Catatan Mahasiswa Akhir

Catatan Mahasiswa Akhir
Ambisi yang Mencabut Kesehatan


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian, Alifa kembali pingsan yang mengkhawatirkan dan segera dilarikan ke rumah sakit. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi kedua orang tuanya. Mereka menyadari bahwa Alifa terlalu menguras energi karena ambisinya yang kuat untuk lulus kuliah sesuai targetnya.


Sudah berulang kali kedua orang tuanya mengingatkan Alifa agar tidak terlalu memforsir diri dan mengutamakan kesehatannya. Namun, sikap keras kepalanya membuat mereka sering kali merasa frustrasi dan khawatir. Kedua orang tua Alifa seringkali hanya bisa menggeleng-geleng kepala dan mengelus dada dalam menghadapi sikap Alifa yang tidak mau mendengarkan nasihat mereka.


Kedua orang tua Alifa sangat mencintainya dan hanya ingin yang terbaik untuk anak mereka. Mereka berusaha dengan sabar menasihati Alifa yang keras kepala dan seringkali mengabaikan kesehatannya. Meskipun frustrasi, mereka tetap berusaha memberikan dukungan dan cinta kepada Alifa.


"Alifa, ibu kan sudah bilang sama kamu, jangan terlalu memaksakan diri begini. Ibu bangga dengan semangatmu dalam belajar, tetapi tetap jaga kesehatan, Nak." Ibu menasihati sambil menyuapi Alifa.


"Maaf, Bu. Kan Ibu tahu sendiri, Alifa paling tidak suka kalau ada materi yang ketinggalan. Alifa ingin mendapatkan nilai bagus. Alifa tidak ingin mengecewakan kalian lagi, terutama ayah."


Alifa seketika ingat kejadian beberapa tahun lalu, saat masih SMP, hatinya sempat terluka karena ucapan ayahnya. Ayahnya kecewa karena nilai Alifa kecil, dikira Alifa tidak belajar dan tidak serius dalam sekolahnya, padahal Alifa sudah berusaha keras untuk mendapatkan nilai terbaik.


Sejak saat itu, Alifa memendam tekad yang kuat untuk mendapatkan nilai terbaik secara konsisten demi menghindari amarah ayahnya. Tanpa menghiraukan kesehatannya, ia bergulat keras dalam upaya mencapai tujuannya. Alifa seolah tak peduli akan berapa banyak waktu yang terbuang saat ia terus-menerus belajar, bahkan hingga larut malam. Ia terus sibuk menghadapi tumpukan buku sebagai upaya untuk mencapai prestasi tertinggi dalam setiap pelajaran.


Tumpukan buku terbuka di hadapan Alifa, menyala dengan cahaya lembut dari lampu meja. Matanya yang lelah tetap terfokus pada halaman-halaman yang penuh dengan pengetahuan. Alifa merasakan tegangan dalam tubuhnya, kelelahan yang menghampirinya, dan suara ******* yang tersembunyi dalam dadanya. Namun, tekadnya yang tak tergoyahkan mendorongnya melampaui batas-batasnya sendiri.


...***...


Waktu terasa berlalu begitu cepat. Hari terus berganti, tetapi rutinitas Alifa tak pernah berubah. Ia tak pernah mengenal istirahat yang cukup, kecuali saat tubuhnya tak lagi mampu melanjutkan perjuangan.


Ayahnya yang selalu sibuk dengan pekerjaannya tak menyadari perjuangan gigih yang dilakukan Alifa setiap harinya. Baginya, keberhasilan anaknya hanya diukur dari angka-angka yang tertulis di rapor. Alifa tahu bahwa hanya nilai terbaik yang dapat memadamkan amarah ayahnya, memberinya sedikit kebanggaan, dan mungkin sedikit cinta yang selama ini ia rindukan.


Namun, dalam ketegangan yang menghiasi kehidupannya, Alifa mulai merasa ada sesuatu yang hilang. Waktu untuk bermain, tertawa, dan menikmati kehidupan hampir tak ada lagi. Ia terjebak dalam kehampaan yang mencekiknya, diikat oleh harapan-harapan yang tak kunjung terpenuhi.

__ADS_1


Lalu suatu hari, ketika tubuhnya hampir meronta menyerah, Alifa mendapati dirinya tersungkur di lantai. Ia merasa pusing, pandangannya kabur, dan tubuhnya lemah tak berdaya. Sebuah alarm yang keras berdentang di kepalanya, memaksa Alifa untuk menghentikan perjuangannya yang membabi buta.


Tubuhnya yang rapuh menjadi pengingat yang tak terbantahkan akan batas kemanusiaan. Alifa menyadari bahwa ia telah mengorbankan dirinya sendiri dalam pencarian kepuasan orang lain. Kegelapan yang menyelimuti pikirannya mulai terang sedikit demi sedikit.


Dalam keheningan yang melingkupinya, Alifa memutuskan untuk merangkul keseimbangan. Ia memilih untuk tetap belajar dengan tekad yang kuat, tetapi juga memberikan waktu bagi dirinya sendiri untuk istirahat dan menjaga kesehatan fisik dan mentalnya.


Alifa menyadari bahwa nilai terbaik bukanlah segalanya. Kebahagiaan, kebebasan, dan kehidupan yang seimbang tak bisa direduksi menjadi angka di atas selembar kertas. Ia memutuskan untuk menemukan kepuasan dan kebanggaan dalam perjalanan belajar yang dijalani, bukan hanya dalam hasil akhir yang diperolehnya.


Dengan langkah yang lebih hati-hati dan bijaksana, Alifa membangun jembatan antara ambisi dan kebahagiaan. Ia menemukan waktu untuk menjalani hobi yang dicintainya, bersosialisasi dengan teman-teman, dan menikmati momen-momen berharga bersama keluarganya.


