, Miss, apa yang masih kurang atau perlu diperbaiki lagi." Alifa menyodorkan laporan skripsinya.


"Oke, saya cek dulu, ya." Miss Elda memeriksa dengan teliti. Dosen-dosen di kampus ini ketelitiannya tidak diragukan lagi. Lebih satu spasi, ukuran dan jenis tulisan tidak sesuai buku panduan penyusunannya saja, bisa tahu.

__ADS_1


Sementara Miss Elda memeriksa skripsi Alifa, ia terus berdoa agar dosen pembimbingnya itu segera menandatangani kertas bimbingan untuk proses sidang skripsi. Kalau dosen pembimbing sudah tanda tangan, tinggal menghadap dosen penguji waktu sidang laporan proposal tempo lalu. Di kampus Teknokrat ini, dosen pembimbing dan dosen penguji sidang laporan proposal sama saja dengan sidang skripsi nantinya.


Setelah menunggu sekitar hampir dua jam, akhirnya selesai juga proses pemeriksaannya.


"Alifa. Skripsimu ini sudah mendekati sempurna, tinggal bimbingan program yang sudah kamu buat sesuai rancangannya lagi. Kalau sudah siap, silakan temui saya lagi, ya. Tapi ingat, jaga kesehatan. Sakit terus kamu ini," ujar Miss Elda dengan penuh perhatian dan pengertian.


Alifa menjawab dengan senyum sumringah, "Alhamdulillah. Makasih banyak, Miss. Saya akan segera menemui Miss Elda untuk bimbingan programnya. Tinggal sedikit lagi, programnya akan selesai Miss."


Miss Elda memberikan laporan skripsi Alifa dengan wajah tersenyum. Hal ini membuat Alifa semakin semangat. Senyum Miss Elda terbilang mahal karena beliau jarang banget mau tersenyum, apalagi tertawa. Apalagi beliau dikenal sebagai salah satu dosen paling galak di kampus ini.


Alifa pun keluar ruangan setelah berpamitan. Ia ingat untuk mengabari temannya yang tadi menelepon. Namun, belum sempat mengambil ponsel di tasnya, ada seseorang yang menepuk pundak Alifa.


"Alifa!" sapanya seorang perempuan yang tingginya sejajar dengan Alifa.


Alifa menoleh. "Sinta? Kamu udah di sini? Baru aja aku mau ngabarin," ujar Alifa sambil cipika-cipiki dengan Sinta.


"Iya, nih, Alifa. Gimana bimbingannya? Lancar? Ciee, pasti udah acc sidang, ya?" Sinta menebak-nebak dengan wajah berseri karena ia akan turut bahagia atas keberhasilan orang-orang terdekatnya, bukan hanya Alifa saja.


"Alhamdulillah, lancar. Tinggal bimbingan programnya lagi, nih!" jawab Alifa dengan wajah berseri.


"Oh iya, katanya mau bimbingan. Masuk, gih. Sebelum diserobot sama mahasiswa lain, loh!" ujar Alifa sambil mendorong tubuh Sinta ke depan pintu ruang dosen pembimbing mereka.


"Oh iya, untung kamu ingatkan. Aku sampai lupa karena keasyikan ngobrol sama kamu. Ya udah, aku bimbingan dulu, ya. Nanti kita sharing lagi." Sinta pun masuk ke dalam ruangan Miss Elda.


Dari awal kuliah, Alifa dan Sinta tidak memiliki hubungan yang dekat. Mereka hanyalah dua mahasiswa yang berada di sekitar lingkungan yang sama, tetapi belum pernah benar-benar berinteraksi satu sama lain. Alifa memang seorang individu yang cenderung menjaga jarak dan terlalu fokus pada tujuan dan impian pribadinya. Itu adalah salah satu sifat yang membuatnya berhasil mengejar prestasi akademiknya.


Namun, takdir mempertemukan mereka di beberapa kelas bersama yang membuat mereka menjadi kenal dan akhirnya akrab. Mereka mulai berbagi pengalaman, tawa, dan bahkan kesulitan dalam menghadapi kuliah. Persahabatan yang tak terduga ini berkembang, dan keduanya menemukan dukungan satu sama lain dalam perjalanan akademik mereka.


Sementara itu, teman-teman akrab Alifa dari awal kuliah, yang telah berbagi banyak kenangan bersamanya, mulai jarang bersama Alifa. Kehidupan akademik dan ambisi yang tumbuh di dalam diri Alifa menjadikannya semakin terisolasi. Meskipun begitu, Alifa tidak pernah lupa akan persahabatan yang pernah mereka bagikan, dan ia berharap bisa kembali bersama teman-temannya suatu saat nanti.


