
Hari demi hari berlalu, Alifa semakin terbiasa dengan lingkungan kerja di kantor perbankan tersebut. Ia merasa diterima dan dihargai oleh rekan kerjanya. Ia juga mendapatkan dukungan serta bimbingan yang berharga dari mentor-mentornya. Alifa berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan hasil penelitian yang baik dan memenuhi harapan yang telah diberikan kepadanya.
"Pagi, Kak Andi! Bagaimana kabarmu hari ini?" sapaku dengan senyuman.
"Pagi juga, Alifa! Kabar saya baik. Bagaimana denganmu?"
"Saya juga baik. Sebenarnya, saya ingin mengutarakan sesuatu. Saya merasa sangat bersyukur memiliki mentor-mentor yang hebat di kantor ini. Mereka memberikan dukungan dan bimbingan yang sangat berharga bagi saya."
"Ya, kami memang memiliki tim yang luar biasa di sini. Setiap individunya memiliki pengalaman yang luas dan kami memang senang berbagi pengetahuan kepada siapa pun."
"Iya, Kak. Terima kasih karena sudah membantu saya dalam banyak hal. Terima kasih sudah memberikan arahan yang jelas mengenai penelitian yang sedang saya lakukan. Kalian juga memberikan masukan yang berharga untuk meningkatkan kualitas hasil penelitian saya. Selain itu, kalian selalu memberikan semangat dan dorongan kepada saya. Rasanya luar biasa diterima dan dihargai oleh rekan kerja."
"Itu sangat bagus, Alifa. Mendapatkan dukungan dan bimbingan dari mentor-mentor yang berpengalaman dapat membantu kita tumbuh dan berkembang secara profesional. Jika kamu memberikan yang terbaik dalam penelitianmu, pasti harapan mereka akan terpenuhi."
"Iya, saya benar-benar berusaha semaksimal mungkin. Saya ingin memberikan hasil penelitian yang memuaskan dan memenuhi harapan mereka. Oh iya, terima kasih juga untuk Kakak yang telah mendengarkan dan memberikan dukungan kepada saya beberapa hari ini. Semoga tidak bosan membimbing dan menjawab pertanyaan saya sampai akhir PKL nanti ya, Kak," pintaku dengan penuh harap. Aku tersenyum bahagia.
"Tidak perlu berterima kasih, Alifa. Saya senang bisa membantu dan mendengarkan pengalaman positifmu di kantor ini. Semoga kamu terus meraih kesuksesan dan terus mendapatkan dukungan yang kamu butuhkan. Jika ada yang bisa saya bantu, jangan ragu untuk mengatakannya."
"Terima kasih, Kak Andi. Kamu sangat baik. Saya akan tetap berusaha keras dan berharap dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi perusahaan ini."
"Sama-sama, Alifa. Semoga harapanmu tercapai dan semoga hari kerjamu menyenangkan. Jika ada hal lain yang ingin kamu diskusikan, maka jangan sungkan untuk mendekati salah satu di antara kami. Kami akan senang membantu."
"Baik, Kak Andi. Terima kasih atas semua dukungannya. Semoga harimu menyenangkan juga."
"Terima kasih, Alifa. Semoga hari-harimu selalu cerah dan sukses. Sekarang kita kembali bekerja."
__ADS_1
Kami pun bekerja dengan penuh tanggung jawab. Ternyata bekerja itu tidak mudah, ya. Apalagi yang kerjaannya harus menghadapi nasabah begini. Aku harus menyiapkan stok sabar yang banyak karena sifat seseorang berbeda-beda.
Setiap hari, kami berhadapan dengan beragam tipe nasabah. Ada yang mudah emosi dan cepat marah saat menghadapi masalah. Tidak jarang kami harus menghadapi situasi yang menegangkan dan menyulitkan. Namun, sebagai bagian dari tanggung jawab, kami harus tetap tenang dan menghadapinya dengan sikap yang ramah.
Di sisi lain, ada juga nasabah yang lebih pengertian dan lebih mudah berkomunikasi. Mereka memahami bahwa kesalahpahaman atau masalah bisa terjadi, dan mereka bersedia bekerja sama mencari solusi yang terbaik. Berinteraksi dengan mereka dapat memberikan kelegaan tersendiri.
Tuntutan pekerjaan ini mengharuskan kami untuk selalu memasang senyum ramah di wajah dan berusaha mencari solusi ketika terjadi masalah atau kesalahpahaman. Meskipun terkadang sangat melelahkan, kami menyadari bahwa nasabah adalah prioritas utama. Kami berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik dan menjaga profesionalisme dalam setiap situasi.
Dalam menjalani pekerjaan ini, kami belajar banyak tentang kesabaran, empati, dan kemampuan menyelesaikan masalah. Meskipun tidak mudah, kami terus melangkah maju dengan semangat untuk memberikan pelayanan terbaik kepada setiap nasabah.
...***...
Di ruang keluarga, sambil menonton TV, ayah menanyakan apakah aku ada kesulitan selama bekerja.
"Jadi gimana hari-harimu selama PKL di sana, Dek? Ada kesulitan kah?"
"Meskipun tenaga terasa terkuras, harus sabar, disiplin waktu, dan menghadapi tantangan lainnya, tetapi aku merasa bersyukur dan berterima kasih kepada Ayah karena telah memberikan kesempatan untuk mengenal dunia kerja di tempat Ayah bekerja dulu. Intinya aku sangat ... sangat bahagia atas pengalaman pada dunia kerja ini. Sekali lagi, terima kasih banyak, Yah."