Alifa belajar untuk mencintai dan menghargai dirinya sendiri, menyadari bahwa nilai terbaik tak selalu berarti sukses dan bahagia. Ia menemukan bahwa kebahagiaan sejati terletak dalam keselarasan antara prestasi dan kehidupan yang seimbang. Dan dari saat itu, Alifa berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi pelaku dalam kisah hidupnya, bukan hanya penonton yang terperangkap dalam ekspektasi orang lain.


Mereka berharap Alifa bisa belajar dari pengalaman ini dan menyadari betapa pentingnya menjaga kesehatan dan tidak terlalu memaksakan diri. Kedua orang tua Alifa pun berjanji untuk terus mendukung Alifa dalam mencapai cita-citanya, tetapi juga ingin Alifa mengerti bahwa kesehatan adalah prioritas utama. Mereka berdoa agar Alifa bisa lebih sabar dan bijaksana dalam menghadapi tantangan hidup dan menghargai nasihat yang diberikan oleh orang tua yang selalu mencintainya.


"Alifa. Kamu memikirkan apa, sih? Jangan terlalu banyak pikiran agar penyakitmu cepat pulih. Tukak lambung sangat bahaya kalau kamu abai dengan penyakitmu ini," ujar dokter, menasihati Alifa.


Alifa tersenyum sambil berpikir. "Banyak hal yang aku pikirkan, Dok. Aku sampai bingung ingin mulai cerita dari mana."


Dokter itu memanggil-manggil nama Alifa karena ketidakfokusannya.


"Hah, apa, gimana, Dok?" sahut Alifa dengan plonga-plongo.


Dokter menggelengkan kepala. "Hmm, Alifa. Kamu kalau mau sembuh, tolong jaga kesehatan. Dokter hanya bisa memberikan obat untuk pereda rasa sakitmu, bukan penyembuh sejati. Jadi, kamu punya peran penting dalam proses penyembuhanmu. Sisanya, kamu berdoa kepada Allah, meminta kesembuhan."

__ADS_1


Lalu, dokter itu memberikan resep obat kepada suster yang menemaninya. Kemudian, pamit kepada Alifa untuk memeriksa pasien lainnya.


Di balik tirai kegelapan yang melingkupi Alifa, tersembunyi sebuah pertarungan yang tak terlihat. Alifa terjebak dalam labirin emosi yang tak terungkapkan, sebuah perang batin yang memakan dirinya. Kesehatannya yang terus menurun, seperti samar-samar mencuri perhatian akan ketidakpuasan yang terpendam.


Setiap kunjungan ke rumah sakit adalah bagian dari permainan yang rumit. Meski tubuhnya lemah, Alifa terus mengangkat beban berat keinginan untuk membuktikan dirinya. Seperti sebuah luka yang tak kunjung sembuh, rasa iri yang melilit hatinya menentang pengabaian yang dirasakannya.


Ayahnya, sosok yang selalu membanggakan kakak perempuannya, menghadirkan rasa kecil dan terpinggirkan dalam jiwa Alifa. Setiap pujian dan kasih sayang tampak tercurah dengan murah hati pada Eliz, sementara abangnya juga merasakan manisnya perhatian orang tua. Rasa kecewa dan ketidakpuasan mulai meracuni pikiran Alifa, tetapi tangannya tak mampu menggapai kesempatan untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya.


Dalam kesunyian yang terengah-engah, Alifa merajut perlawanan yang tak terucapkan. Ia mengumpulkan setiap helai keberanian yang ada dalam dirinya, berharap bisa menemukan jalan untuk menarik perhatian ayahnya, membuktikan bahwa dirinya juga berharga dan mampu meraih prestasi seperti kakak-kakaknya.


Namun, semakin dalam ia terperangkap dalam permainan ini, semakin rapuh kesehatannya. Setiap kali tubuhnya jatuh, Alifa mencoba mengubah sakit menjadi semangat. Ia mengabaikan kelelahan dan kesakitan, terus berusaha memperoleh pencapaian yang akan meluluhlantakkan ketidakadilan yang ia rasakan.


Namun, dalam keputusasaan dan letih yang semakin membelenggunya, Alifa mulai menyadari bahwa bukan dengan mengejar bayang-bayang kakak-kakaknya, ia akan menemukan arti sejati dalam hidupnya. Ia tak mampu memanipulasi perasaan orang lain atau merobek hati sang ayah untuk mendapatkan persetujuannya.


Lambat laun, Alifa menemukan keberanian untuk menghadapi perasaannya sendiri. Ia menyadari bahwa ia tak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, tapi ia bisa mengubah cara ia meresponsnya. Ia belajar untuk menerima dan menghargai dirinya sendiri, tanpa perlu dibandingkan dengan siapa pun.


Dalam kegelapan yang perlahan menghilang, cahaya keberanian mulai menerangi jalan Alifa. Ia mengerti bahwa kasih sayang orang tua tak terukur dari jumlah pujian yang diberikan. Ia mulai memaafkan dan mengerti bahwa orang tuanya juga manusia yang tak luput dari kelemahan.


Alifa memilih untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan ayahnya, bukan dengan membuktikan dirinya, tetapi dengan mengungkapkan perasaan dan aspirasinya dengan jujur. Ia belajar untuk membuka pintu komunikasi yang telah lama terkunci rapat.


Dalam perjalanan menuju kesembuhan, Alifa menyadari bahwa ia tak perlu terus mengukir prestasi demi mendapatkan pengakuan dari orang lain. Ia memilih untuk menjalani hidupnya dengan penuh rasa percaya diri, mewujudkan impian dan meraih kebahagiaan yang sejati.


...****...

__ADS_1


__ADS_2