Semua ini merupakan cerminan dari komitmen Alifa untuk mengejar impian-impiannya, meskipun kadang-kadang harus mengorbankan hubungan sosialnya demi mencapai tujuannya.

__ADS_1


...***...


Malam hari, ketika kampus mulai sepi dan langit gelap, Alifa seringkali masih duduk di dalam ruang perpustakaan bahkan di depan perpustakaannya. Ia merasa bahwa waktu adalah aset berharga, dan ia tidak ingin menyia-nyiakannya. Beberapa kali, ia merasa tertekan oleh beban tugas dan tanggung jawabnya, tetapi selalu ingat pesan dukungan dari Miss Elda dan semangatnya sendiri.


Selama perjalanan ini, Alifa juga mendapatkan dukungan dari teman-temannya. Mereka belajar bersama, saling membantu, dan memberikan semangat satu sama lain. Suasana persahabatan dan solidaritas di antara mereka memberikan Alifa kekuatan tambahan untuk terus maju.


Di malam yang sunyi dan tenang, Alifa duduk di perpustakaan kampus dengan ekspresi serius. Sejumlah mahasiswa lainnya juga terlihat tengah fokus pada tugas-tugas akademik mereka. Suasana di perpustakaan penuh dengan ketenangan, hanya terdengar suara halus pengetikan keyboard laptop dan gelegar halaman buku yang dibalik oleh mahasiswa yang mencari referensi.


Tidak hanya mahasiswa, seorang dosen pun duduk di salah satu sudut perpustakaan, menatap layar laptopnya dengan konsentrasi. Mungkin sedang mempersiapkan materi perkuliahan atau menyelesaikan penelitian. Semua orang di sekitar Alifa tengah berusaha keras untuk mengejar impian mereka, menjadikan malam ini sebagai waktu yang berharga untuk produktivitas akademik.


Tak lama kemudian, terdengar suara berbisik, "Alifa kan, ya? Aku boleh tanya-tanya, enggak?" ujar seorang mahasiswa laki-laki yang mengenakan baju kemeja hitam polos dengan celana dasar berwarna hitam.


Alifa menghentikan aktivitasnya dan menyuruh laki-laki itu duduk dengan suara berbisik. "Iya. Aku, Alifa. Boleh aja kalau. Mau tanya apa? Tapi sebelumnya, mohon maaf, Kakak siapa, ya?" tanya Alifa dengan mimik muka serius.


Peraturan perpustakaan, salah satunya adalah tidak boleh berisik karena khawatir akan mengganggu konsentrasi pengunjung lainnya. Itu sebabnya orang-orang yang berada di ruang perpustakaan kalau mau bicara, pasti dengan suara pelan.


Mahasiswa laki-laki itu ternyata menanyakan tentang laporan PKL-nya. Ia hampir frustasi karena laporan yang dibuat, salah terus. Mengejutkannya, ternyata ia adalah mahasiswa angkatan tahun 2009. Berarti kakak tingkat Alifa. Ia menemui Alifa atas rekomendasi dari dosen pembimbingnya.


"Seriusan, boleh? Aku duduk dulu, ya," ujar laki-laki yang belum memperkenalkan diri itu.


Alifa mengangguk.


"Kenalin, saya, Jerry. Saya lagi nyusun laporan skripsi, saya nemuin kamu karena disuruh dosen pembimbing saya," ujarnya.


"Oh iya, salam kenal. Memangnya dosen pembimbingnya siapa kalau boleh tahu?" tanya Alifa sambil melihat halaman judul di laporan skripsinya. Alifa juga melihat NPM dari mahasiswa yang duduk di hadapannya itu dengan wajah gugup dan sedikit canggung.


"Pak Hasan. Instansi penelitian PKL kita sama, walau beda tempat. Makanya beliau minta saya untuk konsultasi sama kamu," terang Jerry.


"Oooh, Pak Hasan. Oke. Lalu, apa yang bisa saya bantu?" tanya Alifa dengan lembut.


Alifa dengan penuh perhatian mendengarkan keluhan Jerry. Dia mencoba memahami apa yang sedang dialami oleh kakak tingkatnya itu, sambil mencatat poin-poin penting untuk menganalisis situasi tersebut. Jerry merinci masalahnya dengan detail dan Alifa mulai menyusun saran-saran yang mungkin bisa membantu.

__ADS_1


Mereka berdua terus berdiskusi tanpa terasa waktu berlalu. Satu jam seketika telah berlalu dalam perbincangan yang serius dan mendalam. Alifa berharap bahwa saran dan dukungannya dapat memberikan Jerry arah yang lebih baik dalam mengatasi permasalahannya.


...****...


__ADS_2