Salain itu, aku bercerita kepada ayah tentang betapa berharganya pengalaman ini bagiku. Melalui pekerjaan ini, aku belajar banyak hal yang tidak bisa didapatkan di bangku sekolah. Aku merasakan tanggung jawab yang besar dan mengembangkan keterampilan komunikasi serta kemampuan menyelesaikan masalah.
Meskipun terkadang rasanya melelahkan, aku merasa bangga dengan diri sendiri karena dapat menghadapi tantangan-tantangan tersebut. Dengan dukungan dan dorongan dari ayah, aku merasa semakin kuat dan termotivasi untuk terus berusaha memberikan yang terbaik dalam pekerjaanku.
Ayah telah memberikan kesempatan berharga bagi aku untuk mengenal dunia kerja dan belajar beradaptasi di lingkungan profesional. Aku berterima kasih karena melalui pengalamannya, aku dapat tumbuh dan mengembangkan diri menjadi pribadi yang lebih matang dan siap menghadapi tantangan di masa depan.
Dengan senyum di wajahku, aku berkata, "Ayah, aku ingin berbagi kebahagiaanku denganmu. Aku benar-benar bersyukur atas kesempatan ini!"
__ADS_1
"Wah, itu bagus sekali, Nak. Ceritakan padaku apa yang terjadi," tanya ayah, antusias.
"Orang-orang di kantor semuanya ramah padaku. Mereka benar-benar membantu Alifa untuk melengkapi bahan penelitian PKL dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang Alifa ajukan dengan baik. Meskipun status Alifa di kantor sebagai mahasiswa PKL, setidaknya Alifa sudah memiliki pengalaman kerja".
"Itu adalah kabar yang luar biasa, Nak! Ayah sangat bangga padamu. Bagaimana rasanya berada di dunia kerja?"
"Rasanya sangat menyenangkan dan memberikan pengalaman berharga. Aku bisa belajar langsung dari para profesional di bidangku, melihat bagaimana mereka bekerja dan berinteraksi dalam lingkungan kerja yang sebenarnya. Aku juga mendapatkan tugas-tugas nyata yang membantu meningkatkan pengetahuan dan keterampilanku."
"Itu pasti pengalaman yang sangat berharga untuk masa depanmu, Nak. Apakah ada hal-hal tertentu yang kamu pelajari?"
"Tentu saja, Ayah. Aku belajar banyak tentang proses kerja di perusahaan, bagaimana tim bekerja sama, dan pentingnya kolaborasi. Aku juga belajar tentang tanggung jawab, disiplin, dan tuntutan kerja yang sesungguhnya. Ini adalah pengalaman yang membuka wawasan baru bagiku."
"Ayah sangat senang mendengarnya, Nak. Kamu telah menunjukkan komitmenmu untuk terus belajar dan menjadi lebih baik. Ayah yakin pengalaman ini akan membantumu tumbuh dan berkembang di dunia kerja."
"Terima kasih, Ayah. Aku benar-benar bersyukur atas dukungan dan doronganmu selama ini. Aku berjanji akan terus berusaha keras dan memanfaatkan pengalaman ini sebaik mungkin. Aku ingin menjadi lebih baik lagi dan memberikan yang terbaik dalam karierku nanti."
"Ayah percaya padamu, Nak. Jangan pernah berhenti belajar dan berusaha. Teruslah berusaha dengan tekad yang kuat dan ayah yakin kamu akan mencapai kesuksesan yang luar biasa. Ayah selalu mendukungmu sepenuhnya."
"Terima kasih, Ayah. Aku benar-benar beruntung memiliki ayah yang selalu mendukungku. Semangatku semakin bertambah setelah berbagi cerita ini dengan Ayah."
"Semangatmu adalah sumber kebahagiaan ayah, Nak. Aku bangga menjadi ayahmu, dan ayah yakin kalau masa depanmu akan cerah. Tetaplah bersemangat dan berikan yang terbaik dalam segala hal yang kamu lakukan."
"Alifa janji tidak akan mengecewakan Ayah. Terima kasih atas segalanya. Alifa akan terus berjuang dan berusaha menjadi yang terbaik," ujarku dengan semangat membara. Namun, dalam hati aku berkata, "Yah, ini semua aku lakukan untuk membuat Ayah bangga. Aku tidak ingin Ayah marah lagi karena tidak sesuai ekspektasi Ayah, tetapi aku selalu berusaha menjadi anak yang baik, berusaha buat ayah dan ibu bangga pada Alifa."
Tak terasa, air mata menetes, mengingat kembali saat-saat ayah memarahiku karena salah satu nilai mata pelajaranku kecil dan beberapa hal lain yang membuatku merasa gagal menjadi seorang anak. Namun, seiring berjalannya waktu, aku terus membuktikan kepada ayah kalau aku juga bisa seperti kedua kakakku yang selalu jadi kebanggaan dan kesayangan mereka.
__ADS_1
"Yah, aku sayang banget sama ayah. Tolong, jangan buat hatiku patah lagi, ya. Aku paling tidak bisa dimarahi, apalagi sampai dibentak sama ayah. Karena bagi anak perempuan, cinta pertama mereka adalah seorang ayah. Jadi, aku selalu ingin menikmati setiap momen bersama ayah dengan penuh sukacita." Aku membatin sambil meneteskan air mata.
...****...